Gedug Crystal Palace di Jalan Embong Malang, 24 Tahun Mangkrak. Pembangunan Sempat Akan Dilanjutkan Tahun Ini. Harian Disway. 29 Juni 2021. Hal.6-7. INA. Freddy H Istanto

Di sebelah barat tower-tower megah Tunjungan Plaza terdapat satu bangunan mangkrak. Dibangun era Presiden Soeharto, tapi terpaksa berhenti saat krisis moneter. Pembangunar tidak dilanjutkan setelah reformasi hingga kini. Sudah lima kali Indonesia ganti presiden, gedung mangkrak itu tetap tanpa perubahan.

Dulu, tahun 90-an, kami para arsitek menunggu gedung itu jadi. Inilah proyek monumental di segitiga emas Surabaya yang sangat futuristik,” ujar Dosen Universitas Ciputra Freddy H. Istanto kemarin (28/6), Gedung mulai dibangun pada 1991. Desainnya jadi perbincangan di kalangan arsitek dan akademisi

Arsiteknya didatangkan langsung dari Amerika. Roger Goodhill namanya, Freddy baru tahu ternyata sang arsitek menikah dengan mahasiswinya. la mendapat kabar bahwa Roger sudah meninggal dua tahun lalu di usia 50 tahun pada 9 November 2019.

Mengapa desain Roger jadi perbincangan? Freddy mengatakan belum banyak bangunan bergaya futuristik di Indonesia apalagi di Surabaya di awal 90-an. Dinding fasadnya full kaca. Ada desain melengkung di balkon setiap lantainya. “Ini kita bicara 90-an tho ya. Kalau sekarang yang futuristik sudah telecekan (banyak sekali,” katanya.

Maka arsitek menunggu desain dari Roger dieksekusi. Tunjungan Plaza (TP) sudah ada saat itu. Tapi belum semegah dan setinggi sekarang, TP 6 masih memegang rekor sebagai gedung tertinggi di Surabaya dengan 52 lantai setinggi 215 meter.

Freddy membayangkan, jika gedung ini jadi, maka proyeknya akan sangat monumental Akan jadi ikon kota, “Sekarang sudah telat Sudah koduluan TP” kata Direktur Surabaya Haritage Society atau Sankat Poesaka Soerabaia itu.

Sayang proyeknya mandek saat krisis monoter 1907. Arsitek seperti Freddy tentul sangat kecewa. Proyek itu sebenarnya sudah tuntas secara konstruksi. Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan fasad kaca serta detailnya. Begitu juga interior gedung. “Kalau dilihat itu, Eman (sayang) banget,” lanjutnya.

Meski sudah 30 tahun berdiri (dihitung sejak awal dibangun), Freddy masih yakin konstruksi bangunan masih kukuh. Masih sangat mungkin untuk dilanjutkan.

Cuma, prosesnya harus melalui asesmen dari pakar teknik sipil. Asalkan beton dan rangka besinya tidak termakan korosi, Freddy yakin gedung masih bisa digunakan.

Gedung itu milik PT Mas Murni Indonesia. Dulu terkenal di bursa efek dengan sebutan PT MAMI. Merekalah yang punya Hotel Garden Palace di seberang kantor DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso.

Freddy mengatakan, seharusnya proyek mangkrak itu dinamai gedung Crystal Palace. Saudaranya Garden Palace. “Rencana untuk apartemen,” katanya.

Basuki Wibowo, tinggal di belakang gedung mangkrak itu. la menyaksikan proses pembangunan gedung yang dilakukan pada 1991-1997. Ia tak tahu mengapa proyek itu tidak segera dilanjutkan. “Katanya mau diambil alih pemkot,” ujar pria 40 tahun itu.

Pemkot Surabaya memang sempat memunculkan wacana untuk mengintervensi sejumlah proyek gedung mangkrak 9 tahun lalu. Setidaknya ada 10 gedung mangkrak yang dianggap mengganggu estetika kota.

Semua pemilik gedung dikumpulkan. Mereka ditanya apa masalahnya? Kalau masalah ada di pemerintah, pemkot siap membantu. Jika ada izin yang ruwet, pemkot akan mempermudah prosesnya. Cuma rata-rata masalah gedung mangkrak itu ada di internal perusahaan masing-masing.

Kabid Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Surabaya Lasidi masih SMP saat gedung itu dibangun. “Saya masuk pemkot tahun 2006 gedung itu sudah mangkrak,” ujarnya.

Dua tahun lalu PT Mas Murni mendatangi pemkot. Mereka berencana melanjutkan proyek itu pada 2021. Cuma ditunggu sampai sekarang, belum ada tanda-tanda proyek dilanjutkan.

Lasidi menduga perusahaan masih kesulitan gara-gara pandemi. Bisnis properti masih mencoba bangkit. la cuma bisa mendoakan semoga perusahaan dapat investor agar bangunan mangkrak itu menjalani takdimya sebagai salah satu landmark kota yang indah. (Salman Muhiddin)

 

Sumber: Harian Disway. 29 Juni 2021. Hal.6-7

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *