Indonesia sebagai Negara Kedua Terburuk Literasi Dunia? Apa sih Alasannya?

Krisis kurangnya membaca di Indonesia sampai saat ini masih saja menjadi masalah utama yang harus dihadapi dan ditekankan terus menerus. Penekanan ilmu yang terkesan dipaksakan tanpa adanya kemauan dari setiap individupun akhirnya membuat ilmu itu terbuang sia-sia. Berbagai macam edukasi telah diberikan dengan cara yang berbeda-beda dengan harapan dapat tersampaikan kepada para pembaca maupun pendengar khususnya kaum millennial penerus bangsa. Begitu juga dengan UC Library yang kembali mengadakan kelas online untuk terus membantu perkembangan literasi sivitas akademika. Kelas kali ini diberi judul “Information Literacy Class” yang diadakan pada hari Kamis, 10 Desember 2020 pukul 14:00 – 16:00 WIB. Kegiatan ini dilakukan secara online melalui zoom meeting dan dilengkapi oleh 3 narasumber yang tentunya sudah ahli dalam bidangnya. Narasumber pertama yaitu Bapak Yehuda Abiel, S.Sos sebagai Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya. Kedua, ada Bu Ika Raharja Salim, S.Psi. sebagai Research and Publication Officer di Universitas Ciputra. Juga menghadirkan Bapak Michael Nathaniel K, S.Sn. M.A. sebagai dosen visual communication design di Universitas Ciputra.

Pada awal sesi, dibuka oleh Bapak Michael Nathaniel K, S.Sn. M.A. untuk menjelaskan mengenai perbedaan persepsi literasi khususnya di Indonesia dan luar negeri. Bapak Michael menekankan seberapa pentingnya untuk mempunyai kemampuan literasi dan memahami konsep-konsep yang ada dibaliknya. Namun yang tidak kalah pentingnya, kita juga harus memiliki kesenangan dalam membaca itu sendiri. Seperti yang dikatakan sebelumnya, tidak ada gunanya jika ilmu itu ditekankan dengan unsur keterpaksaan dan bukan kemauan dari diri sendiri. Sebagai pembaca, kita harus memiliki kesenangan dan mendapat kenikmatan setiap kali kita membaca. Dengan adanya dorongan dari diri sendiri, maka kita akan terus merasa haus dengan informasi-informasi yang akan kita dapatkan melalui setiap bacaan yang ada, menjadikan kita sebagai orang yang kaya informasi dan wawasan.

Namun sayangnya, setelah diteliti lebih lagi, ternyata warga Indonesia bukanlah warga yang gemar membaca. Bapak Michael kembali menekankan seberapa buruknya literasi yang ada di Indonesia. Jika dilihat dalam skala yang besar, Indonesia menduduki negara kedua dengan kemampuan literasi terburuk dibanding Negara lainnya. Yap, Indonesia menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Fakta ini kembali menampar saya bahwa ternyata literasi yang ada di Indonesia ternyata lebih buruk daripada perkiraan saya selama ini. Bapak Michael kembali menjelaskan mengenai beberapa faktor yang membuat minat baca anak-anak Indonesia itu rendah. Pertama, beliau melihat bahwa akses untuk mendapatkan buku yang diminati itu masih sulit ditemukan di Indonesia. Menurutnya, jika anak-anak diberikan buku-buku yang sesuai dengan apa yang mereka ingin baca, maka anak-anak Indonesia akan lebih gemar hati membacanya. Jika ada kegemaran, maka tentu ada rasa penasaran untuk mengeksplor lebih lagi ke buku-buku yang lain bukan?. Selain itu, beliau juga menganggap bahwa buku-buku yang diterbitkan di Indonesia masih kurang menarik perhatian anak-anak. Materi yang susah dipahami, terlalu berbelit, tidak menarik, terlalu banyak tulisan, dan masih banyak faktor lainnya. Hal ini menjadikan anak-anak Indonesia tidak bisa berimajinasi lebih sesuai dengan kemauannya, melainkan mereka harus terus berpikir keras. Padahal, perkembangan imajinasi dan pemikiran individu itu juga tidak kalah penting loh dengan informasi yang disodorkan oleh buku itu sendiri.

Bapak Michael mencoba membandingkan perbedaan persepsi literasi yang terjadi di Indonesia dan di pendidikan international. Bapak Michael merupakan lulusan dari University College London yang memang sudah terkenal dengan kemahiran literasinya. Menurutnya, pendidikan internasional lebih menghargai dan menginginkan adanya argumen kritis dari penulis. Jika di Indonesia terkadang tidak diperbolehkan menggunakan perspektif orang pertama (saya, aku, dll), namun ternyata pendidikan internasional lebih mendorong setiap individu untuk mengemukakan pendapat dan pemikirannya. Mereka tidak hanya berpaku pada satu teori, karena menurut mereka masih ada ribuan teori lainnya diluar sana. Ditambah lagi, referensi yang digunakan oleh pendidikan internasional tidak terbatas oleh waktu. Mereka diperbolehkan melihat referensi sejauh apapun, sedangkan di Indonesia biasanya hanya terpaku pada jurnal yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir. Setiap karya itu akan selalu dihargai, dan tidak ada hal yang terlalu sepele untuk dikaji. Pendidikan Internasional lebih menekankan untuk mulai dari sesuatu yang spesifik, sedangkan Indonesia biasanya cenderung untuk mengeneralisasikan suatu objek atau fenomena maupun kasus yang ada.

Tidak berhenti sampai disitu, namun Bapak Michael juga menjelaskan mengenai beberapa kesalahan umum yang terjadi saat membuat suatu artikel. Pertama, ia melihat bahwa anak-anak biasanya terlalu banyak mengutip dan tidak memberi pendapat pribadi secara kritis. Dengan begitu, ini dapat mengkotak-kotakan pemikiran dari setiap individu itu sendiri. Padahal, jika kita diberi kebebasan dalam menulis, mungkin kita akan mendapat ide-ide kreatif diluar kotak itu sendiri. Terkadang mereka juga memberi terlalu banyak referensi untuk memvalidasi suatu perspektif, sehingga mereka tidak dapat mencari ilmu-ilmu baru yang tentu tidak kalah pentingnya. Karena adanya kemalasan dalam membaca, maka anak-anak cenderung untuk tidak membaca keseluruhan baba tau artikel maupun buku referensi yang mereka pilih. Mereka lebih cenderung untuk membaca dan mengutip langsung ke kalimat yang mereka inginkan. Padahal, tanpa disadari terkadang apa yang mereka kutip itu bisa saja berbeda konsep sehingga dapat menciptakan kesalah pahaman. Beberapa kesalahan lain yang tidak kalah pentingnya menyangkut hal dalam memparafrase, membuat daftar Pustaka, dan membuat kutipan itu sendiri.

Melengkapi itu semua, seminar ini dilanjutkan pada sesi kedua oleh Bapak Yehuda Abiel, S.Sos. untuk menjelaskan mengenai penelusuran infornasi online dan E-Resources Library. Dalam sesi ini, Bapak Yehuda Abiel menjelaskan berbagai kegunaan dan benefit yang kita dapatkan ketika kita mempunyai kemampuan literasi. Contohnya, kita bisa mengetahui cara efektif dan etis dalam setiap media yang ada. Ditambah lagi, kita juga harus memiliki kemampuan dalam literasi computer dimana kita dapat mengakses computer guna untuk mencapai keperluan kita. Tidak kalah pentingnya, kita juga harus memiliki kemampuan dalam bersosialisasi dan juga mencari pengetahuan-pengetahuan baru yang selama ini selalu tersebar disekitar kita. Bapak Yehuda Abiel juga kembali menjelaskan beberapa cara untuk membuat sebuah kutipan dengan benar. Mengingat bahwa hal ini merupakan masalah yang cukup sering terjadi di masyarakat, maka beliau menjelaskan secara detil. Bapak Yehuda Abiel sebagai Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya juga kembali memberi informasi yang memudahkan anak-anak untuk mencari buku yang ia inginkan. Pada masa pandemic ini, tidak menutup kemungkinan anak-anak untuk meminjam buku di perpustakaan Universitas Ciputra loh! Bahkan, mereka juga membantu untuk melakukan peminjaman diluar kota Surabaya! Tentunya, hal ini akan sangat membantu anak-anak yang kesusahan untuk pergi pada masa pandemic ini bukan?

Sesi terakhir dilengkapi oleh penjelasan mengenai pemanfaatan jurnal Universitas ciputra dan Teknis Submit Jurnal yang dijelaskan oleh Ibu Ika Raharja Salim, S.Psi. Ibu Ika menjelaskan dengan detil mengenai Jurnal dan cara-cara untuk mengakses jurnal yang kita perlukan. Jurnal ternyata tidak selalu berbicara mengenai halaman putih yang dipenuhi dengan tulisan kecil didalamnya. Namun ternyata, Jurnal itu sendiri bisa berupa majalah, koran, atau website-website lain yang berisikan informasi mengenai industry atau profesi tertentu. Ibu Ika menjelaskan mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika hendak membuat suatu jurnal itu sendiri. Universitas Ciputra juga menyediakan berbagai jenis jurnal yang dapat kita akses secara gratis di journal.uc.ac.id dan kita gunakan untuk pencarian berbagai informasi. Jadi jangan biarkan jurnal-jurnal yang sudah disediakan itu menjadi ilmu yang sia-sia ya! Karena tentu saja, dari suatu jurnal kita bisa mendapatkan banyak hal untuk kita pelajari setiap harinya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *