Fiona Rancang Pakaian Khusus Anak Autis_Melindungi Saat Jatuh atau Menggigit Tangan. Jawa Pos. 5 Mei 2018. Hal.21

Dari sekian banyak masukan itu, Fiona lantas memutuskan menggunakan kain katun 100 persen. Ada kecenderungan perilaku anak autis yang menggigit lengan ketika merasa tidak nyaman. Bahan alami dipilih agar anak tidak menelan bahan kimia saat menggigit baju. Soal kebiasaan menggigit tersebut sudah disiasati Fiona dengan merancang lengan baju yang panjang hingga menutupi punggung tangan. Ada tali pengikat yang bisa dikencangkan di ujung lengan.

Model bajunya pun longgar. Dengan demikian, anak-anak dengan sensitivitas tinggi tetap merasa nyaman. Tidak ada label pakaian. Di bagian dalam baju, juga tidak ada obrasan. Dia menggunakan furing atau kain pelapis. Dengan demikian, anak tidak akan menemukan sesuatu yang mengganjal saat menggunakan baju tersebut.

Dress itu pun dibuat panjang. Yang menarik, ada jahitan berpola setengah lingkaran di bagian bawah baju. “Itu namanya teknik jahitan quilting sashiko,” jelasnya. Jahitan tersebut dibuat Fiona dengan tangan, bukan bantuan mesin. Sebelum dijahit, kain dilapisi dengan dakron. Jadi terasa empu. Fiona mempunyai alasan tersendiri untuk memasang dakron di bagian paha ke bawah. “Agar saat anak jatuh, lututnya tidak lecet,” jelasnya.

Banyak anak autis yang keseimbangan tubuhnya memang kurang. Karena itu, dalam eberapa aktivitas seperti berlari, mereka sering jatuh. Dengna dakron, Fiona ingin anak yang memakai bajunya bisa terlindungi. Hal serupa diterapkan pada celana untuk bocah laki-laki.

Soal warna, putri pasangan Yosia Salim dan Santy Wijaya tersebut mendapatkan informasi dari salah seorang guru di SLB Mutiara Hati. Yang disarankan, menggunaan warna-warna ingin seperti biru, hijau, dan ungu agar anak merasa lebih tenang.

Meski mendapatkan banyak masukan, dalam proses pembuatan pakaian itu, Fiona mengaku sempat mengalami kesulitas. Terutama saat merancang konsep agar desain yang dibuat menarik. Bongkar pasang desain pun dia coba sampai empat kali. Hingga akhirnya, dia menemukan yang paling cocok dan fashionable. “Saya tidak ingin pakaian yang saya buat punya fungsi saja, tapi juga haris berestetika,” ungkapnya.

Ketika bajunya sudah jadi, dia membawa rancangan tersebut ke SLB tempatnya mencari informasi. Guru-guru dan orang tua murid ternyata suka dengna hasil karyanya. Mereka mengakui bahwa baju-baju itu menjadi solusi kesulitan mereka saan mencari pakaian untuk anak-anaknya.

Saat ini Fiona telah mendesain sekitar tiga potong pakaian. Rencananya, dia akan membuat dia model lagi. Dia optimistis ke depan, konsep baju yang dirinya buat itu akan laku di pasaran. Apalagi, belum ada pakaian khusus untuk anak autis. Fiona pun sudah mempersiapkan nama merek yang bakal dipakainya jika sudah bisa membuat usaha. Yakni Little bee. (*/c20/any)

 

Sumber : Jawa-Pos.5-Mei-2018.Hal.21

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *