Gunakan Sisa Kain untuk Fashion New Normal. Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal.15. Yoanita Tahalele. Fashion Design and Business

SURABAYA, Jawa Pos – Sudah lama para desainer maupun pebisnis fesyen berusaha mengurangi pembuangan kain sisa. Ternyata, pandemi memberikan “kesempatan” lebih untuk itu. Hal tersebut diungkapkan Yoanita Tahalele, dosen Fashion Design and Business UC yang juga memiliki lini fashion.

 Ita, sapaan Yoanita Tahalele, menganggap pandemi ini sebagai blessing in disguise. Potongan sisa kain tersebut bisa diolah jadi beberapa perlengkapan fashion masa kini. Bergantung dengan ukuran dan potongan yang ada. “Misalnya, dijadikan masker. Bisa dikenakan senada dengan pakaiannya, lebih matching,” paparnya.

 Selain untuk masker, ada beberapa jenis akesoris lain. Salah satunya, topi. Demi melindungi rambut saat seseorang berada di area umum, topi seksrang juga mulai diminati. Jenis topi yang bisa menggunakan bahan sisa adalah bucket hat, beret, juga newsboy cap.

Ketiganya membutuhkan bahan yang relatif tidak terlalu banyak. Selain itu. sambungan kain bisa diakali. “Bentuknya kasual, jadi orang bebas mau pakai sehari-hari,” tutur owner Flying Feather tersebut.

Opsi alternatif pemanfaatan sisa kain busana adalah dijadikan obi atau sabuk. Desain ini bisa divariasikan bentuknya sesuai gaya masing-masing. “Paling kecil bisa juga untuk ikat rambut,” jelasnya.

Kali ini, Ita menggunakan bahan katun dan rayon. Jenis kain tersebut memang paling efesien sebagai masker nonmedis. Sebab bahannya sejuk dan mudah dicuci. “Kekurangannya, hanya 60 persen efektif dibanding masker medis,” jawabnya.

Bahan kain lain juga bisa digunakan. Misalnya, linen dan scuba. Bahannya efisien juga sebagai masker. Bedanya, linen agak panas dan tidak selembut katun. “Dan kalau scuba harus double layer ya,” tuturnya.

Corak shibori yang digunakan punya keunggulan. Sambungan tidak terlalu terlihat. “Memang ini ngaruh banget, dengan pola shibori itu sisa bahan jadi tinggal 2 persen. Jadi, less waste,” jawabanya. (dya/c13/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal. 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *