Harta ini Harus Diwariskan ke Generasi Muda. Jawa Pos. 19 Mei 2021. Hal.13

Fisik Oei Hiem Hwie memang sudah renta. Tapi, semangatnya dalam merawat ribuan buku sejarah miliknya tetap menggebu-gebu. Hanya satu keinginannya, buku-buku itu harus diwariskan kepada yang muda. Agar tidak buta sejarah.

TIGA surat kabar, termasuk koran Jawa Pos, tertumpuk di atas meja. Tangan yang sudah ringkih itu meraihnya satu per satu. Lembar demi lembar dibuka dan dibaca dengan teliti. Selesai satu, diambilnya koran lain. Dibuka dan “dilahap” lagi. Hingga tiga koran itu tuntas dibacanya.

“Kebiasaan dari dulu. Saya selalu membaca koran tiap hari,” kata pria yang kini berusia 85 tahun itu. Dia adalah Oei Hiem Hwie. Orang-orang menyapanya dengan panggilan Pak Wi. Di kalangan akademisi, mahasiswa, dan para penggiat buku, namanya sudah tidak asing.

Sebab, dia adalah pendiri perpustakaan yang cukup terkenak Perpustakaan Medayu Agung Sejak didirikan pada 2001 hingga sekarang, perpustakaan itu masih berada di Jalan Medaya Selatan IV/42-44, kompleks Perumahan Kosaga, Kecamatan Runglast Tak jauh dari kampus UPN Veteran

Sebagai penggila buku, kegemaran Pak Wuntuk membaca tak mungkin hilang, Sampai sekarang. Meski dalam keterbatasan fisik. Saat ini pria yang lahir pada 23 November 1985 sersebut hanya mengandalkan mata kanan untuk membaca Sudah setahun ini mata kirinya tidak berfungsi normal karena katarak. “Jack, cumamata kama ini yang bisa,” ujar Pak Wisambil memicing-misingkan mata kirinya berkali-kali.

Karena sudah sepuh, suara Pak Wi juga tidak begitu jelas. Beberapa kali dia harus mengulang ucapannya. Sebab, penulis tidak begitu jelas menangkap penjelasannya.

Usia dan tubuh Oei Hiem wie boleh saja menua Tapi, tidak dengan semangatnya huterat dari Perpustakaan Medayu Agung yang terus dirawatnya hingga sekarang Sudah dua dekade dia memelihara ribuan buku di perpustakaan itu. Dia merawat buku-buku kuno tersebut seperti anak sendiri. Dia bertekad untuk terus merawat hingga akhir hayat kelak. “Harta (buku, Red) ini harus diwariskan ke generasi mada” ucapnya sambil berusaha menegakkan kepala

Perpustakaan Medaya Agung menempati bangunan dua lantai. Ukurannya 12×22 meter Itu tanah dua kavling yang digabungkan menjadi satu. Memasuki bangunan tersebut, kita seperti berada di museum buku-buku kuno nan langka. Deretan buku lawas berjejer dalam rak-rak buku. Selain buku, ada koran dan majalah-majalah tempo dulu. Banyak yang terbitan abad ke-19 dan abad ke-20. Ketika bangsa ini masih dalam cengkeraman penjajah kolonial.

Diruangan lantai 1, misalnya, tersimpan ratusan buku kuno. Sebagian besar berisi sejarah bangsa dalam bahasa Belanda. Buku-buku yang berkisah tentang Bung Karno, presiden pertama Indonesia, cukup mendominasi. Bahkan, Pak Wi juga mengoleksi lima jilid buku tebal berisi koleksi foto dan lukisan Bung Karno. Buku itu pernah mau dibeli Rp 1 milia. Namun, pria yang pernah mendekam di Pulau Buru bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer tersebut sama sekali tidak tergiur “Tujuan saya bukan mencari uang. Melainkan menyelamatkan ilmu,” tuturnya.

Di sebuah lemari kaca juga masih tersimpan naskah asli tulisan Pram. Nah, itu ditulis dengan kertas semen di Pulau Buru. Pak Wi pun menyimpan naskah tersebut hingga sekarang. Selain itu, ada alat pengaman naskah Pram saat di Pulau Buru. Benda itu berupa semen cor. Berukuran lebar 20 cm dan panjang 34 cm. Selain untuk merekatkan naskah, benda mirip penutup septic tank tersebut berfungsi untuk menutup naskah jika ada pemeriksaan petugas selama di Pulau Buru.

Sejumlah buku kurio dalam bahasa Belanda juga masih tersimpan. Misalnya, koleksi buku berjudul Oud Batavia, Oud Surabaia, Oud Malang, buku sejarah Raja Madura dalam bahasa Prancis, dan masih banyak lagi.

Sejak berdiri hingga kini, Perpustakaan Medaya Agung terus menjadi sumber referensi para akademisi dan mahasiswa Sejauh ini perpustakaan itu sudah menghasilkan lebih dari 80 karya ilmiah. Baik berupa skripsi, tesis, maupun disertasi.

Dari mana mendapatkan biaya operasional? Menurut Pak Wi, pihaknya sangat terbantu dengan keikhlasan por donatur dan relawan. Meski membaca buku di perpustakaan itu gratis, banyak pengunjung yang menyumbang seikhlasnya. Dari sumbangan sukarela Itulah, pihaknya bisa membiayai operasional perpustakaan.

Pak Wi menceritakan, banyak kampus yang berusaha untuk mengambil alih dengan membeli perpustakaan tersebut. Di antaranya, Universitas Petra, Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Surabaya (Ubaya). Namun, kakek satu cucu itu menolak. Dia bilang, dirinya tidak mungkin menjual perpustakaan itu begitu saja. Apalagi, buka-buku tersebut sudah lama menemaninya dalam suka dan duka. “Saya tidak mungkin menjualnya. Dan uang hasil penjualan ini masuk ke kantong saya pribadi tidak bisa dilakukan,” ujarnya.

Di sisa usianya saat ini, Pak Wi berangan-angan memindahkan lokasi perpustakaan ke tengah kota. Sebab, lokasi saat ini terlalu di pinggir. Para pengunjung pun cenderung kesulitan untuk mengakses perpustakaan itu. Meski begitu, dia belum bisa memastikan kapan Perpustakaan Medayu Agungyang didirikannya tersebut bisa dipindah ke tengah kota. Selain belum menemukan lokasi yang cocok, problem terbesar adalah pihak yayasan tidak memiliki anggaran yang cukup Sebab, kalau menyewa bangunan ditempah kota, pasti dibutuhkan biaya yang tidak sedikit “Sekarang belum ada uangnya,” ujarnya. lalu tertawa (“/c7/g)

 

Sumber: Jawa Pos. 19 Mei 2021. Hal. 13

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *