iTalk Do Re Mi (Dolanan dan Berkreasi)

 

iTalk (Innovation Talk) kembali hadir di bulan Juli bertemakan Do Re Mi (Dolanan dan Berkreasi di masa Pandemi). Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, Perpustakaan Universitas Ciputra bekerjasama dengan CCHS (Centre For Creative Heritage Studies) mengajak Bapak, Ibu, Kakak-kakak dan Adik-adik semua untuk sama-sama belajar kreasi mainan dari bahan-bahan di rumah dan filosofi mainan tradisional dari dalam dan luar negeri. Selain itu, dalam acara peserta juga diajak bermain dan belajar bersama dengan teman-teman dari Museum Gubug Wayang Mojokerto dengan museum virtual dan melihat koleksi Wayang Kancil. Kegiatan ini diharapkan memberikan wawasan yang dapat diterapkan untuk bisa menciptakan suasana menyenangkan juga berkualitas bagi keluarga saat di berdiam di rumah dan tentunya akan membuat anak-anak semakin imajinatif, kreatif dan lebih mengenal budaya dalam masa New Normal ini. iTalk ini dilaksanakan pada Sabtu (18/7) dan dimoderatori oleh Bu Inggrita Putri ini mengundang 3 narasumber, antara lain, Cyntia Handy (Direktur Museum Gubug Wayang), Mustofa Sam (Founder Kampoeng Dolanan, Commmunity Development Enthusiast), Michael N. Kurniawan, S.Sn., M.A. (Head of Centre for Creative Heritage Studies, Peneliti di bidang peran museum bagi pendidikan tinggi desain di era ekonomi kreatif berbasis budaya).

Sesi pertama diisi oleh pak Mustofa Sam yang biasa dipanggil Cak Mus. Kampung dolanan sendiri adalah sebuah organisasi pelestarian permainan tradisional. Cak Mus menjelaskan tentang beberapa permainan tradisional dan di Indonesia sendiri terdapat kurang lebih 2600 permainan tradisional. Cak Mus juga memperkenalkan permainan yoyo yang sudah dimodifikasi dan terdapat unsur edukasi, seni, keseimbangan, dan keterampilan. Permainan tradisional sangatlah penting dan lebih mengedukasi permainan modern yang cenderung ke game ponsel ataupun tablet. Tidak jarang anak-anak udah mulai tak mengenal permainan tradisional karena siapa lagi karena sudah sangat jarang yang memainkannya karena sudah masuknya teknologi padahal menurut Cak Mus, anak-anak memiliki imajinasi yang bagus untuk bermain.

Cak Mus juga tidak kehabisan cara ketika mainan yang awalnya dianggap negatif oleh masyarakat, akhirnya oleh beliau dimodifikasi menjadi permainan yang edukatif sehingga anak-anak semakin tertantang untuk mencari tahu. Selain itu Cak Mus juga membuat permainan-permainan baru yang sangat mengedukasi, sehingga pengetahuan anak semakin meningkat sembari bermain dengan belajar.

Narasumber kedua yaitu kak Cyntia Handy (Direktur Museum Gubug Wayang), memutarkan sebuah pertunjukan wayang kancil kardus dari sanggar Gubug Wayang Mojokerto. Kak Cyntia juga memberikan pengetahuan tentang cara mendidik anak yang memiliki pengetahuan tinggi serta sikap mencintai tanah air. “Bukan lagi menciptakan Anak pintar, tapi bagaimana menciptakan anak berkualitas untuk selalu bermanfaat untuk sesama,” ujar kak Cyntia.

Apa yang disampaikan oleh kak Cyntia adalah bagaimana sebagai orang tua mendidik anak untuk mencintai budaya Indonesia bukan budaya barat. Ketika anak–anak sudah melupakan permaian tradisional dan mulai bermain gadget lalu lebih mengenal lagu-lagu barat daripada lagu-lagu daerah di Indonesia, itu adalah salah satu tujuan bangsa asing memperkenalkan budayanya, sehingga tradisi mereka lebih mendunia dan dikenal oleh banyak orang.

Narasumber ketiga, yaitu pak Michael N. Kurniawan, S.Sn., M.A. (Head of Centre for Creative Heritage Studies, Peneliti di bidang peran museum bagi pendidikan tinggi desain di era ekonomi kreatif berbasis budaya, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra Surabaya) menjelaskan bahwa pelestarian budaya adalah pelestarian nilai-nilai budaya, bukan wujud fisiknya. Oleh sebab itu ada banyak cerita dibalik cerita dan permainan tradisional yang masih bisa dipakai nilai-nilai budaya untuk anak-anak masa kini. Bahkan anak-anak bisa banyak belajar dari museum. Beberapa aktivitas anak sekolah di museum seperti mendokumentasikan, mencari informasi, dressing up, memegang artefak kebudayaan, membuat objek kreatif, menghias media, dan bermain dengan gadget seputar koleksi  artefak di museum tersebut.

Kesimpulan dari iTalk ini adalah bagaimana cara kita untuk tetap bisa melestarikan budaya tradisional Indonesia dan juga menghadapi pandemi Covid-19 dalam kegiatan pendidikan. Tidak sulit untuk melakukan kegiatan yang mengedukasi dan tetap bisa belajar dengan baik meskipun harus melalui kelas online atau daring.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *