Menu Nusantara untuk Perayaan Hari Kemerdekaan. Nasi Bakar Runcing dengan Isian Kakap Merah. Jawa Pos. 31 Juli 2022. Hal.16

Catatan Hari Kenaikan Kristus: Allah Melihat dengan “Mata Cacing”, Mendengar dengan “Telinga Hati”. hidupkatolik.com. 25 Mei 2022. Dewa GS. HTB

https://www.hidupkatolik.com/2022/05/25/61399/catatan-hari-kenaikan-kristus-allah-melihat-dengan-mata-cacing-mendengar-dengan-telinga-hati.php

HIDUPKATOLIK.COM -Professor Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian pada 13 Oktober 2006, memiliki sumbangan khas dan terbesar dalam metodologi pengejawantahan konsep teoritik ke dalam kehidupan nyata.

Dia menilai bahwa dengan pendekatan makro yang disebutnya dengan istilah “mata burung” (helicopter view) hanya mampu memberikan gambaran yang sangat umum dan tidak rinci tentang kemiskinan. Pengalaman membuktikan, bahwa pendekatan ini tidak mampu mengurangi angka kemiskinan di negara-negara sedang berkembang.

Sebaliknya, Prof. Yunus menggunakan “mata cacing” yang melihat tanah dari jarak yang sangat dekat, hampir-hampir menyatu dengan tanah yang dijelajahinya secara pelan-pelan dan sungguh-sungguh (dalam buku Bank for the Poor, 2007).

Melalui pendekatan “mata cacing” itu pula, dia mencengangkan publik di seantero dunia. Rantai kemiskinan dipecahkannya melalui kredit mikro sebesar 22 cents.

Mungkin, apa yang tampaknya sepele, sederhana, dan bahkan tidak mungkin, ternyata memiliki kadar manfaat yang tinggi.

Untuk itulah, intervensi belasan sen dolar AS ala Prof Yunus yang mampu menyaingi intervensi lembaga donor internasional dalam jumlah miliaran dolar AS, menjadi peringatan kita bahwa “mendengar dengan telinga hati”, melihat dengan sungguh, merefleksi dan mengalami langsung medan kemiskinan jauh lebih bermartabat ketimbang wacana diawang-awang yang tidak terbukti memiliki solusi.

Dalam konteks inilah, perayaan kenaikan (kembalinya) Yesus Kristus dari bumi ke Surga pada ribuan tahun yang lalu, secara manusiawi memiliki beberapa makna.

Pertama, para rasul yang waktu itu ditinggalkan oleh Yesus merasa ketakutan. Namun Yesus menjanjikan penolong yaitu Roh Kudus. Siklus manusiawi memang kerap memberatkan iman akan kebaikan Allah. Meski dengan ungkapan yang menjanjikan dari Allah, tetap sajalah manusia kurang mempercayainya.

Kedua, kenaikan itu menjadi momen tanda pengakuan Allah yang sepenuh-penuhnya akan kemerdekaan dan kemampuan manusia untuk meneruskan karya-karya-Nya. Kemampuan itu berasal dari-Nya. Manusia diberi peluang dan kepercayaan untuk memakai kemampuan manusiawinya itu dengan tetap bersumber pada kekuatan dari Allah. Tetapi justru manusia kerap tidak memakai sumber kekuatannya dari Sang Ilahi. Dia terlupakan oleh asal kekuatan itu dan dengan sadar serta sengaja menonjolkan kemampuannya sendiri.

Allah yang berada dalam “ketinggian” dan “kedalaman” tidak pernah meninggalkan manusia. Allah naik ke Surga, tetapi semakin dekat berada dalam diri setiap manusia. Paradoks kenaikan Yesus adalah kepenuhan kemaharahiman Allah untuk memenuhi janji keselamatan manusia meski telah melewati sengsara, wafat, kebangkitan dan kembali ke Surga.

Oleh karena Roh-Nya yang kudus itu, eksistensi-Nya terwakili dan tidak tergantikan dalam peradaban setiap manusia di segala zaman. Dia tetap meneruskan, menyelesaikan dan menyempurnakan karya-Nya dengan mengajak manusia sebagai partner yang dapat diandalkan. Allah yang berada dalam “ketinggian” itu amat mendarat dan berada di kedalaman hati manusia. Sayangnya, panorama imani seperti itu sulit ditangkap oleh daya insani manusia yang semakin mengedepankan ego dan keterbatasan akal sehatnya.

Allah tidak ada, Allah itu mati, Allah itu tidak menyayangi kita, Allah itu bla-bla-bla. Kerap gugatan itu meluncur begitu saja dalam hati manusia. Karena daya manusiawi yang tidak mampu melihat “ketinggian-Nya” dan “kedalaman-Nya”, kemahabesaran-Nya tersingkirkan oleh ketidakpercayaan dan ketidakpasrahan manusia.

Meminjam istilah Prof Yunus, Allah yang melihat dengan “mata cacing” tetap berkarya di tengah-tengah kita. Tidak hanya dengan mata, tetapi kemauan dan kemampuan untuk “mendengar dengan telinga hati”, Dia mencari dan membutuhkan manusia yang memiliki hati untuk-Nya dan sesamanya. Kemahabesaran Allah itu akan semakin tampak dalam hati manusia yang mau bekerjasama dengan-Nya.

Untuk itulah, apresiasi yang besar patut kita sampaikan kepada Prof Yunus. Boleh dikata, ilmuwan seperti dialah yang semakin dibutuhkan untuk menjalankan karya-karya Allah di tengah umat manusia. Hati Prof Yunus merasa gentar, dia kecewa dengan teori ekonomi muluk-muluk yang diterangkannya di depan kelas. Dunia tercengang dengan kredit mikro 22 cents yang mampu memecahkan rantai kemiskinan. Bagaimana mungkin?

Ketika mengawali program kredit mikro di desa Jobra, Prof Yunus mendebat seorang manajer bank yang bersikeras bahwa bank tidak mungkin memberi pinjaman tanpa jaminan pada kaum miskin karena resiko tidak kembalinya sangat besar.

Prof Yunus membantah, “mereka sangat punya alasan untuk membayar Anda kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya! Itulah jaminan terbaik yang bisa Anda dapatkan: nyawa mereka!”

Memang terbukti. Sejek 1976 hingga 2004, bank ini telah menyalurkan pinjaman mikro sebesar US$ 4,5 miliar dengan recovery rate sebesar 99%. Amat kontras dengan mafia pengemplang BLBI. Mereka yang kaya dan tampaknya bisa menguntungkan bank, justru mangkir dari tanggung jawabnya. Kini, Grameen Bank telah beroperasi berbagai negara, di lebih dari 46.000 desa di Bangladesh, dan mempekerjakan sekitar 12.000 karyawan.

Apa yang oleh orang kaya dianggap sebagai sebuah kebodohan dan kemalasan, atau oleh kaum religius sebagai sebuah kutukan, atau oleh birokrat sebagai sebuah ketidakmungkinan, oleh Prof Yunus malah dijadikan sebuah laboratorium hidup di mana kekuatan dahsyat orang miskin (perempuan) menampakkan dirinya sebagai alternatif yang pantas diperhitungkan.

Dengan intervensi belasan sen dolar AS saja dia mampu menyaingi intervensi lembaga donor internasional dalam jumlah miliaran dolar AS. Banyak orang terkejut, bagaimana ini bisa terjadi?

Marilah kita maknai peringatan hari Kenaikan Isa Almasih ini dengan lebih mendaratkan mata, hati, akal-budi, dan bahkan fisik kita akan realitas sosial di lingkungan sekitar. Karena juga demikianlah, Allah melihat, mendengar, dan berkarya di tengah-tengah kita. Selamat Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Dewa Gde Satrya
Dosen Prodi Pariwisata, Universitas Ciputra, Warga Paroki Redemptor Mundi Surabaya

Mendengarkan Konsumen dengan Hati. swa.co.id. 25 April 2022. Dewa GS. HTB

https://swa.co.id/swa/trends/mendengarkan-konsumen-dengan-hati

Melalui Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2012 tentang Hari Konsumen Nasional, tanggal 20 April ditetapkan Hari Konsumen Nasional (HKN) atas usulan Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Latar belakang penetapan HKN adalah masalah perlindungan konsumen masih merupakan persoalan yang krusial, terbukti dengan banyaknya kasus yang sampai sekarang belum juga tuntas. Apabila terjadi sengketa, pihak konsumen selalu dalam posisi yang lemah sehingga tidak mampu untuk memperjuangkan kepentingannya. Di samping itu, pada 20 April 1999 juga diterbitkan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Beberapa latar belakang yang patut dicermati terkait perayaan HKN dalam suasana pasca pandemi covid-19 adalah sebagai berikut, pertama, eksistensi produsen pertama-tama bergantung pada konsumen. Produsen ada karena dan untuk konsumen. Produsen dituntut untuk semakin memahami kebutuhan konsumen. Yang paling vital, peran konsumen bisa menentukan hidup matinya produsen. Jika produsen gagal menjalankan fungsinya, dalam arti tidak memenuhi standar kebutuhan konsumen, baik dalam hal konsistensi kualitas produk dan layanan, serta harga, kehancuran produsen menjadi keniscayaan. Dunia yang semakin kompetitif dapat dipahami bukan hanya dalam frame kompetisi untuk memenangkan suatu tujuan, tetapi terlebih dalam hal bagaimana meng-up-grade kualitas produk dan layanan secara pasti.

Badan usaha milik swasta, perorangan, dan pemerintah, ketiganya sedang memasuki arena kompetisi untuk menyejahterakan pelanggan. Layanan pemerintahan yang tidak memuaskan misalnya, bisa berakibat pada image sosial, ketidakpercayaan publik, bahkan ketidakpatuhan masyarakat terhadap negara (civil disobedience).

Karena itu, perayaan HKN dalam suasana pasca pandemi covid-19 meniscayakan pemasar, produsen, pelayan publik untuk menjadi pendengar yang baik bagi konsumen yang dilayani. Tidak sekadar mendengar, tetapi mendengar dengan ’telinga hati’.

Beberapa riset membuktikan, menjadi pendengar yang baik telah terbukti menjadi kekuatan para pemasar. Tahun 2006, Copernicus Marketing Consulting & Research melakukan penelitian tentang kesuksesan perempuan di bidang pemasaran. Temuan menunjukkan, sebanyak 81% dari mereka ingin menjadi Chief Marketing Officer (CMO) di masa depan dibandingkan pria yang hanya sebesar 68%. Kenapa perempuan berhasil di bidang marketing? Karena perempuan mendengarkan konsumen lebih baik. Secara terpisah, sebanyak 45% responden menyatakan bahwa perempuan mengerti pentingnya ”hubungan emosional dengan brand”. Selain itu, perempuan menyukai kolaborasi dan hasrat untuk mempengaruhi dan tidak menyuruh kolega mereka (Majalah Mix, Maret 2009, hal. 31).

Meski berbeda kejadian, tetapi esensi yang sama, yakni kekuatan menjadi pendengar yang baik, mengundang apresiasi dari Menlu dan Menteri Energi Arab Saudi di sela-sela pertemuan dengan Presiden Jokowi di KTT G20 Osaka, Sabtu (29/6/2019). Dua menteri Arab Saudi itu memuji kepiawaian 2 menteri perempuan kabinet Jokowi: Menkeu Sri Mulyani dan Menlu Retno Marsudi. Performa maupun prestasi yang ditorehkan tokoh-tokoh perempuan Indonesia dewasa ini semakin signifikan dalam memberikan sumbangsih yang khas dan unggul dalam peningkatan kualitas kehidupan bangsa. Fakta ini menjadi indikator penting tak hanya terkait transformasi peran strategis dan kualitas kinerja serta profesi strategis yang disandang kaum perempuan di sektor publik dan pemerintah, maupun korporasi, tetapi juga secara intrinsik menunjukkan keluhuran budi dalam diri seorang yang mau dan mampu mendengar kebutuhan orang lain.

Signal berharga ini dideteksi oleh Valentine & Godkin (2000), menyatakan bahwa keberhasilan sebagian perempuan ditentukan oleh kemampuan mereka yang sangat kuat dalam pemecahan masalah serta kemampuan dalam berpikir analitis. Di samping itu, keberhasilan perempuan juga dipengaruhi oleh kemampuannya dalam hal berkomunikasi dan menghargai hubungan yang profesional, termasuk di dalamnya mendengarkan dengan hati. Pada umumnya perempuan lebih memiliki orientasi sosial, kedudukan yang sederajat, berdasarkan persamaan (quality-based), peduli diri, dan lebih bersifat asuh daripada laki-laki. Perempuan, sebagai pemimpin, lebih sering menjalankan kepemimpinan yang bersifat demokratik dan transformasional daripada kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin laki-laki (dalam Djasmoredjo, 2004).

SBY ketika menjabat sebagai Presiden pernah menjamu para tokoh perempuan. Dia melontarkan kekagumannya pada karakter perempuan Indonesia, yakni karakter budaya menanam, budaya hemat, kreatif dan ulet. Karakter budaya menanam dan melestarikan kehidupan, menjadi andalan untuk membangun lingkungan sosial yang nyaman, bersih dan sehat. Upaya ini membawa manfaat bagi keluarga, komunitas dan masyarakat. Gerakan kaum perempuan menanam dan menghijaukan rumah masing-masing misalnya, semakin perlu untuk dikembangkan tingkatannya hingga menghijaukan dan melestarikan lingkungan. Karakter budaya hemat lebih terkait pada identitas dan jati diri sebagai manusia yang memiliki ‘nilai’: sederhana dalam hidup.

Dalam khasanah budaya Jawa sering dikenal dengan sebutan gemi nastiti ngati-ati. Karakter ini terkait erat dengan budaya ubet (dalam bahasa Jawa) artinya, kreatif dan ulet dalam mencari solusi, tidak mudah menyerah. Hal itu tidak terlepas dari kemampuan mendengarkan dan mengolah input tersebut menjadi sebuah ideasi yang tepat dan berdampak. Karakter itu dapat dimaknai sebagai persistensi, yang menjadi keniscayaan dari nilai penting dalam program talent management, sebuah program pembangunan sumber daya manusia yang menjadi fokus kepemimpinan Jokowi di periode keduanya ini.

Mengadopsi konsep marketing 3.0 yang digagas Hermawan Kartajaya (2013), baiklah dikatakan tantangan pemasar saat ini tidak hanya berfokus kepada product oriented dan customer oriented namun telah sampai di level tertinggi yaitu human spirit. Maksudnya, memiliki orientasi pada setiap manusia sebagai pribadi yang utuh. Karakter yang tulus dan kemampuan sebagai pendengar yang baik, menopang keterampilan dan keahlian dalam menghadirkan produk dan layanan yang bermutu. Selamat Hari Konsumen Nasional 2022.

 

 

Universitas Ciputra Surabaya Bangkitkan Minat Baca dan Tanamkan Moral Lewat Dongeng. www.medcom.id. 21 September 2021. LIB

https://www.medcom.id/pendidikan/berita-kampus/yNLPRm2N-universitas-ciputra-surabaya-bangkitkan-minat-baca-dan-tanamkan-moral-lewat-dongeng

Surabaya: Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya (UC) mendongeng di Balai RW 8 Lakarsantri, Surabaya. Sekitar 40 anak dengan kisaran usia 6-13 tahun berkumpul di Balai RW.

Kepala Perpustakaan UC, Yehuda Abiel, menyatakan, minat baca anak harus didorong. Membaca sangat penting karena bisa membuka wawasan lebih luas.

“Minat baca ini perlu ditumbuhkan pada diri anak-anak. Kami kemas minat baca ini dengan cara mendongeng,” ujar Yehuda Abiel, Selasa, 21 September 2021.

Bersama tim yang terdiri dari staf perpustakaan dan mahasiswa, Abi, sapaannya, membacakan sebuah buku berjudul Destiny’s Calling yang dikemas dalam bentuk dongeng. Lengkap dengan boneka tangan, dan dibawakan dengan intonasi sesuai karakter, membuat anak-anak bergeming dan sesekali tertawa.

“Buku yang kami bacakan ini istimewa, karena merupakan karya dari 3 mahasiswa Visual Communication Design- UC. Buku ini mengisahkan tentang sosok Rira yang pintar namun memiliki sifat egois,” terangnya.

Ia mengungkapkan pesan moral dari kisah ini adalah mengajarkan pada anak-anak untuk menjadi rendah hati tidak egois.

Pasha, salah satu peserta menyatakan sangat senang ikut acara pagi ini. Siswa kelas 4 SD itu mengatakan cerita yang dibacakan sangat seru.

“Saya senang denger dongeng yang ada bonekanya. Seru ceritanya,seru juga game-nya. Aku juga dapat bingkisan,” ungkap Pasha.

Menutup acara, Yehuda Abiel beserta tim juga menyerahkan sumbangan berupa buku-buku bacaan. Tim perpustakaan UC berharap minat baca anak-anak tumbuh dengan baik sehingga anak-anak banyak belajar tentang apapun.

 

Langkah Program Sosial Mahasiswa Fikom Universitas Ciputra. https://mahasiswaindonesia.id. 4 Januari 2022

https://mahasiswaindonesia.id/langkah-program-sosial-mahasiswa-fikom-universitas-ciputra/

4 Januari 2022

Mengasah Kepercayaan Diri kepada Anak-Anak YKBS, Terutama Berbahasa Inggris

Banyak kita sadari dalam kehidupan anak-anak jaman sekarang pentingnya untuk berbahasa inggris, namun  beberapa anak  Indonesia masih kurang lihai dalam berbahasa inggris karena merasa enggan menggunakan bahasa asing yang menurut mereka susah untuk dimengerti. berbahasa inggris. PPS ( Pusat Pengembangan Sosial ) menjadi salah satu bidang dari YKBS yang melatih Team Building dan Character Building.

Dengan adanya program studi kelas berbahasa inggris yang ada di Pusat Pengembangsan Sosial menjadi sasaran utama Mahasiswa Fikom Universitas, sehingga beberapa anak akan merasa kurang percaya diri untuk berbicara bahasa asing terutama bahasa inggris yang telah menjadi bahasa yang umum digunakan oleh masyrakat dunia.

Mahasiswa Fikom Universitas Ciputra  melakukan kerja sama  terhadap YKBS (Yayasan Kasih Bangsa Surabaya) untuk melatih kepercayaan diri mereka dan berani dalam  menggunakan Ciputra untuk langsung menjalankan programnya dengan tema “Show Your Skilll in English”.

Program yang dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Desember 2021 ini bertujuan untuk membentuk dan  melatih rasa percaya diri mereka berani berbicara bahasa inggris, dengan proses pembelajaran yang dimana nantinya anak – anak di mulai dari usia SMP belajar berbicara bahasa yang di latih dengan cara berceria menggunakan bahasa inggris atau Story telling dan ada juga melatih skill dalam berpidato menggunakan bahasa inggris.

Dari kegiatan ini Mahasiswa FIKOM UC, berharap agar program ini bisa membantu anak – anak YKBS terutama bagi PPS untuk lebih percaya diri dan mendorong skill anak – anak dapat berbahasa inggris, karena bahasa inggris bukan lagi bahasa yang sulit untuk di pelajari. “ saya setuju ya, dengan adanya program yang kian jalankan mungkin dapat lebih membantu anak – anak untuk lebih berani berbicara dalam bahasa inggris dan dapat melatih public speaking mereka” ucap Romo Novan ketua dari YKBS dan Divisi PPS.

Ricky Oktaf Messakh
Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya

Editor: Diana Pratiwi