Jadilah Sahabat Bukan Pengawas. Jawa Pos. 16 Agustus 2019. Hal.7_Jimmy Ellya Kurniawan_PSY

 

Kisah cinta adalah salah satu “drama” masa remaja. Orang tua pun kadang dibikin waswas saat buah hati mereka bertanya soal pacaran. Diizinkan, ah nanti kebablasan. Kalau dilarang, takutnya mereka akan kucing-kucingan.

Semua orang tua tentu pernah melalui masa remaja. Periode ditahun terakhir SD hingga SMA itu diwarnai sejumlah perubahan. Produksi hormone meningkat, sebagian organ tubuh pun mulai berkembang layaknya dewasa.

Menurut Dr Damba Bestari SpKJ, pada fase remaja, bagian otak yang berperan mengolah reaksi emosi-disebut amygdala– sudah berkembang maksimal. “karena itu, remaja sudah punya sexual drive serta perasaan atau emosi yang intens,” ungkapnya.

Berbeda dengan dewasa, remaja belum memiliki control. “frontal lobe, bagian otak yang memegang fungsi tersebut, belum optimal. Makanya, remaja cenderung spontan dan emosinya intens, tapi gampang berubah,” lanjutnya.

Psikiater alumnus Universitas Airlangga Surabaya tersebut mejelaskan, hal itu membuat remaja mulai tertarik kepada lawan jenis. “mereka biasanya melihat hal-hal yang menonjol. Baik secara fisik maupun kualitasnya lainnya,” kata Damba.

Meski begitu ketertarikan itu tidak terlepas dari pencarian identitas. “anak-anak baru gede ini beranggapan, kalau bisa berkenalan atau dekat, mereka akan ikut keren dan sebagainya,” ujarnya. Menurut Damba, tidak ada batas usia standar untuk berpacaran. Orang tua bisa memberikan izin jika anak dinilai siap secara mental.

Hal itu juga ditegaskan psikolog Dr Jimmy Ellya Kurniawan MSi. Dia mengatakan, kesiapan anak bisa dilihat dari keseharian mereka. “cek, apa anak sudah bertanggung jawab pada tugas-tugasnya? Apa mereka sudah mampu membagi waktu?” tutur Jimmy.

Dekan fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya itu melanjutkan, orang tua perlu menjelaskan hubungan dalam pacaran. “sering kali anak mikir, ‘pasangan ku adalah milikku.’ Padahal, hubungan itu punya dua orang. Hubungan harus saling mendukung,” tegasnya. Alhasil, banyak remaja yang terjebak dalam hubungan yang merugikan diri mereka. Sahabat menjauh, kegiatan sekolah berantakan, bahkan ABG perlahan jauh dari orang tua.

Jimmy dan Damba menuturkan, orang tua perlu mengawasi hubungan anak dengan kawan dekatnya. Tapi tidak dengan pantauan langsung seperti petugas keamanan. “jadilah sahabat anak, yang dapat dipercaya dan diajak cerita dengan nyaman. Nah, sembari bercerita, orang tua bisa sharring pengalaman lama dan menanamkan rambu-rambu,” ucap Damba. Jimmy menambahkan, orang tua harus memberikan penjelasan rasional agar bisa doterima remaja dengan baik.

 

Saran bagi orang tua

Waspada ketika pacaran mulai tak sehat

Menurut Psikolog Dr Jimmy Ellya Kurniawan MSi, ada tiga penanda bahwa pacaran mulai mengarah ke hal negative. Apa saja?

Rohani

Anak sering telat beribadah atau meninggalkan kegiatan ditempat ibadah

Relasi

Anak menjaduh dari orang tua dan teman. Mereka sering berbohong atau enggan bercerita

Prestasi

Nilai anak turun, tugas sekolah sering diabaikan. Disisi lain, mereka bisa jadi sering absen di kegiatan ekstrakulikuler

 

 

Panduan buat anak

Boleh suka tetap waspada

Jatuh cinta, berjuta rasanya. Meski cinta, tetap waspada ya! Jika pasangan kalian menunjukan tanda-tanda berikut, berpikirlah ulang untuk melanjutkan pacaran.

Membuat kita merasa takut dan terancam

Mempermalukan kita didepan public atau terus mengejek dan memberikan komentar negative

Kerap mengontrol dengan membatasi aktivitas kita bersama teman den keluarga

Terus-menerus memantau lewat telepon maupun pesan. Rasanya seperti diawasi terus menerus

Mengecek ponsel dana kun media social bahkan meminta kata sandinya

Selalu memaksa untuk melakukan hubungan intim dan hal yang membuat tidak nyaman, meski kita sudah menolak

Enggak jujur, baik dengan cara menyembunyikan sesuatu maupun bicara bohong

 

Bicarakan bersama Anak

Bahas batasan sentuhan fisik

Dimasa remaja produksi hormone, termasuk hormone cinta, meningkat. Alhasil, sentuhan kecil fisik seperti bergandengan tangan bisa membuat hati terasa tidak karuan. Bahkan, hal itu bisa mengarah ke hubungan yang lebih intim. Nah, orang tua dan anak bisa membuat kesepakatan soal batasan sentuhan.

Bekali pendidikan seks

                Pendidikan seks sebaiknya diajarkan sejak anak berusia 4-6 tahun. Misalnya perbedaan laki-laki dan perempuan hingga pentingnya melindungi tubuh. Untuk remaha “tambah” bekal dengan konsekuensi berhubungan seks. Agar lebih mudah gunakan media yang fun, misalnya film dua garis biru atau webtoon young mom.

Buat anak diterima apa adanya

Penerimaan dari keluarga dan tean membuat anak punya konsep diri yang baik. Mereka percaya diri dan merasa berharga. Disisi lain, remaja yang sering jadi korban kekerasan saat pacaran memiliki rasa rendah diri. Menurut dia, jika sang pacar meninggalkannya tidak ada lagi yang akan menerimanya. Alhasil, mereka merasa harus bertahan dalam hubungan tidak sehat itu.

 

Sumber: Jawa Pos. 16 Agustus 2019

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *