Energi Baru Garuda Wisnu Kencana. Bali Post. 18 Agustus 2018.Hal.6_I Dewa Gde Satrya. IHTB

Oleh I Dewa Gde Satrya (Penulis, dosen Hotel dan Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra, Surabaya)

 

DIGAGAS sejak 1989, selesainya pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) disambut dengan penuh syukur oleh bangsa Indonesia. Sejumlah seniman tampil pada pentas kolosal di pelataran GWK, terdiri dari penari Kecak Ketut Rina, penyanyi Ayu Laksmi, Dira Sugandi, dan Koreografer EkoSupriyanto. Bagi Bali khususnya, GWK yang baru jelas akan menjadi magnet bagi wisatawan. Bagi Indonesia, patung setinggi 121 meter itu akan memancing perhatian dunia, khususnya pada perhelatan IMF-World Bank Annual Meeting, Oktober mendatang. Spesifikasi patung GWK memiliki tinggi 75 meter, berdiri di atas landasan setinggi 50 Meter, lebar sayap 64 meter. Lokasi patung GWK berada di atas ketinggian bukit 130 meter, setara dengan lebih dari 250 meter di atas permukaan laut. Bahan pembuatan patung berupa tembaga dan kuningan dengan berat 3.000 ton.

Selesainya pembangunan GWK berada di momen gempa Lombok dan Bali, dan pada saat pariwisata menjadi andalan untuk menstabilkan nilai rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan nilai rupiah atas dolas AS, membutuhkan perubahan signifikan pola berwisata warga Indonesia. Ada 6,2 juta orang Indonesia yang melancong ke luar negeri pada tahun 2010, melonjak drastis pada tahun 2016 menjadi 8,4 juta orang dan 9,1 juta orang pada tahun 2017. Perubahan pola berwisata ke dalam egeri, untuk menghemat devisa dari dolar AS.

Di sisi lain, momen ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara untuk datang ke sini. Kunjungan wisman year on year pada Juni lalu melonjak 15,21 persen, dari 1,32 juta. Jika dilihat month to month, peningkatan sebesar 6,07 persen pada semester I tahun ini dibandingkan semester I tahun lalu.

 

Korporasi

Bali baru saja mengalami penurunan kunjungan wisata pasca-erupsi Gunung Agung sejak triwulan terakhir tahun lalu hingga triwulan pertama tahun ini, kini didera lagi gempa. Dalam kontes ini, kehadiran GWK baru patut diapresiasi sebagai wujud kontribusi sektor swasta, dalam hal ini Alam Sutera, dalam membangun pariwisata. Gubernur Bali pernah mengeluarkan edaran resmi kepada para Pengusaha Sarana Akomodasi Pariwisata di Bali tentang Dampak Erupsi Gunung Agung. Edaran yang berisi tiga poin itu mengimbau para pelaku wisata di Bali bahu-membahu dan bekerja sama untuk menjaga kenyamanan dan keamanan wisatawan.

Kehadiran GWK baru memperkuat dia fundamen penting, menyangkut country branding “Wonderful Indonesia” dan target penerimaan devisa negara. Pertama, terkait devisa negara, pariwisata telah menyumbang devisa terbesar kedua pada tahun 2016, sejumlah 13,5 juta dolar AS. Jumlah itu di bawah kontribusi CPO/minyak sawit mentah sebesar 15,9 juta dolar AS. Tentu saja, penurunan kunjungan wisatawan dan rendahnya occupancy hotel sebagai dampak erupsi Gunung Agung akan sedikit mengoreksi pencapaian devisa pada akhir 2018. Karena itu, kehadiran GWK baru semoga dapat mengejar target devisa di sisa wakti 2018.

Kedua, pertanyaan mendasar yang meresap di kalbu wisatawan, apakah benar country branding “Wonderful Indonesia”? Wonderful Indonesia yang merupakan ekspresi dari wonderful of nature, wonderful of culture, wonderful of people, wonderful of food, dan wonderful value of money, benar-benar diuji di bali. Sejauh mana GWK baru mampu menjadi penawar dampak psikologis pasca-erupsi Gunung Agung dan tidak menggoyahkan preferensi wisatawan atas Bali?

Sejauh mana GWK baru berpengeruh terhadap upaya mempertahankan prestasi kemengangan Bali yang tahun lalu terpilih menjadi destinasi wisata terbaik di dunia berdasarkan pilihan jutaan pelancong di seluruh dunia dari situs tripadvisor.com? Bali mengalahkan London, Paris, Roma, Praha, Phuket. Sebelumnya, pada awal tahun 2017, Bali juga dipilih menjadi Pulau Terbaik berdasarkan polling yang dilakukan DestinAsian Publisher selama Agustus-Oktober 2016. Kita semua menyambut gembira dan penuh syukur GWK baru, semoga menjadi energi positif bagi pariwisata di Indonesia.

 

Sumber : Bali-Post.18-Agustus-2018.Hal.6

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *