Janet Teowarang, Penerima Australian Alumni Grant Scheme yang Lanjutkan Proyek Sustainability Fashion_Ajak Perajin ikin Batik Kelas Internasional. Jawa Pos. 29 Mei 2021. Hal 13,23. FPD

Terus menyebarkan konsep keberlanjutan dalam industri fashion membuat Janet Teowarang, perancang busana asal Surabaya, melanjutkan proyeknya yang dibuat pada 2019-2020.  Yakni, memberikan pelatihan kepada perajin batik Pasuruan.  Proyek yang merupakan skema dana hibah dari pemerintah Australia itu akan dimulai awal Juni.

MARIYAMA DINA, Jawa Pos

SIANG itu Janet Teowarang bersama, Rahayu Budhi Handayani dan Enrico, berkumpul di lantai 17 Universitas Ciputra (UC) Tower untuk membahas proyek mereka Juni nanti. Pada 2019, Janet terseleksi menjadi salah seorang penerima Skema Hibah Alumni Australia proyek perubahan.  Janet pun ingin menyebailsaskan konsep sustainability di industri fashion melalui dana hibah yang diterimanya.

Proyek yang diberi nama Promoting Three Pilar of Sustainability Fashion Industry itu telah selesai pada Juni2020. Dan, pada 2021 ini, diakembali melanjutkan proyeknya dengan tetap mengangkat! pilar tersebut.  Proyek itu karena Janet ingin membuka pemikiran masyarakat lebih luas lagi terkait konsep tiga konsep keberlanjutan yang sebenarnya tidak hanya berfokus pada lingkungan.

Tiga pilar yang dimaksudkannya di sini dijelaskan dengan detail. Pilar sosial yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengrajin batik di Kabupaten Pasuruan. Pilar adan Australia lingkungan yang berfokus meningkatkan kesadaran pada ciri khas motifbatik Kabupaten Pasuruan. Juga, pilar ekonomi para perajin batik di Kabupaten yangberfokus untuk pemulihan Pasuruan.  Memperkuat proyek kolaborast .Tujuan lain adalah “Yang berbeda, kali ini saya lebih mengerucutkan siapa saja yang ikut dalam proyek ini, jelasnya saat ditemui Selasa (25/5).

Jika antara Indonesia dan / yang ikut adalah warga di Desa hanya warga yang memang perajin batik yang boleh  berpartisipasi. Janet tidak pilih-pilih. Namun, berkaca dari pelatihan sebelumnya, tidak sedikit warga yang merasa sebelumnya Tenun di Pasuruan, kali ini sedikit warga yang merasa kurang antusias karena tidak memiliki latar belakang industri yang sama dengannya.

Proyek yang akan dimulai pada 5 Juni itu diikuti 100 mode,” tuturnya.  bener fokus pada industri tersebut. Namun, karena perajin batik dari kabupaten pandemi masih berlangsung.  semua pelatihannya akan diadakan secara online.

“Benar-benar full online. Kami tidak akan ke Pasuruan atau temen-temen perajin yang ke Surabaya,” ujar pemrempuan yang juga seorang dosen fashion di Universitas diadakan secara online.  Ciputra tersebut.

Pelatihan berbasis online itu bakal sedikit menantang. Sebab, melatih untuk membuat motif batik yang benar-benar sesuai dengan pasar internasional tentu tidak mudah.  “Di sini saya bersama tim, yakni Bu Rahayu dan Pak Enrico, tahun lalu pemahd memberikan pelatihan tentang batik secara online,” jelasnya.

Rahayu dan Enrico yang juga dosen fashion UC menjelaskan cara mereka untuk memberikan pelatihan yang bukan presentasi materi.  Namun, hasilnya juga bisa sesuai dengan harapan.  “Yang pertama, karena banyak pesertanya, akan kami bagi menjadi dua kelompok besar” terang Rahayu.Setiap sesi diikuti 50peserta.  “Jadi, memang pelitihannya nggak langsung sehari 100 orang,” lanjutnya.

Setelah itu, mereka akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil lagi. Barulah pendampingan berkala terus dilanjutkan.  “Nah, masalah selanjutnya mungkin seperti ini. Kalau cuma dilihat lewat layar monitor, batik tentuberbeda dengan menakjubkan,” jelas Enrico.

Terlebih tentang proporsi gambar dan ukuran. “Jadi, nanti mereka mengirimkan sampel kecil-kecil. Dari situ baru benar-benar bisa dilihat hasil riilnya,” terangnya.

Goal dari pelatihan untuk perajin batik Pasuruan tersebut adalah membuat motif batik khas Pasuruan yang memafaatkan pewama alami.  Beralih, motif dan tentu saja harus sesuai dengan selera pasar internasional meski tetap dengan ciri khas ketradisionalan Indonesia.  Sebab, di akhir proyek nanti, motifbatik tersebut didesain menjadi 10-12 desain baju yang ditampilkan di Australia.

Janet menyatakan, ciri khas dari batik Pasuruan adalah motif bunga krisan hingga Penanjakan Bromo.  “Tapi, untuk warna nanti, kami bermain di warna natural atau nila,” katanya.  Janet akan mendesain sustainability fashion.  Salah sesuai dengan konsep satunya, desain yang timeless atau tidak terbatas musim.

Namun, akibat pandemi, fashion show yang mereka tampilkan nanti dihelat secara virtual.  “Jadi, kamihanya mengirimkan video semacam runway untuk show 2022,” ungkapnya. mendapatkan pelatihan pun kembali dikurasi untuk mengetahui motif-motif mana yang sesuai dengan konsep yang akan digelar pada Maret Batik karya 100 peserta yang akan digelar Janet dan tim.

Dia berharap para perajin batik membuat hasil kerja keras mereka juga akan ditampilkan di kancah secara internasional  Dari situ, dirapkan para perajin batik dari Pasuruan tidak hanya motif batik yang kreatif Sebab, mereka juga bisa mengembangkan lagi ilmu-ilmu yang telah didapat selama proyek yang bakal berlangsung sekitar 10 bulan ter- sebut.  (*/c14/git)

 

Sumber: Jawa Pos. 29 Mei 2021. Hal 13,23.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *