HUT 495 Tahun Jakarta: Kekuatan Modal Sosial dalam Pembangunan. swa.co.id. 22 Juni 2022. Dewa GS. HTB

https://swa.co.id/swa/my-article/hut-495-tahun-jakarta-kekuatan-modal-sosial-dalam-pembangunan%EF%BF%BC

by Editor – June 22, 2022

Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

Tumbuhnya toleransi menandai perayaan Jakarta ke-495 tahun pada Rabu (22/6). Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta bermakna strategis bagi Indonesia, tidak hanya Jakarta. Terowongan bawah tanah yang menghubungkan dua tempat peribadatan ini dibangun sepanjang 33,8 meter dan memiliki luas sebesar 339,97 meter persegi.

Pembangunan Terowongan Silaturahmi, yang juga diiringi dengan renovasi Masjid Istiqlal, menumbuhkan harapan akan toleransi yang semakin tersemai dan kokoh di Tanah Air. Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral memperkuat citra sebagai ibu kota negara dan sebagai destinasi wisata. Sebagai ‘wajah negara’, Jakarta tak hanya harus maju dalam hal peradaban di berbagai sektor, utamanya sektor transportasi dan pariwisata, namun juga maju dalam peradaban dengan fondasi pentingnya silaturahmi dan komunikasi antar warga bangsa. Karena itu, Terowongan Silaturahmi ini tak hanya dimaknai sebagai pembangunan aspek fisik, namun juga aspek non-fisik, yang menumbuhkan kecintaan antar warga bangsa. Tumbuhnya rasa cinta sebagai saudara sebangsa, akan memaknai dan menguatkan pembangunan fisik yang massif dan terus dilakukan di Jakarta, ditandai melalui fasilitas transportasi publik modern, seperti MRT, yang tiga tahun lalu.

Bila MRT yang menjadi penanda kemajuan sektor transportasi mempercepat akses antar wilayah di Jakarta dan meningkatkan aktivitas city tour, maka Terowongan Silaturahmi akan membuka kebuntuan komunikasi relung hati yang tersekat-sekat karena prasangka, iri hati dan perbedaan agama serta keyakinan. Hal itu akan memperkuat modal sosial, yang menjadi pondasi pembangunan perekonomian bangsa. Terowongan Silaturahmi jelas akan mengingatkan kita sebagai saudara sebangsa yang saling mendukung satu dengan yang lain.

Robert Putnam menjabarkan modal sosial sebagai seperangkat asosiasi antar manusia yang bersifat horisontal yang mencakup jaringan dan norma bersama yang berpengaruh terhadap produktivitas suatu masyarakat. Modal sosial meliputi hubungan sosial, norma sosial, dan kepercayaan (Putnam 1995). Modal sosial juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama.

Sebagai ibukota negara, Jakarta menjadi etalase dan cerminan negara. Tak hanya soal infrastruktur serta pembangunan fisik yang masif, yang umum menjadi wajah ibukota negara, tetapi jati diri yang mewujud dalam sikap hidup keseharianlah yang teramat penting merepresentasikan harkat martabat sebagai bangsa.

Pada peresmian Moda Raya Terpadu (MRT) pertengahan Maret tiga tahun lalu, Presiden Jokowi menyatakan perlunya seluruh masyarakat membangun peradaban baru, mulai dari mengantri, bagaimana masuk ke MRT dan tidak terlambat, tidak terjepit pintu. Pun halnya dengan adanya Terowongan Silaturahmi ini membuka tali silaturahmi melalui perjumpaan dan komunikasi di terowongan bawah tanah yang menghubungkan dua ikon tempat ibadah bernilai sejarah tinggi di Indonesia ini. Pernyataan kepala negara tersebut seakan mengingatkan betapa membangun peradaban baru tersebut tidaklah mudah, khususnya menyangkut pembiasaan perilaku-perilaku baru di masyarakat.

Di awal-awal beroperasinya MRT, pernah beredar foto viral di sosial media, perilaku pengguna MRT yang tidak tertib dan memanfaatkan stasiun MRT tidak pada tempatnya. Pembiasaan membangun mentalitas bangsa secara kultural di keseharian perlu terus menerus dilakukan. Tradisi mengantri dan memanfaatkan hasil pembangunan dengan cara yang pantas, merupakan elemen pokok yang teramat penting bagi peradaban bangsa. Ketiadaan budaya mengantri berdampak negatif di kehidupan sosial, terjadinya kecelakaan lalu lintas dan jatuhnya korban yang selayaknya tidak perlu terjadi.

Pentingnya mentalitas baru yang terkoneksi dengan peradaban baru mensyaratkan kemauan masyarakat untuk belajar dengan tata aturan baru, khususnya dengan bijak menggunakan kemajuan infrastruktur. Dalam penggunaan Jalan Tol misalnya, dibutuhkan kesadaran untuk berkendara dengan kecepatan yang sesuai aturan, pengecekan kesiapan kendaraan sebelum melintas, termasuk kesiagaan pengendara. Kebiasaan ini untuk membangun peradaban baru tersambungnya semua daerah di Jawa melalui Tol Trans Jawa sepanjang lebih 1.000 km, dan diikuti Tol Trans Sumatera.

Demikian pula kebuntuan komunikasi yang mereduksi rasa saling percaya dan ikatan emosional sebagai sesama warga bangsa, memuncak dalam aksi ngeri serangan tempat beribadah, pelarangan dan pembatasan beribadah untuk agama tertentu, dan ibarat api dalam sekam, terpeliharanya prasangka dan kebencian dapat sewaktu-waktu menghanguskan dan merobek persatuan. Pembiasaan untuk menyapa, melihat dan berinteraksi antara umat beragama sangatlah penting. Sama pentingnya membiasakan dan membudayakan antri, saling sapa dan senyum menjadi bahasa manusiawi yang universal yang patut didesain agar secara alami terbentuk pada banyak ruang-ruang publik di negeri ini.

Inspirasi penting dari pembangunan Terowongan Silaturahmi ini adalah tertanamnya dan tumbuh suburnya semangat dan praktek welas asih di peradaban ibu kota negara. Sekadar contoh pribadi negarawan yang mencerminkan semangat dan praktek welas asih pada pribadi Gus Dur. Atmosfer dan buah welas asih Gus Dur begitu kuat terekam dalam memori perjalanan bangsa ini hingga saat ini, lebih-lebih pada Tahun Baru Imlek, pada peristiwa yang mengganggu ketenteraman hidup sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.

Membangun komunikasi antar umat beragama di Terowongan Silaturahmi dapat dianggap sebagai latihan bersama membangun mentalitas sebagai bangsa berperadaban maju. Seperti yang diungkapkan Wapres RI, kiranya Terowongan Silaturahmi ini tidak hanya menjadi simbol, namun juga inspirasi kerukunan umat beragama di Tanah Air. Di sinilah HUT Jakarta ke-495 tahun bermakna penting bagi Jakarta dan Indonesia, tumbuhnya toleransi dan modal sosial sebagai kekuatan dalam pembangunan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.