Selamat Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc Kembali Jabat Rektor Univeristas Ciputra. 14 Juni 2021. timesindonesia.co.id

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/352581/selamat-ir-yohannes-somawiharja-msc-kembali-jabat-rektor-universitas-ciputra

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc. kembali dilantik menjadi Rektor Universitas Ciputra untuk masa jabatan 2021-2025.

Yohannes memaparkan bahwa periode ini akan didampingi tiga (3) wakil rektor yaitu : Prof. Dr. Ch. Whidya Utami, SE., M.M., CPMA sebagai Wakil Rektor 1 Bidang Akademik; Laij Victor Effendi, S.E., M.M., CMA Wakil Rektor 2 Bidang Operasional; dan Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog sebagai Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaaan dan Pengembangan.

Pelantikan Rektor oleh Executive Board Yayasan Ciputra Pendidikan dihadiri oleh Ketua Senat dan Ketua LLDikti Wilayah VII pelantikan yang bertempat di Dian Auditorium Universitas Ciputra pada Senin,(14/6/2021).

https://cdn.timesmedia.co.id/images/2021/06/14/Rektor-Universitas-Ciputra-2.jpg

Dalam pidato perdananya, Yohannes memaparkan program yang akan dilaksanakan semasa masa jabatannya 4 tahun ke depan. Diantaranya membuka kesempatan partnership yang lebih luas dengan stakeholder baik Perguruan Tinggi dalam negeri maupun luar negeri, industri, non-governmental organization, dan organisasi profesi.

Hal ini merupakan upaya dalam merespons kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Milestone Universitas menjadi Leading University Toward International Recognition.

Setelah dilantik Yohannes langsung melaksanakan UC Metrodata Academy Soft Launching dilanjutkan dengan UC Tower Launching.

Rektor Universitas Ciputra 3

Yohannes menjelaskan bahwa Universitas Ciputra Surabaya adalah kampus swasta pertama Surabaya yang mendapat kepercayaan dari PT Metrodata Electronics, Tbk untuk membuka kerjasama. “Kerjasama ini akan membuka lebar peluang bagi mahasiswa, lulusan, maupun masyarakat umum yang ingin ber-intrapreneur dalam bidang teknologi,” terang Yohannes.

Rektor Universitas Ciputra ini menuturkan bagi para mahasiswa yang mendaftar di prodi baru Metrodata Academy, akan diberi pengajaran mengenai aplikasi berteknologi tinggi. “Peserta akan dibimbing dalam pengembangan aplikasi secara professional berkelas dunia. Bahkan dengan kerjasama ini peluang bergabung dengan perusahaan besar seperti IBM, Microsoft dan Oracle akan terbuka lebar,” imbuh Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc .(*)

Mahasiswa Universitas Ciputra Ciptakan Busana New Normal Anti Mikroba. 14 Juni 2021. timesindonesia.co.id. FPD

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/352660/mahasiswa-universitas-ciputra-ciptakan-busana-new-normal-anti-mikroba

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Prodi Fashion Product Design Universitas Ciputra (UC) Surabaya berkolaborasi dengan PT Gistex untuk menyiptakan sebuah desain busana new normal anti mikroba.

Desain itu untuk menjawab tren desain busana anti Covid-19, namun tetap fashionable.

Busana ini dipamerkan dalam pembukaan sekaligus launching UC Tower pada Senin (14/6/2021).

Setidaknya 15 busana busana new normal dengan bahan anti mikroba itu dirancang seluruhnya oleh mahasiswa UC angkatan 2017-2018. Adapun peraga busananya juga ada dari mahasiswa Universitas Ciputra.

Desain itu untuk menjawab tren desain busana anti Covid-19, namun tetap fashionable.

Busana ini dipamerkan dalam pembukaan sekaligus launching UC Tower pada Senin (14/6/2021).

https://cdn.timesmedia.co.id/images/2021/06/14/Univ-Ciputra-a.jpg

Erlita Tantri, Public Relation Universitas Ciputra mengatakan bahan kain tersebut hanya bisa diperoleh Univesitas Ciputra saja.

“Mereka (PT Gistek) bikinnya di Indonesia, tetapi tidak untuk konsumsi Indonesia, konsumsi di luar negeri. Kain-kain itu memang mereka kirimkan ke UC karena kita bekerja sama,” ucap Erlita saat diwawancarai.

Secara fungsional, busana ini dikhususkan untuk menyikapi pandemi Covid-19. Busana ini memang dirancang khusus untuk terhindar dari beberapa virus maupun mikroba saat berada di tempat umum.

https://cdn.timesmedia.co.id/images/2021/06/14/Univ-Ciputra-b.jpg

“Baju tersebut anti mikroba dan anti air, waktu dipakai ngga keliatan itu baju APD, padahal itu bisa dibuat untuk APD tetap fashionable,” tambah Erlita.

Erlita menambahkan, untuk pembelian produk busana new normal buatan mahasiswa Universitas Ciputra tersebut, dapat langsung memesan atau open PO. Karena ada beberapa jenis busana memang diperjualbelikan dan ada yang harus memesan terlebih dahulu. (*)

Eratkan Kerja Sama dan Luncurkan Gedung Baru. Jawa Pos. 15 Juni 2021. Hal.19

SURABAYA, Jawa Pos – Universitas Ciputra menghelat pelantikan rektor dan jajarannya kemarin (14/6).  Dalam acara tersebut, Ir Yohannes Somawiharja MSc kembali dilantik menjadi rektor Universitas Ciputra (UC) untuk masa jabatan 2021-2025. Untuk memanfaatkan tersebut, Yohannes didampingi tiga wakil rektor.

Dalam pelantikan, Yohannes memaparkan program untuk 4 tahun ke depan.  Hubungan kerja sama akan terus dibangun dengan banyak pihak.  “Baik dengan PT dalam negeri maupun luar negeri akan dibangun,” ucap Yohannes.  juga akan membangun kemitraan dengan kalangan industri, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi profesi.

Yohannes mengatakan, hubungan kerja sama tersebut merupakan salah satu langkah mewujudkan Merdeka Belajar, Kampus Merdeka.  Dalam masa empat tahun ke depan, Yohannes dan jajarannya juga menargetkan tonggak baru bagi universitas. “Yaitu menjadi universitas terkemuka menuju pengakuan internasional,” tuturnya.

Di acara yang sama, peluncuran fasilitas gedung baru juga dilakukan.  UC Tower yang diluncurkan berisi ruang kelas baru, laboratorium, studio, hingga lapangan indoor.  “Dibangun setinggi 24 lantai, dilengkapi multipurpose hall yang bisa diisi hingga seribu orang,” jelas Wakil Rektor Bidang Operasional Victor Effendi.  (dya/c13/ady)

 

Sumber: Jawa Pos. 15 Juni 2021. Hal.19

Melihat Peluang Jadi Kunci Industri Kreatif Bertahan. Jawa Pos. 12 Juni 2021. Hal. 24. INA

SURABAYA, Jawa Pos – Tantangan harus dilihat sebagai peluang. Bukan melulu dengan sesuatu yang berat. Hal itu dijelaskan Dr Astrid Kusumowidagdo ST MM dalam talk show online tentang industri kreatif kemarin (11/6). Dekan fakultas industri kreatif Universitas Ciputra itu menjelaskan, banyak hal tentang peluang-peluang yang bisa diambil di bidang kreatif. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Saat banyak berada di rumah karena pandemi, kebiasaan-kebiasaan baru terus bermunculan. Dari naiknya penggunaan internet hingga apa pun yang dikerjakan secara digital. “Nah, kalau dilihat. Justru ini jadi potensi pasar yang baik,” terangnya dalam Instagram live di akun Universitas Ciputra itu.

Saat bermain dengan dunia digital, otomatis yang dimanjakan terlebih dahulu adalah mata. Visual menjadi poin utama untuk menarik siapa pun yang tengah mengakses dunia digital tersebut. “Akhirnya para pekerja kreatif bisa menjadi salah satu yang diunggulkan,” jelasnya.

Mulai bidang grafis, fotogarfi, ilustrasi, hingga video. “Apalagi saat pandemi banyak juga kan UMKM yang terus bermunculan,” sambungnya. Bukan hanya itu. Bidang kreatif di bagian interior juga ternyata diuntungkan karena pandemi ini.

Banyak di rumah membuat banyak orang lebih memperhatikan setiap sudut rumahnya. Terlebih saat ruang kerja juga pindah ke rumah. “Titik-titik kosong di dalam rumah akhirnya dipenuhi dengan barang interior baru,” ujarnya.

Hal lain yang menguntungkan si pembeli, bagaimana keadaan yang sudah semakin canggih tanpa harus bertemu langsung. “Barang tinggal dikirim dan menunggu di rumah,” lanjutnya. Hal itu pun bisa mengurangi kontak langsung agar tidak terpapar Covid.

Dari sinilah Astrid kembali menerangkan bahwa tantangan akan pandemi bisa menjadi peluang yang besar. “Yang justru berat adalah bagaimana meyakinkan seseorang itu dengan apa yang kita tawarkan,” terangnya. Bukan mencari alasan karena keadaan. Tapi, berpikir kreatif dan melihat peluang menjadi kuncinya. (ama/c13/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 12 Juni 2021. Hal. 24.

Inspirasi Kepemimpinan Heroik Bung Karno. Bali Post. 8 Juni 2021. Dewa GS. HTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Penulis Dosen Hotel & Tourism Business, Universitas Ciputra Surabaya)

Pada 6 Juni merupakan hari kelahiran Proklamator RI, Bung Karno (6 Juni 1901). Sang Proklamator dilahirkan di Surabaya, tepatnya di Kampung Pandean IV/40, bukan di Blitar sebagaimana dipahami selama ini. Berdekatan dengan tempat lahir Bung Karno, berdiri rumah kos HOS Tjokroaminoto, tempat Bung Karno indekos semasa sekolah bersama tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan negeri ini.

Merayakan Haul Bung Karno menarik untuk menyoroti sisi-sisi positif yang dimiliki Presiden pertama negeri ini, salah satunya adalah gaya dan praktek kepemimpinannya. Bung Karno bersama sosok pemimpin era pergerakan, adalah contoh praktik kepemimpinan heroik. Gaya kepemimpinan heroik semestinya secara alamiah dimiliki oleh setiap orang.

Kepemimpinan heroik berakar pada gagasan bahwa kita semua adalah pemimpin, dayanya berasal dari dalam, menjadi cara hidup dan bukan hanya sebatas tindakan, dan bahwa seluruh kehidupan kita penuh dengan kesempatan-kesempatan untuk memimpin. Kepemimpinan heroik tidak mengandalkan mekanisme perintah dan kontrol seperti sedianya dipahami dan dijalani pada model kepemimpinan umumnya.

Sebaliknya, kepemimpinan heroik mendasarkan pada empat hal, yaitu kesadaran diri, ingenuitas, cinta dan heroisme (Chris Lowney, 2005). Kepemimpinan heroik yang tampak pada pejuang angkatan 45 mampu menyemangati diri dan orang lain dengan cinta serta ambisi-ambisi dan hasrat-hasrat heroik untuk melakukan segala sesuatu secara tuntas dan prima. Terbukti, bahwa kepemimpinan saat itu secara efektif mampu menggerakkan hati banyak orang untuk turut berkorban sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Memang, praktik kepemimpinan senantiasa menghadirkan pribadi hebat yang memimpin orang lain. Namun, dalam kepemimpinan heroik, kehebatannya terutama terletak pada kemampuan pemimpin untuk mengidentifikasi dan membuka potensi kepemimpinan orang lain yang tersembunyi, bukan kehebatan memerintah, mengontrol dan memberikan punishment secara ketat.

Di situ, tampak bahwa kepemimpinan heroik tidak haus kekuasaan dan tidak menghendaki nasib buruk pada setiap orang yang dipimpin. Sebaliknya, dengan penuh cinta menghendaki supaya setiap orang yang dipimpin mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan lingkungan sosial di manapun mereka berada. Dan dengan demikian mereka dapat menyemangati orang yang lain untuk mempraktikkan hal yang serupa.

Dewasa ini, kerancuan yang vital berasal dari visi kepemimpinan yang sempit. Para pemimpin dikira hanyalah mereka yang mengepalai orang-orang lain, yang membuat dampak transformatif, dan yang melakukan itu dalam jangka waktu pendek (serba instan). Semakin cepat mereka melakukan itu, semakin transformatif dampaknya, dan semakin besar jumlah orang yang terkena olehnya, semakin panas mereka tercatat pada termometer kepemimpinan.

Karenanya, apa yang sering dianggap kepemimpinan dewasa ini adalah sebuah substitusi dangkal yang menggantikan substansi kepemimpinan dengan teknik kepemimpinan. Esensi kepemimpinan yang pertama dan paling utama adalah kerelaan untuk berkorban, sekalipun itu pengorbanan nyawa seperti yang dialami oleh angkatan 45. Sebab hanya dengan pengorbanan, kadar rasa cinta yang mendalam pada komunitas yang dipimpin dapat teruji. Di situ, kita dapat menemukan sosok pemimpin dalam diri seorang ayah, seorang guru, seorang anak, juga buruh perusahaan yang berkorban untuk orang lain.

Kepemimpinan Bung Karno memberikan sumbangan pencerahan, pencerdasan dan transformasi humanisasi pada bangsa Indonesia. Keputusan politik Bung Karno terbukti sesuai tantangan jaman kala itu, di tengah derita kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaannya.

Kini sepeninggal Bung Karno, Indonesia masih dihadapkan pada problem akut yang membutuhkan gaya kepemimpinan heroik mengatasi beraneka kesulitan dan keterbelakangan bangsa. Kolaborasi antara kapasitas dan integritas diri dengan keberanian untuk mengedepankan kesejahteraan umum di atas segala-galanya adalah esensi heroic leadership konteks kekinian. Bung Karno teladan yang baik seorang pemimpin heroik, khususnya bagi penerus bangsa ini.

 

Sumber: Bali Post. 8 Juni 2021

 

Menelusuri Jejak Bangunan Bekas Apotek Surabaya di Jalan Rajawali (5). Memiliki Jendela Besar, Atap Dibuat Sesauai Iklim Indonesia. Radar Surabaya. 4 Juni 2021. Hal.3. Freddy H Istanto. INA

Namun, jeruji tersebut kini tertutup oleh papan bekas reklame.  Sekilas dilihat dari Jalan Rajawali tidak seindah pada zaman dahulu.  “Untuk atap bangunan bekas apotek masih asli, belum pernah diganti,” terangnya.  Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto menambahkan, bentuk bangunan lawas tersebut disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia.  “Bentuk atap (bangunan) menjawab kondisi tropis di Indonesia,” jelasnya.  (bersambung/nur)

Salah satu keunikan bangunan bekas Soerabayasche Apothaek (Apotek Surabaya) adalah memiliki jendela dengan ukuran.  Jendela tersebut bisa dilihat langsung di lantai dua gedungnya.

Moh, Mahrus Wartawan

Radar Surabaya

ADANYA jendela tersebut berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk dan sirkulasi udara. Bangunan memiliki empat jendela besar di sisi lantai satu.  Sementara itu, pada bagian gedung bekas Apotek Surabaya itu kiri lantai dua.  Kemudian tiga jendela besar di sisi kiri bangunan depan jendela besar.  Namun kini sudah ditutup.

Pegiat Purwono mengatakan, pada bangunan bekas apotek yang ada di Jalan Rajawali Nomor 19 itu memang memiliki jendela berukuran jumbo.  Jendela tersebut sengaja dibuat besar karena untuk ventilasi udara.  “Selain itu juga untuk pencahayaan, ujar Nanang.

Pria yang juga merupakan salah satu anggota Begandring Soerabaia lantai dua terdapat dua Sejarah Surabaya Nanang ini menyatakan, jendela kini sudah diubah.  Menurut dia, terlebih dahulu yang terbuat dari kayu jati.

“Sekarang itu baru, pakai kaca nako. Asalnya dulu ya kayu,” ungkapnya kepada Radar Surabaya.

Jendela tersebut memiliki ukuran lebar sekitar 1 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter.  Untuk bagian depan bangunan lantai satu jendela sudah tidak ada.  Kini mengganti pintu jenis roling door dan pintu kayu di bagian yang difungsikan sebagai toko alat tulis dan tempat foto kopi.

Sementara untuk balkon lantai dua terlebih dahulu menggunakan jeruji kayu.  Jeruji tersebut terpasang rapi dan memperindah bangunan bila dipandang dari depan Jalan Rajawali.

Namun, jeruji kini tertutup oleh papan bekas reklame.  Sekilas dilihat dari Jalan Rajawali tidak seindah pada zaman dahulu.  “Untuk atap bangunan bekas apotek masih asli, belum pernah diganti,” terangnya.

Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto menambahkan, bentuk bangunan lawas tersebut disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Bentuk atap (bangunan) menjawab kondisi tropis di Indonesia,” jelasnya.  (bersambung/nur)

Sumber: Radar Surabaya. 4 Juni 2021

Klinong-klinong ke Pasar Pabean. Surya. 11 Juni 2021. Hal.6. LIB

 

DALAM rangka peringatan HUT Kota Surabaya ke-728 pada Senin (31/5/2021), Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya mengadakan kegiatan virtual bertajuk Klinong-klinong Jalan Panggung dan Pasar Pabean bareng Si Payung Merah.  Acara yang dikemas dalam bentuk Instagram Live itu memang sengaja memilih area itu karena memiliki sejarah panjang.  Pasar Pabean merupakan salah satu cagar budaya bahkan dalam beberapa literatur disebut sebagal salah satu pasar tertua di Surabaya.

Acara yang dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB itu dipandu oleh Christye Dato Pango (pustakawan Universitas Ciputra Surabaya) sebagai pembawa acara dan mendapuk Si Payung Merah, Chrisyandi Tri Kartika sebagai narasumber.  Chrisyandi pustakawan Universitas Ciputra dan Ketua Komunitas Pernak-pernik Surabaya Lama.

Jalan Panggung merupakan salah satu area di kawasan kota lama Surabaya yang berada di tengah-tengah Kawasan Ampel dan Kembang Jepun.  Pada 2019, Pemerintah Kota Surabaya sempat melakukan revitalisasi sepanjang berupa pengecatan, pembuatan trotoar, dan pemasangan lampu hias serta permasangan paving block sepanjang jalan.  Alhasil saat ini jalan Panggung menjadi salah satu lokasi yang menarik wisatawan berkunjung ke kawasan wisata kota tua yang berada di jalan ini, di sudut kota ini.

“Teman-teman yang ingin berkunjung ke Jalan Pang-gung ini, usahakan hari Senin sampai Sabtu ya, kalau Minggu dipastikan tutup semua ini, sepi!” tutur Chrisyandi.

Selain banyak tempat foto menarik, Jalan Panggung memiliki atmosfer yang berbeda ketika dilewati. Keragaman budaya tampak di  jalan itu Bau harum rempah-rempah dan keberadaan pertokoan berarsitektur tradisional yang masih kental serta lampu hias eksotis menemani perjalanan

“DI Jalan Panggung ini juga banyak bangunan milik orang-orang etnis Tionghoa.  Contohnya ini nuko dari zaman dulu.  Lantai bawah dipakai usaha atau bisnis, lantai atas dipakai tempat tinggal.  Di sini pun dulunya ada numah ketua perwakilan masyarakat Pakistan juga.” katanya.

Ke arah utara menuju Pasar Pabean suasana semakin ramai dengan lalu lalang warga dan pedagang yang membawa barang dagangannya. Di tengah menjamurnya pusat perbelan modern saat ini, Pasar Pabean yang telah berusia 150 tahun  tahun itu masih tetap eksis. Pasar Pabean merupakan pusat perdagangan palawija di Jawa Timur dan memiliki jenis dagangannya yang sangat tersegmentasi, yaitu ikan asin hingga ikan segar baik laut maupun air tawar.

Pasar itu dibangun pada tahun 1831, dan dibagi menjadi dua, yaitu area  pasar basah dan pasar kering Area pasar basah untuk jenis jualan serba ikan, sedangkan untuk pasar kering untuk aneka hasil bumi.

Yang membedakan Pasar Pabean dengan pasar lain di Pulau Jawa adalah tiga entitas suku yang hidup di dalam pasar itu.  Mereka adalah masyarakat Jawa.  Madura, dan Tlonghoa.

“Pasar ini dekat dengan berbagai etnis dan ini ada perjanjiannya berdasarkan peristiwa Geger Pacinan.”  jlas Chrisyandi.

Peristiwa Geger Pacinan yaitu peristiwa pertemuan Tionghoa melawan VOC pada 1740-1743. Akhirnya pemerintahan Hindia Belanda mengelompokkan lokasi tinggal warga berdasarkan etnis dengan harapan tidak akan terulang kembali melawan pemerintah kolonial saat itu.

“Pembagian ini masih ada lagi dengan putusan dari hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengatur, tidak hanya untuk etnis Tlonghoa, tetapi juga untuk suku bangsa Asia lainnya. termasuk Arab, Melayu, India, dan lainnya.”

Kehidupan pasar Pabean tampak sangat dinamis dan kompleks. Walaupun setiap masyarakat memiliki peran masing-masing. Latar belakang yang berbeda, dan strata tersendiri, namun hubungan yang sinergi tampak menyatu di pasar itu. Pun suasana pasar yang  hiruk-pikuk ditemani suara kipas angin (yang juga digunakan untuk mengupas kulit bawang merah) yang menggambarkan peran penting Pasar Pabean terha- dap berputarnya aktivitas ekonomi warga Surabaya.

Klinong-klinong virtual itu menunjukkan potret Pasar Pabean dan Jalan Panggung yang menyenangkan sisi keindahan  dan keharmonisan warga Surabaya yang plural dengan semangat kebersamaan yang kuat Itu semangat yang perlu dijaga, dihargai dan dikestarikan selalu.

 

Sumber: Surya. 11 Juni 2021

Inspirasi Kepemimpinan Heroik Bung Karno. balipost.com. 8 Juni 2021. Dewa GS. HTB

https://www.balipost.com/news/2021/06/08/196481/Inspirasi-Kepemimpinan-Heroik-Bung-Karno.html

Oleh Dewa Gde Satrya

Pada 6 Juni merupakan hari kelahiran Proklamator RI, Bung Karno (6 Juni 1901). Sang Proklamator dilahirkan di Surabaya, tepatnya di Kampung Pandean IV/40, bukan di Blitar sebagaimana dipahami selama ini. Berdekatan dengan tempat lahir Bung Karno, berdiri rumah kos HOS Tjokroaminoto, tempat Bung Karno indekos semasa sekolah bersama tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan negeri ini.

Merayakan Haul Bung Karno menarik untuk menyoroti sisi-sisi positif yang dimiliki Presiden pertama negeri ini, salah satunya adalah gaya dan praktek kepemimpinannya. Bung Karno bersama sosok pemimpin era pergerakan, adalah contoh praktik kepemimpinan heroik. Gaya kepemimpinan heroik semestinya secara alamiah dimiliki oleh setiap orang.

Kepemimpinan heroik berakar pada gagasan bahwa kita semua adalah pemimpin, dayanya berasal dari dalam, menjadi cara hidup dan bukan hanya sebatas tindakan, dan bahwa seluruh kehidupan kita penuh dengan kesempatan-kesempatan untuk memimpin. Kepemimpinan heroik tidak mengandalkan mekanisme perintah dan kontrol seperti sedianya dipahami dan dijalani pada model kepemimpinan umumnya.

Sebaliknya, kepemimpinan heroik mendasarkan pada empat hal, yaitu kesadaran diri, ingenuitas, cinta dan heroisme (Chris Lowney, 2005). Kepemimpinan heroik yang tampak pada pejuang angkatan 45 mampu menyemangati diri dan orang lain dengan cinta serta ambisi-ambisi dan hasrat-hasrat heroik untuk melakukan segala sesuatu secara tuntas dan prima. Terbukti, bahwa kepemimpinan saat itu secara efektif mampu menggerakkan hati banyak orang untuk turut berkorban sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Memang, praktik kepemimpinan senantiasa menghadirkan pribadi hebat yang memimpin orang lain. Namun, dalam kepemimpinan heroik, kehebatannya terutama terletak pada kemampuan pemimpin untuk mengidentifikasi dan membuka potensi kepemimpinan orang lain yang tersembunyi, bukan kehebatan memerintah, mengontrol dan memberikan punishment secara ketat.

Di situ, tampak bahwa kepemimpinan heroik tidak haus kekuasaan dan tidak menghendaki nasib buruk pada setiap orang yang dipimpin. Sebaliknya, dengan penuh cinta menghendaki supaya setiap orang yang dipimpin mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan lingkungan sosial di manapun mereka berada. Dan dengan demikian mereka dapat menyemangati orang yang lain untuk mempraktikkan hal yang serupa.

Dewasa ini, kerancuan yang vital berasal dari visi kepemimpinan yang sempit. Para pemimpin dikira hanyalah mereka yang mengepalai orang-orang lain, yang membuat dampak transformatif, dan yang melakukan itu dalam jangka waktu pendek (serba instan). Semakin cepat mereka melakukan itu, semakin transformatif dampaknya, dan semakin besar jumlah orang yang terkena olehnya, semakin panas mereka tercatat pada termometer kepemimpinan.

Karenanya, apa yang sering dianggap kepemimpinan dewasa ini adalah sebuah substitusi dangkal yang menggantikan substansi kepemimpinan dengan teknik kepemimpinan. Esensi kepemimpinan yang pertama dan paling utama adalah kerelaan untuk berkorban, sekalipun itu pengorbanan nyawa seperti yang dialami oleh angkatan 45. Sebab hanya dengan pengorbanan, kadar rasa cinta yang mendalam pada komunitas yang dipimpin dapat teruji. Di situ, kita dapat menemukan sosok pemimpin dalam diri seorang ayah, seorang guru, seorang anak, juga buruh perusahaan yang berkorban untuk orang lain.

Kepemimpinan Bung Karno memberikan sumbangan pencerahan, pencerdasan dan transformasi humanisasi pada bangsa Indonesia. Keputusan politik Bung Karno terbukti sesuai tantangan jaman kala itu, di tengah derita kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaannya.

Kini sepeninggal Bung Karno, Indonesia masih dihadapkan pada problem akut yang membutuhkan gaya kepemimpinan heroik mengatasi beraneka kesulitan dan keterbelakangan bangsa. Kolaborasi antara kapasitas dan integritas diri dengan keberanian untuk mengedepankan kesejahteraan umum di atas segala-galanya adalah esensi heroic leadership konteks kekinian. Bung Karno teladan yang baik seorang pemimpin heroik, khususnya bagi penerus bangsa ini.

Penulis Dosen Hotel & Tourism Business, Universitas Ciputra Surabaya

Menelusuri Jejak Bekas Bangunan Apotek Surabaya di Jalan Rajawali (2)_Bergaya Arsitektur Indische Empire. Radar Surabaya. 1 Juni 2021. Hal.3. Freddy H Istanto. INA

Seperti halnya bangunan kuno peninggalan Belarusia, gaya arsitektur bangunan biasanya dipengaruhi gaya yang sedang tren dan arsitektur atau budaya Kolonial. Seperti halnya bangunan Apotek Surabaya di Jalan Rajawali

Moh.  Mahrus Wartawan

Radar Surabaya

BANGUNAN kuno bekas apotek Surabaya yang ada di pojok Jalan Rajawali-Jalan Branjangan tersebut bergaya arsitektur indische empire. “Bangunan bekas Apotek bergaya arsitek-tur indische empire dari abad-19 dengan pilar-pilarnya yang kokoh,” ungkap salah satu anggota Begandring Soerabaia Nanang Purwono kepada Radar Surabaya.

Gaya indische empire adalah gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke-18 dan ke-19 sebelum terjadinya westernisasi pada kota-kota di Indonesia abad 20.

Mulanya gaya arsitektur tersebut muncul di kawasan pinggiran Batavia (Jakarta) sekitar abad ke-17, kemudian berkembang di daerah perkotaan yang terdapat banyak penduduk Eropa.

Bukti bangunan bekas apotek Surabaya bergaya arsitektur indische empire begitu terlihat saat memandang bangunan dari luar.  Mulai dari bentuk pilar yang cukup besar, dinding tebal, dan ventilasi lebar serta tinggi.

KHAS: Bangunan Apotek Surabaya Ini memiliki gaya arsitektur indische empire yang digunakan terlebih dahulu pada bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

Selain itu, bangunan ini juga memilik plafon yang tinggi dan menggunakan kayu.  “Bangunan beg va indis. (indische empire, Red) ini menjadi sangat langka di kawasan Kota lama Surabaya,” sebutnya.

Sementara itu Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto menambakan, dahulu kawasan Jalan Rajawali banyak ditemukan bangunan bergaya arsitektur indische empire.  “Rata-rata di situ, bergaya arsitektur indische empire style,” tukasnya.  (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 1 Juni 2021

Pandemi Bukan Momok Bagi Dunia Pariwisata. m.surabayapagi.com. 1 Juni 2021. Agoes Tinus Lis Indrianto. HTB

https://m.surabayapagi.com/read/pandemi-bukan-momok-bagi-dunia-pariwisata

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Banyak yang mengkhawatirkan eksistensi sektor pariwisata di kala pandemi. Namun, tidak demikian dengan Agoes Tinus Lis Indrianto yang merupakan Wakil Ketua bidang Litbang dan IT Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur.

Pria yang sekaligus Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra tersebut dengan lantang menyatakan bahwa sektor pariwisata tidak akan pernah tenggelam, termasuk oleh pandemi.

“Pariwisata itu dinamis. Memang, ada kalanya sektor pariwisata mengalami kemerosotan. Tapi itu hanya sementara. Setelah itu saya yakin sektor pariwisata dapat melonjak kembali. Kenapa saya berani bilang seperti ini, ya karena sejarah dunia. Sejarah yang membuktikan bahwa pariwisata tidak pernah mati,” tuturnya kepada Surabaya Pagi, Selasa (1/6/2021)

Lebih lanjut, Agoes Tinus menjelaskan bagaimana keadaan pariwisata di Indonesia saat terjadi bom di Bali pada tahun 2002 silam.

“Kalau kita kembali ke belakang, itu pernah ada bom Bali tahun 2002. Pariwisata merosot semua porak poranda. Banyak kajian yang memprediksi bahwa pariwisata akan kembali membaik usai sepuluh tahun kedepan. Tapi kenyataannya apa, tidak sampai sepuluh tahun semua sudah kembali normal. Pariwisata membuktikan bahwa dirinya tidak akan mati sebegitu lama,” jelasnya.

Pencetus slogan Sparkling Surabaya itu menjelaskan, tidak akan ada yang bisa menghentikan hasrat berpariwisata. Hal ini sebenarnya bisa menjadi kabar baik bagi negara dengan populasi padat penduduk, termasuk Indonesia karena masih dapat mengandalkan wisatawan lokal.

Adapun yang harus menutup usahanya saat pandemi dimungkinkan oleh dua alasan. Pertama, mereka yang memang sudah bermasalah sebelum pandemi. Kedua, mereka yang gagal beradaptasi.

Dalam kesempatan yang sama Agoes Tinus juga mengakui bahwa pandemi menuntut pelaku pariwisata, termasuk hotel dan kuliner, untuk bisa beradaptasi. Artinya, diperlukan inovasi dan efisiensi untuk bisa mempertahankan sebuah bisnis di masa sulit seperti ini.

“Pelaku usaha seharusnya memperhatikan empat hal yaitu clean, health, safety, dan evinronment accessibility. Mereka harus bisa membuat pengunjung menjadi nyaman dan aman. Bagaimana mereka menciptakan efisiensi, tidak hanya mengurangi karyawan ya. Bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan sosial media. Bagi yang tidak beradaptasi, ya suffering,” ujarnya.

Terakhir, Agoes Tinus menegaskan bahwa pandemi tidak serta merta menjadi momok bagi dunia pariwisata. Sebaliknya, pandemi adalah ajang bagi pelaku usaha untuk meciptakan terobosan baru dengan berprinsip pada keamanan dan keselamatan.

“Bukan. Pandemi bukan momok. Seharusnya ini jadi alat refleksi untuk menciptakan efisiensi dan strategi baru. Manusia kan harus berusaha, berpikir. Mereka yang mau berusaha keras, masih banyak jalan. Mereka yang mau berusaha keras jumlahnya lebih banyak,” pungkasnya. La