Imlek, Wujud Spirit Kemanusiaan Gus Dur. Chenghoo.co. 23 Januari 2023. Universitas Ciputra

https://chenghoo.co/2023/01/23/imlek-wujud-spirit-kemanusiaan-gus-dur/

SURABAYA (Chenghoo.co)-Kemeriahan dan semarak perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Abdurrahman Wahid, atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Gus Dur.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Novi Basuki, Penulis Buku “Islam di China: Dulu dan Kini”, dalam pamungkas acara Bazar UMKM Sambut Imlek yang diselenggarakan oleh Yayasan-Perkumpulan Tionghoa, kerja sama dengan Universitas Ciputra, di Atrium Lantai G Ciputra World Mall Surabaya, Minggu (22/1/2023).

“Tanpa Gus Dur, mungkin imlek masih tidak ubahnya obat-obatan terlarang sebagaimana yang terjadi di zaman orde baru (Orba),” katanya.

Di zaman Orba, lanjut Novi, warga Tionghoa tidak bisa menyelenggarakan kebudayaan Tionghoa di depan umum. Tidak bisa berbicara bahasa Mandarin di depan umum. Juga tidak bisa sekolah berbahasa Mandarin.

“Apalagi mengnadakan barongsai seperti saat ini. Bisa dibubarkan paksa. Pemainnya dijeboskan penjara. Mungkin saya juga akan ditangkap,” katanya.

Suasana penuh kekangan atas warga Tionghoa tersebut berubah drastis begitu Gus Dur jadi Presiden. Gus Dur kemudian mencabut aturan-aturan yang melarang warga Tionghoa untuk menunjukkan ketionghoa-annya selama 32 tahun.

“Apa hikmah yang bisa diambil oleh tindakan Gus Dur saat itu yang bisa dikatakan menentang arus zaman? Bahwa Gus Dur punya spirit keterbukaan. Mau belajar apapun dan kepada siapapun. Bahkan ia berani mengakui terang-terangan, untuk ukuran saat itu, bahwa dalam tubuhnya mengalir darah Tionghoa. Ini artinya, Gus Dur mengajak dan mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu fanatik pada satu hal, keyakinan atau ideologi,” kata Novi.

Pembicara lainnya adalah Gatot Seger Santoso. Ketua PD Perhimpunan INTI Jawa Timur ini mengatakan, dua sisi yang paling menonjol dari Gus Dur, yaitu pembelaann atas kemanusiaan, serta rasa keadilannya.

“Siapapun yang minta perlindungan beliau, siapapun yang tertindas atau terpinggirkan, Gus Dur pasti maju ke depan. Tanpa memikirkan resikonya,” katanya.

Gatot kemudian mencontohkan ketika Gus Dur memberikan pengakuan bahwa dirinya memiliki darah Tionghoa. Pengakuan tersebut menurutnya dilontarkan oleh Gus Dur jauh sebelum era reformasi.

“Orang mengira bahwa pengakuan tersebut untuk mengambil hati orang Tionghoa. Tidak sama sekali. Karena pengakuan tersebut sudah diucapkan Gus Dur jauh sebelum masa Reformasi,” katanya.

Lebih lanjut, Gatot mengisahkan peristiwa Kapasan di Surabaya yang diikuti oleh pengrusakan-pengrusakan. Saat itu, Gus Dur langsung tampil ke depan. Kemudian mengatakan bahwa beliau keturunan Tionghoa.

“Beliau mengatakan itu tanpa memikirkan resikonya. Jadi Gus Dur pasti tampil untuk melindungi yang lemah,” katanya.

Dalam acara yang diinisiasi oleh Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI), DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jatim, DPD PITI Surabaya dengan Yayasan Bhakti Persatuan (YBP), Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), dan Universitas Ciputra tersebut, hadir sejumlah pihak.

Di antaranya, Dr. Lia Istifhama, MEI (Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jatim), Johan Hasan (Universitas Ciputra), H.A. Nurawi (Ketua Koordinator PMTS), Haryanto Satryo (Ketua PITI Jatim), Rasmono Sudarjo (Sekretaris PMTS),
Dr. David S.Kodrat MM., CPM CRME & H (Universitas Ciputra). Tamam Malaka

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *