Doyan Sayur Mentah, Cuci dengan Air Mengalir. Jawa Pos. 10 Januari 2020. Hal. 19. Hebert Adrianto. MED

SURABAYA, Jawa Pos – Di tengah maraknya gaya hidup sehat, mengonsumsi sayur mentah menjadi pilihan bagi sebagian orang. Alasannya beragam. Misalnya, dianggap lebih segar serta khawatir kandungan gizinya berkurang jika melalui pemasakan. Namun, ada bahay yang mengintai dalam kebiasaan tersebut. Jika tak dipilah dengan baik, sayur malah menjadi pengantar telur cacing untuk masuk ke tubuh.

Berbagai jenis sayur sebenarnya bebas dikonsumsi dalam bentuk salad atau sebagai pendamping makanan. “Kami tidak mungkin menghindari sayur,” ucap Hebert Adrianto, peneliti parasitologi dari Universitas Ciputra (UC). Sayur yang tidak terjaga kebersihannya membuat telur cacing bebas menempel hingga termakan. Telur-telur tersebut sebenarnya bisa menempel di sayur pada banyak kondisi. Mulai saat masa penanaman, distribusi, hingga saat dijual.

Ketika meneliti kebersihan sayur, Hebert berkunjung ke beberapa pasar di Surabaya. Dosen Fakultas Kedokteran UC tersebut menentukan penempatan banyak sayur yang kurang higienis. “Ada yang langsung saja ditaruh di lantai, dekat sekali dengan langkah kaki orang-orang,” ucapnya, lantas geleng-geleng kepala.

Menurut dia, menjaga kebersihan sayur harus melibatkan banyak pihak, mulai petani, distributor, pedagang, hingga konsumen. “Meskipun, sebenarnya di sini hanya ketemu telur cacing askaris. Tidak seberagam di negara lain,” jelasnya. Hebert mengingatkan konsumen individu untuk mencuci sayur dengan menyeluruh. “Jangan asal celup, basah, terus dirasa sudah bersih,” jabarnya. Menurut dia, sayur tak perlu dicuci dengan sabun khusus. Yang penting, sayur dicuci dengan air mengalir.

Lalu, bagaimana jika telur cacing terlanjur masuk ke tubuh? Hebert menjelaskan, pada jumlah yang sedikit, telur cacing dari sayuran yang masuk dalam tubuh tidak memberikan gejala apa pun. Namun, telur cacing bisa tumbuh menjadi cacing di usus. Jika jumlahnya banyak, cacing tersebut bisa menyumbat usus.

Untuk menangani telur cacing dan cacing pada tubuh, Hebert mengingatkan pentingnya mengonsumsi obat cacing. “Tapi, karena obatnya keras, Cuma boleh dua kali setahun,” sambungnya. (dya/c12/mor)

 

 

Sumber: Jawa Pos, 10 Januari 2020.Hal.19

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *