Chloe Zhao. Sejarah Baru Perempuan Sineas. Kompas. 27 April 2021. Hal.16

Kesan Oscar yang seksi dan diskriminatif perlahan memudar. Chloe Zhao (39) berhasil membawa pulang Piala Oscar sebagai sutradara terbaik tahun 2021. Sineas dari China ini menjadi perempuan Asia Pertama yang meraih penghargaan dalam kategori bergengsi tersebut.

Elsa Emiria Leba

Dengan gaun bernuansa nude dan sepatu sneakers putih dari Hermes, Zhao maju ke panggung pergelaran Academy Awards ke-93 di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (25/4/2021) waktu setempat. Ia tampak tidak percaya bisa memenangi penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk film Nomadland (2020), sebuah film drama semi-fiksi tentang kehidupan seorang perempuan nomaden di era modern.

“Ini untuk siapa saja yang memiliki keyakinan dan keberanian untuk berpegang pada kebaikan yang ada di dalam diri mereka sendiri, dan berpegang pada kebaikan satu sama lain, tidak peduli betapa sulitnya melakukan itu. Kalian menginspirasi saya untuk terus maju,” kata Zhao yang sebelumnya mengutip puisi klasik China dalam pidatonya.

Zhao mencatat sejarah baru bagi representasi sineas di Hollywood. Selama 93 tahun perhelatan Academy Awards, hanya tujuh perempuan sutradara mendapat nominasi, termasuk Zhao. Kathryn Bigelow menjadi perempuan sutradara pertama yang menang lewat The Hurt Locker pada 2010. Sebelas tahun berlalu, Zhao menjadi perempuan sutradara kedua yang memenangi kategori ini.

Akan tetapi pencapaian Zhao tidak hanya bagi kaum perempuan. Berasal dari China, Zhao menjadi perempuan bukan kulit putih pertama yang meraih Oscar. Dia membuka pintu bagi perempuan minoritas, khususnya Asia, di Hollywood.

Kemenangan Zhao semakin lengkap karena Nomadland, yang mendapat total enam nominasi, memboyong Piala Oscar untuk kategori Film Terbaik dan Aktris Terbaik. Sebelumnya, film itu telah membawa pulang piala dari berbagai ajang penghargaan lainnya, Zhao mencatat sejarah serupa di Golden Globe Awars pada Februari lalu dan British Academy Film Awards (BAFTA) pada April lalu.

“Saya sangat beruntung bisa melakukan apa yang saya sukai untuk mencari nafkah, dan jika ini berarti lebih banyak orang bisa mewujudkan impian mereka, saya sangat bersyukur,” ucap Zhao.

Karier Zhao mulai mencuri perhatian sejak perilisan film independent Songs My Brothers Taught Me (2015) dan The Rider (2017). Songs My Brothers Taught Me bercerita tentang dilemma dan mimpi remaja Indian Amerika. Film ini mendapat beberapa nominasi di festival film. Sementara The Rider yang membahas kehidupan seorang pengendara rodeo berhasil menang dalam Gotham Independent Film Award, National Board of Review, dan National Society of Film Critics.

Zhao kini menjadi salah satu sineas ternama China dengan pengakuan internasional. Dia disejajarkan dengan nama-nama besar, seperti Zhang Yimou, Chen Kaige, Jia Zhangke, Gong Li, dan Zhang Ziyi.

Terlepas dari itu, karier Zhao tak luput dari kontroversi di China. Salah satunya, akibat kritik lamanya terhadap kehidupan di China kembali muncul sehingga memicu sentimen negative para nasionalis. Ia pun dikecam setelah menang dalam Golden Globes tahun ini. Pembahasan Nomadland di media sosial sempat disensor dan status perilisannya di China tidak jelas.

Beberapa pujian untuk Zhao mulai muncul kembali setelah keberhasilannya memboyong Oscar. Salah satunya berkat pidato kemenangannya yang merujuk pada budaya China. Di Weibo, warganet menyebutnya sebagai cahaya China. Harian China The Global Times juga membahas kemenangannya di Twitter.

Multi-Identitas

Zhao menjadi contoh bagaimana “orang luar” bisa menorehkan sejarah di Hollywood. Zhao lahir dengan nama Zhao Ting, punya ayah seorang pebisnis sukses dan ibunya seorang pekerja di rumah sakit. Ibu tiri Zhao adalah aktris komedi terkenal China, Song Dandan.

“Saya memiliki orangtua yang menarik. Mereka hanya sedikit berbeda dari orangtua umumya di Beijing. Mereka memberontak, aneh, dan tidak pernah berhenti membiarkan saya menjadi diri sendiri,” tutur Zhao.

Kecintaannya pada film dimulai sejak masa kanak-kanak, sebagian terinspirasi film Happy Together (1997) oleh Wong Kar-wai, budaya pop barat, dan era Old West. Dalam wawancara dengan Vogue, Zhao menggambarkan dirinya sebagai “remaja pemberontak, malas di sekolah” yang menemukan kedamaian lewat menggambar manga dan menulis fiksi.

Ia pun nekat hijrah ke negara barat. Zhao pindah untuk belajar di Inggris pada usia 14 tahun. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan dan menetap di AS pada tahun 2000. Di New York, ia sempat menjadi murid dari sutradara Spike Lee.

Berbagai pengalaman ini memberi Zhao perspektif kemanusiaan yang beragam. Namun, tinggal di New York membuat Zhao kesulitan mencari lokasi shooting sebagai mahasiswa tingkat akhir. Tak lama, ia jatuh cinta dengan lanskap AS yang luas dan liar, terutama di wilayah bagian barat, seperti Dakota.

Hasilnya, karya-karya Zhao kerap menyajikan potret kehidupan manusia yang memikat di pinggiran AS. “Ke mana pun saya pergi dalam hidup, saya selalu merasa seperti orang luar. Jadi, saya secara alami tertarik kepada orang lain yang hidup di pinggiran atau tidak menjalani gaya hidup arus utamanya,” ujarnya.

Salah satu ciri khas Zhao dalam membuat film adalah kebanyakan karakter film diperankan oleh orang biasa, seperti orang nomaden asli yang tampil di Nomadland. Menurut dia, tidak ada pemeran yang lebih tepat memerankan karakter tertentu daripada orang itu sendiri.

Sutradara ini sebentar lagi terjun ke pasar arus utama melalui film blockbuster Marvel, Eternals. Namun, Zhao memastikan, membangun dunia film yang kaya dan meyakinkan adalah hal terpenting, entah itu film tentang rodeo ataupun pahlawan buku komik.

Chloe Zhao

Lahir: Beijing, 31 Maret 1982

Pendidikan: New York University Tisch School of the Arts

Profesi: Sutradara

Prestasi: 2 Academy Awards, 2 Goldem Globe Awards, dan 2 BAFTA

 

 

Sumber: Kompas, 27 April 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *