Jatuh Cinta dengan Lolita Fashion. Jawa Pos.16 Oktober 2020.Hal. 24. Agnes Olivia.FPD

SURABAYA, Jawa Pos – Menekuni hobi cosplay selama bertahun-tahun membuat Agnes Olivia mengetahui banyak hal lain soal kultur di Jepang. Salah satunya lolita fashion. Memadukan dan memadankan baju khas lolita untuk menjadi style coordinate baru pun menjadi hobi Agnes sejak 2015.

Perempuan yang juga dosen fashion produk desain dan bisnis di Universitas Ciputra itu menjelaskan, fashion lolita dengan cosplay sebenarnya berbeda. “Kalau cosplay, lebih ke menjadi sebuah karakter yang sudah ada. Kalau lolita, kita murni bermain dengan style coordinate. Ibaratnya, kita mix and match bikin style sendiri,” jelasnya saat dihubungi kemarin (15/10).

Lolita fashion ternyata punya banyak era gaya. Mulai gaya Victorian, retro, hingga gotik. Agnes sendiri lebih menyukai style yang sweet clengan warna-warna soft. “Kayak gaya clasik, tapi tetap manis,” terangnya. Semakin ke sini, style baju lolita yang berbeda semakin bergaya khas Jepang. Alias tak hanya berfokus pada style klasik di zaman dulu.

Perempuan kelahiran 22 Juli itu melanjutkan, saat dirinya berkumpul dengan gengnya yang juga penyuka lolita fashion, mereka kerap mengadakan tea party yang dilanjutkan dengan photoshoot. “Inilah yang menyenangkan saat terjun di hobi ini. Bisa bikin tema style tertentu bareng temen geng. Terus, kalau ada teman, pasti kita jadi lebih totalitas buat tampil maksimal,” paparnya.

            Terlebih saat bisa membuat style coordinate baru dan berhasil memenangi lomba. Tidak hanya fokus dengan yang menjadi poin, tapi juga menyesuaikan make-up dan sepatu.

Keseruan yang dirasakan Agnes ternyata tak sampai di situ. Dia juga menjadi kolektor baju lolita. Karena lolita fashion sudah punya brand-brand sendiri dan selalu ada koleksi terbatas, Agnes jadi ikut berburu koleksi tersebut. “Harganya mirip-mirip brand terkenal gitu. Ada yang mahal banget kalau sudah edisi terbatas, tapi ada juga yang masih terjangkau,” ungkapnya.

Menyukai subkultur Jepang ternyata punya manfaat tersendiri bagi perempuan kelahiran Jogja itu. Dia jadi semakin kreatif memadupadankan baju dan membuat kreasi busana. Terlebih, dia juga seorang dosenfashion danfashion designer. (ama/c18/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 16 Oktober 2020. Hal. 24

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *