Gratiskan Yatim dan Fakir Miskin Nikmati Buah

Govaldo Ircham Maulana masih 19 tahun. Meskipun demikian, jiwa bisnis mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya itu mulai terlihat. Pemuda asal Desa Kebon Agung, Kecamatan Ujungpangkah, tersebut mengelola kebun buah naga dan durian milik orang tuanya. – CHUSNUL CAHYADI

BUAH durian bergelantungan di ranting pohon di kebun di Desa kebon Agung, Kecamatan Ujungpangkah. Besarnya sebola basket. Warna buah berduri itu terlihat kekuningan. Buah tersebut juga harum. Orang yang melihat ingin segera memetik untuk menikmatinya.

“Tapi, itu masih belum matang. Sebulan lagi silakan kalau mau balik ke sini,” saran Govaldo Ircham Maulana, pemilik dan pengelola kebun buah naga dan durian di Kebon Agung, Kecamatan Ujungpangkah, dengan ramah ketika ditemui pada Jumat (5/1). Luas area tersebut mencapai 3 hektare.

Di kawasan itu sebagian besar ditanami pohon buah naga. Hanya ada seratus pohon durian. “Dan, ini kali pertama kami akan panen durian,” ujra mahasiswa semester IV jurusan international bussines management tersebut.

Ada beberapa jenis durian yang ditanam. Antara lain, montong dan master. Orang tua Govaldo, Arik Evianto, 47, mulai nandur pohon buah berduri itu pada 2010-2011.

Govaldo menyatakan, kebun buah yang dikelolanya tersebut semula hanya untuk kepentingan keluarga dan kerabat. Seiring waktu, banyak warga yang berkunjung ke kebun itu. Keluarga lalu membuka untuk umum. Meski demikian, orientasinya tetap. Yakni, tidak untuk mencari keuntungan. “Karena itu, sebagian penghasilan digunakan untuk kegiatan sosial,” ungkapnya.

Govaldo mengemas wisata kebun secara apik dan nyaman. Dengan demikian, pengunjung betah dan membeli buah dengan cara memetik sendiri. Pihaknya bahkan memaving jalan serta mendirikan gazebo dan musala. “Untuk masuk, kami tidak menarik uang. Tapi, kalau mau memetik dan makan buah, pengunjung harus menimbang dan membayarnya,” katanya.

Govaldo menyebutkan, uang hasil penjualan itu tidak hanya digunakan untuk pemeliharaan, tetapi juga sosial. Khususnya untuk anak yatim dan fakir miskin di desanya. Selain itu, sepekan sekali keluarganya mengajak para fakir miskin dan anak yatim untuk menikmati hasil kebun bersama. “Kalau mereka mau datang pada hari lain juga gratis,” tuturnya.

Kesibukan remaja 19 tahun sebagai mahasiswa membuatnya tidak bisa selalu ke kebun. Govaldo telah merekrut empaat orang untuk membantunya. “Kalau kuliah libur, saya baru ikut ke kebun,” ujranya.

 

Sumber: Jawa-Pos.8-Januari-2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *