Dorong ODHA Berwirausaha. Jawa Pos. 6 Oktober 2020. Hal.15. FK

SURABAYA, Jawa Pos – Stigma yang melekat pada ODHA (orang dengan HIV/ AIDS) dirasa masih memengaruhi kualitas hidup mereka. Alhasil, ODHA cenderung tak punya teman dan terkucilkan dari lingkungan. “Tidak berhenti di dampak lain membuat mereka rentan putus obat,” ucap dr Etha Rambung MSi. Hal tersebut menggerakkan Etha dan tim dosen Falcultas Kedokteran dan Intemational Business Management Universitas Ciputra untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, ODHA merupakan salah satu kelompok yang paling terkena dampakpandemi. Selain stiggia masyarakat yangbelumberpihak, merekajuga terkena dampaklangsung pandemi secara kesehatan dan ekonomi.

Secara kesehatan, mereka menjadi kelompok yang sangat rentan. Ketika terpapar virus, mereka lebih terdampak serius. Juga menyulitkan mereka ketika harus bolak-balik ke RS untuk perawatan. Soal ekonomi, mereka pasti terdampak seperti kebanyakan warga lainnya. Pendampingan dilakukan kepada ibuibu ODHA di sekitar Made dan Tandes. Etha bersama dua rekannya berhasil menemui lima orang ibu ODHA. “Mereka juga sebagai tulang punggung keluarga sehingga bebannya makin banyak,” jelas Etha selaku koordinator tim. Ibu-ibu memililci latar belakang pendidikanyang rendah sehingga makin sulit mendapatkan pekerj aan. Salah satunya bekerja sebagai pengantar anak sekolah.

Pendampingan yang dilakukan meliputi pelatihan penambahan skill bagi peserta. “Jadi, kami ajak ibu-ibu ini pelatihan menjahit bersama dosen dari fashion product design,” jelas Etha. Melalui

pelatihan jangka panjang itu, peserta dibekali kemampuan untuk membuka usaha secara mandiri. Kemampuan berdikari akan mendorong perekonomian keluarga lebih baik.

Kepercayaan diri peserta juga diharapkan mulai terbangun. “Dalam satu sesi, kami selipkan konseling tentang konsep diri,” imbuhnya. Kemampuan pengelolaan keuangan termasuk dalam salah satu sesi pelatihan. Pelatihan dengan jangka waktu enam bulan itu juga memasukan materi tentang pemasaran produk.

“Edukasi terkait penanganan kesehatan, seperti rutin minum obat, juga kami berikan,” papar Etha. Timnya menemui banyak peserta yang tidal rutin minum obat Selain faktor ekonomi, pemahaman peserta juga masih harus diperbaiki. Etha dan tim menemui fakta bahwa masih ada ODHA yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman. “Maka, kami perlu perkuat lagi edukasinya, apa saja yang bisa menularkan dan bisa mencegah,” tegasnya. (dya/c6/ano)

 

            Sumber: Jawa Pos. 6 Oktober 2020. Hal. 15

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *