Dwi Listyo Rahayu. Meneliti Kelomang dan Kepiting. Kompas. 5 Mei 2021. Hal.16

Selama puluhan tahun, Dwi Listyo Rahayu (64) setia meneliti biota laut. Saat ini, dia memilih mengambil peran meneliti keragaman jenis kelomang dan kepiting. Kelomang atau Paguroidea yang berfungsi menjaga keseimbangan laut dan kepiting atau Brachyura yang membuat lubang-lubang di dasar perairan untuk membantu aerasi (menambah oksigen).

Mediana

Setengah abad lebih setelah Ekspedisi Snellius I, Pemerintah Indonesia dan Belanda bekerja sama meneliti kembali perairan timur Nusantara. Indonesia di wakili Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Belanda melalui Netherlands Council for Oceanic Reseach yang berada di bawah Netherlands Organization for the Advancement of Science. Kedua negara sepakat melanjutkan penamaan sebelumnya, yakni Snellius II.

Ekspedisi itu terdiri atas lima tema penelitian, yakni geologi dan geofisika, ventilasi lubuk laut dalam, sistem pelagis, terumbu karang, dan dampak sungai terhadap lingkungan laut. Ekspedisi Snellius II dimulai Juni 1984. Dwi Listyo Rahayu atau akrab disapa Yoyo yang baru dua tahun bekerja sebagai peneliti Stasiun Penelitian Ambon LIPI ikut dalam rombongan itu.

Pengalaman ikut Ekspedisi Snellius II membuat Dwi berkenalan dengan peneliti-peneliti taksonomi senior. Mereka tampak girang ketika menemukan biota laut tak dikenal, lalu berhasil mendeskripsikannya. Dari sanalah dia mengakui mulai jatuh cinta dengan taksonomi, khususnya taksonomi morfologi.

Seusai ekspedisi, dia meraih beasiswa Overseas Fellowship Program (OFP) angkatan pertama yang digagas BJ Habibie. Dengan beasiswa itu, dia kuliah magister Biology Oceanography di Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, di Paris, Perancis.

Awalnya, dia berpikir mau bekerja meneliti ulang. Alasannya, udang bisa dimakan. Lalu, Dwi mencari professor taksonomi yang meneliti udang, tetapi ternyata materi penelitian ada di Kaledonia Baru. Lalu, dia mencari materi penelitian yang lebih dekat, yakni di Paris, Perancis. Saat itulah dia ditawari mengerjakan kelomang.

“Reaksi pertama saya ‘apa ini? (kelomang) tak bisa dimakan.’ Masih penasaran, saya mencari banyak literatur untuk pendukung riset. Saya kaget karena publikasi mengenai kelomang di Indonesia terakhir kali pada 1937 dan tidak ada lagi setelah itu,” ujar Dwi saat dihubungi pada Sabtu (24/4/2021) dari Jakarta.

Sejak itu, dia menekuni keragaman kelomang sampai kemudian melanjutkan doktoral di universitas yang sama. Dwi merasa beruntung dengan aturan beasiswa OFP yang mengharuskan S-2 lanjut ke S-3. Jaringan kerja dengan peneliti taksonomi morfologi dari sejumlah negara, seperti kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, membukanya jalan baginya menekuni kelomang.

Jejaring itu juga kelak membuatnya menjadi peneliti tamu berbagai Museum Natural History, antara lain di Singapura (Lee Kong Chian Natural History Museum-NUS); Jepang (National Science Museum, Tokyo; Natural History Museum and Institute, Chiba); Perancis (Museum National d’Histoire Naturelle, Paris); Amerika Serikat (National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC).

Setelah Snellius II, Dwi terlibat dalam ekspedisi biodiversitas berskala internasional, seperti Karubar, Sjades, Comprehensive Marine Biodiversity Survey (CMBS), Panglao, dan Kumejima. Selain dari perairan laut Indonesia, dia meneliti taksonomi kelomang dan kepiting dari berbagai perairan di Indo-Pacific.

Mencintai Laut

Hidup berdampingan dengan laut memang telah menjadi kesehariannya sejak kecil. Dia yang berasal dari Banyuwangi, akrab bermain di pantai setiap akhir pekan diajak ayahnya. Setelah lulus SMA, dia mantap mengambil jurusan perikanan di IPB University. Tugas akhirnya pun berhubungan dengan penelitian di laut.

Seusai studi pascasarjana, Dwi kembali bekerja di Ambon. Ketika Ambon mengalami kerusuhan tahun 1999, semua peneliti LIPI Ambon, termasuk Dwi, harus mengungsi. Sempat seminggu di pengungsian, dia dan peneliti lain terpaksa harus keluar dari Ambon karena suasana semakin tak terkendali.

Dalam ingatan Dwi hanya terpikir menyelamatkan spesimen-spesimen kelomang hasil Ekspedisi Siboga (1899-1900), koleksi dari sejumlah museum di Eropa, yang belum selesai dia teliti. Dia kembali ke kantor LIPI Ambon mengambil semua spesimen, memasukkan ke dalam ransel, dan naik kapal ke luar dari Ambon ke Jakarta.

Spesimen tersebut berhasil dipublikasikan tahun 2005. “Ada berkisar 20-25 botol specimen. Saya hanya bawa baju dan keperluan sedikit. Semua literatur tertinggal,” ujarnya.

Kesempatan mengeksplorasi laut kembali menghampiri Dwi saat ke Jakarta. Saat itu, sang suami mendapat kesempatan menjadi konsultan di Papua, Dwi mendapat tawaran mengeksplorasi dan meneliti kepiting di mangrove Papua.

“Keluar dari Ambon tanpa bawa literatur. Saya tetap ambil kesempatan meneliti kepiting. Saya ke singapura, semua literatur saya fotokopi guna mendukung penelitian kepiting itu,” kenang Dwi.

Pada penelitian mangrove di Papua, beberapa hasil sudah di deskripsikan dan dipublikasikan, yakni Elamenopsis gracilipes, Amarinus pristes, Clistocoeloma amamaparense, Paracleistostoma quadratum, dan Clibanarius harisi.

Sejak 1988 sampai sekarang, sebanyak 2 genus dan 71 spesies baru kelomang serta 6 genus dan 76 spesies baru kepiting telah ditemukan, dideskripsi, dan dipublikasikan ke dalam 88 artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional. Hasil tersebut dia tulis secara mandiri atau bersama peneliti lain.

Ada rasa takjub sekaligus bersyukur kepada Sang Pencipta setiap kali Dwi berhasil mengungkap spesies baru. Apalagi, di perairan Indonesia. Dia yakin Indonesia merupakan negara maha-biodiversitas. Dia memprediksi Indonesia mempunyai 200-300 spesies kelomang.

Beberapa contoh spesies baru kelomang di Indonesia yang berhasil dia deskripsikan secara mandiri ataupun bersama peneliti lainnya ialah Clibanarius rubroviria, Calcinus morgani, dan Pagurusfungiformis.

Hanya, kekayaan biota laut sebanyak itu belum banyak di teliti oleh peneliti Indonesia. Kegelisahan lainnya yang kini dirasakan oleh Dwi adalah berkurangnya generasi muda mau meneliti taksonomi morfologi. Kebanyakan anak muda suka mengerjakan taksonomi genetik. Padahal, tanpa menguasai taksonomi morfologi, penelitian taksonomu genetik akan kesusahan.

“Apa yang saya kerjakan sekarang adalah sains dasar. Taksonomi adalah dasarnya ilmu biologi. Kalau taksonominya tidak ketahuan, sainstis juga tidak bisa berbicara dan itu berdampak ke hal lainnya, seperti budidaya dan pelestarian ekologi,” katanya.

Dwi tidak pernah menyesali perjalanan hidupnya yang berkecimpung dengan kelomang dan kepiting. Padahal, mulanya dia ingin menekuni taksonomi Crustacea yang langsung cepat komersial, seperti udang.

“Saya punya pasangan peneliti yang mengerjakan budidaya biota laut yang bisa dimakan. Klop kan?” ujarnya sambil tertawa.

Masih banyak aktivitas penelitian keragaman jenis kelomang dan kepiting yang ingin dia kerjakan, baik melalui ekspedisi maupun menyelesaikan spesimen yang sudah tersedia. Dia juga sedang membimbing salah satu mahasiswanya agar bisa meneruskan penelitian taksonomi morfologi.

Di waktu luangnya, Dwi memilih membaca novel detektif yang dibelinya bandara-bandara luar negeri. Menurut dia, selain menghibur, dia bisa melatih kemampuan berbahasa Inggris yang bermanfaat untuk penulisan di jurnal ilmiah.

Ketika senja tiba dan dia masih di kantornya, Balai Bioindustri Laut LIPI Lombok, Dwi memilih menikmati suasana laut. “Sangat bisa sekali melihat padang lamun,” katanya menutup pembicaraan.

Dwi Listyo Rahayu

Lahir: Mojokerto, 31 Juli 1957

Pendidikan:

  • S-1 Perikanan, IPB University
  • S-2 (1988) dan S-3 (1992) Biology Oceanography, Universite de Paris 6, Pierre et Marie Curie, Paris, Perancis

Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama, Profesor Riset di Balai Bioindustri Laut-LIPI di Lombok, NTB (2005-sekarang)

Penghargaan: Satyalancana Karya Satya 10, 20, dan 30 tahun, dan Satyalancana Wira Karya

 

Sumber: Kompas, 5 Mei 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *