Gapai Kesejahteraan Melalui Desa Wisata. Kontan. 26 September 2020. Hal.11. Dewa GS HTB

Tema World Tourism Day pada 27 September 2020 yang ditetapkan United Nation World Tourism Organization adalah Tourism and Rural Development. Maka, percepatan pembangunan pariwisata perlu cliletakkan pada basis sumber daya lokal yang kita miliki. Dalam konteks itu, secara geografis, potensi dan sumber daya pariwisata Indonesia banyak berada di kawasan pedesaan. Kondisi ini semestinya kontekstual dan relevan dengan tren pariwisata dunia, yang menurut Faulleterr (1997), telah mengalami pergeseran sejak 1983 dari old tourism menjadi new tourism.

            Dari sisi pasar (turis), old tourism bersifat package (group) tourism, psycho centric orientation, sun just/sight seeing. Sedangkan new tourism lebih mengarah ke independent travelers dan seeking a variety of special interest. Dari sisi industri, old tourism banyak diisi pemain asing (foreign ownership). Sementara new tourism menjadi peluang bagi kepemilikan lokal (local ownership), serta wisata budaya dan lingkungan hidup.

Melihat kemungkinan ini, momentum dan peluang bagi wisata pedesaan untuk lebih digalakkan perlu menjadi perhatian bersama. Secara umum, persoalan perkuatan wisata pedesaan di antaranya, koordinasi dan sinergi dengan stakehoklerterkait. Dalam konteks ini, di pihak warga desa sendiri telah membangun semacam komunikasi dalam lembaga desa wisata atau Ladewi yang keanggotaannya terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat pemerintah sampai tingkat kecamatan, serta gabungan kelompok petani (Gapoktan).

Namun, akses koordinasi dengan tingkat kabupaten dan provinsi masih membutuhkan fasilitasi dan inisiatif aktif dari pemerintah. Problemnya, manakala suatu desa memiliki potensi wisata tapi tidak masuk dalam program pemerintah, baik itu tingkat I atau tingkat II. Meyakinkan warga desa bahwa desa tempat tinggal mereka berdaya kuat untuk menarik wisatawan bukanlah hal yang mudah.

Di satu sisi, mereka tetap harus mempertahankan keunikan, keunggulan, dan tatanan kehidupan desanya. Namun di sisi lain, faktor motivasional dalam bentuk perhatian pemerintah dan pelaku wisata (khususnya tur operator) tidak dapat ditunda untuk mengimbangi sekaligus menjaga semangat masyarakat desa memajukan pariwisata di desanya.

Pemerintah sendiri punya dua pola pengembangan desa wisata. Pertama, pola klaster (one village one product). Kedua, pola multiactivity (alam, budaya, tata kehidupan masyarakat). Pola pertama, yang paling dibutuhkan adalah mengembangkan pola penanaman agar kontinuitas dan kualitas panen terjaga, selain pernilihan bibit, pengemasan, dan pemasaran. Dengan.mengatasi persoalan ini, dapat menjaga konsistensi produk agro manakala dijadikan destinasi agrowisata. Sehingga, misalitya, kebun apel, dapat terjaga keberadaan apel setiap saat untuk dipetik wisatawan.

Fasilitasi lintas dinas pemerintahan, terkait juga penting untuk meningkatkan taraf kesejahteraan petani/peternak. Misalnya, dengan mengembangkan industri olahan berbasis sumber daya lokal. Pada desa wisata agro peternakan sapi perah, produksi susu sapi segar berpotensi mengalami fluktuasi harga jika tidak dikembangkan menjadi industri olahan. Semisal, diolah menjadi yoghurt, tahu susu, es krim, susu pasturisasi, permen susu.

 

Kendala infrastruktur

Fasilitasi pemerintah juga diperlukan untuk mengedukasi dan mendorong diterapkannya integrated farming. Di satu sisi, untuk kesejahteraan peternak, melalui pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk kandang atau biourine yang diperlukan untuk pertanian. Dan di sisi lain, untuk menerapkan good agricultural practice, dengan pemanfaatan pupuk organik. Dengan mengemas desa wisata menjadi agrowisata peternakan, mengembangkan industri olahan, serta penerapan integrated farming, niscaya semakin memperkuat dan meningkatkan taraf kesejahteraan warga desa.

Biro wisata perlu keluar dari mainstream dalam penjualan paket wisata. Desa-desa wisata dalam cakupan bisnis suatu biro wisata, perlu diinventarisir dan diujicoba untuk dijual. Memang, risikonya kembali ke tur operator sendiri, manakala desa wisata yang dijual tidak memuaskan keinginan wisatawan.

The Association of Independent Tour Operators (AITO) yang bermarkas di Inggris, misalnya, mempelopori diterapkannya responsible

tourism dan green tourism untuk mencapai lima tujuan: melindungi lingkungan hidup, menghormati kebudayaan lokal, memberi ketmtungan kepada masyarakat lokal, konservasi sumber daya alarn, dan meminimalisir polusi (www.aito.co.uk).

Dalam operasionalnya, AITO menjaring mitra biro wisata yang memiliki visi yang sama. Dalam pengemasan paket tur, mereka mencari destinasi baru yang langsung berinteraksi dan bertransaksi dengan masyarakat lokal. Terutama, da.lam hal local homestay, local food restaurant, dari toko suvenir. Praktik semacam ini memperkuat gagasan community-based tourism, di mana masyarakat sendirilah yang menjadi subjek sekaligus mendapatkan manfaat langsung dari pariwisata.

Persoalan kedua, pengetahuan pariwisata warga desa. Untuk mengantisipasi persoalan di atas, pengetahuan pariwisata warga desa, utamanya kesadaran wisata dan sapta pesona wisata, merijadi keharusan untuk ditingkatkan. Daya tarik desa wisata, menurut instansi wisata, terdiri dari keunikan, keragaman, dan keaslian. Mempertahankan ketiga hal tersebut sepadu dengan pengetahuan masyarakat akan nilai-nilai pariwisata seperti tercakup dalam sapta pesona wisata (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan). Keberadaan toilet umum, misalnya, serta local homestay dan local food restaurant, kebersihan menjadi hal yang vital.

            Ketiga, kendala infrastruktur. Kerap kali infrastrUktur ke desa-desa wisata, baik yang popular (seperti Desa Sade di Lombok, Desa Panglipuran dan Desa Tenganan di Bali, desadesa wisata di Sleman atau Bantul) maupun yang belum, belum tertata baik. Persoalannya bukan pada jalur yang sulit (jalan berkelok-kelok atau berbukit-bukit), tetapi kualitas jalan (sempit dan berlubang). Jalan dengan jalur yang sulit terkadang justru menjadi potensi wisatawan petualang, asalkan kualitasnya bagus. Contoh, jalan menuju gunung Bromo via Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan. Di samping itu, keberadaan lahan parkir yang representatif untuk menampung bus besarjuga penting untuk menopang kunjungan wisata desa.

Terakhir, pengembangan desa vvisata. di Indonesia masih terkendala aspek promosi,. pengemasan objek daya tarik wisata, distribusi produk, serta akses permodalan bank dan lembaga keuangan lain bukan bank. Kendala permodalan, misalnya, memberikan peluang bagi rentenir untuk meminjamkan uang dengan bunga tinggi dan mewajibkan petani (bunga dan buah) menjual hasil produknya kepada mereka dengan harga yang kurang menguntungkan. Dampak berikutnya, oleh karena hasil produksi petani diserahkan kepada tengkulak dan pedagang, maka aspek branding tidak sesuai dengan asal daerah. Ini banyak terjadi pada komoditas durian lokal yang dijual di’ pasar swalayan dengan merek durian bangkok. Semoga, desa wisata semakin mendapatkan perhatian kita bersama. Selamat Hari Pariwisata Sedunia 2020.

 

Sumber: Kontan, 26 September 2020. Hal. 11

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *