Eksotika Rumah Abu Keluarga The. Majalah Rumahku.No.137.2017. Hal.52-53_Freddy H Istanto

Jalan Karet, yang dulunya bernama Chineesche Voorstraat, masih menyisakan memori kawasan Pecinan yang menarik. Tiga Rumah Abu keluarga menjadi bagian catatan sejarah kota Surabaya, bahwa disan penah tinggal dan bermukim sebuah peradaban dan budaya Tinghoa yang cukup baik.

Meskipun harus diakui dibandingkan dengan kota-kota lain, bahkan dengan beberapa peninggalan bangunan lama berasitektur Tiongkok di Penang (Malaysia) contohnya, arsitektur rumah-rumah Abu di Jalan Karet ini terkesan lebih simple. Bahkan dari kekayaan marga, Surabaya hanya punya tiga. Hanya di salah satu di antaranya yaitu di Rumah Abu Marga Tjoa, memiliki meja sembahyang Marga lainnya yakni, marga Tan dan Marga Yap. Di Pulau Penang Rumah Abu sejumlah puluhan dari berbagai Marga dan rasanya hampir setiap jalan mempunyai Rumah Abu yang signifikan arsitekturnya.

Bangunan ini meiliki raut khas arsitektur Tiongkok, demikian juga detail-detail arsitekturnya. Pagar besi Hijau adalah tambahan baru sebagai fungsi keamanan saja.

Sisi kiri dan kanan Ruang Tamu berisi sepereangkat Meja kursi. Perhatikan kaca cermin yang dipasang miring, pola ini juga ditemukan di beberapa Rumah Abu di Penang. Ada argumentasi bahwa cermin ini untuk membantu mengamati lalu lalang di belakang orang yang duduk di kkursi menghadap dinding.

Ada batas jelas antara Ruang Tamu dan Ruang Keluarga, sekat ini menunjukan juga gradasi ruang dan Ruang Publik ke Ruang Semi Privat, terdapat Ruang di kiri kanan yang juga bernoda simentri. Ukiran selalu berunsur flora dan fauna tertentu.

Perubahan fungsi dari area semipublik ke area Suci. Pembatas berupa sekat kayu dan ukiran menjadi penanda bukan hanya perbedaan fungsi tapi juga perbedaan kualitas interiornya, seperti perbedaan ketinggian lantai, material lantai, dinding dan langit2. Perhatikan juga ornamen berwarna emas adalah simbol bahwa pemilik rumah adalah ukuran resmi Raja Tiongkok di jaman itu.

Ruang Keluarga dilengkapi dengan meja panjang, sesuai fungsinya untuk pertemuan dan diskusi keluarga. Amatai material bangunan serta bukaan di kiri-kanan ruangan. Kekayaan iklim tripis dimanfaatkan maksimal. Kolom yang dililit Naga itu awalnya berwarna dasar merah. Kemudian karena alasan politis saat itu, kolompun berwarna kuning.

Dibandingkan dengan dua lainnya (rumah Abu Marga Tjoa, apalagi Marga Han) , Rumah Abu Marga berukuran lebih kecil. Namun secara arsitektural menarik. Khas bernuansa Tiongkok, dihadirkan lewat silhouette bentuk atapnya geuvelnya,bahkan bumbungan atau nok nya. Sebuah karakter khas yang mudah ditemukan dan dibaca sebagai ekstotika atap arsitektur Tiongkok. Demikian juga dengan kontruksi atap yang menahan tritisan, sebuah penyelesaian khas kontruksi arsitektur ini.

Ada sepasang patung singa di kiri kanan, seolah menjaga keamanan pintu masuk. Juga beberapa ornamen khas ada di wajah depan bangunan menghadap baat ini. Dulunya di atas jendela, ada hiasan dengan tulisan beraksara Mandarin. namun kini tinggal bekas-bekasnya saja, setelah meletus peristiwa G-30-S. Penghuni rumah kuatir akan keberadaan aksara-aksara tersbut.

Pintu masuk berada di tengah-tengah komposisi wajah depan bangunan, mengisyaratkan pola simetri yang kuat. Yang memang demikian struktur dan hirarki pada bangunan yang berumur lebih dari 125 tahun inni. Dibangun oleh The Goan Tjing, nuansa interiornya kuat dengan atmosfer Tiongkok. Bahkan ornamen pilar di tengah-tengah ruangan berdekorasi lilitan Naga yang cantik. Dulunya pilar ini bernuansa sangat khas Tiongkok-nya, dengan naga dan warna dasar kolomnya merah-merona. Kini diwarnai abu-abu untuk merespon kekuatiran penghuni paska pemberontakan G-30-S itu.

Dengan susunan kirarki ruang yang sama dengan rumah abu Marga Han, Rumah Abu ini juga menerapkan hirarki ruang publik di depan. Sebelumnya ada sedikit teras sepanjang wajah depannya . kemudian ruang semi publik, yang berisi meja panjang. Biasanya dipakai tempat pertemuan dan ngobrol keluarga disaat-saat sebelum dan sesudah acara sembahyang. Di ruang semi-publik inilah nuansa hangat dimunculkan dengan bukaan penghawaan dan penyinaran alami di kiri kanan massa bangunan. Disini juga terdapat beberapa lambang2 ber-aksara Mandarin. Bahkan ada sebuah ornamen berbentuk tameng. Berukuran sekitar 50×70 sentimeter. Yang konon adalah sebuah pernyataan bahwa The Goan Tjing ini adalah utusan resmi Raja Tiong sana.

Di ujung bangunan seperti biasa adalah klimaks dari rumah abu ini, yaitu tempat sembahyang. Dengan meja tempat abu, ornamen2 hiasan khas Rumah Abu. Sebelum masuk ke ruang suci ini, ada ukiran selebar ruang. Yang membingkai dari dinding hingga langit-langit. Ukiran ini berdimensi tiga, sehingga nampak hidup. Detail bahan bangunan menggambarkan juga bagaiaman hirarki ruang di ekspresikan. Bahan lantai bergradasi, mulai dari bahan bangunan biasa (di ruang publik), agak lebih rumit polanya (di ruang keluarga) dan klimaksnya berbahan marmer di bagian paling suci (tempat sembahyang).

Di bagian rumah utama ini masih ada bagian belakang yaitu rumah tinggal keluarga yang menjaga rumah ini. Yang dapat dicapai dari selasar samping, maupun dari sebuah pintu kecil di samping pintu sebahyang. Tentu, kualitas bangunan dan nuansa bangunan ini tidak se-prima bangunan utama Rumah abunya.

Teks: Freddy H Istanto

Dosen program studi Interior Arsitektur Fakultas Industri Kreatif – Universitas Ciputra

 

Sumber: Majalah Rumahku.No.137.2017. Hal.52-53

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *