Dibalik Proklamasi

Tahun ini seluruh rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 tahun.

Akan tetapi banyak yang tidak pernah tahu, bahwa ternyata ada cerita fakta-fakta menarik dibalik peristiwa pembacaan teks proklamasi tersebut.

Berikut diantaranya:

 

  1. BUNG KARNO SAKIT DAN TIDAK BERPUASA

Meski saat itu bulan Ramadhan, namun saat itu Bung Karno tidak berpuasa karena sakit akibat gejala Malaria Tertian. Pada pagi hari 17 Agustus 1945, Bung Karno dibangunkan dr Soeharto dan mengeluh badannya greges-greges. Dia kemudian disuntik dan minum obat. Setelah itu tidur lagi dan baru bangun pukul 09.00 WIB. Setelah melakukan upacara proklamasi pada pukul 10.00 WIB, bung Karno kembali ke kamar untuk beristirahat.

 

  1. BENDERA DARI KAIN SPREI

Sebelum 16 agustus 1945, istri Bung Karno, Fatmawati, sebenarnya sudah membuat bendera merah putih. Tapi bendera tersebut dianggap terlalu kecil karena panjangnya hanya 50 cm. Fatmawati lalu membongkar lemarinya dan menemukan selembar kain sprei putih, tapi tidak ada kain merah. Lalu seorang pemuda Lukas Kastaryo berkeliling dan mendapatkan kain merah milik penjual Soto. Kain tersebut dibeli dan diberikan kepada Fatmawati. Bendera baru berukuran 276 x 200 cm itu pun dikibarkan pada 17 Agutus 1945 ditiang bambu sederhana.

 

  1. BISA LEBIH DARI DUA PROKLAMATOR

Usai penyusunan naskah Proklamasi selesai disusun di rumah Laksamana Maeda, Jln. Imam Bonjol No. 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir di rapat yakni Bung Hatta, Bung Karno, Achmad Soebardjo, Sajuti Melik, dan Soekarni untuk ikut menandatangani teks proklamasi. Tapi usul itu ditolak Soekarni. Dan, Bung Hatta hanya bisa menggerutu, karena melihat teman-temannya tidak mau ikut membuat sejarah.

 

  1. DRAFT PROKLAMASI HILANG

Draft proklamasi ditulis tangan disecarik kertas oleh Bung Karno dengan didikte oleh Bung Hatta. Anehnya, setelah acara selesai, dokumen penting itu hilang. Ternyata kertas tersebut terbuang di tempat sampah. Beruntung, wartawan BM Diah menemukannya. Dia menyimpannya dan baru menyerahkan ke pemerintah pada 29 Mei 1992. Artinya, draft tersebut sempat menghilang selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

 

  1. NEGATIF FILM DISIMPAN DI BAWAH POHON

Upacara proklamasi diabadikan oleh fotografer frans mendoer. Begitu upacara selesai, frans didatangi tentara jepang yang ingin merampas negatif film gambar tersebut. Frans berbohong dengan mengatakan negatifnya sudah diserahkan ke barisan pelopor. Padahal, negatif film momen penting tersebut ditanamnya di bawah pohon di halaman kantor harian Asia Raja.

 

Sumber: Intisari no 611 edisi Agustus 2013

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *