Jembatan Benteng dan Sejarah Masa Kolonial (15). Jembatan Petekan Jadi Akses Bongkar Muat Barang. Radar Surabaya.22 April 2021.Hal.3. Chrisyandi. LIB

Jembatan Petekan atau Ferwerda brug yang ada di dekat Jalan Benteng, memiliki keunikan tersendiri. Sesuai dengan namanya ‘petekan’ yang artinya dalam bahasa Jawa ditekan. Sehingga jembatan ini memiliki teknologi yang bisa dibuka dan ditutup.

Ginanjar Elyas Saputra

Wartawan Radar Surabaya

Selain lokasinya berada dibekas benteng Prins Hendrik dan dekat dengan sungai Kalimas, Jalan Benteng juga berkembang jadi kawasan yang strategis dan dekat dengan beberapa lokasi penting.

Salah satunya yakni jembatan Petekan yang ikonik dan menjadi salah satu bukti perkembangan perdagangan di Surabaya. Jembatan Petekan ini dapat dibuka ketika ada kapal besar yang masuk melalui sungai Kalimas. Jembatan di sisi utara sungai Kalimas tersebut dibangun oleh Belanda pada tahun 1900-an bekerja sama dengan perusahaan kontruksi NV Machinefabriek Bratt.

Jembatan ini memiliki dimensi panjang sekitar 150 meter dan ketinggian 1,7 meter di atas permukaan air sungai saat pasang, dan 1,2 meter di bawah jalan raya. Jembatan Petekan berukuran 11 x 50 meter, terbagi dua bagian, yaitu sebelah barat dan timur pilar jembatan.

“Jadi kalau ada kapal masuk untuk bongkar muat jembatan ini bisa naik ke atas pada dua sisi jembatannya,” jelas Sejarawan sekaligus pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika.

Jembatan tercanggih di Kota Pahlawan pada zamannya ini dipakai untuk mobilitas masyarakat dan juga menggerakkan roda perekonomian Surabaya ke berbagai wilayah lain saat pemerintahan Hindia Belanda. Bukan itu saja, daerah lain yang berada di sekitar Jembatan Petekan di Jalan Jakarta, atau di bagian utara dari Kota Surabaya ini pun terimbas dan menjadi berkembang.

“Seperti di kawasan Kembang Jepun, Ampel, Krembangan serta daerah lainnya ikut menuai imbas dari ramainya kapal-kapal yang singgah. Di situ dijadikan lokasi bongkar muat kapal-kapal dari berbagai daerah,” katanya,

 

Sumber: Radar Surabaya, 22 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *