Kalah Rajin Menulis, Selalu Dilibas Penulis Lain. Jawa Pos 2 Agustus 2021. Hal. 13

Syarat dari kampus membuat Hebert Adrianto menghasilkan satu buku tiap tahun. Dari benci bersemangat. jadi cinta. Hebert jadi ketagihan. Kini dia bahkan jadi pendamping banyak penulis baru di berbagai bidang keilmuan.

ADA kepuasan tersendiri bagi Hebert saat mendapati peserta workshop atau mahasiswanya memuji bukunya. Ungkapan-ungkapan tersebut diarsipkan Hebert untuk jadi motivasi personal. “Seperti saat mahasis- wa bilang, ‘Saya sudah punya buku itu, Pak, mudah dipahami, tuntunannya jelas sekali. Padahal belum ambil kelas saya,” ucapnya.

Ungkapan-ungkapan tersebut juga jadi pengingat sehari-hari Hebert dalam menulis. Tiap hari dia meluangkan minimal satu jam untuk menulis buku. Saat ini Hebert masih punya 10 judul buku yang on progress. Lima di antaranya menunggu proses penerbitan resmi. “Rencananya, tahun ini semua terbit,” ucapnya bersemangat.

Di sela-sela kesibukan mengajar, meluangkan waktu untuk menulis memang harus dipaksa. “Seperti hari-hari ujian, mengawasi mahasiswa sampai enam jam. Kalau mengikuti capek, ya capek. Tapi, bukunya bagaimana?” tuturnya saat di wawancarai Selasa (27/7).

Saat libur, Hebert lebih leluasa menggarap buku-buku tersebut. Agar lepas dari rutinitas, dia menggunakan lima sampai enam jam untuk menulis. Menjadi stress release di akhir pekan, katanya.

Kalah Rajin Menulis, Selalu Dilibas Penulis Lain

Pandemi termasuk salah satu pelecut semangat bagi Hebert. Menurut dia, banyak penulis yang makin produktif selama pandemi. “Penerbit bilang, naskah yang masuk sudah banyak sekali. Wah, saya enggak boleh kalah cepat dong,” ucap pria kelahiran 1990 itu.

Hebert mengaku kapoklantaran menunda-nunda tulisan sampai dua kali dilibas penulis lain. Di bidang buku keilmuan atau bahan ajar, sekali dilibas, ya lewat. Sulit menghasilkan buku dengan tema yang sama.

Secara personal, Hebert memang punya target menghasilkan minimal dua buku setiap tahun. “Tapi, ya mesti tidak keturutan karena selalu lebih,” ujarnya, kemudian terkekeh. Alasannya macam-macam. Selain karena penelitiannya cukup banyak, Hebert sering ditawari penerbit. Tema yang ditawarkan penerbit selalu jadi tantangan atau semacam permainan game baru. “Mulai dari 0 lagi, lho,” tutur mahasiswa doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu.

Bagi Hebert, menulis buku juga menebar manfaat. Berbagi ilmu yang tak lagi terbatas ruang dan waktu. Beda halnya dengan menulis hasil penelitian atau jurnal yang hanya boleh jadi sitasi untuk 5-10 tahun. “Kalau buku? Bisa 20 tahun, 30 tahun. Seperti buku Morfologi Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan buatan Prof Gembong. Sejak 1985 sampai sekarang masih jadi kitab orang biologi,” ujar alumnus Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga itu.

Hebert juga menyinggung bahwa menulis buku pasti jadi passive income hingga di masa depan. “Bisa dipakai hobi macam-macam kan,” ucapnya. Dia mengakui, kunci paling utama mau menulis adalah memiliki passion untuk menulis. Kalau sudah ada niat, Hebert akan berbagi trik-trik lainnya. Misalnya, bagaimana menyusun buku, memilih kasus yang menarik, hingga meyakinkan penerbit mayor. (*/c6/git)

 

Sumber: Jawa Pos 2 Agustus 2021. Hal. 13

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *