Inovasi, Kunci Kemitraan Es Krim.Kontan.24 Maret 2018.Hal.1727042018

Meski ada yang usahanya tutup karena bahan baku, bisnis es potong ala singapur masih punya potensi.

                JAKARTA. Cuaca panas yang sering mendera, membuat camilan manis dan dingin seperti es krim selalu diminati. Apalagi, hampir semua kalangan menyukai es krim.

Tak heran, bisnis es krim terus berkembang. Salah satunya, bisinis jenis es krim potong berbalut roti atau yang sering disebut es krim singapur. Rasa es krim ini pun kian beragam. Ramainya penjualan juga membuat pelaku usaha baru terus bermunculan.

Kali ini KONTAN akan mengulas perkembangan bisnis es krim potong ini dari ketiga pemainnya, yakni Bay Sands Ice Cream, Manda Ice Cream, dan Es Potong Sandwich Raymond Lim. Umumnya, jumlah gerai pemain ini bertambah. Berikut ulasan lengkapnya:

Bay Sands Ice Cream

Usaha es krim potong besutan Joana Indah asal Tangerang, Banten ini berdiri sejak November 2013 lalu. Selang dua tahun, dia mulai menawarkan kerjasama melalui sistem kemitraan.

KONTAN, sempat mengulasnya pada 2015 lalu. Saat itu, belum ada mitra yang bergbung. Hampir tiga tahun berlalu, kini sudah ada 20 reseller yang bekerjasama.

Joana bilang, para reseller itu mulai bergabung sejak 2016, seiring dengan berubahnya nilai investasi kerjasama. “Dulu ada yang kerjasama tidak menggunakan booth sehingga nilainya berbeda,” katanya.

Per 2017, Joana kembali membuat tawaran kemitraan baru dengan modal kerjasama Rp. 8 juta. Fasilitas yang didapatkan mitra adalah booth, perlengkapan masak, freezer, branding, dan pelatihan.

Sebelumnya, calon mitra harus menyiapkan modal Rp. 50 juta bila ingin menjalin kerjasama. Dalam waktu tiga bulan, mitra sudah bisa balik modal asalkan, bisa mencapai target penjualan senilai Rp. 75 juta dalam sebulan.

Dia optimis dapat mencapai target memiliki 50 mitra karena menu es potong masih mempunyai potensi bagus. Buktinya, setiap minggu dia bisa mengikuti lima sampai enam event bazar. Hampir lima tahun menjalankan roda usahanya, Joana tak pernah mengalami kendala yang berarti.

Manda Ice cream

Pelaku usaha es potong lainnya adalah Mariono asla Tangerang Selatan, banten. Ia membesut Manda Ice Cream dan menawarkan kemitraannya sejak 2013.

KONTAN pernah mengulas pada Januari 2017, saat itu ada 15 gerai Manda Ice Cream yang tersebar di Jabodetabek. Kini, Mariono mengatakan jika seluruh gerai Manda Ice Cream tutup akibat kesulitan mendapatkan bahan baku. “Bahan baku yang kami gunakan banyak yang impor. Sedangkan sejak awal tahun bahan impor susah masuk ke Indonesia. Kalaupun ada harganya mahal,” ungkapnya.

Penutupan gerai ini sudah dimulai sejak akhir 2017. Mariono mengaku bakal kembali membuka usahanya bila kondisi bahan baku impor mulai stabil. Ia bilang sebagian besar bahan baku, terutama flavour dan gelatin didapatkannya dari Australia dan Eropa.

Sejatinya, dia sudah mencoba utnuk mencari bahan subtitusi bahan lokal. Namun, rasanya tidak bisa sama. “Saya nggak mau ambil resiko ganti bahan baku, nanti malah menurunkan kualitas,” kata Mariono.

Sebelumnya, Manda Ice Cream menawarkan dua paket kemitraan, yaitu paket Rp. 15.5 juta dan Rp. 26.5 juta. Sedangkan, untuk harga produknya dibanderol mulai dari Rp. 8000 sampai Rp. 16.000 per buah.

Selai itu, Mariono juga menual bubuk es krim. Dengan membayar Rp. 1 juta, sudah dapat bergabung menjadi mitra dan masuk dalam grup pendamping. Lainnya, mitra pun dibekali bahan baku es krim sebanyak 14 kilogram (kg). Untuk pembelian selanjutnya, mitra dikenakan biaya Rp. 70 ribu per kg.

Padahal bisnis Manda Ice Cream sempat mengalami masa kejayaan pada awal buka hingga tahun 2016. Saat itu, Mariono sempat berhasil menggandeng lebih dari 1.000 mitra dari Aceh hingga Papua. Penjualan tertinggi bubuk ice cream ada di Papua. Bahakan beberapa mitra disana, dalam sebulan bisa memesan lebih dari 100 kg per bulan.

Sandwich Raymond Lim

Pemilik gerai Es Potong Singapur Sandwich Raymond Lim makin gencar melakukan inovasi seiring kian ramainya kompetitor. Meski begitu, jumlah mitra justru menyusut.

Es Sandwich Raymond Lim ini mulai menjual kemitraan pada 2014. Setahun kemudian, mereka berhasil menggandeng 14 mitra. Namun, saat ini hanya tersisa 4 mitra aktif dengan gerai di Bekasi, Radio Dalam dan Palembang. Banyak mitra yang menutup gerainya lantaran bermasalah dengan sewa tempat yang kian mahal.

Namun tahun ini, ia menargetkan 20 mitra baru. Raymond Lim, pemilik kemitraan es potong ini, mengemas sistem penjualan baru, yakni menggunakan sepeda juga door to door untuk menghindari sewa tempat yang kerap menjadi masalah para mitra.

Sebelumnya Raymond, menawarkan paket investasi senilai Rp. 20 juta untuk join fee. Nilai ini untuk membayar lesensi kerjasama selama 3 tahun, peralatan, seragam karyawan, dan peralatan serta perlengkapan berjualan.

Kini nilai investasi untuk kemitraan, yaitu Rp. 10 juta dengan fasilitas freezer, 100 slice roti dan es krim, brosur dan kartu nama.

Disamping melakukan perubahan nilai paket kemitraan agar bisnis kian moncer, inovasi yang kini dilakukan adalah mempersingkat waktu agar lebih efektif dan efisien. Kini, es krim yang dijual oleh mitra sudah dipotong langsung dari pusat dan sudah dalam kemasan berikut dengan rotinya, jadi mitra tidak perlu lagi memotong es krim sendiri saat berjualan. Hal ini tentu untuk mempercepat proses penjualan.

Es Potong Sandwich Raymond Lim memiliki sejumlah varian rasa, diantaranya coklat, durian, stroberi, alpukat, kopi, vanila, kurma, green tea, mangga, jeruk, melon, kacang hijau, kacang merah, jagung manis, kelapa, kismis, rambutan, ubi ungu, ketan hitam, dan terong belanda. Satu porsi atau satu slice es krim berbungkus roti ini dibandrol Rp. 15.000. Estimasi balik modal sekitar 3 bulan dengan omzet Rp. 3 juta-Rp. 5 juta per bulan.

Tahun ini, Raymond juga membuat sistem pabrik home industry. Bagi mitra yang ingin kerjasama dalam bentuk ini, modalnya Rp. 700 juta dan memperoleh fasilitas yang lengkap. Mitra hanya perlu menyiapkan ruangan seluas 5x6m2 untuk memproduksi es krim. Ada empat mesin pembuat es krim dalam satu pabrik. Paket itu sudah termasuk biaya pesawat, tukang bangunan, pelatih khusus, dan semua instalasi. “Saat ini yang sudah ada di Palembang yang niat menjalankan kerjasama tersebut,” ujarnya.

Kendala yang kerap ditemui adalah seputar penggunaan buah segar. Ia harus teliti melihat kualitas buah agar bisa diolah menjadi es krim. Raymond pun tidak takut bersaing dengan kompetitor, karena es krim buatannya terbuat memakai buah asli. “Selama kita menjaga kualitas dan menggunakan buah asli, Es Potong Sandwich Raymond Lim tidak akan hilang dari peredaran”, tegas Raymond kepada KONTAN.

Semenjak bermitra dengan ojek online, Raymond sangat terbantu dan pengaruhnya terhadap bisnis sangat baik. Sebab, es krimnya bisa menjangkau lokasi pelanggan yang lumayan jauh, seperti Jakarta Barat, Kelapa Gading, Pondok Indah sampai Bogor.

 

Pusat dan Mitra Harus Pintar Cari Celah Pasar

SELAIN persoalan bahan baku impor yang mebuat salah satu pemain es krim potong, yakni Mandala Ice Cream menutup usahanya, para pemain lainnya hampir tak mendalami kendala dalam bisnis ini. Boleh dibilang, mereka tetap optimistis bisnisnya bakal lebih ramai, dengan kemasan-kemasan baru.

Menurut Erwin Halim, Konsultan Warlaba dari Proverb Consulting Ya bisnis es potong dengan roti yang dahulu terkenal di Singapura cukup bagus dijalankan di Indonesia. Namun umumnya para mitra perlu dukungan dari pusat untuk memilih lokasi dan karyawan dalam menjalankan usaha.

“Kalau ada yang tutup, karena teknis sewa menyewa dan harga itu diluar kemampuan pusat dan mitra. Oleh karena itu, mitra harus punya punya banyak pilihan lokasi saat menjalankan usaha. Seperti bisa memilih lokasi rumah sakit dan kampus sebagai alternatif lokasi,” ujar Erwin Halim.

Erwin berpendapat usaha es potong bersifat niche marketi dan mitra tidak bisa besar-besaran dalam melakukan penjualan. Kecuali, mitra bergabung dalam sebuah restoran atau coffee shop sehingga menjangkau banyak pembeli juga dan mendulang keuntungan lebih. “Intinya bisnis ini relatif mudah dijalankan dan memiliki penggemar tersendiri,” pungkasnya.

Yang jelas Erwin juga menegaskan bahwa pasar es potong berbalut roti ini masih cukup luas dan bagus, selama mitra dan pusat pintar mencari celah. Apalagi jika menawarkan keagenan di restoran atau coffee shop.

 

 

Sumber: Kontan.24 Maret 2018.Hal 1727042018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *