Inovasi di Tengah Rasa Sulit. Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.6

Setelah berdamai dengan Covid-19 mungkin terlalu berlebihan untuk digu nakan.  Yang jelas bagi masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, virus korona justru menjadi inspirasi dalam membuat motif batik.

Batik dengan motif gambar virus corona yang diproduksi oleh Rumah Batik Dewi Busana Lunang dan ada cerita yang menarik di baliknya.  Sang perajin merupakan penyintas Covid-19.

Dewi Hapsari Kurniasih (44) sehari-hari memang berprofesi sebagai seorang pengrajin batik di Pesisir Selatan.  Batik yang populer berkembangnya adalah Batik Mandeh Rubiah dan Batik Tanah Liek yang pernah populer di tingkat nasional.

Dewi mengungkapkan dirinya dinyatakan positif Covid-19 tepat jelang penutupan 2020. Entah dari mana dia terpapar, yang jelas kejadian tersebut seakan menjadi berkah yang tersembunyi.

Namun, hari-hari yang dilalui Dewi tidak mudah.  Dua orang pekerjanya juga dinyatakan positif Covid-19 sehingga harus melakukan isolasi mandiri.

Di tengah kesendirian itu, akhirnya Dewi akhirnya terpikir untuk menjadikan bentuk virus corona sebagai motif batik.  Tak disangka-sangka, motif batik justru kebanjiran pesanan.

“Saya awalnya memang lagi cari-cari ide untuk motif batik yang baru. Jadi, ketika saya terpapar Covid-19 dan mengharuskan isolasi mandiri saya merasa suntuk dan mencoba membuat gambar corona,” kadirinya tanya kepada Bisnis.

Awalnya, Dewi uji coba motif batik terse- tetapi dan belum menemukan komposisi wama yang cocok.  Lambat laun, dia memutuskan untuk menggunakan warna- warna cerah.

Warna terang yang diingin- kan Dewi ternyata memiliki alasan.  Mehurutnya, berkaca dari pengalaman yang dialam- inya itu, penting mendorong orang untuk selalu menjaga kesehatan dan tetap semangat hidup meski sedang terpapar Covid-19.

“Warna terang itu artinya semangat. Penting untuk menginspirasi banyak orang,” tegasnya.

Warna motif batik korona yang berubah oleh Dewi itu mencakup jingga, kuning, biru, hijau, dan merah, dengan perang- na kain dasar hitam.

Selanjutnya, dengan penuh percaya diri, Dewi mengusik ke Dewan.  Kerajinan Nasional Daerah Pesisir Selatan agar diberi kesempatan menampilkan motif batik.

Saat ini, pesanan yang ma- suk untuk batik motif corona telah mencapai ratusan potong.  Pesanan itu datang dari instansi Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan serta salah satu SD IT di Painan.

“Saya menjual batik dengan model dua pilihan. Pertama, motif batik korona yang dibuat menggunakan percetakan dan yang kedua menggunakan kain putihnya, juga bisa disesuaikan,” ucapnya.

Motif batik Corona dengan metode printing dijual de- ngan harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per meter.  Harga akan bervariasi sesuai dengan pilihan jenis kain putih yang digunakan.

Untuk motif batik korona yang diproduksi dengan cara dicat, harganya mencapai Rp225.000 hingga Rp250.000 per 2 meter.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Pesisir Selatan Lisda Hendrajoni menjelaskan kera-jinan batik di Pesisir Selatan sudah berkembang sejak empat tahun terakhir dan terkenal di tiga kecamatan dari 15 kecamatan.

Saat ini, di Pesisir Selatan ada lebih dari 200 perajin aktif yang memproduksi batik di tiga kecamatan tersebut.

“Saya sangat senang adanya motif baru muncul. Artinya, perajin kita masih mampu mengembangkan produktivitas di tengah-tengah ini,” tutur Lisda.

  PERAJIN BALI

Apa yang terjadi di Pesisir Selatan sejatinya terjadi pula di banyak tempat di Indonesia.  Seperti yang terjadi di Bali, misalnya, di mana pandemi Covid-19 berbagai inovasi baru.

Meski dilanda kondisi yang serba sulit sejak tahun lalu, pengrajin perak di Bali tidak akal sehat untuk tetap menjalankan bisnisnya dengan membuat gantungan masker yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Perajin perak binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Putu Sudi nyani mengatakan permintaan gantungan masker dari ba- han nonperak dalam waktu satu hari dapat mencapai 600 buah dengan harga mulai dari Rp25.000 sampai Rp35.000.

Gantungan masker dari perak senilai Rp1 juta hingga Rpl, 2 juta tetap diproduksi, hanya saja permintaannya tidak sebanyak produk berbahan nonperak.

“Gantungan masker dari bahan nonperak ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kalau yang dari bahan perak tetap ada yang membeli, tapi tidak terlalu banyak,” tutur pemilik Bara Silver ini saat dihubungi Bisnis.

Menurutnya, saat ini permintaan gantungan masker masih didominasi oleh pekerja kan- toran sehingga pernak-pernik yang digunakan dapat seragam.

Terkait banyak yang menaMenampilkan produk serupa dengan harga sekitar Rp5.000 di pasar, diameternya tidak terlalu lama karena memiliki desain dan kualitas produk yang lebih baik.

“Kami punya desain sendiri, bahannya juga bahan pilihan, sehingga tidak takut dengan persaingan di luar,” katanya.

Disinggung mengenai dampak pandemi terhadap usaha peraknya, wanita asal Celuk Sukawati ini menjelaskan bahwa permintaan produk dari perak memang menurun secara drastis karena ekonomi masyarakat Bali sangat terdampak Covid-19.

Untuk menyiasatinya, pihak- nya tetap membuat kerajinan dari bahan logam lain, alpaka, kuningan, dan gempa sehingga 30 orang pengrajin logam yang bekerja sama dengan masih tetap dapat berproduksi.

Selain gantungan masker, dia juga membuat kalung, cincin, dan bros dengan harga yang dapat dicapai oleh masya- rakat dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini.

“Dulu produksi perak di- bandingkan nonperak sebesar 50:50. Kalau sekarang, produksi dari nonperak mendominasi hingga 80%,” tambahnya.

Harus, pandemi Covid-19 memang telah menghadirkan banyak luka dan kesedihan bagi sejumlah sektor usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah.  Namun, dengan inovasi dan kegigihan, selalu ada celah dalam meraih berkah.  (k56 / k44) B

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 23 Januari 2021.Hal.6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *