Peduli Wastra Nusantara, Akademisi Universitas Ciputra Bikin Arsip Digital. kumparan.com. 6 Mei 2021. Michael Nathaniel Kurniawan, Janet Rine Teowarang, Stephanus Eko Wahyudi

https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/peduli-wastra-nusantara-akademisi-universitas-ciputra-bikin-arsip-digital-1vgxvbGoimt?shareID=bOAU5U2Zu8tS&utm_campaign=share&utm_medium=whatsapp&utm_source=kumMobile

Indonesia kaya akan budaya warisan leluhur, salah satunya adalah wastra atau kain tradisional. Hampir setiap daerah memiliki wastra yang sarat makna budaya. Tak ingin wastra Nusantara hanya menjadi cerita lalu, sejumlah akademisi di Surabaya tergerak untuk mendokumentasikan dalam bentuk digital.Mereka adalah Michael Nathaniel Kurniawan, Janet Rine Teowarang, dan Stephanus Eko Wahyudi. Menggandeng Sandra Sardjono, Tracing Patterns Foundation dari California, Amerika Serikat, ketiganya yang merupakan dosen di Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini membuat website ‘Indonesian Textile Stories and Legends.’

“Program ini bertujuan untuk mendigitalkan sebanyak mungkin warisan kebudayaan wastra nusantara, baik artefak masa lalu maupun produk budaya kontemporer, dengan fokus pada upaya pendokumentasian warisan budaya non-bendawi yang terkandung dalam wastra nusantara,” jelas Michael Nathaniel Kurniawan, dari program Studi Visual Communication Design UC Surabaya, kepada Basra, Kamis (6/5).

Diakui Michael di Indonesia sudah ada website yang membahas tentang wastra Nusantara namun secara spesifik saja.
“Ada sih website tentang wastra nusantara tapi hanya tertentu saja ya misalnya membahas tentang batik dari daerah tertentu. Nah, yang ingin kami tampilkan adalah seluruh wastra lengkap dengan historisnya termasuk pengrajinnya,” papar Michael.
Hal tersebut dilakukan, lanjut Michael, guna melestarikan, mengedukasi, dan menginspirasi para pelaku industri kreatif dalam menciptakan dan mengembangkan warisan budaya masa depan Indonesia yang berkelanjutan.
Dikatakan Michael, arsip digital ini tersedia bagi masyarakat umum, terutama bagi para pendidik seni dan desain sebagai bahan referensi untuk mengajar dan melakukan penelitian-penelitan lain terkait industri kreatif berbasis budaya wastra nusantara.
“Kami berharap penelitian-penelitian yang dihasilkan nantinya dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah dalam membuat kebijakan yang sesuai guna mendukung pengembangan kebudayaan wastra Indonesia yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Melalui website ini, pihaknya ingin pula mengajak para pencipta, kolektor, dan pemerhati warisan kebudayaan wastra Indonesia dari seluruh penjuru nusantara untuk dapat turut membagikan kisah di balik karya mereka. Sehingga dapat turut serta melestarikan warisan budaya non-bendawi dan bendawi bangsa Indonesia.
“Ini dapat menjadi sebuah upaya kita bersama untuk memanusiakan manusia Indonesia serta menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia melalui teknologi,” tukasnya.
Sejak diluncurkan pada akhir April 2021 lalu, sudah ada 10 kisah tentang wastra nusantara yang dibagikan dalam website ini. Di antaranya kain sembagi dari pulau Sumatera.
Diceritakan Michael jika kain sembagi merupakan kain batik yang banyak diperdagangkan di Sumatera, terutama di daerah Jambi dan Palembang dan sekitarnya di sekitar awal abad ke-19. Berbeda dengan kain batik dari Jawa yang pada umumnya dibatik pada kedua sisi kain, kain batik Sembagi hanya dibatik pada satu sisi kain saja.
Pada perkembangannya, kain batik sembagi juga kemudian diproduksi di Lasem dan Cirebon untuk dijual di Sumatera dan Jawa. Batik Sembagi sebenarnya terinspirasi dari kain Chintz dari India yang masuk ke Indonesia pada era Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Salah satu ciri khas dari desain kain batik sembagi adalah penggunaan warna merah dan biru yang dalam bahasa tradisional disebut Bang-Biron.
“Kami akan terus menambahkan koleksi terbaru di halaman website ini. Target kami hingga akhir tahun sudah ada 60 kisah yang dibagikan terkait wastra nusantara,” pungkasnya.

Libatkan Anak Menyiapkan Takjil. Jawa Pos. 5 Mei 2021.Hal.10. Stefani Virlia. Psikologi

Bagi sebagian anak, berpuasa terasa sulit. Apalagi, di masa pandemi ini membuang mereka banyak tinggal di rumah sehingga mudah menjadi bosan.

Menurut psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Stefani Virlia, kebosanan muncul karena tidak adanya stimulasi. Ketika menemukan stimulasi, maka kejenuhan itu akan hilang.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar orang tua menyiapkan kegiatan atau aktivitas yang seru selain sekadar menonton televisi atau bermain gawai. Ada banyak alternative kegiatan, salah satunya belajar sambil bermain. Dalam hal ini, disesuaikan dengan usia anak.

Alternatif lainnya yang bisa dilakukan yakni membuat kerajinan. Tidak perlu menggunakan bahan yang susah dicari, cukup yang tersedia di rumah.

“Membuat karya seni dari barang bekas bisa menjadi aktivitas yang menarik bagi anak,” tambahnya.

Saat kegiatan berlangsung, sebaiknya orang tua juga turut terlibat. Begitu juga sebaliknya, aktivitas orang tua juga bisa dibantu oleh anak-anak.

“Contohnya, menyiapkan takjil atau makanan berbuka puasa. Kadang orang tua melarang anak ikut, padahal ini kegiatan bagus yang bisa membuat anak terlibat,” ungkap Stefani.

Anak bisa dilibatkan dalam aktivitas yang ringan seperti mencuci sayur, menata perlengkapan makan, merapikan meja, dan sebagainya. Anak juga dapat dilibatkan dalam pemilihan menu takjil. Menyiapkan takjil bersama selalu menjadi aktivitas menyenangkan bagi anak.

“Saat itulah, orang tua dapat mengajak anak ngobrol. Selain itu, kegiatan bersama juga bisa meningkatkan bonding antara orang tua dan anak,” pungkasnya.

Stefani Virlia M.Psi

Psikolog

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra

 

Sumber: Jawa Pos, 5 Mei 2021

Komunitas Game Developer Surabaya. Nggak Cuma Main, tapi Diajari Bikin. Jawa Pos. 2 Mei 2021. Hal.40

Salah satu dampak perkembangan teknologi adalah meroketnya industri game. Berbagai negara berlomba-lomba menjaring SDM mereka yang mampu di bidang tersebut, salah satunya Indonesia. Kini mulai banyak anak muda yang terjun di bidang gaming. Nggak hanya jadi pemain, tapi juga penciptanya! Nah, di Surabaya ada Gadas, komunitas game developer. Komunitas itu berdiri sejak 2009 lho! Cukup lama juga ya.

“Tujuannya, supaya mereka yang hobi dan sudah profesional di industri game punya wadah untuk berkembang. Sejauh ini, tantangan buat Gadas lebih ke gimana caranya agar member dan pengurus komunitas tetap bisa konsisten dan antusias. Bukan hanya di komunitas, melainkan juga di industri game development. Itulah kenapa kami berusaha mengadakan kegiatan rutin,” terang Mohammad Yusuf Prastomo, salah seorang koordinator Gadas.

Setiap bulan Gadas mengadakan gathering. Biasanya mereka berkumpul sambil sharing ilmu tentang game development dari para profesional Surabaya. Ada juga event Global Game Jam yang diadakan rutin setahun sekali secara global di kota-kota negara berbagai dunia. Dalam event itu, para game developer membentuk kelompok dengan orang lain secara acak. Mereka akan ditantang membuat game selama 48 jam sesuai tema yang ditentukan. Wow!

“Global Game Jam itu paling dinanti. Aku pribadi juga terlanjur candu. Terlebih karena cinta sama adrenaline rush yang muncul gara-gara harus bikin game selama 48 jam dan biasanya baru mulai pas sisa 12 jam! Haha. Kami juga bisa kumpul bareng serta sharing ilmu dan pengalaman sama orang-orang baru. Jadi, selama Global Game Jam, kami having fun,” kenangnya.

Selama pandemi, Gadas sempat mati aktivitas. Namun, komunitas itu bisa aktif lagi lewat online gathering. Meski terhalang jarak, mereka tetap semangat mengikuti Global Game Jam Januari 2021. Selain kegiatan Internal, Gadas pernah menjadi narasumber beberapa event seperti DevC Surabaya dan Workshop Pengembangan Game Komatik Unesa. Dalam kolaborasi itu, Gadas mengenalkan tentang proses game development sekaligus mengenalkan game jam.

Harapannya, Gadas bisa meningkatkan dan mempertahankan angka game developer di Surabaya. Kini member komunitas Gadas kurang lebih 200 orang. Nah, daripada hanya jadi gamer, nggak ada salahnya mencoba belajar game development. Nggak ada syarat khusus kok untuk join komunitas ini. Bahkan, yang belum paham game development juga bisa ikut, asal berminat dan antusias soal game.

“Industri game di Indonesia sekarang udah mulai bangkit. Banyak brand lokal yang bisa mendunia. Tapi, hal itu juga nggak terlepas dari usaha kami sebagai anak bangsa untuk terus mengembangkannya. Jadi, bagi teman-teman yang passion di bidang game industri, jangan berhenti berkarya! Perluas pengetahuan dan jaringan kalian, perbanyak pengalaman dengan magang, berkomunitas, dan mengikuti event,” pesan Yusuf.

Sumber: Jawa Pos, 2 Mei 2021

Dried Flowers in Frame. Jawa Pos. 1 Mei 2021.Hal.24. Rahmi Hidayah. MCM

Merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini tidak berbeda jauh dengan tahun lalu. Silaturahmi mau tidak mau harus terhalang oleh pembatasan sosial yang mesti dipatuhi akibat pandemi yang tak kunjung pergi. Namun, kondisi serba terbatas untuk bertemu dan bertatap muka justru melahirkan gagasan dan ide-ide di kepala kaum milenial yang kreatif serta inovatif.

Sebut saja alumnus Marketing Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya Rahmi Hidayah yang berprofesi florist. Dia membuat dried flowers in frame yang menjadi salah satu isian dalam hampers bertema Raya from Home. Tujuannya tentu saja sebagai alternatif hadiah Lebaran yang dibuat secara handmade dengan sisi yang cute dan tidak pasaran.

“Ini tahun kedua aku bikin hampers handmade. Untuk hadiah buat orang tua, kerabat, pasangan, sahabat, relasi kerja. Tema Raya from Home diambil karena pandemi ini mengharuskan kita menaati peraturan pemerintah dengan tidak mudih dahulu. Maka, hadiah akan jadi salah satu hal yang dapat menyampaikan rasa meski tanpa tatap muka,” terang owner ARE Flowerstore itu kemarin (30/4).

Rahmu mengungkapkan, hampers handmade tahun ini merupakan kolaborasinya dengan local brand Pasmira. Dried flowers in frame berisi bunga asli yang telah diawetkan sebagai sentuhan pemanis sehingga bisa tahan lama. Tidak perlu cemas bunga di dalam frame akan layu.

Bunga yang biasa digunakan adalah baby breath, caspea, Limonium, lagurus, phoenis, statice, asparagus bintang, dan sebagainya. Beberapa jenis bung aitu memang lazim dimanfaatkan sebagai hiasan yang long lasting. Terutama oleh pecinta dried flower alias bunga kering. “Perbedaan dari frame tahun lalu adalah tahun ini aku menggunakan animasi pop-up,” imbuhnya.

Selain dried flowers in frame, hampers kreasi Rahmi juga berisi beberapa item lain. Di antaranya kitab suci, masker, hijab atau bergo, cookies, hingga gift card atau kartu ucapan yang bisa ditulisi dengan pesan-pesan manis untuk orang terkasih.

 

Sumber: Jawa Pos, 1 Mei 2021