Hidroponik Hemat Andalkan Surya.Trubus.Februari 2021.Hal.24,25

Gang selebar 2 m di Kelurahan Cempakahputih Timur, Kecamatan Cempakaputih, Jakarta Pusat, itu kumuh dan bau. Beberapa pedagang meletakkan gerobak makanan di tempat itu selesai berjualan. Sampah pun memenuhi saluran air sehingga menyebabkan banjir saat musim hujan. Jalan sempit itu tidak nyaman dan menyehatkan bagi warga sekitar. Namun, itu pemandangan sebelum Mei 2020.

Kini tempat itu tertata rapi dan bersih sehingga lebih enak dipandang. Tidak ada lagi kesan kumuh dan kotor. Bahkan, gang itu menjadi salah satu produsen sayuran segar di Kelurahan Cempakaputih Timur. Para warga dari beragam latar belakang profesi membudidayakan aneka sayuran daun denga teknik hidroponik. Mereka tergabung dalam Kelompok Petani Kota (KPK) Hidroponik RW 06 CPTim.

Tenaga Surya

Lima belas rak intalasi hidroponik berjejer di atas saluran air di sisi gang sepanjang sekitar 50 m itu. Yang paling istimewa kebun hidroponik itu mengandalkan sinar matahari sebagai sumber energi listrik untuk menggerakkan pompa agar mengalirkan nutrisi ke setiap rak. “Menurut Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta kebun hidroponik ini yang kali pertama menggunakan tenaga surya untuk hidroponik di Jakarta,” kata inisiator penggunaan tenaga surya untuk hidroponik di Kelurahan Cempakaputih Timur, Nick Nurrachman.

Ada 6 keping panel surya masing-masing menghasilkan daya 200 watt. Total jenderal perangkat itu menghasilkan daya 1.200 watt. Jumlah itu sangat mencukupi kebutuhan listrik untuk menggerakkan pompa. Bahkan panel surya berdaya 1.200 watt itu melebihi kebutuhan 15 rak hidroponik. Harap mafhum pengelola hidroponik memakai pompa berdaya 40 watt sehingga diperlukan daya 600 watt. Artinya kapasitas panel surya 100% lebih banyak daripada kebutuhan listrik untuk pompa.

Mengapa Nick memasang panel surya berdaya lebih tinggi daripada kebutuhan? “Saya memerlukan tegangan minimal 240 volt agar hidroponik beroperasi. Saya pasang 4 keping panel surya pompa belum bergerak. Jadi, terpaksa pasang 6 keping panel surya,” kata salah satu pemilik perusahaan bidang manufacturing instalasi listrik tenaga surya itu. Panel surya merupakan alat yang mengubah sinar matahari menjadi arus listrik searah atau direct current (DC) melalui aliran electron di dalam sel surya (solar cell).

Selanjutnya inverter mengonversi arus DC menjadi arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC) sehingga pompa instalasi hidroponik bekerja. Nick memasang saklar otomatis pada kotak kontrol sehingga listrik tenaga surya mengalir jika terpapar sinar matahari. Ketika tidak ada cahaya matahari, maka listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) digunakan. Bisa dibilang listrik tenaga surya bekerja secara parallel dengan PLN. Pemakaian pompa dengan tenaga surya pada pukul 09.00-15.00.

Dengan kata lain, ada sumbangan ¼ energi gratis dari pemakaian pompa selama 6 jam. Hitungan Nick menunjukkan penggunaan panel surya itu menghemat biaya tagihan listrik Rp 5.282 per hari setara Rp 158.460. Penghematan bisa lebih besar lagi asal rancang bangun instalasi hidroponik profesional. Intinya ada keseimbangan antara beban listrik yang diperlukan dengan kapasitas panel surya terpasang. “Itu merupakan pilot project. Eksperimen listrik tenaga surya untuk menjalankan pompa hidroponik. Tidak hitung-hitungan ekonomis,” kata Nick.

Energi terbarukan

Lebih lanjut Nick menuturkan sebetulnya untuk bisnis hidroponik komersial, pemakaian panel surya kembali modal pada tahun ke-8. Ketua KPK Hidroponik RW 06 CPTim, Slamet Wiyono, senang dapat menghemat biaya tagihan listrik berkat penggunaan panel surya. Slamet dan anggota kelompok rutin memanen aneka sayuran daun seperti kangkung, selada, dan pakcoi setiap hari.

Konsumen warga sekitar yang datang langsung untuk memilih sayuran sesuai kebutuhan. Uang hasil penjualan untuk biaya operasional seperti pembelian pupuk, listrik, air, dan benih. Tujuan adanya kebun hidroponik itu sebagai sumber sayuran segar selama pandemi. Warga khawatir ke pasar, tapi tetap harus memenuhi kebutuhan sayuran. Oleh karena itulah, Nick, Slamet, dan para warga membangun kebun hidroponik secara swadaya.

Setelah itu salah satu perusahaan bidang farmasi milik negara menghibahkan 9 rak hidroponik kepada Slamet dan kelompoknya. Dosen Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Semarang, Mardiyono, menyatakan, penggunaan listrik dari panel surya belum terlalu banyak dimanfaatkan pada budidaya hidroponik. Penggunaan kombinasi tenaga listrik gabungan (hybrid) antara listrik PLN dan panel surya untuk memasok tenaga listrik pada instalasi hidroponik mendukung konservasi energi listrik untuk masa depan.

Menurut praktisi hidroponik di Sleman, Yogyakarta, Muhammad Iqbal, hidroponik tenaga surya cocok diterapkan di daerah yang rawan terdampak pemadaman listrik. Model hidroponik itu juga cocok bagi pehobi yang sering bepergian. Pekebun tidak perlu khawatir pompa mati karena listrik padam

 

Sumber: Trubus, Februari 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *