Elsa Maharrani. Menjahit Kesejahteraan. Kompas. 7 April 2021. Hal.16

Berwirausaha bukan sekedar perkara mencari untung, melainkan juga bagaimana mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dengan prinsip itu, Elsa Maharrani memberdayakan perempuan, sebagian ibu rumah tangga di Padang, Sumatera Barat, agar memiliki penghasilan sendiri.

Yola Sastra

Sukses menjadi penjual (reseller) daring dan distributor merek-merek pakaian muslim sejak 2016 tidak memuaskan hati Elsa. Ia melihat apa yang ia lakukan belum berdampak bagi orang di sekitarnya.

Ia pun memberanikan diri memproduksi pakaian muslim dengan merek sendiri, yakni Maharrani Hijab, pada 2018. Selain memberi keuntungan, ia juga berharap usahanya bisa membuka ladang rezeki bagi orang lain.

Akhir tahun, Elsa berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Tata Busana Universitas Negeri Padang dalam membuat pola, memotong, dan menjahit pakaian. Ia kemudian menjajaki kerja sama dengan penjahit kampung di sekitar rumahnya di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Akan tetapi, upaya itu tidaklah mudah. Masalah upah penjahit di Padang relatif tinggi. Mereka mematok upah menjahit Rp 100.000- Rp 150.000 per helai pakaian. Padahal, Elsa hanya bisa menawarkan upah Rp 25.000 per helai. Pertimbangannya, pesanan dari dia akan berkelanjutan. Selain itu, pekerjaannya lebih sederhana, yaitu menjahit pola kain yang sudah dipotong. Bahan-bahannya juga disediakan Elsa.

Tawaran Elsa menghasilkan penolakan. Namun, akhirnya ia menemukan mitra penjahit yang sesuai kriteria. Ia seorang perempuan yang pernah bekerja di pabrik garmen di Jakarta dan saat itu sedang menganggur. “Kemitraan dengan ibu itu lancar. Ia terus menjahit untuk kami hingga sekarang. Melihat itu, tetangganya mau juga bermitra. Akhirnya, mitra kami yang awalnya cuma satu bertambah dua, tiga, lima, sepuluh, hingga sekarang jadi tiga puluh orang,” kata Elsa di rumahnya di dekat pinggiran kota, Selasa (23/3/2021) siang.

Mitra Elsa 80 persen adalah perempuan. Sebagian besar baru belajar menjahit. “Ada yang awalnya cuma pandai manghoyak-hoyak masin (menggoyang-goyangkan mesin), sekarang sudah bisa menjahit baju,” ujar Elsa.

Para pemula itu belajar menjahit kepada tetangga. Elsa mengoreksi hasil jahitan mereka agar bisa sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

Siang itu, Elsa memantau proses praproduksi oleh tim produksi Maharrani Hijab di bengkel sebelah rumahnya. Dua laki-laki sedang mengukur kain untuk membuat pola. Seorang perempuan sedang menyusun pola yang sudah dipotong dan seorang perempuan lainnya menjahit.

Elsa menceritakan, proses penjahitan dilakukan oleh mitra di rumah masing-masing. Sementara itu, kegiatan praproduksi seperti pembuatan dan pemotongan pola serta pascaproduksi dan pengemasan dilakukan di rumah Elsa dan bengkel itu.

Maharani Hijab itu memproduksi baju gamis, baju koko, mukena, jilbab, seragam dinas, hingga masker. Untuk kategori pakaian saja, Elsa bisa memproduksi 1.500 hingga 2.000 helai per bulan.

Usaha Sosial

Menurut Elsa, jika sekadar berbisnis, ia sebenarnya bisa saja menggunakan jasa para penjahit di sentra konfeksi dari daerah lain, seperti Bandung, Jawa Barat. Upah penjahit di sana jauh lebih murah dibandingkan upah penjahit di Padang. Walakin, Elsa memilih mengawinkan bisnis dengan pemberdayaan masyarakat.

Di Padang, ia mengeluarkan biaya produksi gamis sekitar Rp 45.000 per helai, sementara di Bandung ongkos produksinya hanya Rp 30.000-Rp 35.000 per helai. Elsa tinggal mengirimkan kain. Biaya bahan lainnya, seperti benang, risleting, dan kancing, ditanggung mereka.

“Kenapa harus produksi di Padang? (Karena) produk domestik bruto (PDB) Sumbar, termasuk Padang, relatif rendah dibanding daerah lain. Sumbar membeli semuanya dari Jawa. Produksi kain dan penjahitan di Jawa, baru pakaiannya dibawa ke Padang. Kalau semua dioper ke Jawa, uang tidak akan berputar di Padang,” tutur Elsa.

Rezeki mengalir

Dengan pemikiran itu, Elsa berupaya agar uang dari kalangan menengah mengalir kepada kalangan ekonomi rendah di Padang. Saat ini, dalam sebulan, Elsa mengeluarkan Rp 30 juta-Rp 50 juta untuk upah 30 orang mitra penjahit yang sebagian besar adalah tetangga Elsa dan warga di Kelurahan Pasar Ambacang. Sisanya tersebar di beberapa lokasi di Kota Padang.

Para mitra menjahit menggunakan mesin jahit mereka sendiri. Namun, bagi yang tidak punya atau mesinnya perlu diganti, Maharrani Hijab meminjamkan atau membantu membelikan mesin yang dibayar mitra secara kredit tanpa bunga.

Pandemi Covid-19 yang menjadi momok bagi sebagian besar pengusaha justru memberi peluang bagi Elsa dan mitra-mitranya. Angka penjualan produk Maharanni Hijab yang dilakukan secara daring meningkat berkali-kali lipat.

Mitra penjahit pun bertambah signifikan demi memenuhi permintaan pasar. “Dampak pandemi Covid-19 justru positif bagi Maharanni Hijab. Saat pandemi orang tidak berbelanja ke mal tetapi beralih ke cara daring. Peningkatan penjualan mencapai tiga kali lipat, dimulai pada Juni-Juli 2020. Sejak saat itu sampai sekarang penjualan terus meningkat,” kata Elsa.

Dari segi produksi, Maharrani Hijab juga tidak terganggu. Pada saat perusahaan lain mesti menutup pabrik karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), perusahaan Elsa terus berproduksi. Sebab, proses penjahitan dilakukan di rumah mitra masing-masing.

Rezeki di masa pandemi juga mengalir kepada mitra. Mereka bisa mendapat penghasilan lumayan, yakni Rp 1,5 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Susi Meiniyeti (37), mitra di Kampung Villa Tarok, sekitar 1 kilometer dari bengkel Elsa, mengatakan, kerja sama dengan Maharrani Hijab telah membantu perekonomian keluarganya. “Dengan upah ini, saya bisa membantu kebutuhan rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai kuli bangunan,” ucap Susi.

Ke depan, Elsa punya target untuk memperluas dampak usahanya. Ia berharap bisa bermitra dengan ribuan orang.

Elsa Maharrani

Lahir: Padang, 5 Maret 1990

Pendidikan: S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (lulus 2012)

Penghargaan:

  • SATU Indonesia Awards Bidang Kewirausahaan (2020)
  • Finalis Wirausaha Muda Mandiri (2020)

 

Sumber: Kompas, 7 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *