De Javasche Bank, Jejak Perbankan Hindia Belanda di Utara Surabaya. jatim.idntimes.com. 29 Mei 2021. Freddy H Istanto. INA

https://jatim.idntimes.com/news/jatim/faiz-nashrillah/ide-javasche-banki-jejak-perbankan-hindia-belanda-di-utara-surabaya/full

Surabaya, IDN Times – Ketimbang bangunan lain, gedung berkelir putih di Jalan Garuda Nomor 1 Surabaya itu terlihat paling mentereng. Dipenuhi ornamen bergaya Eropa, orang pasti dengan mudah menebaknya sebagai tinggalan Londo.  Meski mencolok, tak banyak yang tahu bahwa gedung itu merupakan bekas bangunan De Javasche Bank (DJB), bank sirkulasi Hindia Belanda yang memegang peranan penting dalam perdagangan di Surabaya pada masa kolonial.

Mengusung konsep Neo-Renaissance, gedung DJB memiliki beberapa ciri khas desain Renaissance seperti unsur simetris. Lima jendela yang berada di depan diimbangi dengan jumlah yang sama di sisi belakang. Tiga jendela berukuran sama juga dipasang di sisi kanan dan kiri bangunan. Pengaruh budaya romawi pada gaya Renaissance juga bisa dirasakan dengan adanya pilar pada masing-masing kolom jendela.

Bangunan seluas 1000 meter persegi ini sebenarnya adalah hasil pugaran pada tahun 1910. Difungsikan pertama kali pada tanggal 14 September 1829, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung baru di tempat yang sama dengan alasan modernisasi.

Gedung DJB didesain lebih ramah terhadap iklim tropis di Indonesia. Ini terlihat dari cara mereka menempatkan jendela yang agak menjorok ke dalam. “Sehingga relatif terlindung dari tempias air hujan dan sinar matahari,” tulis Timoticin Kwanda dan kawan-kawan dalam bukunya, Konservasi Gedung Eks De Javasche Bank Surabaya .

Mereka juga memasang jendela di atap sebagai ventilasi udara, sebuah inovasi yang masih belum jamak di zaman itu. “Ini adalah salah satu gedung paling modern di Surabaya saat itu.”

Hal agak berbeda diungkapkan oleh penulis sekaligus peneliti arsitektur, Obbe Noorbruis. Ia menyebut gedung DJB mulai dibangun pada 1866 dan digunakan pada 1912. Menurutnya, DJB adalah bangunan berbentuk trapesium yang dilengkapi dengan lima jendela besar di kedua sisinya. “Sang arsitek, Ed Cuypers mencoba memadukan beberapa unsur Hindustani dalam bangunan itu,” tulisnya dalam buku Landmarks from Bygone Era.

De Javasche Bank, Jejak Perbankan Hindia Belanda di Utara Surabaya

Tak hanya megah secara arsitektur, keberadaan DJB di Schoolstraat atau sekarang Jalan Garuda, juga cukup sentral bagi masyarakat Surabaya kala itu. Maklum, letaknya hanya selemparan batu dari sungai Kalimas yang menjadi nadi perekonomian Surabaya. Meski begitu, pemerintah Hindia Belanda sebenarnya sempat ragu akan membuka cabang di Surabaya.

“Setelah meresmikan kantor pertama di Batavia pada 1828, pemerintah Hindia Belanda sebenarnya ragu untuk membuka kantor cabang Javasche Bank di Surabaya. Mereka menilai, tak ada jaminan bahwa ekspansi itu akan berdampak positif,” tulis Godfried Hariowald Von Faber dalam bukunya Oud Soerabaia. Belakangan, asumsi itu tak terbukti.

DJB justru menjadi tulang punggung pendaaan bagi para pedagang di sana. Ketergantungan para pebisnis terhadap kucuran kredit dari DJB terlihat jelas saat bank itu mengalami krisis finansial pada tahun 1839. Lantaran banyak kredit yang batal dikucurkan, Surabaya sempat mengalami kelangkaan uang. “Satu-satunya lembaga kredit saat itu, Javasche Bank tidak dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan perdagangan,” tambah Faber.

Peran sentral DJB di Surabaya diamini oleh sejarawan Freddy Istanto. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Sjarikat Poesaka Soerabaia ini menyebut letaknya di pusat bisnis Surabaya menjadi salah satu bukti. Perputaran uang di Surabaya Utara, tepatnya di sekitar sungai Kalimas, cukup tinggi karena menjadi pusat kegiatan ekspor impor. Di kawasan itu, kata Freddy, terdapat gedung Internatio yang merupakan kantor pengelola perdagangan Belanda, serta kawasan pergudangan yang kini lebih dikenal sebagai Jembatan Merah Plaza.

“Hindia Belanda itu kan salah satu pengekspor gula terbesar di dunia. Jalur ekspornya ya lewat pelabuhan Kalimas. Nah, itu pendanaannya juga dari Javasche Bank,” ujarnya saat dihubungi.

Di tempat DJB berdiri, ia melanjutkan, dahulu terkenal sebagai kawasan elit. Hal ini membuat banyak nasabah DJB berasal dari saudagar kaya. “Surabaya ini terbelah oleh Kalimas, menjadi barat dan timur. Sebelah barat dihuni oleh orang-orang Belanda, kawasan bisnis elit. Nah, Javasche Bank kan adanya di barat Kalimas,” ia menambahkan.

Sadar mendapat banyak kepercayaan dari nasabah, DJB tahu betul bagaimana membalasnya. Mereka menjadi pelopor dalam keamanan transaksi dan data nasabah. Hal ini bisa dilihat di ruang transaksi yang berada di lantai 1. Mereka menyediakan 10 bilik transaksi dengan sekat terali besi untuk memisahkan kasir dan nasabah.

De Javasche Bank, Jejak Perbankan Hindia Belanda di Utara Surabaya

“Mereka yang ingin menabung akan masuk ke dalam bilik tersebut. Transaksi gak akan dimulai sebelum bilik tersebut dikunci. Kuncinya juga harus masuk ke dalam saku nasabah,” kata pemandu wisata di gedung DJB, Risky Jayanto (26), Selasa (25/5/2021).

Setelah selesai bertransaksi, aset dan uang akan dibawa ke ruang brangkas yang berada di basement. Lagi-lagi, di sini kita bisa melihat betapa DJB sudah menerapkan pengamanan berlapis. Di sana terdapat dua ruangan brangkas dengan pintu baja seberat 13 ton. Satu ruangan untuk menyimpan uang, satu lagi adalah brangkas penyimpanan emas.

Untuk menjamin keamanan aset nasabah, DJB mengaplikasikan Closed Circuit Television (CCTV) alami. Bukan dengan kamera, mereka menempatkan beberapa cermin di setiap sudut lorong yang mengitari ruang brangkas.

“Melalui pantulan cermin, semua pergerakan di sana bisa terpantau dari satu sudut,” Risky menambahkan. Sementara uang dan aset dibawa ke ruang basement, lembar transaksi nasabah diarsipkan di sebuah rak yang hingga kini masih kokoh di lantai 2, atau bagian paling atas gedung.

Setelah DJB dinasionaliasi oleh pemerintah pada tahun 1951, gedung DJB menjadi kantor Bank Indonesia perwakilan Surabaya pada tahun 1953 hingga 1972. Lalu, pada 27 Januari 2012, gedung tiga lantai milik Bank Indonesia ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Kini, masyarakat yang ingin melihat jejak perbankan di Surabaya bisa berkunjung ke sana secara gratis. Letak DJB pun mudah dijangkau. Untuk penikmat angkutan umum, mereka bisa naik bus kota jurusan terminal Bungurasih-Jembatan Merah Plaza. Atau, jika dari arah Gresik, bisa menumpang angkutan umum jurusan terminal Tambak Osowilangun-Jembatan Merah Plaza. Selain bisa datang sendiri, pengunjung juga bisa datang dengan rombongan dengan mengajukan proposal terlebih dahulu. “Atau kalau gak mau ribet pakai transportasi online saja,” kata Risky.

Pengunjung juga bisa ikut tur yang disediakan oleh beberapa instansi seperti paket perjalanan dari House of Sampoerna, Surabaya Shoping and Culinary Track (SSCT), hingga Suroboyo Bus. “Kami buka tiap hari mulai pukul 8 pagi sampai 4 sore. Tapi karena pandemi, saat ini belum menerima kunjungan masyarakat umum,” ujar Risky.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *