Deasy Esterina_Berkah Limbah Kresek. Kompas. 19 April 2021.Hal.16.INA

Deasy Esterina (30) berhasil mengubah keresek bekas menjadi tas berkelas berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Ia bekerja sama dengan pengepul sampah dan para ibu rumah tangga untuk menjalankan usaha ramah lingkungan ini.

Aditya Putra Perdana

Kecintaan Deasy pada dunia kerajinan (crafting) tumbuh jelang masa akhir kuliahnya di Jurusan Arsitektur Interior, Universitas Ciputra, Surabaya, Jawa Timur. Sebelum menyelesaikan tugas akhir, ia sempat magang di beberapa tempat, salah satunya di Tobucil & Klabs di Bandung, Jawa Barat.

Di sana, ia belajar merajut dan bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, mulai penulis, musisi, hingga pekerja kreatif lainnya.

Selepas masa magang, Deasy masih sering membuat kerajinan untuk diri sendiri dan teman-temannya. Pada 2014, ia didorong teman-temannya untuk turut serta dalam acara festival dan bazar Design It Yourself Surabaya (DIYSUB) yang menjadi ruang untuk menampilkan karya para desainer, seniman, serta musisi di Surabaya.

Deasy menampilkan kerajinan berbahan kantong keresek. Alasannya sederhana, yakni memanfaatkan bahan bekas yang tidak perlu dibeli. “Kebetulan di tempat kos banyak keresek. Jadi, kenapa tidak saya manfaatkan saja,” kata Deasy saat dihubungi dari Semarang, Kamis (8/4/2021).

Ia membuat sampul notebook, tote bag, dan tempat pensil. Tidak disangka, produk-produknya ludes. Orang-orang yang tak kebagian terus menanyakan kapan produk-produk itu tersedia lagi. Di titik itulah ia mulai terpikir untuk mengembangkan hobinya menjadi usaha.

Pada pengunjung 2014, Deasy pulang ke Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Selama 1,5 tahun ia mendalami segala hal tentang perencanaan dan prakiraan bisnis. Ilmu-ilmu yang didapat selama perkuliahan ia pelajari kembali. Dua tahun kemudian, ia membuat merek produk kerajinan dengan merek Kreskros, akronim dari keresek dan crochet (merajut).

Seiring perkembangan usahanya, Deasy melibatkan para ibu rumah tangga di sekitarnya. Mereka boleh mengerjakan pekerjaan di waktu luang di rumah masing-masing. Hingga awal 2020 atau sebelum pandemi, ia mempekerjakan 17 pekerja, termasuk sembilan perajut dan tiga penjahit.

Ia juga bekerja sama dengan pengepul limbah keresek. Setiap 3-4 bulan sekali, Deasy memperoleh 70-150 kilogram limbah keresek. Setelah dicuci bersih, disambung atau dirajut, limbah keresek dipotong sesuai pola. Bahan-bahan itu dipadu dengan bahan lain, seperti kulit dan katun organik, lantas “disulap” menjadi aneka produk, seperti tas jinjing, ransel, tas laptop, dan aneka cendera mata.

Dalam sebulan, Deasy bisa menghasilkan sekitar 500 produk. Produk itu ia pasarkan melalui situs penjualan daring dan beberapa gerai di Jakarta dan Bali. Selain itu, ia memiliki pelanggan dari luar negeri, antara lain Australia, Kanada, dan Singapura.

Isu lingkungan

Kreskros berkembang cepat sejak 2016. Deasy memperkirakan faktor pendorongnya kemungkinan terkait gencarnya isu lingkungan belakangan ini. Oleh karena itu, produk berbahan daur ulang limbah seperti Kreskros diminati pasar. “Omzet meningkat pesat dari sekitar Rp 10 juta per bulan hingga tembus Rp 300 juta per bulan,” katanya.

Deasy mengakui, pada awal merintis usaha, ia hanya berusaha memanfaatkan bahan limbah seperti keresek. Seiring waktu, ia menyadari usaha yang ia jalankan berkontribusi pada kelestarian lingkungan sekitar. Karena itu, ia mulai menaruh perhatian pada dampak usaha terhadap lingkungan.

“Itulah mengapa saat ini kami tidak hanya bikin produk, tetapi juga menyediakan pelatihan,” ujar Deasy.

Seperti kebanyakan usaha lainnya, Kreskros juga terdampak pandemi Covid-19. Omzet usaha ini bahkan merosot hingga 90 persen. Deasy pun terpaksa mengurangi jumlah pekerja. Kini, dari belasan pekerja, hanya tersisa dua perajut dan penjahit yang masih aktif.

Meski begitu, pandemi juga memberi kesempatan lain kepada Deasy. Ia kini punya banyak waktu untuk memberi pelatihan membuat produk berbahan limbah plastik di perguruan tinggi, perusahaan, hingga desa-desa.

Dengan begitu, kemampuannya untuk memanfaatkan limbah plastik bisa ditularkan ke banyak orang. “Jadi, ini (pandemi) juga jadi momentum untuk berbagi,” kata Deasy.

Deasy Esterina

Lahir: Ambarawa, Kabupaten Semarang, 7 Desember 1990

Pendidikan:

  • SMA Negeri 1 Salatiga (2005-2008)
  • S-1 Arsitektur Interior, Universitas Ciputra Surabaya (2008-2013)

Penghargaan:

  • Indonesia Good Design Award (2018)
  • Sustainable Business Awards Indonesia (2018)
  • Perempuan Pengusaha Daur Ulang Limbah Plastik Profesional Termuda dari Leprid (2019)

 

Sumber: Kompas, 19 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *