Gabungkan Indonesia-Prancis

Culinary Business Universitas Ciputra dalam Food Appreciation

 

SURABAYA – Teknik memasak dengan cara modern rupanya tidak hanya bisa diterapkan pada menu masakan Eropa. Masakan khas Indonesia yang dibikin dengan teknik modern pun bisa menghasilkan cita rasa yang menggugah selera.

Salah satunya teknik molecular gastronomy yang digunakan oleh mahasiswa Culinary Business Universitas Ciputra dalam event Food Appreciation kemarin (14/3). Kegiatan tersebut merupakan puncak tugas mahasiswa semester VI dalam praktik pembukaan restoran.

Sejak 31 Januari, para mahasiswa diminta membuka dan mengelola resto. Lokasinya di lantai 1 UC. Menyiapkan menu, memasak, dan mengonsep lokasi dilakukan sendiri oleh mereka. Begitu pula pramusaji dan cara penyajian. “Besok (16/3) terakhir. Tapi, sebelumnya pada 14 dan 15 kami diminta membuat Food Appreciation,” terang penanggung jawab acara Bangun Permadi.

Selama setengah semester, Bangun dan kawan-kawan membuka restoran dengan menu masakan Prancis. Namun, pada Food Appreciation, mereka menggabungkannya dengan masakan Indonesia. Meski begitu, untuk memasaknya, mereka menggunakan teknik Prancis dan negara Eropa lain.

Total ada sembilan menu yang disajikan dengan teknik memasak yang unik. Misalnya, pada menu mushroom soup. Karena termasuk menu pembuka, mereka tidak ingin membuatnya terlalu berat untuk pengunjung.

Sup dengan isian jamur dan cakalang asap khas Manado itu tidak disajikan dalam bentuk cair. “Tapi, berbentuk busa,” terang Sean Tan, head chef Food Appreciation. Makanan itu dimasak dengan teknik molecular gastronomy.

Caranya, 225-250 mililiter sup jamur dimasukkan ke dalam alat espuma. Kemudian, ditambahkan nitrogen khusus makanan volume 10 mililiter. Setelah didiamkan sekitar 10 menit, sup yang sudah berubah menjadi busa disajikan dalam piring.

Sean juga menunjukkan alat sous vide untuk memasak dada ayam dengan tingkat kematangan merata. Selanjutnya, ayam disajikan dengan lembat panawa sangan yang bentuknya mirip sate lilit khas Bali. “Makanan ini biasa disajikan pada era Majapahit.” Imbuhnya.

Pada kegiatan bertajuk French Indonesia Heritage itu, para mahasiswa menggunakan bahan-bahan premium dari dalam dan luar negeri. Bahkan, Sean harus terbang ke Bali untuk membeli rempah-rempah. Selain itu, mereka mendatangkan bahan dari Makassar dan Manado. “Kami juga berkonsultasi ke Institut Francais d’Indonesie Surabaya untuk tanya masakan yang berkaitan dengan budaya Prancis,” imbuhnya.

Untuk menikmati masakan buatan para mahasiswa itu, pengunjung harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Tersedia 37 kursi yang dibuka pukul 18.00. Mereka juga mengundang para ahli di bidang kuliner untuk mencicipi masakan. (ant/c6/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 15 Maret 2018

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *