Darussalam Hidup Dari Ternak dan Pertanian Oraganik

Darussalam Hidup dari Ternal dan Pertanian Organik. Kompas. 21 Januari 2016. Hal 16

Oleh Lukas Adi Prasetya

 

Kini, Darussalam (53) tak hanya dikenal sebagai petani, tetapi juga peternak ayam kampung yang sukses, bahkan pionir di Kaltim. Desa Makarti menjelma menjadi sentra ayam kampung terbesar di Kaltim. Dia juga mengawali pertanian organik yang menginspirasi petani lain.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang dipimpin Darussalam sejak tahun 2005 mengawali contoh penerapan pertanian yang terintegrasi di Kaltim. Memadukan usaha peternakan ayam kampung, perikanan, pertanian, dan terakhir industri tahu yang dimulai Desember lalu.

Produksi ayam kampung di Makarti saat ini 20.000 ekor per bulan, atau seperempat produksi ayam kampung se-Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Beberapa tahun lalu Makarti Jaya akhirnya memiliki penetasan ayam, untuk mengurangi “impor” bibit anak ayam berumur sehari (day old chicken) dari Jawa Barat.

Makarti Jaya pun menjadi kelompok tani-ternak pertama di Kaltim yang mengupayakan penetasan dan pembibitan sendiri. Indukan ayam kampung pun terus ditambah, seiring meningkatnya permintaan ayam kampung.

“Ayam kampung belum bisa menggeser ayam potong. Namun, saya yakin, di Kaltim, banyak konsumen yang menginginkan ayam kampung dan mau membeli. Ini peluang,” kata Darussalam yang juga Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Kaltim, Senin (11/1).

Sejak tahun 2014, Darussalam menanam padi secara organic dengan mengawali dari petak kelompoknya. Ia mencoba system of rice intensification (SRI), budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas melalui pengelolaan tanaman, tanah, dan air.

Petani-petani lain yang terbiasa dengan cara konvensional terheran-heran. Mereka terbiasa menanam banyak bibit dalam satu lubang dan menancapkannya kuat. Namun, dengan SRI, hanya sedikit bibit di satu lubang dan tak perlu ditancapkan dalam.

Karena ditancapkan dalam, akar padi malah rawan disantap orong-orong. Setiap bibit juga berebut hara tanah yang semakin berkurang dan mesti dipacu pupuk kimia. Ini berimbas pada produktivitas susah naik.

Darussalam yakin, investasi sesungguhnya dalam pertanian adalah terjaganya kesuburan tanah, dan itu dicapai dengan cara pertanian organik. Itu sebabnya, ia membuat kompos berbahan kotoran ayam dan sapi bagi anggota taninya.

Saat ini, Kelompok Tani Makarti Jaya sudah menjual pupuk cair organik (mol) dari bahan, antara lain, bonggol pisang, rebung, buah maja, urine sapi, dan limbah tahu. Bahkan, akhir 2015, Darussalam membuka usaha tahu karena sering kesulitan mendapat limbah tahu.

“Untuk penanaman padi cara SRI, di petak garapan kelompok, sudah dua kali panen, yang produksinya masing-masing per hektar mencapai 6,8 ton dan 8 ton. Di demplot garapan saya 6 ton. Bandingkan dengan cara lama yang hanya 2-3 ton per hektar,” katanya.

Tanah di Kaltim yang rata-rata lempung berpasir memang tidak terlalu cocok untuk padi. Namun, langkah Darussalam yang diikuti petani lain ini membuktikan sebaliknya.

Petani di Semangkok, Kecamatan Marangkayu, misalnya, kini mengawali pertanian organik di lahan seluas 25 hektar. Darussalam yakin pertanian organik akan meluas. Apalagi jika sudah merasakan keuntungannya. “Di sini, harga beras organic Rp 20.000 per kilogram, jauh dibandingkan harga beras kualitas baik yang di pasar dijual maksimal Rp 15.000 per kilogram,” ujarnya.

Selain menggarap pertanian dan peternakan, Darussalam juga memimpin kelompok taninya merintis usaha perikanan. Saat ini kelompoknya memiliki total 50 kolam/petak yang ditebari benih ikan gurami, nila, dan mas. Darussalam sendiri punya tiga petak kola mikan.

 

Karet

Darussalam juga menggarap lahan karet seluas 2 hektar. Namun, karena kesibukannya, yang menyadap karetnya orang lain. Dari sekian usahanya itu, hanya karet yang belum cerah prospeknya seiring anjloknya harga. Tetapi, dari karet inilah Darussalam mengawali perjuangan.

Darussalam mengawali masa pereantauan tahun 1989, ketika mengikuti program transmigrasi. Ia mendapat lahan garapan karet 2 hektar, ditambah 1 hektar untuk pekarangan dan tanaman pangan. Usia Darussalam waktu itu 26 tahun, telah menikah dan punya satu anak.

Darussalam meninggalkan pekerjaannya di pabrik kertas di Karawang, juga kegiatannya sebagai guru mengaji. “Waktu itu, ruas Samarinda-Bontang masih berupa tanah. Sepinya,” kenang Darussalam.

Desa Makarti terletak di tepi ruas jalan penghubung kedua kota tersebut.

Latar belakang keluarganya, yakni petani tulen, menempa Darussalam dari hari ke hari. Bahkan tahun 2000-2005 Darussalam menjabat sebagai Kepala Desa Makarti. Selepas itu, Darussalam membentuk Kelompok Tani Makarti Jaya, beranggotakan petani-petani karet.

Berawal dari harga karet yang tidak menentu, para petani karet di Makarti kelabakan. Satu demi satu petani karet enggan menyadap lagi karetnya dan sebagian lagi menjadi buruh. Darussalam termasuk yang sempat mundur, tetapi ia langsung ganti haluan dengan beternak ayam kampung.

“Saat itu belum ada peternak ayam kampung di Kaltim. Saya piker taka da salahnya mencoba usaha ini karena di satu sisi saya kan juga suka beternak,” ujar Darussalam. Pilihannya tepat dan petani-petani karet di desanya langsung “ketularan” beternak ayam kampung.

Akan tetapi, Darussalam pernah terpuruk ketika pada April 2011 merebak flu burung yang “menghabiskan” puluhan ribu ayam di Makarti. Darussalam dan kelompoknya harus memulai dari awal lagi.

Namun, pengalaman itu menempa Darussalam. Tak lebih dari lima tahun, sentra ayam kampung Makarti menggeliat lagi. Akhirnya Darussalam tahu bahwa cairan campuran rempah-rempah bisa menjadi jamu agar ayam tak gampang terserang penyakit.

“Pengalaman itu penting. Pengalaman yang pahit, atau musibah, justru membuat kita tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan. Saya selalu menekankan itu kepada teman-teman petani. Untuk bisa maju, itu tergantung keyakinan kita,” tuturnya.

Kelompok Tani Makarti Jaya yang ia pimpim beberapa kali meraih prestasi. Prestasi itu antara lain juara pertama dalam Lomba Unggas Lokal tingkat Kaltim tahun 2011 dan Lomba Kelompok Tani Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Swadaya tingkat Provinsi Kaltim tahun 2010. UC LIB-COLLECT

 

Sumber : Kompas, Kamis, 21 Januari 2016

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *