Fakultas Kedokteran Selalu Diminati. Harian DI_S Way.17 Juni 2021.Hal.13

Ya, Fakultas Kedokteran (FK) selalu menjadi incaran. Padahal, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Di sejumlah kampus, para calon mahasiswa harus menyiapkan kocek berisi minimal setengah miliar rupiah. Itu pun tak menjamin mereka lolos.

Koordinator Marketing Universitas Ciputra (UC) Boby Iswandi mengatakan tingginya biaya pendidikan FK berbanding lurus dengan keperluan yang dibutuhkan. Misalnya keperluan praktik, pembiayaan fasilitas, sampai keperluan pendidikan lainnya.

Biaya uang pangkal yang harus dibayarkan Rp 360 juta. Itu belum termasuk uang kuliah per semester. Tetapi, uang itu bisa berkurang sesuai diskon yang diberikan oleh UC. Tak tanggung-tanggung, diskon itu bisa mencapai Rp 200 juta.

Meski begitu, UC sejatinya tidak mematok nilai sumbangan minimal. Semuanya sukarela. Namun, ada saja yang siap menyumbang dengan nilai fantastis. “Ada yang menuliskan sampai Rp 500 juta. Itu tidak termasuk uang pangkal loh” kata Bobby.

Walau sumbangannya bernilai fantastis, calon mahasiswa baru itu tidak diterima di UC. la gagal dalam ujian masuk. Berdasar analisis Boby, fenomena sumbangan gendut tersebut muncul karena begitu inginnya orang tua agar anaknya bisa jadi dokter. “Tapi kalau nilai ujiannya tidak mencukupi ya sama saja. Kami ingin menerima mahasiswa terbaik,” ujar alumnus UC itu.

Meski terbilang mahal, peminat FK UC tak pernah sepi. Setiap tahunnya ada 300 pendaftar yang memperebutkan bangku hanya 80.

Universitas Ciputra (UC) sudah berdiri sejak 2006. Tapi baru memiliki FK sepuluh tahun setelah kampus itu berdiri. Artinya, baru satu angkatan yang lulus pendidikan kedokteran. Sekarang angkatan tersebut masih masa koas.

UC juga memiliki keunikan. Sejak awal pendirian FK, pihak UC ingin mencetak dokter pencegah. Bukan dokter yang hanya bisa mengobati. Ciri itu yang membedakan UC dengan FK di kampus lainnya. (Doan Widhiandono-Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian DI_S Way.17 Juni 2021.Hal.13

Pariwisata Bali & Kembalinya Turisme Indonesia. bisnisindonesia.id. I Dewa GS. HTB

https://bisnisindonesia.id/article/opini-pariwisata-bali-kembalinya-turisme-indonesia

OPINI : PARIWISATA BALI & KEMBALINYA TURISME INDONESIA

Secara nasional, dibukanya pariwisata Bali untuk wisman berdampak signifikan pada citra pariwisata Indonesia.

Dewa Gde Satrya

Jun 26, 2021

 

OPINI : Pariwisata Bali & Kembalinya Turisme Indonesia

Kebun Raya Bedugul di Tabanan, Bali. – Antara/Nyoman Budhiana

Meski demikian, sebagai bukti keseriusan setiap stakeholder pariwisata Bali membuka diri pada wisatawan, protokol kesehatan dan CHSE (cleanliness, healthy, safety, environment sustainability) dilakukan setiap lini terkait pariwisata. Tak hanya itu, Bali telah menguji coba 3 destinasi yang masuk dalam Travel Corridor Arrangement (TCA), yakni Sanur, Ubud dan Nusa Dua, sebagai ‘etalase’ kesiapan pariwisata Bali di era new normal saat ini.Secara nasional, dibukanya pariwisata Bali untuk wisman berdampak signifikan pada citra pariwisata Indonesia. Karena itu, ada harapan menyertai upaya pembuatan grand design bagi kedatangan wisman yang dibuat oleh Pemprov Bali.Di ranah masyarakat dan pelaku wisata, akhir tahun lalu ‘gemuruh’ kesiapan dan kerinduan akan dibukanya kembali Bali pada wisman sedikit terungkap pada rilis video clip bertajuk “Bali Kembali” dari youtube channel musisi Bali, I Wayan Balawan. Di clip tersebut, tampak dukungan sejumlah musisi dan talenta di Bali dalam semangat bersama memberi motivasi ke pelaku pariwisata Bali di masa-masa sulit ini.Bali sebagai etalase pariwisata Indonesia, menjadi barometer keterpurukan, dan sebaliknya kebangkitan, pariwisata Indonesia di masa pandemi Covid-19.

Standard operating procedure (SOP) menyambut kedatangan wisman telah dirumuskan, mulai dari kedatangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai telah diatur beberapa hal teknis. Antara lain, dilakukan PCR, pengecekan wisman di Kantor Kesehatan Pelabuhan, swab, pengecekan imigrasi, penjemputan taksi yang tersertifikasi CHSE, pelaksanaan karantina dan rujukan rumah sakit bila hasil swab positif.

Kualitas wisatawan semakin penting, menyetarakan kembali titik keseimbangan dengan dampak negatif dari orientasi pada jumlah kunjungan. Namun secara teknis hal tersebut belum diatur dan dipikirkan secara detail. Meski demikian, rintisan untuk menerima tamu secara lebih selektif perlu dimulai.

Dasarnya adalah, semakin dibutuhkan tamu mancanegara yang berkualitas, tidak lagi mengejar jumlah kunjungan, tetapi tingkat pengeluaran dan lama tinggal. Asumsinya, saat ini dengan tingkat kunjungan yang ada, di masa selanjutnya perlu dipertimbangkan potensi tingkat konsumsi dan perilaku yang tidak merugikan kehidupan sosial di destinasi yang dikunjungi.

Segmentasi Wisata

Model wisata yang ditawarkan pun perlu semakin diprioritaskan pada segmentasi yang relevan dengan wisatawan yang berkualitas. MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), segmentasi pasar MICE hampir dipastikan memiliki daya beli yang bagus, lebih well educated, dan memiliki kecenderungan perilaku yang adaptif dengan norma sosial di dalam negeri. Karena itu, segenap potensi yang dimiliki daerah, dianjurkan berbenah lebih serius untuk mendatangkan tamu dari segmentasi industri ini.

Event yang kerap mendatangkan wisatawan berkualitas terdiri dari event budaya, olahraga dan musik. Lombok misalnya, dengan kehadiran Mandalika yang akan memiliki sirkuit MotoGP dan Formula 1, akan menarik minat berkunjung para pecinta olah raga tersebut.

Sport tourism menjadi event berkualitas yang diharapkan juga akan mampu menarik segmen wisatawan. Bahkan kabarnya, potensi pasar internasional untuk dua olahraga itu diperkirakan tidak hanya disediakan akomodasi di Lombok, tetapi juga Bali.

Dampak berganda dari sport tourism tidak hanya bagi tempat penyelenggaraan dan tidak terbatas pada waktu penyelenggaraan. Citra daerah sebagai tuan rumah penyelenggara event juga akan terdongkrak positif.

Selain itu, segmentasi ekowisata, jenis wisata yang menyelaraskan kelestarian alam dan budaya dengan kegiatan wisata berbasis masyarakat ini, kurang tergarap dengan baik di Indonesia. Segmentasi ekowisata meskipun memiliki karakter selektif dalam kunjungan, tetapi diproyeksikan memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan penulis dengan pelaku usaha adventure, diinformasikan bahwa pengeluaran per orang untuk wisatawan asing untuk mendaki gunung di Indonesia di atas Rp 100 juta dengan waktu seminggu. Wisatawan ekowisata lebih serius dan niat dalam berwisata.

Melalui momentum perumusan grand design kedatangan wisman di Bali, prinsip dan praktik responsible tourism sebagai bagian dari gelombang baru new tourism menjadi market leader yang menjadi salah satu pertimbangan penting manakala seseorang melakukan perjalanan wisata ke suatu daerah atau negara, layak untuk mulai diterapkan di Bali.

Sebagai ‘etalase’ pariwisata Indonesia, Bali telah memikat banyak orang untuk datang. Kiranya kebangkitan pariwisata Bali, dengan nantinya dibukanya Bali untuk wisman, akan mendorong kembalinya turisme Indonesia.

Dewa Gde Satrya, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya
Editor : Dewa Gde Satrya

Gedug Crystal Palace di Jalan Embong Malang, 24 Tahun Mangkrak. Pembangunan Sempat Akan Dilanjutkan Tahun Ini. Harian Disway. 29 Juni 2021. Hal.6-7. INA. Freddy H Istanto

Di sebelah barat tower-tower megah Tunjungan Plaza terdapat satu bangunan mangkrak. Dibangun era Presiden Soeharto, tapi terpaksa berhenti saat krisis moneter. Pembangunar tidak dilanjutkan setelah reformasi hingga kini. Sudah lima kali Indonesia ganti presiden, gedung mangkrak itu tetap tanpa perubahan.

Dulu, tahun 90-an, kami para arsitek menunggu gedung itu jadi. Inilah proyek monumental di segitiga emas Surabaya yang sangat futuristik,” ujar Dosen Universitas Ciputra Freddy H. Istanto kemarin (28/6), Gedung mulai dibangun pada 1991. Desainnya jadi perbincangan di kalangan arsitek dan akademisi

Arsiteknya didatangkan langsung dari Amerika. Roger Goodhill namanya, Freddy baru tahu ternyata sang arsitek menikah dengan mahasiswinya. la mendapat kabar bahwa Roger sudah meninggal dua tahun lalu di usia 50 tahun pada 9 November 2019.

Mengapa desain Roger jadi perbincangan? Freddy mengatakan belum banyak bangunan bergaya futuristik di Indonesia apalagi di Surabaya di awal 90-an. Dinding fasadnya full kaca. Ada desain melengkung di balkon setiap lantainya. “Ini kita bicara 90-an tho ya. Kalau sekarang yang futuristik sudah telecekan (banyak sekali,” katanya.

Maka arsitek menunggu desain dari Roger dieksekusi. Tunjungan Plaza (TP) sudah ada saat itu. Tapi belum semegah dan setinggi sekarang, TP 6 masih memegang rekor sebagai gedung tertinggi di Surabaya dengan 52 lantai setinggi 215 meter.

Freddy membayangkan, jika gedung ini jadi, maka proyeknya akan sangat monumental Akan jadi ikon kota, “Sekarang sudah telat Sudah koduluan TP” kata Direktur Surabaya Haritage Society atau Sankat Poesaka Soerabaia itu.

Sayang proyeknya mandek saat krisis monoter 1907. Arsitek seperti Freddy tentul sangat kecewa. Proyek itu sebenarnya sudah tuntas secara konstruksi. Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan fasad kaca serta detailnya. Begitu juga interior gedung. “Kalau dilihat itu, Eman (sayang) banget,” lanjutnya.

Meski sudah 30 tahun berdiri (dihitung sejak awal dibangun), Freddy masih yakin konstruksi bangunan masih kukuh. Masih sangat mungkin untuk dilanjutkan.

Cuma, prosesnya harus melalui asesmen dari pakar teknik sipil. Asalkan beton dan rangka besinya tidak termakan korosi, Freddy yakin gedung masih bisa digunakan.

Gedung itu milik PT Mas Murni Indonesia. Dulu terkenal di bursa efek dengan sebutan PT MAMI. Merekalah yang punya Hotel Garden Palace di seberang kantor DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso.

Freddy mengatakan, seharusnya proyek mangkrak itu dinamai gedung Crystal Palace. Saudaranya Garden Palace. “Rencana untuk apartemen,” katanya.

Basuki Wibowo, tinggal di belakang gedung mangkrak itu. la menyaksikan proses pembangunan gedung yang dilakukan pada 1991-1997. Ia tak tahu mengapa proyek itu tidak segera dilanjutkan. “Katanya mau diambil alih pemkot,” ujar pria 40 tahun itu.

Pemkot Surabaya memang sempat memunculkan wacana untuk mengintervensi sejumlah proyek gedung mangkrak 9 tahun lalu. Setidaknya ada 10 gedung mangkrak yang dianggap mengganggu estetika kota.

Semua pemilik gedung dikumpulkan. Mereka ditanya apa masalahnya? Kalau masalah ada di pemerintah, pemkot siap membantu. Jika ada izin yang ruwet, pemkot akan mempermudah prosesnya. Cuma rata-rata masalah gedung mangkrak itu ada di internal perusahaan masing-masing.

Kabid Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Surabaya Lasidi masih SMP saat gedung itu dibangun. “Saya masuk pemkot tahun 2006 gedung itu sudah mangkrak,” ujarnya.

Dua tahun lalu PT Mas Murni mendatangi pemkot. Mereka berencana melanjutkan proyek itu pada 2021. Cuma ditunggu sampai sekarang, belum ada tanda-tanda proyek dilanjutkan.

Lasidi menduga perusahaan masih kesulitan gara-gara pandemi. Bisnis properti masih mencoba bangkit. la cuma bisa mendoakan semoga perusahaan dapat investor agar bangunan mangkrak itu menjalani takdimya sebagai salah satu landmark kota yang indah. (Salman Muhiddin)

 

Sumber: Harian Disway. 29 Juni 2021. Hal.6-7

Menelusuri Sejarah Jalan KH Mansyur (13- Habis). Meski Berganti Zaman, Tetap Jadi Kawasan Ramai. Radar Surabaya. 23 Juni 2021. Hal.3. LIB. Chrisyandi

Sejak dahulu Jalan KH Mas Mansyur menjadi salah satu jalan utama yang penting dan strategis. Bahkan saat masih bernama Kampemenstraat, jalan ini dahulu menjadi salah satu akses penting bagi Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka dan seiring perkembangan zaman, jalan ini tetap men jadi salah satu jalan penting yang ramai.

Pada masa Pemerintah Kolonial Belanda, Jalan KH Mas Mansyur merupakan tempatnyn para perwira Belanda, Kawasan ini juga merupakan akses menuju Benteng Prins Hendrik

Kini, setelah Indonesia merdeka dan telah melewati beberapa mass, Jalan KH Mas Mansyur masih menjadi salah satu jalan yang terkenal, ramai, dan penuh historis

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, karena lokasinya di Kampung Arab, kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya sangat lekat dengan ciri khas Kampung Arab.

Apalagi berada tidak jauh dari kawasan wisata religi Sunan Ampel yang menjadi salah satu pusat syiar agama Islam sejak dulu, kehidupan masyarakat nya sangat dinamis menyesuai kan kondisi sosial ekonomi kawasan tersebut.

“Oleh karena itu, kawasan itu tetap menjadi salah satu sentra kegiatan ekonomi kuno di zaman modern di Surabaya ini. Yang dijual, disajikan, atau jasa yang ditawarkan di sana sangat lekat dengan ciri khas Kampung Arab,” jelasnya kepada Radar Surabaya.

Tak hanya toko dan para pedagang, di sana juga ada beberapa bangunan yang menjadi pusat kegiatan perekonomian masyarakatnya, seperti hotel, rumah makan, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, di sana juga berdiri sebuah ruh sakit yang merupakan fasilitas layanan kesehatan.

“Karena berada tak jauh dari pusat syiar Isla, di sana juga ada pondok pesan tren. Memang sangat lekat dan sesuai sekali dengan julukannya sebagai Kampung Arab,” imbuhnya.

Untuk aktivitas perdagangan di kawasan tersebut, sebagian besar barang dagangan, baik itu makanan dan barang lain d memang sangat lekat dengan timur tengah. (*/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Juni 2021. Hal.3.

Perlu Pengingat Agar Tidak Telat. Jawa Pos. 25 Juni 2021. Hal.15. FIK. Salmon Charles P

SURABAYA, Jawa Pos – Masih banyak pasien spesialis kandungan yang menunda kunjungan ke dokter atau klinik. Hal tersebut memang dipengaruhi rasa cemas dan takut akibat pandemi. “Memang kita menemukan adanya pasien yang pengobatannya jadi lebih lambat,” ucap dr Salmon Charles Pardomuan Tua Siahaan SpOG.

Kasus yang ditemukan tidak didominasi salah satu penyakit. Charles mengatakan, memang banyak pasien dengan tumor kandungan atau gangguan menstruasi yang menunda kunjungan. “Padahal, seharusnya begitu ada gejala, langsung ke dokter saja,” tuturnya. Hal tersebut dilakukan supaya gejala bisa segera ditangani dan kelainan tidak membesar.

Charles mengatakan, komunikasi antara pasien dan dokter juga harus terbangun. Pasien yang terbuka dengan kondisinya tentu memudahkan penanganan. “Pada kasus tertentu, secara telekonsul sudah bisa ditangani,” sambungnya. Misalnya, kasus gangguan menstruasi tertentu masih bisa diterapi dengan pemberian obat tanpa harus tatap muka.

Jika penanganan harus dilakukan dengan pertemuan langsung, Charles menekankan pasien tetap harus tepat waktu. Dokter dan pihak klinik juga memastikan protokol kesehatan ditaati untuk meminimalkan kemungkinan persebaran virus. “Sekarang RS atau klinik juga mulai mengingatkan pasien untuk taat jadwal kontrol,” tuturnya. Menurut dia, pengingat tersebut cukup berdampak pada kunjungan pasien setelah setahun pandemi berlangsung.

Pengingat dikirim H-1 jadwal kunjungan. Jika pada hari H pasien tidak datang, ada pihak RS atau klinik yang menanyakan ketidakhadiran. “Jadi, proaktif juga dari RS-nya. Itu memudahkan dokter,” imbuhnya. (dya/c7/ady)

 

Sumber: Jawa Pos. 25 Juni 2021. Hal.15.

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Gelar Lomba Cipta Menu. Jawa Pos. 25 Juni 2021. Hal. 17. CBZ

SURABAYA, Jawa Pos-Gerakan masyarakat makan ikan (gemar ikan) terus digaungkan. Dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) bekerja sama dengan PKK Surabaya untuk menggelar lomba cipta olahan ikan untuk menu anak-anak kemarin. Lokasinya di Sentra Ikan Bulak (SIB).

Ajang kompetisi itu menyeleksi perwakilan dari tiap kecamatan. Lomba diikuti 16 kecamatan. “Karena masa pandemi, lomba dibagi dalam dua gelombang, Seleksi berlangsung pada Senin (21/6) dan Selasa (22/6). Ada delapan tim yang beradu dalam -sehari. Setelah itu, diseleksi untuk majuke babak final,” ujar Kepala DKPP Surabaya Yuniarto Herlambang

Kemarin enam tim berhasil maju ke babak final. Dalam sesi tersebut, mereka diadu untuk memberikan rasa yang istimewa dari dua bahan ikan. Yakni, ikan patin dan ikan bandeng. Setiap tim harus menyajikan dua menu, Pertimbangan nutrisi dan rasa menjadi salah satu poin untuk menjadi juara.

Herlambang menyatakan, lomba itu bertujuan memunculkan kreasi baru dari olahan ikan. Sebab, binatang air tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Harganya pun terjangkau dan bahannya mudah didapat.

Parajuri berasal dari kalangan profesional. Mereka dari The Sages Institute dan Universitas Ciputra. Kurasi rasa hingga penyajian menjadi poin penilaian.

Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani menambahkan, pihaknya akan menggandeng peserta untuk menularkan ilmunya. Yakni, mengajari warga lain untuk mengolah ikan dengan cara yang berbeda. “Kami akan menjadikan teman-teman itu sebagai narasumber. Mentransfer ilmunya dan menyosialisasikan kepada yang lain bagaimana cara mengolah ikan. Dari yang tidak suka ikan, kemudian gemar makan ikan karena olahannya tidak bau amis dan enak,” tuturnya.

Lomba itu sekaligus bertujuan membangkitkan kunjungan ke SIB. Tidak hanya menyuguhkan kuliner khas ikan, tempat itu pun bisa digunakan untuk mengadakan event yang menarik. “Memang yang kami canangkan seperti itu. Keberadaan SIB bisa dimanfaatkan sekaligus memberikan dampak untuk pelaku usaha di sini.” (gal/c12/dio)

 

Sumber: Jawa Pos. 25 Juni 2021. Hal. 17.

Dosen Universitas Ciputra Surabaya Menerima Hibah 400 jt untuk Meneliti Start-up di Indonesia. timesindonesia.co.id. 25 Juni 2021

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/354898/dosen-universitas-ciputra-surabaya-menerima-hibah-400jt-untuk-meneliti-startup-di-indonesia

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Pada tahun 2021, 3 akademisi dari Universitas Ciputra atau UC Surabaya mendapatkan kepercayaan dari pemerintah Indonesia untuk melakukan penelitian tentang start-up.

Secara khusus, Dr. Ir. Tony Antonio, Agoes Tinus Lis Indrianto, Ph.D dan Liestya Padmawijaya, S.T.,M.M,  menerima dana hibah penelitian dari DIKTI melalui skema Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi, sebesar Rp 400 jt selama 2 tahun.

Hibah ini untuk membiayai penelitian mereka  dalam mencari tahu pola kepemimpinan yang bagaimana yang bisa membawa kesuksesan dari start up.

Dalam penelitian ini, mereka mengindikasikan beberapa masalah dalam pendirian start-up seperti mentalitas pemimpin, inovasi, kurangnya pengetahuan umum dan ekosistem.

Secara lebih mendalam, penelitian ini akan mengkaji pengaruh perilaku pemimpin terutama pemimpin yang melayani – Servant Leadership – terhadap inovasi tim pada start-up dengan ambidexterity sebagai mediasi.

Populasi penelitian adalah start-up pada tiga kota utama yaitu Jakarta, Surabaya dan Bandung. Dalam mengumpulkan data, maka akan ada kuesioner diberikan pada anggota start-up; dan juga akan ada banyak diskusi yang mendalam dengan para pemimpin (CEO) dari para start up tersebut. Adapun secara lebih detail tujuan penelitian untuk mencari tahu bagaimana perilaku pemimpin yang melayani (Servant Leadership behavior) dapat mempengaruhi inovasi tim.

Kemudian mempelajari bagaimana penerapan proses mediasi dan moderasi yang membantu mendorong pemimpin untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi pada tim start up.

Dr. Tony Antonio, yang sekaligus adalah Ketua dari Sekolah Bisnis Universitas Ciputra di Makasar, menyampaikan bahwa beberapa variable yang akan ditelaah antara lain kemampuan untuk mengoptimalkan yang sudah kelihatan dan menggali yang belum kelihatan (ambidexterity) sebagai variable mediasi, iklim didalam tim (team climate), dan prototipikalitas pemimpin (leader’s prototypicality).

Secara garis besar penelitian ini mempunyai manfaat ganda. Yang pertama adalah manfaat praktis; dimana penelitian ini akan membantu pendiri start-up untuk mengembangkan perilaku kepemimpinan yang tepat ketika memimpin anggota start up untuk berinovasi.

Yang kedua adalah manfaat teoritis; yaitu hasil penelitian akan memberikan berkontribusi pada pengetahuan dalam bidang inovasi, inovasi tim, perilaku kepemimpinan yang melayani dalam start-up.

Disampaikan oleh Agoes Tinus Lis Indrianto, Ph.D , bahwa hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih dalam pengembangan SDM (sumber daya manusia) , khususnya untuk meningkatkan kualitas start-up di Indonesia.

Selain itu, diharapkan juga luaran dari penelitian ini berupa artikel ilmiah yang akan dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi dan juga dipresentasikan di seminar internasional, sehingga bisa berkontribusi pada pengembangan kajian akademik tentang start-up di Indonesia. (*)

494 Tahun Jakrta Berperadaban Tinggi. Kontan. 22 Juni 2021. Hal.15. I Dewa GS. HTB

Pada 22 Juni ini, Kota Jakarta genap 494 tahun.  I Kemajuan sektor transportasi menjadi wajah baru di ibu kota negara Indonesia ini.

Pada peresmian transportasi massal Moda Raya Terpadu (MRT) beberapa tahun lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan perlunya seluruh masyarakat membangun peradaban baru, mulai dari budaya mengantre, bagaimana masuk ke MRT dan tidak terlambat, dan tidak terjepit pintu.

Di peringatan ulang tahun Jakarta ini, kepala nega menyadari bahwa hal itu mengingatkan baru bahwa hal itu mudah, hal-hal yang berkaitan dengan perilaku-perilaku baru di masyarakat.  Pernah beredar foto viral di media sosial, perilaku pengguna MRT yang tidak tertib dan memanfaatkan stasiun MRT tidak pada tempatnya.

Tradisi mengantre dan memanfaatk an hasil pembangunan dengan cara yang pantas, merupakan elemen pokok yang teramati bai peradaban bangsa.  Ketiadaan budaya mengantri berdampak negatif dalam kehidupan sosial, terjadinya kecelakaan lalu lintas dan jatuhnya korban yang selayaknya tidak perlu terjadi.

Salah satu bukti fatal budaya mengantre pada kecelakaan maut kereta api (KA) beberapa tahun lalu.  Penyelidikan tabrakan KA 1131 dengan truk tangki B 9265 SEH yang menyebabkan tujuh orang tewas dan lebih dari  70 orang terluka karena truk tangki menyerobot pintu lintasan KA.

Manajemen KAI tengah melakukan transformasi mendasar menuju perusahaan jasa (Service company) yang mengubah orientasi dari orientasi produk ke konsumen (consumer oriented).  Upaya tersebut seolah luluh-lantah oleh sikap dan mentalitas masyarakat.

Pentingnya mentalitas baru yang terkoneksi dengan peradaban baru mensyaratkan kemauan syarakat untuk belajar dengan tata aturan baru, khususnya dengan bijak menggunakan kemajuan infrastruktur.  Dalam penggunaan Jalan Tol misalnya, dibutuhkan kesadaran untuk berkendara dengan kecepatan yang sesuai aturan, kesiapan kendaraan sebelum melintas, termasuk kesiagaan pengendara.

Kebiasaan ini untuk membangun peradaban baru tersambungnya semua daerah di Jawa dalam jalan tol tol Trans Jawa sepanjang lebih dari 1.000 km.  Ketidaksiapan membangun kebiasaan baru menyisakan beberapa masalah yang seharusnya tidak terjadi.

Pertama, diperhatikan.  Seperti yang terjadi banjir di Jalan Tol berbayar yang terlihat di ruas jalan tol Ngawi-Kerto-sono di Madiun pada Kamis (7/3) silam. Kedua, kecelakaan maut setidaknya terjadi di empat titik yang berbeda, di jalan tol Sumo pada akhir September dan awal Oktober 2018, dan dua kecelakaan maut pada Maret ini.  Pada hari Jumat (1/3) kecelakaan maut di tol Madiun KM 604 dan Minggu (3/3) dini hari di jalan tol Semarang-Batang yang menimpa rombongan Bupati Demak.

Karenanya, MRT yang telah beroperasi di Jakarta kurang lebih dua tahun yang lalu, membutuh- kan dukungan masyarakat untuk membangun peradaban baru.

Membangun peradaban

Membangun peradaban bersama MRT dapat dianggap sebagai latihan membangun mentalitas berperadaban maju.  Sebagai bangsa, kehadiran MRT terkait pula dengan kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Jakarta kabarnya menjadi salah satu venue bila Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Pemerintah terus berpacu melakukan pembangunan infrastruktur baik yang terkait langsung dengan  olah raga maupun yang mendukung yang berkualitas dan berstandar internasional.  Infrastruktur yang terkait langsung terletak pada fasilitas dan standar kualitas arena pertandingan berstandar internasional.

Sarana pendukung mulai dari airport, transportasi (salah satunya MRT), akomodasi hotel, template pembangunan dan sarana rekreasi, rumah sakit, keamanan dan kebersihan, dan sebagainya. Persiapan di Beijing beberapa tahun lalu misalnya, peminatan memberlakukan kebijakan terkait dengan peredaran moda transportasi, khususnya di area pertandingan.

Kini, kesiapan penting lainnya terkait mentalitas bangsa Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade menemukan relevansinya pada kehadiran MRT.  Rendahnya budaya dan praktik fair play di dunia olahraga misalnya, bisa menjadi cerminan suatu bangsa.  Mentalitas tidak siap mengejar ketertinggalan dan kekalahan dengan kerja cerdas adalah bukti rendahnya praktik hidup fair play.

Menyibak skandal rendah pengaturan skor Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang terungkap tahun lalu, martabat sepak bola sebagai olah raga menjadi maknanya tatkala orientasinya hanya pada kemenangan. Padahal, kekalahan justru kerap kali dapat dikenang manis oleh para penonton sebagai permainan yang indah.

Permainan sepak bola tidak semata-mata bagaimana melatih saya memiliki strategi yang efektif untuk para pemainnya supaya bisa menang, tetapi bagaimana mereka menyajikan hiburan yang menyenangkan bagi pemirsa.

Sepak bola dengan tegas melibatkan penontonnya untuk berani bertahan di antara kemenangan dan kegagalan.  Karena itu, sepak bola dapat mengajari orang untuk mengalami realisme nasib. Dan untuk mengantisipasi nasib buruk, bola harus digelindingkan dengan pemikirar, energi dan keahlian.

Seperti halnya kehidupan itu sendiri, walau banyak duka lara, toh masih harus diterima dan dilului.  Walau banyak kegetiran nasib ketidakadilan, toh mesti harus diterima sebagai ‘tendangan’ kehidupan. Walau kelompok kuat yang dikalahkan dengan kekuatan modal dan kekuasaan, masih banyak celah bagi rakyat untuk meraih kebahagiaan dan kenangan.  Dalam sepak bola dan olah raga hal itu sangat mengejutkan (Sindhunata, 2002).

Budaya fair play identik dengan prestasi.  Atas berbagai prestasi bangsa Indonesia di ranah olah raga internasional, di situ pulalah bangsa yang dikenal dan dikenang sebagai bangsa yang adil.  Hal penting terkait MRT sekaligus membangun mentalitas sebagai tuan rumah Olimpiade 2032, menyangkut niatan sebagai bangsa yang fair play, budaya antri dan berperadaban tinggi.  Selamat Ulang Tahun ke-494 tahun Jakarta.

 

Sumber: Kontan. 22 Juni 2021. Hal.15.

Netnografi Sebagai Alternatif Penelitian di Tengah Keterbatasan Akses Realitas Fisik. 22 Juni 2021. Luky Patricia W. ACC

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/354038/netnografi-sebagai-alternatif-penelitian-di-tengah-keterbatasan-akses-realitas-fisik

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Saat ini ruang gerak dan interaksi kita dengan sesama secara fisik masih terbatas oleh karena pandemi covid 19 yang masih belum juga berakhir di Indonesia. Berbagai kebijakan yang diarahkan untuk melakukan pembatasan tatap muka fisik serta interaksi dengan komunitas masyarakat tertentu mungkin akan menyebabkan para akademisi khususnya peneliti yang melakukan penelitian berbasis observasi dan interaksi langsung di lapangan menjadi terbatas. Seolah menjadi peneguhan bahwa realitas sosial masyarakat kini tak hanya dibangun dari realitas atau dunia fisik, tapi juga realitas virtual atau maya yang dibangun dengan kekuatan internet dan tangkapan digital. Dalam hal inilah netnografi dapat menjadi peluang bagi para peneliti untuk mengeksekusi gagasan-gagasan risetnya yang bersumber dari realitas virtual.

Sederhananya, netnografi merupakan etnografi yang dilakukan dari internet. Realitas yang tersaji dari dunia internet mengandung suatu tangkapan budaya yang tersaji secara digital. Jadi netnografi berupaya menangkap budaya dan interaksi yang terjadi dalam komunitas virtual atau online. Pandangan, persepsi, perilaku dari seorang individu maupun sekelompok orang (masyarakat) yang tercermin dari komunikasi didalam berbagai platform media sosial misalnya dapat merepresentasikan makna tertentu. Hal ini tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam ruang-ruang investigasi penelitian baik secara kajian interpretif maupun secara kritis atau bahkan bisa hingga beyond netnografi yang menghasilkan suatu konstruksi nilai tertentu.

Media online yang dianggap mampu menopang di tengah keterbatasan jangkauan pertemuan offline menjadi suatu wadah yang semakin diakui kekuatannya bagi terjadinya pertukaran informasi dan nilai. Seperti halnya berbagai sajian yang tertangkap dalam media sosial seperti Facebook, Whatsapp (termasuk berbagai grup didalamnya), Instagram, Twitter, Youtube, bahkan yang saat ini sedang hits yaitu Tiktok. Misalnya saja, berbagai media sosial ini dapat menghantar pada membawa kekuatan dalam membangun religiusitas atau justru sebaliknya terkikisnya religiusitas. Selain itu media sosial juga dapat menjadi alat untuk konstruksi budaya dan konstruksi realitas. Isu-isu seperti ini dapat diteliti lebih lanjut dengan netnografi dimana sumber datanya diperoleh dari tangkapan objek digital.

Peneliti dapat melakukan proses pengumpulan data secara diam-diam atau mengintai (peneliti lebih pasif) maupun dengan melakukan intervensi didalam komunitas online yang ia pilih (peneliti aktif berpartisipasi), ataupun kombinasi dari keduanya. Yang pasti etika penelitian tetap harus dikedepankan dalam melakukan proses pengumpulan data ini dan penyajian publikasi hasilnya nanti. Setiap komentar ataupun mungkin hanya sekedar gambar atau emoticon yang dituliskan seseorang pada kolom komentar sesungguhnya mencerminkan respon, reaksi ataupun ekspresinya atas isu yang terjadi di media sosial tersebut. Pola interaksi ini menarik untuk diamati bagi peneliti.

Jadi, tertarikkah Anda dengan alternatif penelitian ini? Ini dapat menjadi alternatif di tengah keterbatasan akses kita sebagai peneliti untuk turun ke realitas lapangan dalam pertemuan fisik agar tetap produktif dalam riset. Selamat berselancar di dunia maya internet untuk menemukan NILAI dari tangkapan digital tersebut.

Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc Kembali Jadi Rektor Universitas Ciputra. pustakalewi.com. 21 Juni 2021

https://www.pustakalewi.com/2021/06/21/ir-yohannes-somawiharja-m-sc-kembali-jadi-rektor-universitas-ciputra/

Surabaya:  Universitas Ciputra Surabaya melantik rektor berserta jajarannya, Senin, 14 Juni 2021. Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc. kembali dilantik menjadi Rektor Universitas Ciputra untuk masa jabatan 2021-2025.

Yohannes memaparkan bahwa periode ini ia akan didampingi tiga wakil rektor yaitu Prof. Dr. Ch. Whidya Utami, SE., M.M., CPMA (Wakil Rektor 1- Bidang Akademik), Laij Victor Effendi, S.E., M.M., CMA (Wakil Rektor 2 – Bidang Operasional), Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog (Wakil Rektor 3 – Bidang Kemahasiswaaan dan Pengembangan).

Pelantikan Rektor dilakukan oleh Executive Board Yayasan Ciputra Pendidikan dihadiri oleh Ketua Senat dan Ketua LLDikti Wilayah VII pelantikan yang bertempat di Dian Auditorium Universitas Ciputra. Di dalam pidato perdananya, Yohannes memaparkan program yang akan dilaksanakan semasa masa jabatannya empat tahun ke depan.info/red