Interview with Angeline Vivian Tjahyadi

Angeline Vivian Tjahyadi atau yang akrab disapa Vivi, mahasiswi jurusan Psikologi Universitas Ciputra yang saat ini menginjak semester 5 ini telah membuktikan bahwa menjadi seorang mahasiswa berprestasi secara akademik, berprestasi saat menekuni passion, minat dan hobi sekaligus bukanlah hal yang tidak mungkin. Vivi yang juga adalah Finalist Ciputra Young Entrepreneurship Award, Top 10 English Debate in Asian English Olympics 2018, ternyata juga memiliki talenta menyanyi dan hal ini ditunjukkannya melalui kemenangan yang ia raih dalam salah satu lomba menyanyi yang diadakan oleh UKM Jepang Universitas Ciputra, di mana piala Juara 3 lomba J-Song pada 26 Agustus 2017 lalu berhasil ia menangkan.

Salah satu anggota band Resonance (UKM band) ini mengaku bahwa sudah senang menyanyi sejak kecil, namun bakatnya ini tidak ia kembangkan melalui les melainkan mengikuti lomba-lomba yang ada.

Tidak hanya itu, mahasiswi angkatan 2016 ini juga memiliki passion dalam ajang E-Sports dan sedang menduduki ketua UC Esport dan juga bekerja sebagai PUBGM Esports support Internasional. WOW! Sebuah rekam jejak yang luar biasa!

 

UC Library berkesempatan mewawancarai Vivi, dan bertanya secara khusus mengenai passionnya dalam bidang eSports, sejak kapan ia terjun, dan mengapa bidang tersebut yang ia pilih, dan bagaimana ia mengatur waktunya. Berikut hasil wawancara singkat kami:

 

Q: Sebenarnya apa sih eSports itu?

Vivi: ESports (Electronic Sports) merupakan jenis bidang olahraga yang memanfaatkan video games sebagai bidang kompetitif utama, seperti Mobile Legend, League of Legend, Arena of Valor dan DOTA. Saya pernah menjabat sebagai manajer di Armored Project, sebuah organisasi ESports, yang sudah memiliki tim-tim dengan skala main secara taraf nasional maupun internasional, antara lain tim League Of Legend dan tim Arena Of Valor. Awalnya saya hanya player biasa sih, saya menekuni eSports sejak SMP. Karena saya orangnya kurang enjoy freetime, maka saya mengisi waktu luang dengan kegiatan yang saya sukai dan tetap produktif, yang saya sebut serious leisure, seperti main game dan baca buku. Banyak orang melihat baca buku itu sebagai hobi, tapi bagi saya baca buku itu bukan hobi, tapi serious leisure. Jadi tetap bisa rileks tapi serius. Dan entah kenapa kok bisa kecemplung di dunia ESports.

 

Q: Kenapa tiba-tiba ada keinginan untuk menekuni eSport?

Vivi: Bermula dari Florian, mahasiswa Psikologi Universitas Pelita Harapan, Jakarta, yang menjadi pacar saya saat ini. Kami kenal melalui forum akademisi debat, dimana kami saling bertukar jurnal untuk keperluan tugas. Dari situ, saya tahu kalau dia merupakan atlet profesional Esports dan pernah menjadi shortcaster di PT. Garena dengan pengalaman 3 tahun. Bahkan dia pernah mewakili Indonesia untuk main di Taiwan. Kala itu, tim gamer dari teman Florian berkompetisi ke tingkat nasional, dan membutuhkan coach, owner dan manager selain pemain. Posisi coach dan owner dipegang oleh Florian, dan dengan memberanikan diri saya mengambil posisi manager. Umumnya, manager harus memiliki pengalaman 2 tahun atau lebih dalam eSports dan biasanya berumur 20 tahun sekian. Meski tidak memenuhi kualifikasi tersebut, prinsip saya adalah “If you never try, you’ll never know.”

Akhirnya saya bergabung dan setelah satu season terselesaikan, kami mendapatkan investor baru dan sering diliput media. Bahkan partner baru kami, Pak Daniel mendanai dan membantu pengembangan tim kami dengan menyediakan gaming house, pc dan rumah untuk player kami serta gaji. Beragam sponsor besar pun kami dapatkan, ada dari Logitech, Mr.Smith, dan Donburi Ichiya. Bahkan sekarang kami memiliki videografer professional dari Last Day Production.

Semalam ketika saya mau tidur juga sempat terpikir, sekiranya saya tidak terjun di eSports. Saya tidak akan jadi kayak gini, saya bersyukur bermula dari hobi, kini saya mendapat uang sebagai pemasukan bulanan.

 

Q: Menurut kamu, bagaimana perkembangan eSports saat ini?

Vivi: Meski benar eSport sekarang belum terlalu besar di Indonesia, but good news-nya adalah “We can make it bigger”, karena key source pun juga bilang bahwa Esport di Indonesia itu bakal pesat banget, buktinya adalah banyak banget brand-brand dan company yang sudah sadar akan pesatnya Esports di Indonesia hingga mereka mau jadi investor, misalkan Gojek, yang bukan berasal dari dunia Esports, namun mereka mensponsori salah satu team terbesar di Indonesia “EVOS”. Brand sebesar Gojek aja bisa berani buat invest, berarti, “there is someting there”, dan itu salah satu alasan juga kenapa banyak orang akhirnya mau terjun di eSports, “Because they love it and they want make it bigger”, karena saya juga ingin anak cucu saya nantinya bisa memiliki peluang di dunia eSport yang sama seperti diluar negeri. Kita harus benar-benar fight!

Q: Bagaimana cara kamu me-manage waktu?

Vivi: Saya yakin semua orang pasti punya waktu yang kepepet dan yakin manajemen waktu itu penting banget. Kalau saya adalah dengan tidak menunda–nunda, sebenarnya tugas tidak bakal banyak, kecuali kalau kita menundanya. Dulu saya merupakan cewek yang tidak terorganisir, tidak punya jadwal, selalu bingung mau ngapain, sampai akhirnya saya diajarin untuk memanfaatkan post-it dan membuat kalender di HP, dan itu sangat membantu. Jika saya diberi tugas oleh dosen dan dikumpulkan minggu depan, saya mengerjakan tugas harus selesai H-4 atau H-3, tidak boleh hari itu selesai dan hari itu juga kumpul, dan ini juga antisipasi untuk mengerjakan tugas yang lain, jadi “multi tasking” gitulah. Seperti kemarin saat saya di kirim EIO ke Jakarta, debat Inggris Internasional, disela-sela itu ada waktu sekitar 2 jam-3 jam, saya manfaatkan kerjain tugas dosen, ketemu dan deal dengan sponsor. Singkatnya adalah tetap istirahat cukup, tapi juga mengerti jadwal. Harus punya jadwal, karena dari situ kita bisa benar-benar memahami prioritas kita. Ada kalanya, saya mengalami waktu yang kepepet, ada debat dan yang satu lagi eSport, dan harus milih salah satu, dan biasanya saya memilih yang lebih urgent. Selain keluarga, kuliah tetap menjadi prioritas nomer satu. Ada anggapan bahwa orang yang berprestasi tidak bisa bermain game atau tidak bisa berpotensi di dunia game, maupun sebaliknya, orang yang bermain game, pasti tidak berhasil dalam bidang akademis, tapi buktinya IP saya 3,9. Jadi menurut saya, main game bukan alasan nilai kamu jelek. Harus manage waktu dan tentukan prioritas itu penting.

 

Q: Misalnya ada mahasiswa yang ingin menekuni eSports tapi ragu, kamu ada pesan-pesan?

Vivi: Banyak sih, ingat pakai waktu hidup mu If you never try, you’ll never now”, tapi juga harus mikirin “Which what you really want?” Karena eSport di Indonesia tidak seperti eSport di luar negeri, harus kita akui bahwa faktanya eSport di Indonesia itu baru akhir-akhir ini diakui oleh Indonesia itu sendiri, dan eSport dimasukkan ke cabang olahraga kan baru tahun lalu, sedang di luar negeri sudah beberapa tahun lalu. Di Indonesia eSport bukanlah karir yang menjanjikan berbeda dengan di luar negeri, makanya banyak orang di luar negeri drop off SMA dan kuliah demi Esports, main game terus sampai 12-14 jam perhari, latihan, jadi profesional gamer, karena apa? Duitnya banyak, popularitas besar, masa depan terjamin, jadi itu sebuah hal yang promising di luar negeri. Lain halnya di Indonesia kita harus menerima faktanya bahwa kerja di bidang Esport itu merupakan passion, jadi itu yang perlu di tanyain kalau anak-anak mau terjun ke dunia esport, kita harus tanya diri kita sendiri “Is that really your passion?” Karena kalau bukan passion, aku yakin sebulan sampai dua bulan pasti rontok. Karena memang eSport itu waktunya harus banyak dan kita harus benar-benar “into it” gitu.

Q: Tips mem-balance-kan antara hobi dan kuliah?

Vivi: Menurutku, “Kalau nilaimu bagus, kamu boleh main game sepuasnya. Kalau nilai mu jelek, berarti you have a lot of things to fix; remidi, revisi, dan itu nambah-nambahin kerjaan yang tidak efektif.” Prinsipku “Do it Once” dan cukup, dan kalau udah cukup ya udah jangan di over do it. Contoh, kamu bisa bikin tugas sekali dan mendapatkan nilai 90, malamnya tinggal main game. Kalau menunda dan main Mobile Legends dulu 3-4 jam, lalu mendapat nilai 50, dan malam revisi lagi, kan nambah-nambahin hal yang sebenernya tidak perlu dilakukan.

 

Q: Apa sih yang kamu dapetin dari koleksi buku UC Library?

Vivi:

Pertama, buku di UC Library sangat membantu saya ketika mencari referensi. Perlu diketahui juga buku bertema psikologi rata-rata berukuran tebal dan berharga mahal, mengucap syukur UC Library memiliki banyak sekali buku psychology yang menurut saya sangat membantu dalam menjalani perkuliahan. Selain itu, juga membantu ketika mempersiapkan diri mengikuti lomba debat. Bahkan rasanya ‘jatah’ pinjam koleksi buku serasa kurang, karena memang kalau hanya mengandalkan internet, tidak akan se-runtun jika belajar dari buku. Misalnya jika kita mencari kata kunci ‘psychology positive’,  memang benar akan keluar semua pencarian tentang subyek tersebut, tapi lompat-lompat dari teori A ke C lalu ke Z tiba-tiba ke Y. Jadi saya tidak bisa belajar secara runtun.

Contohnya lagi saat mempersiapkan lomba debat di Asian English Olympics 2018 lalu, saya sangat sering membaca referensi buku di perpustakaan. Dari buku yang kita baca, akhirnya kita benar-benar mengerti urutan kerangka berpikirnya. Buku-buku tersebut sangat ‘essential’ buat lomba kita, seperti yang menentukan hidup mati kita, kalau misal buku ini sudah tidak ada atau tidak kita hafal, wah tewas bisa-bisa.

Kedua yang saya suka tentang UC Library adalah fasilitasnya berbeda dengan lainnya. Ketika belajar di UC Library itu seperti memasuki ruangan yang intensif tapi rileks, ada tempat nge-charge juga, sejuk, tidak pengap, dan akhirnya jadi “kerasan” gitu. Dari sekedar latihan debat, bikin mosi sampai kerjain eSports, sangat nyaman di UC Library.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.