International Webinar on Mask of Global Society and The Dance of Maestro

International Webinar on Mask of Global Society and The Dance of Maestro yang diselenggarakan pada Sabtu lalu (15/8) dihadiri oleh 210 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi dan praktisi. Kegiatan yang dimulai Pkl. 09.00 WIB dan diadakan secara virtual ini dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc., dan beliau memberikan apresiasi kepada Universitas Ciputra, para pembicara, para maestro tari, dan juga partisipasi peserta atas terselenggaranya event ini di tengah masa pandemi dan tetap memiliki semangat untuk mempelajari serta memperkenalkan budaya Indonesia dan juga dunia melalui topeng dan tari. Sambutan pembuka selanjutnya disampaikan oleh Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan, dengan memberikan catatan bahwa acara ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah untuk kelestarian budaya Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Mr. Jeong Hongsik, sekretaris umum International Mask Arts & Cultural Organization, Daniel Haryodiningrat B.A., M.Hum., Direktur Museum Ullen Sentalu, dan Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc., Rektor Universitas Ciputra Surabaya sebagai tuan rumah kegiatan International Webinar on Mask of Global Society and The Dance of Maestro.

Sesi selanjutnya adalah pemaparan dari Keynote Speaker dengan dimoderatori oleh Bapak Daniel Haryodiningrat B.A., M.Hum., dengan Kathy Foley Ph,D sebagai keynote speaker dengan tema Mask of The Other. Kathy mempresentasikan mengenai kecintaannya dengan topeng, apa arti topeng dan mengapa topeng menjadi hal yang penting. Topeng adalah alat untuk adegan luar biasa dan dengan menggunakan topeng seseorang bisa bertransformasi menjadi karakter lain seperti “binatang” seperti hanuman, raksasa seperti rawana, bisa menjadi dewa, dan bisa juga menjadi karakter yang lucu. Topeng dan wayang adalah kunci dari rahasia hidup, kunci yang turun temurun dari leluhur. Topeng dan wayang adalah petunjuk tentang arti hidup disini dan di dunia abadi.

 

Setelah sesi dari keynote speaker, acara dilanjutkan dengan penampilan pembuka dari Lantip Kuswala Daya membawakan Tari Kyai Goweng yang merupakan salah satu topeng masterpiece seperti Kyai Geger milik Puro Mangkunegaran. Hingga saat ini, belum diketahui pasti usia topeng Kyai Goweng yang mungkin sudah puluhan bahkan melewati seratus tahun lebih. Tari Kyai Goweng mengambil lokasi di Plataran Tawang Turgo yang permai di dalam kompleks Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta.

 

Selanjutnya para peserta diarahkan untuk mengikuti sesi parallel sesuai dengan sesi yang telah dipilih pada saat pendaftaran. Bapak Daniel Haryodiningrat B.A., M.Hum akan kembali menjadi moderator di Paralel Sesi 1 sedangkan untuk Paralel Sesi 2 akan dimoderatori oleh Bapak Michael N. Kurniawan, S.Sn., M.A. (Head of Centre for Creative Heritage Studies Universitas Ciputra).

 

Paralel Sesi 1

The Reality of Topeng: Javanese Masks and Islamic Mysticism – Prof.Matthew Isaac Cohen

Filsafat dan estetika topeng dijelaskan bahwa ada hubungan secara estetika dan teologi. Hal ini dijelaskan melalui penampilan dan pertunjukkan topeng.  Prof.Matthew Isaac Cohen dalam presentasinya berfokus pada topeng Jawa dan menjelaskan mengenai filosofi dari budaya topeng. Prof.Matthew Isaac Cohen mempresentasikan mengenai gambaran pertunjukkan topeng di tahun 1790an yang tergambar pada Serat Damar Wulan yang kini menjadi koleksi di The British Library. Selain itu, dipaparkan juag mengenai pertunjukkan topeng oleh beberapa penampilan dari para pecinta seni seperti  Juniyahin Leuwigede dengan penampilan tari Widasari, “Nani” Nuraini dengan tari Topeng lakonan, Ki Dalang Bahani dengan Wayang kulit, dan lain-lain. Seluruh pertunjukkan seni topeng ini menunjukkan topeng sebagai wrana yaitu sebagai sekat, dalih, pengganti atau sebagai bentuk representasi.

The Greatest Panji – Dra. Ira Kusumorasri

Dra. Ira Kusumorasri memaparkan mengenai keistimewaan Topeng Panji yang merupakan puncak dari kesenian topeng yang lahir dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Topeng Panji lahir dan berkembang sejak zaman Majapahit (1293–1527 M) dan masih terus bertahan hingga sekarang. Demikian seni Topeng Panji telah menembus waktu lebih dari 700 tahun lamanya. Keberadaan bentuk-bentuk ekspresi seni topeng yang beragam dan melalui proses kreatif baik di istana maupun di masyarakat menjadikan Topeng Panji terasa begitu membumi. Bahkan tataran proses kreatifnya telah menyentuh seluruh aspek kreativitas kalangan atas (keraton) hingga bawah (rakyat). Topeng Panji menjadi menarik ketika membawa spirit sebagai produk asli kebudayaan masyarakat Jawa (Indonesia). Bahkan produk asli kebudayaan masyarakat Jawa ini kemudian berkembang hingga ke wilayah Asia Tenggara. Kini Naskah Panji telah diakui Memory of World (MOW) oleh UNESCO pada tanggal 31 Oktober 2017 dari sebagai hasil pengajuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Setelah sesi dari Dra. Ira Kusumorasri, dilanjutkan oleh penampilan tari dari Prof Een Hardiana dan Prof. Dr. Endang Caturwati. Keduanya membawakan Tari Purbasari dan Purbararang yang diambil dari Kisah Lutung Kasarung tentang perselisihan dua bersaudara dalam perebutan penerus tahta. Kemudian dilanjutkan oleh sesi dari Dr. Steven Frost mengenai Tradisi Topeng di Propinsi Guizhou.

 

Mask Traditions of China’s Guizhou Province – Dr, Steven Frost

Dr, Steven Frost berbicara mengenai tradisi topeng dari Provinsi Guizhou, yang terletak di daerah pegunungan Tiongkok Barat Daya. Teater topeng Tiongkok bukanlah penampilan yang bisa dinikmati sendiri/terpisah. Teater topeng berkaitan dengan ritual memohon berkat dan keberuntungan, serta jamuan komunal. Ketika teater di Guizhou tampil, teater merupakan bagian dari ritual yang lebih besar. Kisah terkenal seperti Tiga Kerajaan (Sam Kok), Wang Lingguan, Dewa Bumi, Meng Jiang Nu, Guan Yu, Han Xin, dan kisah Tang Er.

 

New Tradition for New AudienceYati Yusoff

Yati Yusoff mempresentasikan bagaimana para praktisi menjaga tradisi topeng tetap hidup dan mengapa penting untuk mengadaptasi presentasi pertunjukan topeng kepada khalayak baru. Sebagai pembuka, Ibu Yati Yusoff memberikan pengenalan mengenai budaya Topeng di Asia Tenggara khususnya yang banyak mendapatkan pengaruh dari Agama Hindu. Kemudian dilanjutkan dengan mempresentasikan bagaimana seharusnya generasi muda melestarikan budaya topeng, karena budaya adalah untuk berbagi. Dengan berkolaborasi, melibatkan artis dengan berbagai genre, serta pemanfaatan teknologi maka akan tradisi topeng masih dapat relevan dengan audiens baru. Yati Yudoff mengingatkan bahwa hal tersebut sangat mungkin terjadi jika seluruh elemen dalam pertunjukan topeng mampu memperbarui dirinya melalui narasi baru dan teknologi teater untuk menangkap kembali minat orang-orang dari berbagai komunitas. Pelaku dan produsen harus memiliki kepekaan terhadap kebutuhan dan minat khalayak global baru untuk memastikan keberlangsungannya.

 

Paralel Sesi 2

Tari Topeng Di Jawa Barat – Prof. Dr. Een Herdiani

Sesi dari Prof. Dr. Een Herdiani dibuka dengan pengantar mengenai topeng dari Jawa Barat. Dalam perkembangan dan peta perjalanan Topeng di Jawa Barat terdapat tiga bentuk seni topeng, yaitu Topeng Cirebon, Topeng Priangan, dan seni topeng yang berbentuk teter rakyat. Genre tari topeng memberi pengaruh besar terhadap perkembangan tari di Jawa Barat. Istilah topeng dalam konteks seni pertunjukan di Jawa Barat merupakan gambaran tabiat/karakter manusia baik yang baik dan jahat, bagus dan jelek, serius dan lucu, serta halus dan gagah. Di wilayah pantai utara Jawa Barat khususnya di kalangan para seniman, kata topeng tidak hanya menunjukkan sebuah benda penutup muka, tetapi juga untuk menunjukkan berbagai identitas. Dapat mencakup nama orang, tempat, warna, benda, maupun dengan kata lainnya. Sebagai contoh kata topeng yang terkait dengan nama orang memiliki arti penari. Atau di Cirebon dan sekitarnya dikenal dengan sebutan dalang topeng. Misalnya topeng Rasinah, Topeng Sawitri, Topeng Dewi, dan lain-lain. Prof. Dr. Een Herdiani juga menjelaskan mengenai fungsi pertunjukkan topeng diantaranya untuk acara hajatan nikah maupun khitanan juga untuk acara upacara. Selain itu juga dijelaskankan mengenai jenis topeng serta seni pertujukan topeng di Jawa Barat, kemudian ditutup dengan pernyataan bahwa Topeng sebagai salah satu seni tradisi yang hidup di Jawa Barat adalah tradisi yang tidak mati dan terus berubah sesuai dengan perubahan sosial-budaya dan sosial-politik masyarakat pendukungnya.

Japanese Intangible Cultural Heritage in Masks – Dr. Hiro Kajihara

Pada awal sesi, Dr.Hiro Kajihara mengajak audiens untuk melihat laman dari UNESCO ICH (Intangible Cultural Heritage – Warisan Budaya Tak Benda). Dengan memasukkan kata kunci ‘Japan’ (Jepang) maka akan ditemukan 21 elemen dalam daftar, hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Jepang sejak tahun 2008 sampai 2018 telah memasukkan 21 elemen ke dalam daftar UNESCO ICH. Terdapat 5 elemen dengan topeng sebagai bagian utamanya, ditandai dengan garis berwarna kuning: Noh (2008), Bugaku, Kagura (2009), Sada Shin Noh (2011), dan Raiho-shin (2018). Kelima elemen ini dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu Noh, Kagura, dan Raiho-shin. Noh merupakan pertunjukan musik Jepang yang paling tua, atau seringkali dikenal dengan sebutan opera Jepang. Kagura adalah seni pertunjukan Jepang yang dilakukan di Kuil Shinto pada festival tahunan musim panas dan musim gugur sebagai undangan dan perayaan bagi para dewa Shinto. Raiho-shin – ‘Raiho’ dalam bahasa Jepang berarti ‘datang’ dan ‘Shin’ berarti ‘Tuhan’. Orang Jepang percaya bahwa pada waktu-waktu tertentu, seperti misalnya Tahun Baru, Tuhan akan datang untuk memberkati mereka, yang dituangkan dalam ritual Raiho-shin.

Pada parallel sesi 2 disuguhkan penampilan dari Handoyo dari Sanggar Tari Asmorobangun, Kedungombo di Malang membawakan tarian Topeng Klana gagrak Malang atau Jawa Timur yang berkisah tentang Raja Klono Sewandono dari kerajaan Rancang Kencono yang bersifat ksatria dan gagah berani serta suka berkelana dan berpetualang hingga ke tempat yang jauh dan selalu dijunjung tinggi para abdi dalemnya.

 

Mask Traditions and Rituals in France– Clara Gilbert

Pada sesi ini, Clara Gilbert memaparkan presentasi yang berfokus pada penggunaan topeng dalam fungsi ritualnya, sebagai cikal bakal konsep Karnaval dan Parade yang merujuk pada tanggalan liturgi agama Katolik sebagai permulaan dari masa puasa, yang dirayakan dengan tari-tarian, musik, dan pemakaian kostum. Pada abad pertengahan, topeng yang banyak digunakan pada tradisi ritual adalah topeng dari binatang, salah satunya adalah The Bear Celebration menceritakan perburuan beruang dan kisah dua karakter utama: Pemburu (Hunter) dan Rosetta. Karakter beruang diperankan oleh pemuda desa memakai topeng beruang dan kostum dari kulit kambing. Topeng beruang dalam ritual ini memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, secara simbolis sang beruang memberikan kesuburan bagi para wanita muda melalui siklus menstruasi. Di sisi lain, topeng beruang menandakan transisi antara ketiadaan adab manusia di luar kehidupan bermasyarakat diwujudkan sebagai sang beruang dan keadaban manusia di dalam masyarakat direpresentasikan sebagai sang pemakai topeng.

 

Maskers and Markers Aotearoa oleh Lester Finch

Presentasi dari Lester Linch dibuka dengan pengenalan mengenai New Zealand. Masyarakat Aotearoa – New Zealand sangat menjunjung tinggi keragaman budaya, inklusif dan sebagai sebuah komunitas menyukai perbedaan budaya. New Zealanders memiliki etnis seperti Maori, Pasifika dan Pakeha. Aotearoa – New Zealand tidak memiliki sejarah panjang mengenai penggunaan topeng bahkan sekarang ini sedang pandemic COVID-19 tidak ada arahan secara massif mengenai penggunaan masker. Lester menyatakan bahwa New Zealanders, sebutan bagi orang New Zealand, sangat mengagumi perbedaan etnis dan kultur. Lester Linch juga menceritakan mengenai masa kecilnya di New Zealand saat ia belajar mengenai budaya Maori melalui lagu, tarian dan haka. Ia juga bercerita bahwa saat ada penyambutan tamu penting di sekolahnya, para siswa diperbolehkan untuk mewarnai wajahnya dengan pola spiral yang merupakan budaya dari Maori. Melalui gambar di wajah tersebut, New Zealanders merasa kuat dan memiliki keterikatan dengan alam dan spiritual. Inilah yang diperoleh Lester semasa kecil, mengenal budaya Tamoko atau tato dari suku Maori yang berisi gen, asal-asul keluarga, kebanggaan suku serta hubungan dengan Sang Pencipta. Selain memaparkan mengenai suku Maori, Lester juga memaparkan mengenai suku Pukana dan kebudayaannya yang kuat. Lester Flinch juga menyinggung mengenai budaya Indonesia yang berkembang di Aucland. Di akhir pemaparan, Lester Flinch mengingatkan bahwa budaya menjadi perekat antara manusia, diamana kita bisa menemukan kesatuan di dalam perbedaan yang ada.

Pada masing-masing sesi diberikan kesempatan bagi para peserta untuk bertanya mengenai topik yang dipaparkan oleh para pembicara. Setelah paralel sesi selesai, para peserta disambut dengan penampilan tari dari Dr. Bulantrisna Jelantik, maestro tari yang sudah melalang buana di berbagai negara dan guru tari banyak penari ternama. Pada kesempatan kali ini juga Ibu Bulan sharing bahwa dalam acara ini adalah kesempatan pertama beliau tampil di depan umum setelah menjalani 8 bulan perawatan dan terapi kanker Pankreas dan menceritakan sedikit tentang Tari Topeng Sitarasmi yang diambil dari kisah Ramayana 300 tahun lalu tentang kisah cinta sejati Sinta terhadap Rama suaminya yang meragukan kesuciannya setelah diculik Rahwana 14 tahun lamanya.

Keindahan tari Topeng Sitarasmi turut menjadi pembuka untuk sesi Tanya jawab di main plenary hall yang dipimpin oleh Bapak Daniel Haryodiningrat B.A., M.Hum.

Sebagai penutup disampaikan oleh Sandra Sardjono Ph,D, Founder Tracing Patterns Foundation. Ia menyampaikan bahwa topeng adalah Lingua franca, sebuah bahasa yang universal yang dapat menyatukan kita meskipun dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dengan adanya webinar ini dapat membuka kesempatan baik bagi dunia untuk dapat berkolaborasi dan terkoneksi. Ke depannya akan diadakan kembali webinar dan library projects.

Di penghujung acara ditutup dengan sesi foto bersama dan juga sebuah pertunjukkan tari penutup oleh Darlane Litaay dengan Tari Sepik Covid, terinspirasi dari tradisi topeng di sepanjang sungai Sepik di Papua yang sangat beragam dan indah. Topeng dalam tarian ini menyimbolkan masker yang harus dikenakan semasa pandemi COVID-19. Kita enggan mengenakannya tetapi tidak ada pilihan, bahwa kita harus mengenakannya demi menjaga kesehatan diri dan juga orang di sekitar kita. Pertunjukkan ini diabadikan dengan iringan musik remix dari Jack Nitzhe berjudul ‘One Flew Over Cucko Nest’.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *