Hati-Hati Gangguan Leher Selama WFH. Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7

Pada konferensi pers akhir pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengimbau agar perkantoran kembali menerapkan WFH. Setidaknya kapasitas maksimal di kantor 75% selama 2 minggu ke depan mengingat angka kasus Omicron terus bertambah. Satgas Covid-19 hingga Kamis (20/1) melaporkan kasus positif varian Omicron di Indonesia mencapai 817 kasus.

Lepas dari persoalan itu, Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Didik Librianto menyebut adanya peningkatan kasus gangguan pada leher sejak kebijakan bekerja dari rumah diterapkan pada 2020 lalu.

Dia menjelaskan struktur tulang belakang terdiri atas daerah leher, torakal atau punggung tengah, dan lumbar atau punggung bawah alias pinggang Nah, selama WFH, daerah servikal dan lumbar paling banyak mendapat tekanan akibat terlalu lama duduk mengikuti kegiatan rapat, webinar, atau mengerjakan pekerjaan di depan layar komputer. Tekanan ini bertambah ketika posisi duduk kurang tepat.

“Kasus servikal meningkat tajam, begitu pula Lumbar. Terjadi problem di daerah leher dan pinggang selama pandemi,” ujarnya dalam diskusi virtual, Kamis (20/12).

Didik mengatakan, penye bab tulang leher mudah sakit karena bagian ini memiliki ukuran lebih kecil dan sangat fleksibel. Namun, sangat rentan akan stres berulang dan cedera ringan. Cedera ringan yang berulang lama-lama menyebab kan bantalan antar ruas tulang leher yang volumenya kecil mudah sekali cedera. Kebiasa an tidur di satu sisi juga bisa memicu cedera.

Dia mengingatkan gangguan leher ini bisa menyebabkan sejumlah masalah, di antara nya gangguan postur tubuh, penuaan, kelainan bawaan seperti tulang leher mudah cedera, infeksi, hingga tumor. Walaupun tidak menimbulkan kematian, gangguan ini bisa menyebabkan disabilitas, yaitu ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Adapun, gangguan ringannya meliputi keluhan kesemutan atau kebas pada wajah, leher, bahu, tangan, atau kaki. Kemudian adanya gangguan motorik halus sebagai contoh tidak bisa memegang bolpoin, mengetik, maupun mengancingkan baju. “Itu gejala awal dari gangguan leher yang mengakibatkan otot kita menjadi lemah,” tuturnya.

Keluhan lainnya berupa leher pegal, leher kaku, sakit leher yang menjalar kebagian tubuh lainnya, leher bungkuk, hingga gangguan keseimbangan. “Sedangkan gangguan berat misalnya tidak mampu berjalan, jalan sempoyongan, mudah limbung, buang air kecil terganggu, dan tidak mampu mengangkat tangan,” tambah Didik.

Lantas bagaimana jika keluhan tidak ditangani dengan baik? Didik mengatakan, keluhan akan bertambah berat sehingga otot menjadi lebih kecil. Alhasil penderita akan kesulitan menggenggam atau angkat sesuatu. “Bakal terjadi kelemahan di kaki karena ma salah di leher.”

Untuk pengobatan gangguan pada leher, Didik mengatakan bisa dengan tindakan injeksi di rongga saraf dan akar saraf. Pasien sangat disarankan untuk melakukan senam tulang belakang.

Selain itu bisa dilakukan ope rasi untuk membebaskan saraf terjepit akibat tonjolan bantalan sendi. Endoskopi juga menjadi opsi untuk membebaskan saraf terjepit di leher. Didik menyebut masa pemulihan dan ra watnya terbilang cepat. “Angka keberhasilan 90%-95%.”

Guna mencegah gangguan leher ini selama WFH, Didik menyarankan agar duduk pada posisi ergonomi. Dia menuturkan ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia guna merancang suatu sistem kerja.

Dengan demikian, mereka dapat hidup dan bekerja dengan efektif, nyaman, aman, dan efisien.

Lantas bagaimana posisi duduk ergonomi? Pada saat menggunakan kursi dan meja kerja, Didik menyarankan agar saat duduk pandangan mata sejajar dengan layar komputer atau laptop. Letakkan tangan di sandaran, tepat di bawah tinggi siku, sementara lengan berada di samping badan. Usahakan paha sejajar dengan lantai dan kaki berpijak dengan nyaman di lantai atau sandaran kaki.

“Sebelum melakukan kerja kita harus mengatur kursi di posisi yang baik. Sandaran punggung harus pas dengan lekukan bawah punggung. Postur tulang belakang leher bergantung pada tulang belakang pinggang. Kaki berpijak sehingga tidak terjadi beban di lutut,” terangnya.

Secara terperinci, pada saat menggunakan keyboard, pastikan lengan di samping badan tidak terangkat atau membuka. Usahakan tangan lurus dengan lengan bawah, netral atau lurus dengan postur pergelangan tangan. Kemudian tangan berada di depan pusat tubuh.

Keyboard, menurut Didik harus memiliki penyangga lengan atau pergelangan tangan yang tingginya sama dengan space bar. Sementara itu, pertahankan sudut lengan atau siku sekitar 90 derajat.

Ketika menggunakan mouse, letakkan pengarah komputer itu di samping keyboard. Pastikan benda itu mudah dijangkau, dengan lengan ditekuk sekitar 90 derajat selama penggunaan. Sejajarkan tinggi mouse dengan keyboard dan jaga lengan tetap lurus saat menggunakannya.

Untuk monitor, Didik meng imbau agar posisi monitor sejauh panjang lengan dan tidak kurang dari 50 cm dari pandangan mata. Layar harus tegak lurus dengan jendela atau sumber cahaya untuk mengurangi silau. Kemudian atur layar setinggi mata atau letakkan monitor lebih rendah untuk pengguna lensa bifokal.

Apabila tidak ada meja kerja atau kursi yang bisa diatur, Didik menyebut ada alternatif menggunakan meja lainnya di rumah, seperti meja makan. Untuk memastikan posisi layar monitor sejajar dengan pandangan masa, bisa mengganjalnya dengan tumpukan buku. Kendati demikian, Didik mengingatkan agar memberi jeda waktu saat bekerja guna melakukan peregangan untuk merelaksasi otot mata maupun leher.

Setidaknya waktu yang diperkenankan untuk menatap layar monitor 45 menit hingga 1 setengah jam, tetapi semua tergantung pada tubuh tiap-tiap orang. “Bila rajin olahraga, 1 jam kuat. Peregangan 3-5 menit sangat membantu,” katanya.

Perlu diingat, menatap layar ponsel genggam juga bisa menyebabkan gangguan leher, karena saat menggunakan ponsel, kepala kita secara tidak disadari akan menunduk sehingga menjadi beban pada daerah leher. Untuk itulah, kita pun perlu melakukan peregangan.

STRES BERLEBIHAN

Terpisah, Spesialis Penyakit Dalam di RSU Bunda Margon da Depok Resha Murti Wibowo mengatakan stres yang berlebihan juga membuat kekakuan pada bagian tulang leher belakang dan menimbulkan rasa tidak nyaman dan radikal bebas akan jauh lebih banyak. Dengan demikian saat beristirahat, tubuh akan merasa sangat lelah.

Kemudian, adanya gangguan tulang leher seperti saraf ter jepit. Kondisi ini terjadi akibat posisi yang salah di mana tulang leher yang harusnya melengkung justru menyempit.

Latihan beban juga bisa menyebabkan gangguan pada leher, terutama jika berlebihan dan tidak diikuti pemanasan serta pendinginan. Selain itu, bahu terlalu menopang benda berat, seperti menggendong tas yang isinya sangat berat.

Nah, untuk memperbaiki kondisi ini, selain memperbaiki posisi saat bekerja atau menggunakan gadget, Resha menyarankan agar memperbaiki posisi tidur, terutama dalam penggunaan bantal. Sebisa mungkin agar berada di atas dari posisi tubuh.

Dia juga menyarankan untuk melakukan relaksasi. Olahraga juga tidak boleh ditinggalkan untuk menjaga tubuh tetap bugar dan melemaskan otot. “Berikutnya fisioterapi, minum air putih cukup, makan buah-buahan dan sayuran yang memberi nutrisi pada otot tubuh. Terakhir buat diri nyaman dan berpikir positif,” katanya.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia. 22 Januari 2022. Hal. 7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.