Lukis Wajah dengan Meses dan Roti. Jawa Pos.17 September 2021.Hal.15. Putu Wardhani. VCD

Tingkatkan Kualitas Dosen Metode Penelitian, Bentuk ADMI. harianbhirawa.co.id. 2 September 2021. Burhan Bungin. FIKOM.

https://www.harianbhirawa.co.id/tingkatkan-kualitas-dosen-metode-penelitian-bentuk-admi/

Persilahkan Dosen Metode Penelitian Bergabung
Surabaya, Bhirawa
Kualitas dosen metode penelitian mendapat perhatian serius. Pasalnya, mata kuliah ini sangat berpengaruh pada hasil penelitian mahasiswa. Tak hanya itu, melalui mata kuliah metode penelitian juga dapat membantu meningkatkan kualitas dosen dalam menjalin kerjasama riset lebih luas lagi. Maka Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra (UC), Prof Dr Burhan Bungin bersama Kaprodi S2 dan S3 Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prpf Sugiyono mendirikan Assosiasi Dosen Metode Penelitian Indonesia (ADMPI). Deklarasi pun telah diikuti 41 peserta Lokakarya dan Sertifikasi Peneliti Internasional bersertifikat Batch 14, yang berasal dari 12 Perguruan Tinggi di Indonesa, secara daring.

Menurut Prof Burhan, yang juga salah satu inisiator ADMPI, didirikannya asosiasi ini karena keprihatinan akan kualitas dosen metode penelitian di Indonesia. Tidak ada pembinaan terstruktur. Padahal mata kuliah ini khusus diajarkan diselurub program studi perguruan tinggi.
“Metode penelitian ini kan pembahasan startegis berapa sks yang diajarkan satu prodi. Metode penelitian juga diterapkan di penulisan skripsi, tesis dan disertasi. Tetapi tidak ada pembinaan. Mereka hanya dapat ilmu metode sewaktu kuliah dulu. Karena itu asosiasi ini membina dosen-dose metodologi penelitian,” ujarnya, Selasa (31/8).
Melihat hal itu, Prof Bungin menilai mestinya ada asosiasi untuk dosen metode penelitian, agar saling belajar tentang perkembangan metode peneliti di dunia khususnya di Indonesia. Karena jika dilihat, kurikulum metode penelitian di Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara lain. Karena itu, ADMPI dibentuk.
Prof Burhan menambahkan, asosiasi ini akan terfokus pada pembahasan kurikulum, pengembangan SDM dosen metode penelitian, merancang riset bersama dan menggali data riset serta mengadakan pelatihan dan lokakarya.
“Ada 41 anggota saat deklarasi kemarin dari 12 PTN dan PTS. Jumlah ini bisa berkembang secara terus menerus,” urainya.
Untuk bisa mendaftar dalam keanggotaan ADMPI ini, jelas Prof Burhan syarat utama yang harus dipenuhi adalah dosen yang mengajar metode penelitian atau sedang mebimbing mahasiswa untuk skripsi, tesis ataupun disertasi. Kemudian pendidikan minimal S2.
“Jika sudah memenuhi syarat, bisa langsung merapat ke asosiasi untuk kemudian dibina,” katanya.
Pihaknya berharap, Asosiasi Dosen Metode Penelitian Indonesia disambut para dosen dan mendapat perhatian dari pemerintah. Karena organisasi ini akan terfokus pada pengembangan SDM yang sangat startegis di perguruan tinggi. [ina]

Bangunan Tua Sudah Mengalami Renovasi_Srengganan, Sisa Perjuangan dan Penyangga Wilayah Utara (28). Radar Surabaya. 1 September 2021. Hal. 3. Chrisyandi. UC LIB

Srengganan, Sisi Perjuangan dan Penyangga Wilayah Utara (2). Dianggap Tak Berguna, Tembok Kota Tak Dilanjutkan. Radar Surabaya. 26 Juli 2021. Hal.3. Lib. Chrisyandi

Dalam peta Kota Surabaya yang dibuat oleh Belanda ta hun 1866 kawasan Sreng ganan memang sudah ada. Kawasan lawas ini diperki rakan sudah ada sebelum pendudukan kolonial.

Ditahun 1866 kawasan Srengganan sudah ada dan masuk dalam tembok kota. Namun tembok kota itu menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika belum sepenuhnya masuk ke kawasan Srengganan, dikarenakan pembangunan tersebut tidak berguna dan memakan biaya yang besar. “Belum masuk karena pembuatan tembok nggak jadi dilanjutkan mengingat biaya terlalu besar,” katanya kepada Radar Surabaya.

Pustakawan dari Perpustakaan Universitas Ciputra itu menambahkan, tembok kota itu rencananya melingkar dari sebelah selatan Jembatan Petekan (Ophaal Brug) melebar ke barat hingga selatan (Pesapen) terus ke selatan (Krembangan) ke timur (Srengganan) kemudian kembali menyambung ketitik awal di selatan Jembatan Petekan, Jalan Jakarta (Batavia Weg) sebelah Timur sungai Kalimas. Tujuannya dulu sebagai pembatas warga pribumi dan melindungi berbagai sarana, prasarana, penduduk, termasuk aktivitas di dalamnya yang bisa diawasi atau diatur dengan baik.

“Berdasarkan rencana desainnya seperti itu, sampai ke Srengganan, tapi dalam pembangunan atau relisasinya nggak sampai selesai sesuai rencana awal. Pendanaan yang jadi masalahnya,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan kawasan itu memiliki model bangunan yang lebih cenderung untuk perniaagaan. Terutama di pinggir jalan. Sedangkan yang di dalam tetap digunakan sebagai pemukiman penduduk.

“Yang pinggir jalan beda dengan yang di dalam kampung model banggunannya. Karena hampir semua model di foto lama pinggir jalan selalu dipakai untuk jualan atau perkantoran,” jelasnya.

Meskipun tak seterkenal kawasan Pegirian, Ampel, Kembang Jepun dan lainnya, tapi keberadaan Srengganan cukup penting sebagai kawasan penyangga kala itu. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 26 Juli 2021. Hal.3.

Pariwisata Bali & Kembalinya Turisme Indonesia. bisnisindonesia.id. I Dewa GS. HTB

https://bisnisindonesia.id/article/opini-pariwisata-bali-kembalinya-turisme-indonesia

OPINI : PARIWISATA BALI & KEMBALINYA TURISME INDONESIA

Secara nasional, dibukanya pariwisata Bali untuk wisman berdampak signifikan pada citra pariwisata Indonesia.

Dewa Gde Satrya

Jun 26, 2021

 

OPINI : Pariwisata Bali & Kembalinya Turisme Indonesia

Kebun Raya Bedugul di Tabanan, Bali. – Antara/Nyoman Budhiana

Meski demikian, sebagai bukti keseriusan setiap stakeholder pariwisata Bali membuka diri pada wisatawan, protokol kesehatan dan CHSE (cleanliness, healthy, safety, environment sustainability) dilakukan setiap lini terkait pariwisata. Tak hanya itu, Bali telah menguji coba 3 destinasi yang masuk dalam Travel Corridor Arrangement (TCA), yakni Sanur, Ubud dan Nusa Dua, sebagai ‘etalase’ kesiapan pariwisata Bali di era new normal saat ini.Secara nasional, dibukanya pariwisata Bali untuk wisman berdampak signifikan pada citra pariwisata Indonesia. Karena itu, ada harapan menyertai upaya pembuatan grand design bagi kedatangan wisman yang dibuat oleh Pemprov Bali.Di ranah masyarakat dan pelaku wisata, akhir tahun lalu ‘gemuruh’ kesiapan dan kerinduan akan dibukanya kembali Bali pada wisman sedikit terungkap pada rilis video clip bertajuk “Bali Kembali” dari youtube channel musisi Bali, I Wayan Balawan. Di clip tersebut, tampak dukungan sejumlah musisi dan talenta di Bali dalam semangat bersama memberi motivasi ke pelaku pariwisata Bali di masa-masa sulit ini.Bali sebagai etalase pariwisata Indonesia, menjadi barometer keterpurukan, dan sebaliknya kebangkitan, pariwisata Indonesia di masa pandemi Covid-19.

Standard operating procedure (SOP) menyambut kedatangan wisman telah dirumuskan, mulai dari kedatangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai telah diatur beberapa hal teknis. Antara lain, dilakukan PCR, pengecekan wisman di Kantor Kesehatan Pelabuhan, swab, pengecekan imigrasi, penjemputan taksi yang tersertifikasi CHSE, pelaksanaan karantina dan rujukan rumah sakit bila hasil swab positif.

Kualitas wisatawan semakin penting, menyetarakan kembali titik keseimbangan dengan dampak negatif dari orientasi pada jumlah kunjungan. Namun secara teknis hal tersebut belum diatur dan dipikirkan secara detail. Meski demikian, rintisan untuk menerima tamu secara lebih selektif perlu dimulai.

Dasarnya adalah, semakin dibutuhkan tamu mancanegara yang berkualitas, tidak lagi mengejar jumlah kunjungan, tetapi tingkat pengeluaran dan lama tinggal. Asumsinya, saat ini dengan tingkat kunjungan yang ada, di masa selanjutnya perlu dipertimbangkan potensi tingkat konsumsi dan perilaku yang tidak merugikan kehidupan sosial di destinasi yang dikunjungi.

Segmentasi Wisata

Model wisata yang ditawarkan pun perlu semakin diprioritaskan pada segmentasi yang relevan dengan wisatawan yang berkualitas. MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), segmentasi pasar MICE hampir dipastikan memiliki daya beli yang bagus, lebih well educated, dan memiliki kecenderungan perilaku yang adaptif dengan norma sosial di dalam negeri. Karena itu, segenap potensi yang dimiliki daerah, dianjurkan berbenah lebih serius untuk mendatangkan tamu dari segmentasi industri ini.

Event yang kerap mendatangkan wisatawan berkualitas terdiri dari event budaya, olahraga dan musik. Lombok misalnya, dengan kehadiran Mandalika yang akan memiliki sirkuit MotoGP dan Formula 1, akan menarik minat berkunjung para pecinta olah raga tersebut.

Sport tourism menjadi event berkualitas yang diharapkan juga akan mampu menarik segmen wisatawan. Bahkan kabarnya, potensi pasar internasional untuk dua olahraga itu diperkirakan tidak hanya disediakan akomodasi di Lombok, tetapi juga Bali.

Dampak berganda dari sport tourism tidak hanya bagi tempat penyelenggaraan dan tidak terbatas pada waktu penyelenggaraan. Citra daerah sebagai tuan rumah penyelenggara event juga akan terdongkrak positif.

Selain itu, segmentasi ekowisata, jenis wisata yang menyelaraskan kelestarian alam dan budaya dengan kegiatan wisata berbasis masyarakat ini, kurang tergarap dengan baik di Indonesia. Segmentasi ekowisata meskipun memiliki karakter selektif dalam kunjungan, tetapi diproyeksikan memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan penulis dengan pelaku usaha adventure, diinformasikan bahwa pengeluaran per orang untuk wisatawan asing untuk mendaki gunung di Indonesia di atas Rp 100 juta dengan waktu seminggu. Wisatawan ekowisata lebih serius dan niat dalam berwisata.

Melalui momentum perumusan grand design kedatangan wisman di Bali, prinsip dan praktik responsible tourism sebagai bagian dari gelombang baru new tourism menjadi market leader yang menjadi salah satu pertimbangan penting manakala seseorang melakukan perjalanan wisata ke suatu daerah atau negara, layak untuk mulai diterapkan di Bali.

Sebagai ‘etalase’ pariwisata Indonesia, Bali telah memikat banyak orang untuk datang. Kiranya kebangkitan pariwisata Bali, dengan nantinya dibukanya Bali untuk wisman, akan mendorong kembalinya turisme Indonesia.

Dewa Gde Satrya, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya
Editor : Dewa Gde Satrya

New Collection – July 2021

Hayo, siapa yang disini ketika mengerjakan tugas atau sedang melakukan sesuatu yang membutuhkan fokus sambil mendengarkan musik? Mendengarkan musik sambil melakukan aktivitas tentunya menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Pasalnya, ketika mendengarkan musik, aktivitas yang kita lakukan menjadi lebih bersemangat dan dengan musik kita bisa melewati waktu tanpa terasa karena setiap detik yang mengalir ditemani oleh irama musik yang kita sukai. Apalagi dengan kehadiran aplikasi pemutar musik digital, tersedia bayak sekali playlist lagu-lagu yang bisa disesuaikan ragam jenis musik dan pemutarannya sesuai dengan mood kita saat itu.
Kegiatan membaca umumnya adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi bagi yang melakukannya karena membaca adalah proses menyerap informasi. Namun, ternyata ada juga loh musik yang pas untuk bisa menemani kita membaca, yaitu musik instrumental klasik. Menurut kebanyakan orang, musik instrumental klasik itu dapat juga digunakan untuk meningkatkan konsentrasi ketika kita sedang belajar maupun membaca. Tidak dianjurkan untuk mendengarkan lagu-lagu berlirik yang biasa kita dengarkan karena hal tersebut malah membagi fokus kita ketika membaca dan mendengarkan lagu untuk lebih cenderung bernyanyi mengikuti riang musiknya. Hayo ngaku siapa yang sering malah hilang fokus akibat keasikan denger nih?
Buat kalian yang ingin tetap produktif dan membaca buku, jangan kuatir! Selama masa pembelajaran online Perpustakaaan tetap melayani kalian ?
Saat ini Book Delivery Service UC Library melayani hingga area seluruh pulau Jawa dan Bali. ?
Ayo maksimalkan layanan ini #ucpeople! Silahkan akses katalog online kami dan dapatkan buku yang kalian butuhkan tanpa harus keluar dari rumah. Bagi UC People yang ingin menggunakan layanan ini silahkan menghubungi Bu Essy (WA +62 817-0389-5544, email: essy.marischa@ciputra.ac.id) ?
Berikut daftar koleksi buku terbaru UC Library. Happy reading ?

Klik di sini.

Akibat Banyak Nyamil dan Kurang Gerak.Harian DI’S Way.27 Januari 2021.Hal.42-43

Hari Gizi Nasional yang diperingati Senin lalu (25/1) mengangkat tema Remaja Sehat Bebas Anemia.  Sepenting apa status gizi anak muda, sehingga sampai harus menjadi perhatian utama tahun ini?  Dan remaja mengapa rentan mengalami anemia?

RASANYA, zaman sekarang.  sudah jarang kita menemukan Cremaja yang kekurangan gizi.  Terutama di kalangan mongenang ke atas di kota besar.  Seperti di Jakarta dan Surabaya.  Saat ini makanan berlimpah ruah dan sangat mudah didapat.  Tinggal pesan di aplikasi delivery, makanan tinggal diantar.  Murah dan praktis.

Namun, karena itu, remaja saat ini mungkin mengalami kekurangan gizi. Sebab, umumnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah junk food atau makanan ringan.  Tren makanan kokinian silih berganti, dan semua menggiurkan.  Mulai dari dessert box, bomboloni, cream cheese garlic bread ala Korea, hingga yang saat ini lagi populer, corn dog.  Alias ​​sosis yang dibungkus tepung dan digoreng.

“Umum, makanan-makanan tersebut tinggi garam, gula, dan lemak saja. Zat gizi lainnya nggak ada,” kata Mochamad Rizal, S.Gz, ahli gizi, dalam sesi Instagram live Hari Gizi Nasional Senin lalu.  “Padahal, remaja membutuhkan gizi optimal agar perkembangan dan fungsi-fungsi tubuh berjalan optimal juga,” imbuhnya.

Penuhi Gizi Optimal Rizal kemudian menjelaskan makna gizi optimal.  Simpelnya, kebutuhan gizi tercukupi.  Tidak kurang dan tidak lebih.  Optimal bisa dibagi menjadi dua.  Yaitu secara kuantitas dan kualitas.  Optimal secara kuantitas bisa dibagi lagi.  Menjadi kuantitas fisik dan kuantitas psikis.

Kuantitas fisik, kata Rizal, berhubungan erat dengan kebutuhan energi kita sehari-hari.  Setiap orang dengan berat badan dan kegiatan normal, rata-rata membutuhkan 1.800 kilo kalori.  Beda ceritanya kalau dia atlet, atau harus helakukan kegiatan fisik yang banyak.  ebutuhan kalorinya tentu lebih besar.

Nah, kalau kita, biasanya butuh supan sekitar 1.500 sampai 1.800,” alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga itu. Jah, kuantitas secara psikis, itu terkait dengan banyak kita sudah merasa ukup makan. Biasanya ditandai dengan perut kenyang. Menurut Rizal, lambung idak  boleh disi full makanan., sanya 1/3 saja yang berisi makanan. Lalu yang 1/3 lagi air, dan sisanya adalah dara. “Jadi kalau dibilang, 80 persen kenyang aja, cukup.  Soalnya kalau sekennyangan ngantuk,” ujarnya.

Sedangkan secara optimal, lebih simpel lagi. Jika seluruh zat gizi secara makro maupun mikro terpenuhi. Zat gizi makro berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, dan memastikan fungsi ubuh berjalan normal. Yaitu karbodrat, protein, dan mineral  Zat gizi mikro, di sisi ain, berfungsi mencegah penyakit. Dan adi pendukung proses produksi maupun metabolisme. Yang termasuk zat aizi mikro adalah vitamin dan mineral. Mengapa gizi optimal membuat remaja sangat penting? Pertama, kata Rizal, dari segi kuantitas. Jumlah  kalori yang tepat akan menentukan status gizi Kalau status gizi oke, maka akan berefek ke banyak hal.

“Berat badan pas.  Badan juga rasanya lebih berenergi.  Efeknya, kita bisa menjalankan berbagai aktivitas dengan lancar dan segar,” tutur Rizal. “Apalagi generasi milenial ini kan banyak kegiatan.  Kita ini menghasilkan kerja.  Terpenuhinya kebutuhan gizi bikin kita produktif.  Tidak mager (malas gerak, Red),” lanjut dia.

Yang kedua, tentang kualitas. Ini sangat terkait dengan kesehatan dasar kita. Terpenuhinya zat-zat mikronutrien seperti vitamin dan mineral ternyata besar. Rizal contoh memberi zat besi. Kalau tubuh kekurangan jenis  mineral yang satu ini, kita bakal mengalami anemia. Gejalanya, lemah, letih, lesu, daya tahan tubuh menurun.

Kadang disertai daya konsentrasi yang monurun. “Malah dampak jangka panjangnya, kalau cewek, saat hamil dan melahirkan bisa mongalami perdarahan.  Dampaknya, angka kematian ibu tinggi.  Anaknya kalau lahir juga kurang sehat,” papar Rizal. “Kalau mau bicara skala yang lebih besar, anemia ini bisa mempengaruhi kualitas manusia Indonesia,” tambah penulis buku Diet Garis Lurus itu.

Awas Diet Ketat Saat ini, ada tiga fenomena yang terjadi pada anak muda.  Pertama, terlalu banyak disajikan sajian kekinian.  “Lagi nugas, pesen pentol, pesen fast food. Apalagi sekolah online di rumah. Tambah kenceng ngemilnya,” kata Rizal.  Penumpukan gula, garam, dan lemak berlebih akan memicu obesitas.  Dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.  Kedua, kalau merasa kelebihan berat badan, bakal mengatasinya dengan diet ketat.  Harapannya instan pula.  Ingin turun 10 kg, misalnya, dalam sebulan.  Akhirya, mencoba metode ekstrem.  Seperti, tidak makan karbohidrat sama sekali, tidak makan gula dan garam, sampai mengonsumsi pil diet.  Yang tidak jelas apa kandungannya.  Hasilnya, kurang gizi lagi.

Ada dua dampak yang mengancam pelaku diet yang tidak tepat.  Yakni, akut dan kronis.  Yang akut bisa langsung dirasakan dalam waktu dekat.  Gizi tidak optimal menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain, lemas dan keram otot.  “Tidur malem tiba-tiba kebangun jam 3 pagi, gara-gara kaki kram. Ternyata kurang kalium dan natrium,” Rizal memberi contoh.

Efek lain yang bisa dirasakan, antara lain, dehidrasi, pusing, lapar berlebihan, serta mudah sakit karena imun turun.  Kadang-kadang juga disertai efek samping akibat kurang serat, serta rambut rontok yang disebabkan oleh kurangnya asupan zinc dan protein.  Untuk perempuan, ada kalanya siklus menstruasi menjadi tidak lancar.

Sedangkan dampak kronis lebih berbahaya.  Gizi tidak optimal, jika dibiarkan akan menyebabkan gagal ginjal, gangguan hati, dan Problem ketiga, kurang aktivitas fisik.  Harus diakui, generasi saat ini adalah generasi rebahan.  Internet cepat, berlimpah berlimpah, klop sudah.  Kalau tugas atau pekerjaan kelar, yang dilakukan adalah maraton drakor atau main game online.  Mau ke mana-mana naik kendaraan.  Semakin sedikit lah gerak badan kita.

Aktivitas Fisik Tugas orang tua lah yang mengawasi asupan makanan buah hati.  Jika memang sangat suka jajan, pastikan uinbangi dengan serat berupa sayur dan semak.  Juga protein.  Rizal mengatakan, protein yang dibutuhkan remaja, sedilutnya dua sampai tiga potong per makan.  Ini tidak terbatas pada daging.  Tahu tempe pun bisa jadi sumber protein.  Sedangkan sayur antara tiga sampai lima porsi sehari.  “Jadi, pastikan itu tersedia di rumah,” ucapnya.

Ingatkan juga mereka untuk melakukan aktivitas fisik.  Sebab, meski pola makan sudah benar, tapi jika kurang gerak badan, tubuh jadi tidak bugar.  Bugar adalah kondisi di mana kita bisa melakukan aktivitas sehari2 tanpa merasa lelah secara berlebihan.  Nah, latihan erat dengan kebugaran.  Olahraga membuat tubuh kita kuat dan berenergi.

Apakah ada hubungannya dengan gizi yang optimal?  Tentu.  Olahraga akan membuat fungsi-fungsi tubuh berjalan lancar.  Termasuk fungsi kardiovaskular atau jantung.  Organ ini bortugas seluruh darah dan zat-zat gizi ke tubuh.

“Misalnya, makanan kita sudah bagus. Sudah komplet. Mengandung serat, ada protein, dan mineral. Tapi jantung, sebagai selang untuk mengedarkan zat makanan ini mampet, ya sama aja. Zat gizi tidak terdistribusi dengan baik,” papar Rizal.  “Nah untuk bikin selang itu berfungsi dengan baik, perlu dibantu olahraga,”  (Retna Christa)

 

Sumber: DI’S Way.27 Januari 2021.Hal.42-43

bertahan ditengah badai.marketeers.desember2020.januari.2021.hal.52.53

Meski terlihat menjadi sektor yang sedang naik daun karena pandemi Covid-19, sektor telekomunikasi justru termasuk sektor yang paling terdampak. Para pemain di sektor ini pun berusaha melakukan berbagai strategi untuk bertahan. XL Axiata sebagai salah satu pemain mampu mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Oleh Estu Dian Maranti

Selama sembilan bulan pertama tahun 2020, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) mencatat peningkatan pendapatan atau service revenue sebesar Rp 18,3 triliun. Pencapaian tersebut meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi terhadap total pendapatan layanan perusahaan juga meningkat menjadi sebesar 92%.

Perusahaan telekomunikasi ini juga berhasil meraih EBITDA sebesar Rp 9,9 triliun atau meningkat sebesar 34% secara tahunan. Sementara, secara kuartal, pada periode kuartal ketiga tahun 2020, EBITDA perusahaan berhasil tumbuh 3% dari kuartal sebelumnya, dengan laba bersih setelah pajak mencapai Rp 331 miliar.

Adalah Dian Siswarini, Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata Tbk yang berhasil membawa perusahaan meraih pertumbuhan positif di tengah tantangan yang begitu berat. Dian menuturkan, slogan perusahaan yang berbunyi Never Waste a Good Crisis membuat XL Axiata dapat bertahan dan punya performa mengkilap. Namun, tidak dapat dipungkiri, perusahaan perilaku konsumen menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

“Saya dan semua orang di XL Axiata percaya di balik krisis pasti terdapat peluang. Meski di tengah badai dan tantangan, kami berusaha mengambil peluang yang ada untuk dapat memberikan yang terbaik bagi pelanggan,” kata Dian.

Dampak Covid-19 pada perekonomian membuat daya beli masyarakat menurun. Ini berakibat masyarakat menerapkan skala prioritas ketika melakukan pembelian. Turunnya daya beli masyarakat tersebut juga berdampak pada kompetisi di industry operator seluler yang semakin ketat.

“Karena daya beli menurun, semua operator justru berlomba menawarkan produk dengan harga lebih terjangkau yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Melihat hal tersebut, XL Axiata berusaha keras mempertahankan kinerja dengan mendorong penjualan dan melakukan efisiensi di semua lini bisnis,” ujar Dian.

Beberapa inovasi pun dilakukan oleh Dian untuk mempertahankan kinerja perusahaan. Pada inovasi produk, XL Axiata memberikan penawaran, seperti fitur XTRA Unlimited Turbo dan Unlimited 1 jam untuk pelanggan layanan prabayar XL, paket Edupack untuk pelanggan AXIS, dan myPRIO x Unlimited untuk pelanggan pascabayar Prioritas.

Semua produk disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Dian mengaku, perusahaannya memanfaatkan teknologi seperti Information Technology (IT), Artificial Intelligence (AI), dan data analytics untuk mengidentifikasi apa saja kebutuhan setiap segmen pelanggan terhadap layanan telekomunikasi dan data.

“Melalui pemanfaatan teknologi, perusahaan dapat membuat produk layanan terbaru yang memang dibutuhkan oleh setiap segmen pelanggan. Selain itu, penawaran produk juga bisa lebih terarah sesuai dengan karakter konsumen,” kata Dian.

Selain menawarkan produk, XL Axiata juga berinovasi dari sisi customer service. Saat ini, masyarakat lebih menyukai berkomunikasi melalui digital. Melihat ini, XL Axiata membenahi digital touch point mereka, termasuk di aplikasi myXL dan AXISnet untuk operator AXIS. Harapannya, mereka dapat meningkatkan customer experience sehingga loyalitas konsumen terjaga.

Peluang lainnya yang diambil adalah memperbaiki operasi bisnis di dalam perusahaan, contohnya seperti pada network operation. Adanya Covid-19 membuat perubahan dan inovasi di operation center harus dapat dilakukan secara jarak jauh demi menjaga kesehatan dan keselamatan karyawan.

“Inovasi lain yang kami lakukan ada di XL Center atau layanan service center secara digital. Inovasi ini menawarkan kemudahan pelayanan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan secara offline seperti aktivasi kartu yang hangus maupun ganti kartu melalui web XL Axiatan,” jelas Dian.

Selama pandemi pula, XL Axiata terus membangun jaringan. Hingga September 2020, perusahaan telah memiliki lebih dari 142.000 Base Transcelver Station (BTS). Jumlah ini meningkat sekitar 10% dari periode yang sama pada tahun lalu.

Selain itu, untuk menyiapkan jaringan menuju 5G, XL Axiata juga terus melanjutkan proses pemasangan jaringan fiber optik untuk mendukung peningkatan kualitas jaringan data di setiap daerah. Adanya fiber optik ini membuat kapasitas jaringan transport yang lebih besar.

“Pandemi menuntut pelaku telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas jaringan. Fiber terbukti mampu melakukan hal tersebut dan membantu menopang sejumlah layanan data dengan kapasitas besar,” tutur Dian.

Cepat Tanggap

XL Axiata yang merupakan bagian dari Grup Axiata yang beroperasi di seluruh dunia membuat perusahaan dapat lebih cepat tanggap dalam menghadapi Covid-19 di Indonesia. Sebelum Covid-19 melanda, Dian menuturkan, perusahaannya sudah terlebih dahulu mendapatkan informasi mengenai virus tersebut dan proyeksi yang mungkin terjadi dari Grup Axiata.

Dian langsung membentuk tim yang disebut Emergency Responses Team (ERT) untuk menangani dampak pandemi di dalam perusahaan. Tugas pertama tim tersebut adalah memastikan seluruh karyawan terjaga dari sisi kesehatan dan keselamatan. Tim ini kemudian membuat protokol untuk memonitor, tracking, dan assistance karyawan supaya mereka terjaga dan dapat tertangani dengan cepat ketika sakit.

“Karyawan menjadi fokus utama karena mereka merupakan motor penggerak perusahaan. Jika karyawan sakit, perusahaan juga tidak dapat beroperasi dengan baik, layanan ke konsumen juga tidak akan baik. Karyawan adalah aset berharga,” tambah Dian.

Selain itu, Dian memaksimalkan kinerja Business Continuity Management (BCM) yang sudah dibentuk sebelum pandemi melanda. Pasalnya, perubahan karena pandemi tidak hanya terjadi dari sisi konsumen, tetapi juga karyawan. Adanya pemberlakuan physical distancing bukan berarti mengganggu operasional bisnis. Tugas BCM adalah memastikan perusahaan dapat terus memberikan layanan terbaik bagi konsumen walaupun terdapat pembatasan-pembatasan dalam beraktivitas.

Kecepatan Dian dalam merespons pandemi didapatkan dari pengalaman bertahun-tahun bekerja di sektor telekomunikasi. Ia mengaku sudah terlatih untuk bertindak cepat dalam merespons krisis. “Kami terus fokus pada layanan konsumen dan inovasi produk terutama dalam hal digitalisasi dan pemanfaatan teknologi,” pungkasnya.

Berkat inovasi dan strategi cepat tanggapnya tersebut, MarkPlus Inc. menganugerahkan Dian Siswarini, Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata Tbk The Best Industry Marketing Champion 2020 Telecom Services sector.

QUOTES

“Saya dan semua orang di XL Axiata percaya di balik krisis pasti terdapat peluang. Meski di tengah badai dan tantangan, kami berusaha mengambil peluang yang ada untuk dapat memberikan yang terbaik bagi pelanggan,”

Dian Siswarini

Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata Tbk

 

Sumber: Marketeers, Desember 2020

Kisah Alumni Universitas Ciputra Surabaya Kembangkan Bisnis Pariwisata Berbasis Masyarakat.times.co.id.28 April 2021. HTB

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/344274/kisah-alumni-universitas-ciputra-surabaya-kembangkan-bisnis-pariwisata-berbasis-masyarakat

TIMESINDONESIA, NUSA TENGGARA TIMUR – Pariwisata mengalami goncangan yang sangat keras selama pandemi Covid19. Banyak sekali para pengusaha di bidang yang berusaha untuk mempertahankan bisnis pariwisata di tengah pandemi ini. Mellisa Honesta, seorang alumni Hotel and Tourism Business dari Universitas Ciputra Surabaya terus berusaha bangkit dari keterpurukan pariwisataa karena covid.

Meliisa, salah satu pengusaha muda di bidang bisnis pariwisata yang tetap semangat dalam bertahan dan mengembangkan bisnisnya.

Di usianya yang masih muda, Mellisa yang berdomisili di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur telah dipercayai oleh orang tuanya untuk meneruskan dan mengembangkan bisnis keluarga mereka , PT. Cahaya Sikka, yang bergerak di bidang jasa pariwisata, khususnya di bidang tour and travel, event organizer dan tourism consultant.

Bisnis ini berdiri sejak tahun 2002 dimana awal mulanya merupakan family business dibidang ticketing hingga bertahan sampai tahun 2016. Melihat peluang pasar dibidang biro perjalanan wisata mulai berdatangan, banyaknya wisatawan yang mulai mengunjungi Labuan bajo, maka banyak peluang dan ide baru yang dimunculkan untuk melayani kebutuhan wisatawan yang berkunjung ke Nusa Tenggara Timur.

Semakin berkembangnya ekonomi di Kabupaten Sikka , Kupang dan Nusa Tenggara Timur pada umumnya, banyak juga wisatawan dari orang NTT sendiri yang ingin berwisata keluar negeri dan juga berobat keluar negeri.  Sehingga akhirnya Mellisa melihat peluang itu dan membentuk SEW Tour and Travel dengan spesialisasi penjualan paket medical tourism untuk pasar outbond dan menjual paket Labuan bajo dan Flores trip untuk pasar inbound.

Semangat Mellisa untuk mengembangkan bisnis pariwisata di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggata Timur , tidak terhenti oleh adanya pandemic Covid19. Pada tahun 2020,  dia membuat event organizer dan tourism consultant. Ide dari pembuatan ini dipicu oleh permintaan pengembangan destinasi wisata untuk  memiliki tenaga ahli dibidang pariwisata dan konseptor destinasi, yang bisa membantu membuat strategi dalam menghadapi konflik di daerah wisata dan mengembangkan kualitas  sumber daya manusia.

NTT

Dibutuhkan juga konsultan yang mampu mengatur dan mengelola dengan standarisasi internasional, dimana hal ini adalah pemasalahan yang kerap dihadapi di banyak daerah di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur

Dalam menjalankan bisnisnya, Mellisa juga banyak menghadapi tantangan, apalagi di tengah situasi pandemi ini. Namun, Mellisa tetap bertahan dan semangat mengembangkan bisnisnya dalam  bisnis tour and travel miliknya, masalah yang sering dihadapi khususnya pejualan paket trip liburan yaitu pesaing yang muncul dengan harga yang jauh lebih murah, paket mudah ditiru.

Strategi yang dilakukan ada beberapa hal seperti observasi paket yang ditawarkan pesaing bisnis baik itu kelebihan maupun kekurangan kemudian memberikan kelebihan dan keunikan dari paket yang dia miliki, misalnya dari lokasi baru, bonus trip, pelayanan yang terbaik hingga menciptakan wow story dan strategi lainnya yang dapat dilakukan yaitu membuat trip yang berbeda.

Dia juga membuat paket yang bisa menjawab kebutuhan orang yang nantinya akan menimbulkan kepuasan pada wisatawan, sehingga mereka mau mengikuti lagi paket trip yang dia miliki. Sebagai contoh yaitu paket Medical Trip yang ditawarkan dimana merupakan trip berobat sambil berlibur, tidak hanya berobat keluar negeri tapi juga di dalam negeri.

Dalam menawarkan dan menjalankan paket tournya Mellisa memastikan berjalannya protokol kesehatan dengan ketat dalam paket wisata yang dia tawarkan, sehingga wisatawan bisa merasa aman dan nyaman dalam berwisata.

Tantangan lain dari bisnis event organizer dan tourism consultant yang dia miliki adalah keterbatasan SDM yang professional dan berkualitas bagus. Sulitnya mencari SDM yang professional dalam bekerja sama baik itu dengan warga sekitar maupun luar. Apalagi banyak pihak yang masih belum bisa sepenuhnya menerima perbedaan etnis dikarenakan rasa memiliki daerah yang tinggi dan takut untuk bersaing.

Namun sebagai alumni Universitas Ciputra, dia merasa bekal selama kuliah dengan banyaknya kelas praktek tentang kepariwisataan dan entrepreneurship membantu dia berani mengambil resiko dan melangkah mengatur strategi yang tepat.

Beberapa strategi telah dilakukan untuk menangani tantangan diatas yaitu dengan cara menciptakan kepercayaan melalui mengajak bekerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah untuk membuat event bersama, dan dia juga memberikan support kepada pemerintah daerah untuk bersama-sama membuat peluang bisnis baru seperti membangkitkan kembali sanggar tenun maupun pengembangan komunitas kuliner lokal di Kabuten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dengan kesuksesan dan penyelesaian masalah yang dilakukan, dengan sendirinya warga lokal akan percaya dan mau bekerja sama dengan baik pada setiap event maupun mengelolaan dan pelatihan kedepannya. Pada akhirnya dengan perlahan tapi pasti, Mellisa mampu bersama-sama masyarakat mengembangan bisnis pariwisata yang bisa bertahan di tengah pandemic Covid19.

Ia berharap setelah pandemic bisnis berbasis masyarakat yang dia rintis bisa berkembang pesat dan membawa dampak bagi ekonomi masyarakat lokal. Pesan Mellisa bagi generasi muda, semoga para generasi muda bisa memilih sesuatu sesuai dengan passion.

Begitu pula dalam memilih jurusan maupun karir anda ke depannya. Mari gunakan peluang dan kesempatan yang ada untuk maju serta berjuanglah. tetap berusaha meskipun anda gagal hingga mencapai tujuan yang diimpikan.

Agoes Tinus Lis Indrianto, Ph.D, sebagai Dekan Fakultas Pariwisata di Universitas Ciputra Surabaya mengatakan usaha Mellisa tidak dibangun dalam satu malam saja. Mellisa terlah berjuang dari hasil proses pembelajaran yang selama 4 tahun yang telah ditempuh di program studi Hotel and Tourism Business.

Dimana selama proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan professional di bidang pariwisata, namun juga kemampuan entrepreneurial yang tinggi sehingga setiap lulusan mampu bersaing dan berjuang membangun bisnis pariwisata yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat.

“Kiranya ditengah pandemic ini tidak hanya ketrampilan professional yang dibutuhkan tapi juga kemampuan untuk berinovasi dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam bisnis yang dijalani,” tegas Agoes, Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya. (*)

Berorganik dari Pekarangan.Trubus.Februari 2021.hal78,79

Setiap bulan tak kurang 3.000 pengunjung memadati Kampung Organik Brejonk di Desa Penangunggan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Mereka paling menggemari taman refugia. Di taman itu hamparan kenikir Cosmos sp. berbunga kuning tak hanya menarik hama tetapi juga pengunjung. Gunung Penanggungan turut menjadi latar foto yang indah.

Direktur pengelola Kampung Organik Brejonk, Slamet Siatim, mengatakan, taman refugia itu baru dibuka pada pertengahan 2020. Taman refugia memang untuk menarik pengunjung. Warga pun dapat menjajakan produk organik yang baru saja dipetik dari kebun. Tak hanya produk segar, mereka juga mengolah beragam menu berbahan organik.

Perkarangan organic

Pengunjung dapat menikmati kuliner sawah organik-kuwah organik-di saung-saung yang berada di tengah sawah. Ada 17 unit kuwah organik tersebar di area dusun. “Dengan kuwah, kami memanfaatkan hanya 10% lahan untuk menjual menu organik. Itu agar petani dengan sawah sempit tidak menjual tanahnya kelak,” kata Slamet. Ia mewajibkan setiap pemilik kuwak menggunakan bahan baku dari sawah dan kebun sendiri dan tentunya organik.

Sayuran, buah-buahan, beras, dan bumbu berasal dari tanaman warga sendiri. Sejatinya kampung organik itu salah satu program edukasi Perkumpulan Brenjonk. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Surabaya jurusan Manajemen Informatika dan Teknik Komputer itu membentuk Perkumpulan Brenjonk wadah bagi pekebun organik untuk mendalami budidaya organik sekaligus menyalurkan hasil panen.

Nama Brenjong berasal dari salah satu sumber air di desa tersebut bernama Sumber Rejo. Warga melafalkannya mber-jo sehingga tercetuslah kata Brenjonk.

Kegiatannya meliputi produksi, pascapanen, sertifikasi, dan pemasaran. Anggota aktif di Dusun Penanggungan sekitar 130 orang. Mulanya laki-laki kelahiran Kabupaten Mojokerto, 2 Oktober 1970 itu memperkenalkan budidaya organik berbasis kebun pekarangan. Tak heran bila anggotanya mayoritas kaum perempuan. Mereka menanam beragam sayuran daun di dalam greenhouse.

Menurut Slamet terdapat setidaknya 130 greenhouse alias rumah sayur organik (RSO) di pekarangan warga Dusun Penanggungan. “Pertama kali saya hanya tanam sayur di 3 polibag. Lalu bertambah secara bertahap hingga saya rasa perlu lakukan analisis usaha,” ujar Slamet mengenang.

Rumah sayur organik berukuran 5 m x 10 m dengan atap plastik ultraviolet dan dinding kain jarring. Warga biasanya menanam sayuran daun seperti kangkong, bayam, selada, dan siomak di dalam RSO.

Setiap bulan warga bisa memetic 20-40 kg per rumah tanam. Ada pula yang hanya memperoleh 5 kg sayuran per bulan. Itu lantaran berkebung hanya sebagai sampingan. Pada umumnya warga Dusun Penanggungan bekerja menggarap sawah. Sayuran buah seperti terung dan tomat ada di kebun terbuka. Luasnya sekitar 6 hektare.

Selain sayuran, laki-laki berusia 50 tahun itu juga merangkul petani sawah untuk menerapkan budidaya organik. Kini setidaknya 11 hektare lahan padi dan kedelai beralih organik. Produk Brenjonk telah tersertifikasi Organik Indonesia dan Penjaminan Mutu Organik (Pamor). Tak heran bila pasar swalayan, hotel, restoran, dan katering di Kota Surabaya dan sekitarnya meminta pasokan rutin.

Harga tinggi

Bukan perkara mudah merintis dan mempertahankan Perkumpulan Brenjonk. Pada tahun pertama, Slamet kesulitasn mengajak tetangganya untuk ikut berkebun organik. Seiring berjalannya waktu, ia belajar tiga kunci keberhasilan pengembangan masyarakat. Pertama masyarakat perlu suri tauladan. Jangan sekadar disuruh tetapi kita tidak melakukan apa-apa.

Kedua, lakukan kegiatan berorientasi pada peningkatan pendapatan. Ketiga, kelompok yang menaungi harus sembada. Brenjong harus sanggup membeli hasil panen pekebun dan menjualnya. Pembelian panen dengan harga semestinya menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap anggota. Brenjong membeli hasil panen anggota dua kali lipat daripada produk konvensional. Misalnya sayuran daun seperti kangkong harganya Rp 6.000 per kg di tingkat pekebun.

Menurut Slamet kelompok sebaiknya mengelola aspek hulu hingga hilir dengan baik meski hanya kelompok kecil. “Besar atau kecil sama-sama kelompok maka tetap harus dikelola dengan baik,” kata Slamet. Sejak bekerja di dua lembaga syadaya masyarakat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup pada 1990-1994 dan Yayasan Peduli Indonesia 1995-2007, Slamet berkeinginan membuat aksi konkret untuk mengembangkan komunitas desa.

 

Sumber: Trubus, Februari 2021