Devi Paulus Lopulalan. Laut Lestari dengan Sasi. Kompas. 26 Februari 2021. Hal.16

Perairan Seira di Kepulauan Tanimbar, Maluku, merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya laut, terutama ikan, telur ikan terbang, dan teripang. Pelaku kejahatan perairan sering mengeksploitasi hasil laut di kawasan itu. Sekitar satu dekade terakhir, Devi Paulus Lopulalan terlibat aktif menjaga perairan seluas 150 kilometer persegi itu.

Fransiskus Padi Herin

Devi Paulus Lopulalan, yang akrab disapa Depol, mendekati beberapa pria jangkung yang terus memolototinya saat ia berjalan mendekati mereka. Berhenti di tengah kerumunan pria bertelanjang dada itu, tatapan mata Depol tertuju pada salah satu dari mereka sambil memberi isyarat agar orang tersebut mengikutinya.

Pria yang diajak tadi mengikutinya dari belakang menuju sebuah gubuk dekat mereka berkumpul. Di sana Depol menyergah. “Su (sudah) dapat berapa juta dari hasil jual teripang?” tanya Depol.

Pria itu hanya menunduk terdiam. Depol kembali berkata untuk menggugah nurani pria itu. “Kamong (kalian) tau ka seng (tidak), sekarang banyak orang tua susah cari uang buat kasih sekolah dorang (mereka) punya anak. Beta (saya) minta stop,” ujar Depol kepada pria itu di Pulau Tatunarwatu, 26 Agustus 2017.

Tatunarwatu menjadi pulai kelima yang ia datangi dalam misi menelusuri jejak pencurian teripang (Holothuroidea) selama dua hari. Pulau itu diduga jadi tempat persembunyian komplotan pencuri teripang. Informasi itu ia dapat dari warga dan nelayan yang ia temui di Pulau Seira, Ngolin, Tamdalan Nawa, dan Wuriaru.

Gugusan pulau itu berada di sebelah barat Pulau Yamdena, pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Untuk menjangkau perahu motor dengan waktu sekitar 1 jam dari Yamdena. Untuk menuju ke empat pulau lain, butuh 2-4 jam.

Kedatangan Depol ke Tatunarwatu untuk memberi peringatan kepada kelompok itu agar berhenti mengambil teripang. Itu setelah masyarakat meminta agar pencurian dihentikan. Teripang menjadi sandaran hidup masyarakat setempat yang berjumlah sekitar 7.000 jiwa. Dengan menjual teripang, hasilnya digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Aksi pencurian teripang kala itu masif. Para pemuda, termasuk yang didatangi Depol di Pulau Taturnawatu, dipekerjakan pemodal. Mereka mendapat beking sejumlah oknum aparat. Mereka dibekali mesin kompresor dan peralatan selam untuk mengambil teripang pada malam hari. Harga teripang saat itu Rp 245.000 hingga Rp 1,8 juta per kilogram.

Berkat penelusuran Depol, informasi mengenai pencurian teripang akhirnya mencuat ke publik. Ia dicari banyak pihak, baik yang bermaksud menggali informasi maupun ingin mengintimidasi. Perwakilan dari sejumlah instansi, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan, datang ke Pulau Seira. Beberapa oknum aparat yang terlibat akhirnya diproses hukum.

Tak hanya pencurian teripang, Depol juga mendorong gerakan penertiban terhadap nelayan dari luar Maluku yang mengambil telur ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) secara berlebihan. Setiap tahun ada lebih dari 100 kapal yang mengambil telur ikan tersebut, biasanya pada bulan Mei hingga September.

Saat musim gelombang tinggi dan ikan terbang bertelur, mereka beraksi. Satu kapal bisa mengambil sampai 1 ton telur ikan yang kemudian dijual Rp 400.000 per kg. Pengambilan telur ikan berlebihan akan mengurangi populasi ikan terbang. Nelayan setempat mengeluh dan meminta pengambilan telur ikan dibatasi.

Kearifan Lokal

Di tengah kondisi itu, Depol melihat budaya sasi di kalangan masyarakat setempat jadi modal baginya untuk mengampanyekan gerakan menjaga laut. Sasi sudah ada sejak dulu dan perlu dilestarikan.

Selama periode sasi, hasil alam di tempat itu tidak boleh diambil. Setelah sasi dibuka, masyarakat boleh memanen teripang kembali. Tujuannya, agar pengambilan teripang dibatasi. Selain itu, juga memberi waktu pemulihan ekosistem perairan sehingga hasil produksi tetap maksimal.

Untuk mengawal itu, patrol dan pengamanan laut oleh masyarakat lokal di rancang Depol bersama tokoh masyarakat dan tokoh adat. Mereka membentuk semacam tim penjaga laut yang melibatkan para pemuda. Di tiap pulau, Depol menugasi masyarakat setempat menjadi mata-mata.

Mereka memantau pergerakan orang dan kapal yang datang, mencatat temuan, dan mencari informasi dari lapangan. Jika ada yang mencurigakan, mereka segera menghubungi Depol agar diambil tindakan. Bagi yang tinggal di pulau di luar jangkauan jaringan seluler, mereka menitip laporan tertulis lewat nelayan untuk diteruskan ke Depol yang tinggal di Pulau Seira.

Berkat kerja sama itu, masyarakat mulai menikmati hasil laut yang semakin banyak dan berkelanjutan. “Sekarang ini, teripang sudah banyak dan masyarakat semakin mudah mendapatkan uang untuk menopang hidupnya. Pengambilan telur ikan terbang juga mulai mendapat perhatian dari pemerintah,” ujar Depol di Kota Ambon, awal Februari 2021

Menurut Depol, kearifan lokal, seperti sasi, menjadi kekuatan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dengan sasi, masyarakat adat memiliki otoritas untuk melarang dan mengizinkan pengambilan hasil alam.

Sepuluh tahun terakhir Depol bertugas sebagai pendeta pada Gereja Protestan Maluku di daerah itu. Ia membuktikan pentingnya tokoh agama dan masyarakat adat lokal berkolaborasi membangun kekuatan untuk menjaga alam tetap lestari.

Devi Paulus Lopulalan

Lahir: Porti, 28 Desember 1978

Pendidikan Terakhir: Sarjana Filsafat, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku (1996-2002)

IstriL Ellsye Alce Matakena

Anak: Alpha G Lopulalan dan Nalta E Lopulalan

 

Sumber: Kompas, 26 Februari 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *