Hari Anak Nasional: Bagaimana kesiapan anak penyandang disabilitas menghadapi New Normal?

Oleh Yohanes Yus Kristian (30117039)

Pandemi COVID 19 saat ini menjadi topik yang banyak diperbincangkan oleh seluruh dunia. Hal itu dikarenakan dampak yang terjadi karena adanya pandemi ini mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Pertumbuhan ekonomi menurun, penjualan yang menurun, aktivitas yang dibatasi, penutupan beberapa tempat usaha, sekolah dan instansi publik hingga budaya yang berubah dan ini merupakan beberapa dari sekian dampak yang timbul karena adanya pandemi. Selain itu, penyebaran pandemi yang sangat cepat ini bisa menjangkiti seluruh usia, mulai dari dewasa, lansia, balita, remaja, dan tak terkecuali anak-anak. berbagai upaya untuk dapat menekan penyebaran COVID 19 pun telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Mulai dari social distancing, melarang untuk keluar dari rumah, pembatasan sosial berskala besar-besaran, hingga penetapan batas waktu untuk usaha dan berbagai perusahaan telah dilakukan. Meski belum membuahkan hasil secara signifikan tentang pengurangan penyebaran virus COVID 19, upaya pemerintah tersebut tidak bisa dilakukan dengan siklus waktu yang cukup lama. Sebab, hal tersebut akan dapat memicu timbulnya masalah baru, yaitu krisis ekonomi. Berbagai media massa dari seluruh dunia telah banyak melaporkan bahwa negaranya mengalami penurunan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi (Jatmiko, 2020).

Di Indonesia sendiri, Menteri keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia mengalami perlemahan di bidang pertumbuhan ekonomi (Jatmiko, 2020). Hal tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya upaya lain untuk dapat menghadapi krisis yang terjadi. Pada akhir Mei, Achmad Yurianto, juru bicara penanganan COVID 19 mengatakan bahwa Indonesia akan menerapkan kebiasaan dan perilaku baru yang disebutnya “new normal” (Hasanuddin, 2020). Menurutnya, “new normal” ini adalah sebuah tatanan baru yang diatur pemerintah untuk masyarakat agar membudayakan kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan, pakai masker saat keluar rumah, menjaga jarak aman dan menghindari keramaian. Selain itu, adanya “new normal” ini juga mulai memberikan kelonggaran pada beberapa instansi atau tempat usaha untuk buka Kembali dengan syarat menerapkan protokol kesehatan.

Penerapan “new normal” ini, pemerintah berharap semua kalangan usia dari lansia, dewasa, remaja, hingga anak-anak dapat mengikuti peraturan dan kebijakan yang telah dibuat. Sebab, jika masyarakatnya tidak mampu mengikuti kebijakan yang dimaksudkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi, maka penerapan “new normal” ini akan berakhir dengan sia-sia.

Melihat bahwa “new normal” sudah di depan mata, itu berarti menuntut setiap individu perlu untuk mendisiplinkan dirinya sendiri ketika melakukan aktivitas atau kegiatan yang sifatnya di luar rumah. Bagi orang yang memiliki keadaan fisik yang normal dan sehat mungkin akan menjadi sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, bagi orang yang mengalami keterbatasan atau disabilitas, hal tersebut akan menjadi sesuatu hal yang tidak mudah dilakukan, terutama pada anak-anak yang menyandang disabilitas. Anak-anak penyandang disabilitas ini  beragam, mulai dari disabilitas fisik, disabilitas intelektual, mental dan disabilitas sensori (Wisnuwardani, 2019). Beragamnya disabilitas yang terjadi pada anak, hal itu juga menandakan bahwa setiap penyandang disabilitas punya penanganan yang berbeda-beda. Di Indonesia, berdasarkan survey terakhir yang dilakukan oleh survei sosial ekonomi nasional atau Susenas pada tahun 2018, kelompok penyandang disabilitas anak (2-18 tahun) sebanyak 89.028.562  jiwa (Kustiani, 2019). Hal tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas anak tergolong tinggi jumlahnya.

Adanya pandemi saat ini, akan semakin memberatkan tantangan yang harus dihadapi oleh anak-anak penyandang disabilitas. Keadaan penyandang disabilitas yang memiliki berbagai kelemahan, tentunya hal ini akan sangat menyulitkan mereka dalam kehidupan sehari-harinya. Bagi penyandang disabilitas fisik, yang mengalami kekurangan misalnya kehilangan kaki atau tangan sejak kecil, tentunya akan sulit bagi mereka untuk selalu mencuci tangan atau terus menggunakan masker. Mereka akan terus bergantung bantuan pada orang lain, mengharapkan pertolongan orang lain. Sebab pandemi menuntut setiap orang baik dewasa atau anak-anak untuk terus-terusan menjaga kebersihan. Sedangkan untuk penyandang disabilitas intelektual, mereka akan sangat kesulitan untuk memahami instruksi-instruksi yang diberikan seperti harus menggunakan masker ketika keluar rumah atau hal yang lainnya. Mereka tidak akan bisa memahami secara verbal atau bahkan tidak bisa memahami sama sekali karena. Oleh karena itu butuh pendamping yang harus selalu mendampinginya.

Selain adanya keterbatasan yang mereka miliki, anak penyandang disabilitas memiliki  ketahanan tubuh yang tergolong lemah dan rentan (Alfon, 2020). Kondisi tersebut akan mempermudah   masuknya bakteri atau virus pada tubuh anak, sehingga hal ini akan mempermudah mereka untuk terpapar virus corona. Oleh karena itu, anak dengan penyandang disabilitas perlu mendapatkan perhatian khusus selama masa pandemi ini. Mungkin beberapa anak disabilitas tidak akan memahami keadaan dan bahayanya keadaan pandemi. Namun selama ada orang yang fokus memperhatikan dan mendampinginnya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah bagi anak penyandang disabilitas. Karena itu, menjaga mereka agar tetap aman adalah hal yang utama saat ini melihat belum adanya obat atau vaksin. Oleh karena itu, di era “new normal” yang akan segera diterapkan di Indonesia,  setiap anak penyandang disabilitas perlu banyak dukungan dari berbagai pihak secara pribadi agar siap menyambut era baru.

Ketika “new normal” berjalan, itu berarti semua instansi dan akses publik akan segera di buka. Sekolah-sekolah pun akan segera mulai dibuka dan ada aktivitas belajar mengajar. Itu berarti akan ada kemungkinan para anak-anak penyandang disabilitas Kembali ke sekolah-sekolah mereka untuk melakukan aktivitas belajar. Sebagai anak penyandang disabilitas di tengah pandemi ini, pihak sekolah harus memikirkan semua resiko yang akan terjadi. Kebutuhan khusus yang dimiliki anak penyandang disabilitas seperti belajar dengan bermain, belajar dengan berinteraksi bersama teman, atau metode belajar yang lainnya harus terpenuhi namun tetap mengutamakan keselamatan dari anak penyandang disabilitas.  Oleh sebab itu, pihak sekolah perlu melakukan perbaruan dari tata ruang dan peraturan yang sesuai dengan protokol kesehatan. Selain itu, membentuk budaya baru dan mulai membiasakannya setiap hari mengenai Langkah-langkah menjaga diri seperti cuci tangan atau menggunakan masker harus selalu di ajarkan setiap hari kepada anak-anak. Dengan membiasakan diri  budaya baru pada anak-anak, maka hal tersebut akan membantu pihak sekolah agar lebih ringan ketika sekolah mulai beroperasi di masa pandemi ini.

Selain sekolah sebagai tempat belajar anak penyandang disabilitas, masa “new normal” ini juga menuntut orang tua untuk bisa berperan lebih dalam menjaga kesehatan anak penyandang disabilitas. Sebab orang tua adalah lingkungan terdekat yang dimiliki oleh anak penyandang disabilitas. Selain instruksi yang disampaikan secara umum melalui media online atau instruksi online, anak penyandang disabilitas juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai aturan “new normal” secara langsung. Hal itu dikarenakan anak penyandang disabilitas memiliki keterbatasan yang membuat mereka susah untuk memahami informasi. Dalam hal itu, orang tua sangat berperan besar dalam mengedukasi anak penyandang disabilitas agar bisa mengikuti budaya baru selama “new normal”. Selain memberikan edukasi tentang budaya baru yang harus di terapkan selama “new normal”, selalu menjaga kebersihan lingkungan baik di rumah, tempat lain yang akan dituju, atau diri anak sendiri merupakan peran orang tua agar dapat melindungi anak dari penyebaran virus COVID 19. Meskipun beberapa tempat telah mengikuti protool kesehatan, namun hal tersebut bukan jaminan untuk menjauhkan anak disabilitas dari ancaman COVID 19. Oleh karena itu, orang tua perlu untuk memastikan kebersihan lingkungan sekitar anaknya.

Terakhir, yang harus selalu diperhatikan oleh orang tua agar anak siap menghadapi “new normal” adalah pendampingan secara ketat. Keterbatasan yang dimiliki oleh anak penyandang disabilitas dan tuntutan di masa “new normal” akan membuat anak tidak secara penuh dapat melakukannya segala sesuatunya secara mandiri, sehingga perlu adanya pendamping yang selalu ada di sisi mereka untuk membantu disaat-saat yang dibutuhkan. Karena itu, pendampingan dari orang tua sangat penting di masa-masa sekarang ini. Menemani disaat sedang bersekolah, menemani ketika bermain atau aktivitas lain diluar rumah harus selalu di lakukan. Sebab, selain  bisa menjaga kesehatan kondisi anaknya, para orang tua juga bisa menjaga secara psikologis keadaan anaknya dalam menghadapi “new normal” ini.

Selanjutnya, peran pemerintah juga dibutuhkan dalam hal mendukung kesiapan anak penyandang disabilitas di masa “new normal” berlaku. Dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mempertimbangkan kondisi anak penyandang disabilitas, hal tersebut dapat diharapkan dapat membantu berjalannya aktivitas anak penyandang disabilitas di berbagai aspek. Selain itu, menyediakan fasilitas-fasilitas umum yang dapat menguntungkan anak penyandang disabilitas baik di sekolah, taman bermain, atau tempat umum agar terjaga dari penularan COVID 19 juga sangat diharapkan. Sebab, dengan adanya peran pemerintah seperti menteri anak, atau dinas sosial anak, atau instansi lainnya yang berhubungan dengan anak maka hal tersebut akan dapat mendukung kesiapan anak penyandang disabilitas dalam menghadapi era “new normal”.

Pada akhirnya, kebijakan pemerintah tentang “new normal” akan tetap berjalan, begitu juga dengan kehidupan dan masa depan dari anak penyandang disabilitas. Meskipun tantangan di era baru ini akan semakin berat bagi mereka, hal itu bukan berarti tidak ada kesempatan bagi mereka untuk hidup layaknya orang normal. Membangun kesiapan secara mental dan pengetahuan yang disesuaikan dengan kondisi anak penyandang disabilitas merukana hal yang harus menjadi fokus utama. Sebab anak penyandang disabilitas yang memiliki kesiapan, hal ini bisa membangun kemandirian pada anak penyandang disabilitas. Namun, kesiapan anak penyandang disabilitas dalam menyambut era baru ini tidak dapat dihadapi sendiri mengingat bahwa anak penyandang disabilitas memiliki  beragam keterbatasan. Oleh karena itu, agar anak penyandang disabilitas siap di era baru ini, mereka butuh banyak peran pendukung di sekitar mereka.

 

Daftar Pustaka

Alfon, K. (2020 Juli 01). Protokol perlindungan anak penyandang disabilitas saat pandemi. Popmama.com. Diakses dari https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/alfon/protokol-perlindungan-anak-penyandang-disabilitas-saat-pandemi-covid/9, 07 Juli 2020.

Jatmiko, B, P. (2020 Mei 10). Perekonomian Indonesia pasca pandemic COVID 19. Kompas.com. Diakses dari https://money.kompas.com/read/2020/05/10/091500226/perekonomian-indonesia-pasca-pandemi-covid-19?page=all, 07 Juli 2020.

Kustiani, R. (2019 November 01). Berapa banyak penyandang disabilitas di Indonesia? Simak data ini. Tempo.com. Diakses dari https://difabel.tempo.co/read/1266832/berapa-banyak-penyandang-disabilitas-di-indonesia-simak-data-ini, 07 Juli 2020

Jatmiko, B, P. (2020 April 01). Sri Mulyani paparkan scenario terburuk perekonomian RI akibat corona. Kompas.com. Diakses dari https://money.kompas.com/read/2020/04/01/104100826/sri-mulyani-paparkan-skenario-terburuk-perekonomian-ri-akibat-corona, 07 Juli 2020.

Wisnuwardani, D, P. (2020 Desember 04). Ada 4, kenali ragam disabilitas. Liputan6.com. Diakses dari https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4126110/ada-4-kenali-ragam-disabilitas, 07 Juli 2020.

Hasanuddin, D. (2020 Mei 28). Achmad Yurianto sebut kebiasaan “new normal” itu memperhitungkan untung rugi keluar rumah. Wartakotalive.com. Diakses dari https://wartakota.tribunnews.com/2020/05/28/achmad-yurianto-sebut-kebiasaan-new-normal-itu-memperhitungkan-untung-rugi-keluar-rumah, 07 Juli 2020.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *