Cristian Sebut Bonus Demografi Bisa Menjadi Kerugian Bila Tidak Dikelola dengan Baik. jatim.poskota.co.id. 26 Mei 2021. Cristian Anggrianto. VCD

https://jatim.poskota.co.id/2021/05/26/chirtian-sebut-bonus-demografi-bisa-menjadi-kerugian-bila-tidak-dikelola-dengan-baik-?halaman=2

JATIM POSKOTA | MALANG – Hari kedua Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Kepemudaan, di Ijen Suites Malang, Selasa, 25 Mei 2012, yang dibuka oleh Drs Muhibbin SH. M.Si, Kabag Pelayanan Non Dasar, Pemprov Jatim semakin bergairah.

Hal ini dikarenakan sejak sesi makan pagi, para calon entrepreneur muda ini sudah saling akrab sehingga tidak segan untuk menanyakan serta menimba ilmu dan pengalaman dengan senior mereka yang telah sukses.

Sebut Hafid, ia salah satu peserta dari Lumajang, di kampung halamannya ia adalah pelaku sekaligus koordinator para peternak lele.

“Di kampung kami, ada puluhan orang peternak lele, kami memilih ikan lele sebagai komoditi, karena menjualnya mudah, disamping itu jarang ada yang mati, dan mencari makanya gampang” kata Hafid.

Dengan pertemuan semacam ini ia berharap bisa mendapatkan ilmu atau apupun yang bisa ia bawa ke kampungnya untuk memperbesar usaha.

Nara sumber pertama adalah Cristian Anggrianto, S. Sn. M. M. dosen Universitas Ciputra yang terkenal sebagai Universitas pencetak para usahawan muda.

Cristian pada kesempatan itu membagikan ilmu Strategi Marketing dan Kemasan, hal ini tepat karena rata-rata peserta yang hadir mempunyai masalah dengan pemasaran produk mereka, dan itu bukan karena kualitas produk mereka yang jelek, melainkan dari kemasan produk mereka yang terlihat kurang menarik.

Cristian di sela-sela acara, menyampaikan bahwa program dari Biro Kesra Pemprov Jawa Timur ini sudah tepat, yakni membangkitkan ekonomi Jawa Timur melalui generasi muda, dikarenakan ada bonus demografi.

Namun, menurut Cristian, Pemprov Jawa Timur, dalam mengelolanya harus dengan tepat.

“Bila Pemprov Jatim tidak mengelola dengan tepat, maka justru malah mendapatkan kerugian, bukan bonus lagi” kata Christian.

Untuk itu Christian menyarankan kepada Pemprov, melalui Biro Kesra harus segera bertindak, salah satunya adalah menentukan dan mengumpulkan para stekeholder, agar program ini bisa berjalan sukses.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Rudi, pengusaha muda Surabaya yang sering “wira-wiri” Surabaya – NTT.

“Saya tidak setuju adanya bonus demografi, saya ambil contoh kecil, saya melihat sendiri di daerah (dirahasiakan) banyak perempuan dibawah umur yang menjual diri, maka lima tahun kemudian bila pengelolaannya salah, hal ini akan menjadi beban” kata Rudi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari para usahawan yang yang telah berhasil, sebut Imam, yang mengolah daun kelor menjadi produk kesehatan, yang diberi merk dagang Kelir.

Selain produk kelor, pada kesempatan itu juga disampaikan kisah sukses, yakni keberhasilan mengekpor arang ke luar negeri yakni Inggris.

Pada sesi akhir, tidak hanya para pengusaha, dan para penggerak pemberdayaan masyarakat yang semangat, ternyata Raka Raki yang turut hadir menjadi undangan juga sangat antusias terhadap program ini, hingga menawarkan diri untuk menjadi brand ambasador melalui Sosial Media, tidak ketinggalan jaringan Media Online Tingkat Nasional juga menyatakan diri siap untuk mempublikasikan produk-produk mereka.

Acara Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Kepemudaan ini, tidak berhenti disini, acara ini akan dilanjutkan tentu dengan topik yang berbeda, dan dalam waktu dekat.**

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *