Sustainability and Charity Event Ali Charisma. warnaplus.com. 18 Febuari 2021. FPD

https://www.warnaplus.com/archives/23376

warnaplus.com – Industri fashion dan tekstil merupakan waste contributor terbesar kedua di dunia dengan volume yang terus meningkat. Hal ini dikarenakan oleh perubahan fashion trend yang sangat cepat, kuantitas produksi yang tinggi dan harga produk yang rendah sehingga mendorong peningkatan konsumsi masyarakat akan produk fashion yang tidak berkelanjutan yang memberi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya berkomitmen dalam mendukung gerakan sustainable fashion melalui memberikan edukasi terkait konsep dan praktik sustainable fashion kepada generasi muda untuk masa depan bumi dan umat manusia yang lebih baik untuk generasi-generasi mendatang.

Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya mempersembahkan video konsep bertemakan “ECOCREATE” yang menampilkan video dan karya desain produk fashion yang mengangkat isu-isu dan menampilkan ide-ide baru mengenai sustainable fashion. Melalui karya dan video tersebut, diharapkan kesadaran dan wawasan masyarakat mengenai fashion sustainability sehingga dapat bersama-sama ikut berperan serta dan berkontribusi dalam mempraktekkan konsep sustainable fashion.

Video pembuka yang ditampilkan dibuka oleh paparan dari Melinda Caroline mengenai permasalahan dan isu terkait waste yang dihasilkan oleh industri fashion dan tekstil. Generasi muda dapat menjadi pelopor praktik sustainable fashion. Masa pakai produk dapat menjadi lebih panjang dengan perubahan sikap dan perilaku terhadap produk fashion. Video ini diakhiri dengan ajakan yang ditujukan kepada generasi muda untuk bersama-sama melakukan perubahan di industri fashion dan mengurangi waste di landfill untuk kehidupan yang lebih baik.

Mahasiswa Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya mengembangkan produk fashion yang menggunakan alternatif material dan teknik upcycling sebagai solusi untuk isu-isu dan dampak negatif dari industri fashion.

Konsep desain tas bertemakan “Polutanology” karya Maria Adeline berasal dari kata polutan (bahan yang menyebabkan pencemaran) dan technology. Konsep dari Polutanology adalah menggambarkan keadaan polusi udara di masa depan. Tidak banyaknya kesadaran dan tindakan menyebabkan polusi udara yang semakin parah. Kemajuan teknologi sudah tidak dapat membantu menangani polusi udara. Hal -hal tersebut dapat benar-benar terjadi apa bila manusia tetap tidak mengurangi dan menanggulangi segala hal yang menyebabkan polusi. Konsep Polutanology digambarkan melalui desain (motif, tekstur, warna) dan bahan pada koleksi tas ini. Motif yang digunakan, dihasilkan melalui percampuran warna putih dan hitam semi-transparan untuk menghasilkan ilusi seperti asap-asap. Kemudian penggunaan tekstur garis dengan kombinasi arah garis horizontal dan vertikal. Koleksi ini menghadirkan design yang simple, structured, dan dominasi warna hitam untuk menunjukkan kesan modern. Lalu elemen penting dari koleksi ini adalah bahan yang digunakan. Koleksi ini menggunakan bahan bioplastic, dengan bahan utama gelatin. Bioplastic sendiri merupakan salah satu alternatif pengganti plastik, memiliki sifat lebih ramah lingkungan dan mudah terurai sehingga tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Pembuatan koleksi ini disertai dengan riset dan eksperimen yang mendalam untuk menghasilkan komposisi bahan dan bentuk tekstur yang
sesuai. Sisi depan dari tas ini menggunakan bioplastic dengan motif asap, adanya permainan tekstur, dan semi-transparan. Sedangkan untuk sisi samping, bawah, belakang, dan tutup pada tas tersebut menggunakan bioplastic berwarna hitam polos yang lebih pekat dan tidak memiliki tekstur. Bioplastic yang dihasilkan memiliki tampilan doff. Untuk tali menggunakan synthetic leather yang merupakan sisa produksi milik pribadi.

Koleksi berjudul “Forma Futura” yang berarti “shape of the future” dalam bahasa Spanyol, menggambarkan bagaimana produk fashion ke depannya akan terbuat dari daur ulang limbah untuk mengurangi dampak buruk lingkungan. Kantong plastik merupakan penyumbang limbah terbesar di Indonesia. Terbuat dari senyawa kimia polyethylene, kantong plastik tidak dapat diuraikan oleh tanah maupun air meskipun dalam jangka waktu yang lama. Jika dibiarkan maka kantong plastik dapat menjadi limbah yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Melihat permasalahan tersebut, ada baiknya jika kantong plastik dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Dilihat dari sifatnya yang fleksibel, tahan air, dan tidak mudah rusak, kantong plastik sangat berpotensi untuk dirajut menggunakan teknik crochet dan menjadi bahan membuat fashion item untuk ke depannya. Bentuk clutch dipilih karena konstruksinya yang simple, ditambah dengan aksen bentuk lingkaran yang mudah dirajut. Paduan dua warna kuning, hitam, dan putih menambah nilai estetika dari clutch ini. Pada bagian handle depan, lingkaran crochet dirajut dengan dua warna untuk menghasilkan paduan yang unik, kemudian disatukan dengan jahitan dengan benang dari untaian kantong plastik. Pada bagian tali strap, lingkaran-lingkaran crochet disatukan dengan memanaskan untaian kantong plastik antar satu lingkaran dengan lingkaran lainnya membentuk satu kesatuan. Layaknya plastik, clutch ini sangat kuat dan dapat digunakan baik untuk aktivitas sehari-hari maupun acara tertentu.

Konsep desain tas pada koleksi berjudul “Croco Freaks” karya Elvira Angelica Manik dibuat dari bekas kemasan snack. Kemasan makanan instan yang di dalamnya terbuat dari aluminium foil dapat menjaga keawetan produk di dalamnya dan sebagai perlindungan dari sinar ultraviolet, di luarnya terdapat kandungan plastik guna menjaga kelembaban udara.
Struktur kemasan membawa mahasiswa kepada suatu eksperimen dengan beberapa proses pengubahan bentuk guna mengangkat keindahan warna metalic dari proses metanize serta memiliki fungsi selain menggunakan material bahan bungkus snack yang diolah bermotif menyerupai kulit croco. Tas didesain dengan aspek multi-styling di mana dapat digunakan dengan 3 style berbeda yaitu sling bag, clutch dan waist bag. Desain tas bewarna biru tua, bahannya ringan dan muat banyak barang, baik digunakan untuk occasion formal ataupun kegiatan sehari-hari. Perawatannya tidak sulit karena ini anti air jadi warna ataupun bahannya tidak luntur dan tembus air. Lalu untuk tali tas tersebut menggunakan material pvc bekas dan di buat secara hand-made dengan teknik kepang enam. (Icho)

Sustainability and Charity Event Ali Charisma. citayambersatu.com. 18 Febuari 2021. FPD

http://citayambersatu.com/sustainability-and-charity-event-ali-charisma-18-febuari-2021/

citayambersatu.com – Industri fashion dan tekstil merupakan waste contributor terbesar kedua di dunia dengan volume yang terus meningkat. Hal ini dikarenakan oleh perubahan fashion trend yang sangat cepat, kuantitas produksi yang tinggi dan harga produk yang rendah sehingga mendorong peningkatan konsumsi masyarakat akan produk fashion yang tidak berkelanjutan yang memberi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya berkomitmen dalam mendukung gerakan sustainable fashion melalui memberikan edukasi terkait konsep dan praktik sustainable fashion kepada generasi muda untuk masa depan bumi dan umat manusia yang lebih baik untuk generasi-generasi mendatang.

Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya mempersembahkan video konsep bertemakan “ECOCREATE” yang menampilkan video dan karya desain produk fashion yang mengangkat isu-isu dan menampilkan ide-ide baru mengenai sustainable fashion. Melalui karya dan video tersebut, diharapkan kesadaran dan wawasan masyarakat mengenai fashion sustainability sehingga dapat bersama-sama ikut berperan serta dan berkontribusi dalam mempraktekkan konsep sustainable fashion.

Video pembuka yang ditampilkan dibuka oleh paparan dari Melinda Caroline mengenai permasalahan dan isu terkait waste yang dihasilkan oleh industri fashion dan tekstil. Generasi muda dapat menjadi pelopor praktik sustainable fashion. Masa pakai produk dapat menjadi lebih panjang dengan perubahan sikap dan perilaku terhadap produk fashion. Video ini diakhiri dengan ajakan yang ditujukan kepada generasi muda untuk bersama-sama melakukan perubahan di industri fashion dan mengurangi waste di landfill untuk kehidupan yang lebih baik.

Mahasiswa Program studi Desain Produk dan Bisnis Fesyen Universitas Ciputra Surabaya mengembangkan produk fashion yang menggunakan alternatif material dan teknik upcycling sebagai solusi untuk isu-isu dan dampak negatif dari industri fashion.

Konsep desain tas bertemakan “Polutanology” karya Maria Adeline berasal dari kata polutan (bahan yang menyebabkan pencemaran) dan technology. Konsep dari Polutanology adalah menggambarkan keadaan polusi udara di masa depan. Tidak banyaknya kesadaran dan tindakan menyebabkan polusi udara yang semakin parah. Kemajuan teknologi sudah tidak dapat membantu menangani polusi udara. Hal -hal tersebut dapat benar-benar terjadi apa bila manusia tetap tidak mengurangi dan menanggulangi segala hal yang menyebabkan polusi. Konsep Polutanology digambarkan melalui desain (motif, tekstur, warna) dan bahan pada koleksi tas ini. Motif yang digunakan, dihasilkan melalui percampuran warna putih dan hitam semi-transparan untuk menghasilkan ilusi seperti asap-asap. Kemudian penggunaan tekstur garis dengan kombinasi arah garis horizontal dan vertikal. Koleksi ini menghadirkan design yang simple, structured, dan dominasi warna hitam untuk menunjukkan kesan modern. Lalu elemen penting dari koleksi ini adalah bahan yang digunakan. Koleksi ini menggunakan bahan bioplastic, dengan bahan utama gelatin. Bioplastic sendiri merupakan salah satu alternatif pengganti plastik, memiliki sifat lebih ramah lingkungan dan mudah terurai sehingga tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Pembuatan koleksi ini disertai dengan riset dan eksperimen yang mendalam untuk menghasilkan komposisi bahan dan bentuk tekstur yang
sesuai. Sisi depan dari tas ini menggunakan bioplastic dengan motif asap, adanya permainan tekstur, dan semi-transparan. Sedangkan untuk sisi samping, bawah, belakang, dan tutup pada tas tersebut menggunakan bioplastic berwarna hitam polos yang lebih pekat dan tidak memiliki tekstur. Bioplastic yang dihasilkan memiliki tampilan doff. Untuk tali menggunakan synthetic leather yang merupakan sisa produksi milik pribadi.

Koleksi berjudul “Forma Futura” yang berarti “shape of the future” dalam bahasa Spanyol, menggambarkan bagaimana produk fashion ke depannya akan terbuat dari daur ulang limbah untuk mengurangi dampak buruk lingkungan. Kantong plastik merupakan penyumbang limbah terbesar di Indonesia. Terbuat dari senyawa kimia polyethylene, kantong plastik tidak dapat diuraikan oleh tanah maupun air meskipun dalam jangka waktu yang lama. Jika dibiarkan maka kantong plastik dapat menjadi limbah yang menumpuk dan mencemari lingkungan. Melihat permasalahan tersebut, ada baiknya jika kantong plastik dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Dilihat dari sifatnya yang fleksibel, tahan air, dan tidak mudah rusak, kantong plastik sangat berpotensi untuk dirajut menggunakan teknik crochet dan menjadi bahan membuat fashion item untuk ke depannya. Bentuk clutch dipilih karena konstruksinya yang simple, ditambah dengan aksen bentuk lingkaran yang mudah dirajut. Paduan dua warna kuning, hitam, dan putih menambah nilai estetika dari clutch ini. Pada bagian handle depan, lingkaran crochet dirajut dengan dua warna untuk menghasilkan paduan yang unik, kemudian disatukan dengan jahitan dengan benang dari untaian kantong plastik. Pada bagian tali strap, lingkaran-lingkaran crochet disatukan dengan memanaskan untaian kantong plastik antar satu lingkaran dengan lingkaran lainnya membentuk satu kesatuan. Layaknya plastik, clutch ini sangat kuat dan dapat digunakan baik untuk aktivitas sehari-hari maupun acara tertentu.

Konsep desain tas pada koleksi berjudul “Croco Freaks” karya Elvira Angelica Manik dibuat dari bekas kemasan snack. Kemasan makanan instan yang di dalamnya terbuat dari aluminium foil dapat menjaga keawetan produk di dalamnya dan sebagai perlindungan dari sinar ultraviolet, di luarnya terdapat kandungan plastik guna menjaga kelembaban udara.
Struktur kemasan membawa mahasiswa kepada suatu eksperimen dengan beberapa proses pengubahan bentuk guna mengangkat keindahan warna metalic dari proses metanize serta memiliki fungsi selain menggunakan material bahan bungkus snack yang diolah bermotif menyerupai kulit croco. Tas didesain dengan aspek multi-styling di mana dapat digunakan dengan 3 style berbeda yaitu sling bag, clutch dan waist bag. Desain tas bewarna biru tua, bahannya ringan dan muat banyak barang, baik digunakan untuk occasion formal ataupun kegiatan sehari-hari. Perawatannya tidak sulit karena ini anti air jadi warna ataupun bahannya tidak luntur dan tembus air. Lalu untuk tali tas tersebut menggunakan material pvc bekas dan di buat secara hand-made dengan teknik kepang enam. (Icho)

Menu Perayaan yang Cuma Ada di Jawa. Harian Di’s Way. 27 Februari 2021. Hal. 42. Freddy H Istanto. INA

Menelusuri Sejarah Jalan Stasiun Kota (3)_ Jalur yang Hilang dan Jejak Bunker.Radar Surabaya.25 Februari 2021.Hal.3. Chrisyandi.LIB

Kota Lama

Stasiun Surabaya Kota diresmikan pada 16 Mei 1878 adalah salah satu stasiun kereta paling sibuk pada masanya. Sekarang Stasiun ini mengalami restorasi dan kabarnya akan segera difungsikan kembali.

(Mus Purmadani, Wartawan Radar Surabaya)

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, awalnya stasiun ini dibangun untuk transportasi industri tebu dari pasuruan ke Surabaya. Kemudian berkembang jadi sarana mobilitas masal favorit. “Meski ada pesawat, kereta api alternatif transportasi masal murah meriah,” jelasnya kepada Radar Surabaya.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini mengatakan, saat itu jalur Surabaya-Pasuruan dianggal sangat penting lantaran di Umbulan terdapat sumber air yang sangat besar. Pasokan air dari Umbulan ke Surabaya saat itu diangkut menggunakan kereta api. “Pada masa itu stasiun Semu merupakan salah satu dari dua stasiun yang terkenal di Kota Surabaya tempo dulu. Lainnya adalah stasiun Pasar Turi,” katanya.

Stasiun ini merupakan bagian dari jalur yang melayani rute Surabaya-Solo-Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta. Ketika itu jalur Jakarta-Surabaya masih ditempuh dengan perjalanan selama tiga hari. Begitu malam tiba, kereta berhenti dan penumpang menginap di hotel-hotel untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Chris menambahkan, ada jalur baru yang dibuat ketika masa penjajahan Jepang. Bahkan ada juga jalur yang hilang. “Jejak sisa jalur ini diyakini sebagai bunker oleh sebagian kalangan bahkan oleh pejabat dan pendiri sebuah komunitas. Tapi menurut saya itu pondasi jembatan rel kereta,” jelasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Januari 2021. Hal.3

Menelusuri Sejarah Jalan Stasiun Kota (1)_Penunjang Keberadaan Stasiun. Radar Surabaya. 23 Februari 2021. Hal.3. Chrisyandi.LIB

Kota Lama

Jalan Stasiun Kota sudah ada sejak dibangunnya Stasiun Surabaya Kota atau yang lebih dikenal dengan sebutan Stasiun Semut. Dinamika perdagangan di Kota Surabaya abad ke-19 sampai abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh merebaknya perkebunan di kawasan pedalaman serta perkembangan industri.

(Mus Purmadani, Wartawan radar Surabaya)

MASUKNYA para pemodal swasta mampu meningkatkan produksi komoditas ekspor. Untuk memperlancar proses distribusi, dibangun transportasi yang modern, yakni kereta api. Yakni Staatssporwegen (SS), perusahaan kereta api negara yang pertama kali membangun jaringan kereta api di Surabaya.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, Jalan Stasiun Kota merupakan penunjang keberadaan stasiun. Menurut buku Soerabaja Beeld van eet stad ada tiga stationsweg (jalan stasiun) saat itu yakni Stasiun Kota, Gubeng dan Babad. “Saat itu jalan tersebut merupakan pusat berkumpulnya kendaraan-kendaraan yang mengangkut baik hasil pertanian, perkebunan maupun industri,” ujarnya.

Pemerhati sejarah Kota Surabaya ini menambahkan, berdasarkan buku Oud Soerabaia disebutkan pada tahun 1864 kereta api pertama kali muncul dari Semarang melalui Solo ke Yogyakarta. Kemudian UU 8 April 1875 lembaran negara nomor 141 bahwa akan dimulai pembukaan jalan kereta api untuk Surabaya, Pasuruan dan Malang. “Pembukaan jalur ini berlangsung cepat karena untuk kepentingan lalu lintas barang,” ujarnya.

Chris menambahkan, sebagai titik awal jalur ini dipilih dari Stasiun Kota. Pertimbangannya karena dekat dengan kompleks perdagangan, baik melalui darat maupun jalur air. “Kesulitan pembangunan stasiun ini adalah harus merobohkan proyek pertahanan dan galiannya harus ditimbun. Sementara Gudang peluruhnya harus dipindahkan dan pemukiman Semut juga harus dihilangkan,” katanya.

Menurutnya, letak pembangunan stasiun ini sangat tidak menguntungkan karena ada muara Kalimas. Stasiun ini baru selesai tahun 1886 setelah dibangun dermaga dan Pelabuhan selesai. “jadi pembangunannya sempat berhenti sesaat,” tuturnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Februari 2021. Hal.3

Menelusuri Sejarah Jalan Stasiun Kota Surabaya (2)_Berdiri di Atas Rawa dan Tambak. Radar Surabaya. 24 Februari 2021.Hal.6. Chrisyandi. LIB

Kota Lama

Lokasi tempat didirikannya Stasiun Kota Surabaya merupakan daerah yang penuh dengan rawa dan pertambakan. Hal ini karena sebagian wilayah di Surabaya bagian utara termasuk daerah perairan yang pada saat itu diubah menjadi dataran luas.

(Mus Purmadani, Wartawan Radar Surabaya)

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan Stasiun Semut atau Stasiun Surabaya Kota yang diresmikan pada 16 Mei 1878 oleh Gubernur Jendral JW Van Lasberge, Tempat yang dulunya bekas rawa itu diubah menjadi bangunan megah yang dijadikan sebagai tempat pemberhentian kereta api. Pada hari itu juga jalur kereta Surabaya-Pasuruan dibuka. Kemudian Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan pembangunan jalur kereta api Surabaya-Malang.

Tujuan pembangunan jalur kereta api ini sebagai moda transportasi untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan. Jalur kereta api Surabaya-Pasuruan juga dipakai untuk mengangkut air dari mata air Umbulan. “Air tersebut untuk memenuhi pasokan di Surabaya,” katanya.

Seiring meningkatnya aktivitas perkeretaapian yang mulai maju, pada 11 November 1911 Stasiun yang disebut juga Station Spoorwegen en Stoomtram Soerabaja oleh Belanda ini mulai di benahi dan diperluas, dengan menunjuk arsitek bernama CW Koch. Hasilnya, renovasi terlihat hingga saat ini. Denga luas 6000 meter persegi, pemerintah kolonial Belanda terus melakukan modernisasi (1870-1920).

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya, Stasiun Semut menjadi stasiun utama pada eranya. Tak heran apabila kereta api terbaik saat itu pasti berhenti di stasiun ini. Kereta dari Jakarta, bandung, Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Solo menggunakan jalur selatan Jawa akan bermuara di stasiun ini. Saat itu, jarak Jakarta-Surabaya ditempuh dalam waktu tiga hari. Kini, jarak yang sama hanya membutuhkan waktu 12 jam.

Pada awalnya Stasiun Semut yang asli berada di sebelah timur atau sebelah barat berjarak 300 meter dari stasiun saat ini. Stasiun tersebut digunakan sekitar tahun 1990-an, mengikuti kompleks pertokoan yang mulai dibangun kemudian. Selanjutnya Stasiun Semut baru diperluas 94 ribu meter persegi. (bersambung)

 

Sumber: Radar Surabaya. 24 Februari 2021. Hal.6

Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya Mempersiapkan SDM Pariwisata Masa Depan. https://www.timesindonesia.co.id. 17 Februari 2021. Agoes Tinus Lis Indrianto.HTB

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/328287/fakultas-pariwisata-universitas-ciputra-surabaya-mempersiapkan-sdm-pariwisata-masa-depan

Umat Tetap Memilih Datang ke Gereja. Harian Dis Way. 20 Februari 2021.Hal.14,15. Freddy H Istanto. INA

Memang, inti misa bukan sekedar berdoa di sebuah gedung elok bernama gereja. Inti peribadatan itu justru berkumpul dan bersekutu bersama saudara-saudara seiman. Dan di masa pandemi ini, perkumpulan itu harus ditiadakan.

Langit sore itu berwarna kelabu. Pertanda hujan lebat hendak mengguyur bumi. Simbol salib di pucuk Menara Gereja Santo Yakobus sudah tidak tampak lagi. Hanya lampu-lampu kuning di pelataran gereja saja yang tampak.

Halaman gereja juga sudah sesak diisi mobil umat yang berjejer. Sebagian ada yang memarkirkan mobilnya di luar gereja. Rabu itu memang spesial. Bukan hanya misa biasa. Melainkan Rabu Abu. Biasanya di hari Rabu Abu umat akan berbondong-bondong ke Gereja. Mereka akan mengikuti misa khusus. Misa dengan prosesi mengoleskan abu di dahi tiap umat. Itu pertanda bahwa manusia harus bertobat dan kembali merenungi fitrahnya. Hanya debulah aku… Begitulah penggalan salah satu lagu yang dilantunkan pada masa pertobatan selama 40 hari menjelang Paskah tersebut.

Romo Dominicus Mardiyatto yang memimpin misa mengatakan, umat harus bersyukur bisa datang ke gereja. Sebab, tak semua umat bisa menerima abu di dalam misa tersebut. Ada yang harus mengikuti peribadatan dari jarak jauh. Dari rumah. Melalui streaming.

Di antara umat yang datang sore itu, tampak Vinsensius Awey, mantan anggota DPRD Surabaya itu merupakan umat yang hadir saat Rabu Abu di gereja Santo Yakobus.

Bagi Awey perayaan rabu Abu kali ini punya rasa yang berbeda. Menurutnya, saat sebelum ada pandemi masuk, rasa khidmat lebih terasa. Namun, politisi Nasdem itu tetap bersyukur bisa hadir ke Gereja. Sebab tidak semua umat bisa menghadirinya.

Gereja Santo Yakobus memang membuat dua macam misa Rabu Abu. Yakni melalui luring dan daring. Semua yang ingin melaksanakan melalui luring harus memesan tiket lebih dahulu. Kemudian setiap umat yang masuk wajib menunjukkan tiket daring tersebut.

Awey merupakan salah satu dari 600 umat yang memesan tiket. Sejak sehari sebelumnya ia sudah memesan tiket melalui aplikasi yang disediakan oleh gereja. Menurutnya hadir di gereja saat Rabu Abu rasanya lebih khidmat. “Itu yang saya rasakan saat mengikuti misa secara langsung,” katanya.

Awey ingin kembali misa seperti dulu lagi. Seperti tidak ada pandemi. Namun ia tidak bisa menolak dengan kehadiran Covid-19 tersebut. Awey menyadari, virus itu ada juga atas kehendak Tuhan. Virus itu sudah ada dan bisa jadi akan terus ada. Tetapi, Awey juga sadar bahwa manusia dikaruniai akal dan budi untuk bisa berjuang melawan segala tantangan hidup. Salah satunya melalui vaksin. Plus pola hidup yang lebih baik.

Ana, salah seorang umat, juga merasakan hal yang sama. Dia merasa, mengikuti misa secara luring akan terasa khidmat. Ana sejatinya tidak mempermasalahkan prosesi penerimaan abu. Apakah ditaburkan di kepala atau diusapkan di dahi membentuk tanda salib. Menurutnya, yang terpenting adalah pertobatan selama masa prapaskah. “Tetap menjalankan puasa untuk 40 hari ke depan,” ujarnya.

Ana juga mengambil Abu yang disediakan oleh gereja. Abu itu untuk keluarganya di rumah. Anaknya tidak bisa hadir karena tidak mendapatkan tiket. Abu itu akan dioleskan sendiri oleh anaknya. Sesuai tata cara yang berlaku.

Freddy H, Istanto juga merupakan umat Gereja Santo Yakobus. Namun, ia dan keluarga tidak mau datang ke gereja. Sejak pandemi mulai masuk di Indonesia, segala aktifitasnya dengan gereja ia batasi. Ia tidak mau mengambil resiko tertular.

Saat Rabu Abu, ia melakukan prosesi Rabu Abu melalui Streaming. Sedangkan abunya diantarkan langsung oleh asisten imam. Saat prosesi, Freddy yang mengoleskan langsung abu di dahi para keluarganya.

Meski begitu, Freddy amat rindu kembali ke gereja. Baginya pandemi ini merupakan sebuah ketetapan Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Ia sempat sedih saat melihat fotonya ketika ibadah misa Rabu Abu. “Hati saya bergetar. Di situ, foto ibu saya terlihat pasrah dengan saat Rabu Abu,” katanya.

Vikaris Jendral Keuskupan Surabaya Romo Yosef Eko Budi Susilo menjelaskan, tidak semua gereja bisa menggelar rabu Abu. Hanya gereja yang masuk dalam zona hijau yang bisa menggelarnya.

Sebelum Rabu Abu, Keuskupan Surabaya sudah menyurati tiap romo dan paroki di bawah naungannya. Selanjutnya misa Rabu Abu diatur oleh romo paroki masing-masing. Paroki di zona merah harus melaksanakan secara daring. Penerimaan abu bisa dikoordinasi oleh pengurus lingkungan masing-masing. “Salah satu syaratnya, keluarga yang menerima abu harus mengikuti misa streaming Rabu Abu,” ungkapnya.

Menurut Romo Eko, Rabu Abu memang dimaknai sebagai masa pertobatan. Yakni mengawali masa prapaskah atau masa retreat agung bagi umat Katolik seluruh dunia. (Doan Widhiandono-Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 20 februari 2021. Hal.14-15

Perhatikan Porsi dan Berinovasi. Jawa Pos. 22 Februari 2021.Hal.15. Moses Soediro.CB

SURABAYA, Jawa Pos – Pandemi tidak menjadi halangan untuk memulai bisnis. Misalnya, bisnis kuliiner. Selain menemukan aktivitas anyar, membuka bisnis dapat menjaga dapur agar tetap mengepul.

Kaprodi Bisnis Kuliner Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Moses Soediro menyatakan, kondisi saat ini cukup tricky. Gampang-gampang susah. Menurut dia, kondisinya sedang menguntungkan, tapi juga agak gambling atau untung-untungan. Kemudian, jika dilihat situasi sekarang, banyak orang yang di rumah dan memesan makanan secara online. “Bisnis kuliner bisa dibilang masih menjanjikan, apalagi kalau harga produknya murah,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Moses, faktor kemudahan mengkreasikan produk. Di era digital, banyak variasi yang bisa ditemukan di media sosial. Misalnya, berawal dari iseng ingin membuat produk makanan. Lalu, ternyata berhasil dan rasanya enak.

Moses menyebutkan, para calon pebisnis perlu memperhatikan beberapa hal sebelum action berbisnis. Pertama, niat dan konsisten belajar sesuatu yang baru. Kedua, mau belajar dari keunggulan kompetitor. Ketiga, berkaitan dengan modal. Lantas, apakah harus memiliki modal besar? “Tidak juga. Bisa menyesuaikan kondisi keuangan. Kalau adanya sedikit, so bisa mulai membuat produk sederhana saja seperti roti atau donat,” papar Moses.

Dia menyatakan, membuat produk saja tidak cukup seiring dengan banyaknya pesaing. Konsumen selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan kekinian. “Kalau bikin makanan besar, bisa juga. Tapi, perhatikan porsi sambil lihat pasar,” ujarnya. (sam/c19/ady)

 

Sumber: Jawa Pos. 22 Februari 2021. Hal.15

Jejak Masa Lalu Rumah Sembahyang Keluarga Han (6)_Lebih Tenang Bila Jadi Museum. Harian Di’s Way. 17 Februari 2021. Hal.38,39. Freddy H Istanto. INA

Keberadaan rumah sembahyang keluarga Han tak hanya bernilai besar untuk kepentingan marga Han sendiri. Namun Robert Han – penanggung jawab rumah Han – menganggap upaya itu juga demi menjaga warisan sejarah dan budaya untuk masyarakat.

Sembahyang leluhur bagi orang Tionghoa sangat penting. Itu termasuk penghormatan kepada leluhur. Robert han masih sangat teguh memegang itu.

“Sederhana, kehidupan manusia yang dijalani sekarang tidak akan ada jika tidak berasal dari leluhur. Kami keturunannya harus tetap mengingat dan bersyukur akan kehidupan yang dijalani dengan menghormati leluhur,” katanya.

Sembahyang itu bisa dilakukan di rumah. Asal ada altar sembahyang. Atau di tempat ibadah. Umat Konghucu misalnya, melakukannya di klenteng. Namun ada keluarga Tionghoa yang khusus memiliki rumah sembahyang.

Salah satunya rumah sembahyang Han.

“Melihat keberadaan rumah sembahyang yang khusus didirikan oleh Han Bwee Koo, tentu ada nilai yang tinggi dari bangunan itu sesuai jabatannya,” terang Freddy H Istanto, pengamat budaya di Surabaya.

Di atas tanah seluas 1.500 meter persegi, Han Bwee Koo mendirikannya saat ia menjadi kapitan (Kapitein) Tionghoa di Surabaya. Kapitein adalah gelar untuk para petinggi di kalangan masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara yang ditunjuk oleh pemerintahan kerajaan pribumi dan kemudian oleh pemrintahan kolonial.

Han Bwee koo mendirikannya untuk kepentingan keluarga. Setidaknya untuk ayahnya, Han Siong Kong.

Siapa Han Sion Kong juga cukup punya kekuatan dalam sejarah. Ia dikenal sebagai pendiri keluarga Han dari Lasem. Han sendiri adalah salah-satu dinasti cabang atas tertua di Indonesia.

“Han Siong Kong itu posisinya juga seperti Han Bwee Koo. Berperan penting sebagi birokrat pemerintahan dan tuan tanah di Hindia Belanda,” kata dosen Universitas Ciputra itu.

Sebagai warisan keluarga Han, rumah itu punya nilai sebagai peneguh kota Surabaya sebagai kota tua. Ia menjadi saksi bisu dari awal sampai seluk beluk keturunan Han Bwee Koo dari generasi ke generasi.

Mulai dari zaman kolonial, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, kebijakan rasial terkait warga Tionghoa, larangan beribadah secara terbuka, larangan mepertontonkan budaya Tionghoa.

Hingga generasi Robert pada tahun 90-an saat melawan investor yang hendak merebut kepemilikan bangunan itu. “Era sekarang sudah lebih ayem. Terlebih pemerintah kota Surabaya telah menetapkan rumah sembahyang keluarga Han sebagai bangunan cagar budaya tipe A,” ujar Robert.

Menurut Robert, ia akan lebih ayem lagi bila rumah itu jadi diwujudkan oleh pemkot Surabaya yang akan menjadikannya museum. Hal ini diamini Lurentius Handigdo, generasi Han ketujuh dari Hang Siong Kong.

Pria yang “Kembali” ke rumah itu setelah 60 tahun itu ikut bangga bila rumah leluhurnya menjadi museum. “Tentu akan lebih nyaman ya untuk semua. Nilai sejarahnya enggak hanya buat kami keluarga besar tetapi demi bangsa dan negara juga,” kata pilot senior Garuda Airways itu.

Namun Freddy mengingatkan tentang rencana tersebut. Ia berharap proses membuat museum harus ditangani pemkot Surabaya dengan lebih serius. Meskipun banyak museum yang sudah dihidupkan oleh pemkot Surabaya namun ada sistem yang tak boleh dilakukan sekenanya.

Malah ia lebih tenang kalau museum itu digarap oleh swasta misalnya keluarga sendiri atau ada investor lain. “Nah pemkot Surabaya tinggal support. Sebab melihat cara pemkot Surabaya menangani museum di Surabaya belum seperti yang saya harapkan,” kata Freddy yang mengambil studi S1 tentang museum.

Director Sjarikat Poesaka Soerabaia (Surabaya heritage Society) itu mengingatkan tentang nilai-nilai penting rumah Han yang taka da di tempat lain.

“Jelas bangunan itu sendiri sudah luar biasa. Dari semua rumah sembahyang lain yang ada di Surabaya, rumah Han termasuk istimewa. Satu yang tak banyak diketahui adalah ada makam di belakang rumah,” terang Freddy yang menulis skripsi tentang museum Bahari di Surabaya, pada 1982.

Di belakang rumah Han, setelah altar sembahyang yang ada di bangunan utam, memang ada halaman belakang. Di sana ada ruang-ruang yang diapaki sebagai tempat tinggal para penjaga.

Dari luasnya, ruang itu jelas bukan ruangan untuk ditinggali pemilik rumah. Namun untuk para penjaga. Saat ini ada tiga orang yaitu Mbah rah, Pak Prayit dan Yono.

“Kalau ditelusuri lagi siapa yang dimakamkan di situ maka akan makin menambah nilainya. Makam itu bertulis bahasa Mandarin. Letaknya juga kalau ditarik jauh ke belakang akan ada makam Tionghoa di Slompretan,” ungkapnya.

Menurut Freddy mewujudkan museum di rumah Han akan unggul karena luasannya besar. Gedung maupun halaman. Ada tiga massa besar yang bisa dikembangkan dalam museum. Terdiri dari main building, rumah penjaga dan bagian service.

Dalam bayangan Freddy, bagian service itu bisa dibangun kafe atau restoran. Yang penting lagi ya ruang untuk koleksi. Yang unik, langka, orisinal, cerita dan otentik. Lantas museum itu harus ada ruangan yang steril. Tidak boleh sembarang dimasuki.

“Dalam istilah saya itu holy-space. Tempat doa. Sekarang ya tempat meja atau altar sembahyang dan sinci itu,” paparnya.

Melihat rumah Han yang utuh sampai sekarang, Freddy melihat ada prospek besar untuk pembuatan museum. Bukan hanya soal dekorasi, melainkan juga kesinambungan. Siapa yang mengelolanya.

“Harus ada tiga aspek yang diperhatikan. Ada pameran yang dilakukan berkala untuk menyajikan koleksi secara bergantian dengan tema tertentu. Sisi edukasinya, bisa dijadikan pusat kajian budaya peranakan. Sisi hiburan juga jangan dilupakan,” ujarnya.

Melihat berbagi usulan Freddy itu, Robert yakin kelak semua itu akan diwujudkan. Laurentius juga demikian. Ia saat ini makin antusias membantu Robert untuk mengumpulkan keluarga Han yang tersebar di Indonesia.

Salah satu niatnya adalah ingin meneruskan pembuatan bagan silsilah keluarga Han. Mengingat dalam bagan hanya berhenti di keturunan ketujuh Han Bwee Koo. “Marga Han setelah saya sudah enggak tercantum di sana. Dan dalam bagan itu hanya ada nama laki-laki,” terangnya.

Kemungkinan bagan silsilah akan dibuat dengan bentuk digital. Menyesuaikan zaman sekarang. Robert juga telah lama berpikir tentang hal tersebut. Mungkin bisa diawali dengan membentuk Yayasan marga Han yang mengumpulkan orang-orang Tionghoa bermarga Han.

“Itu semua demi kepentingan yang lebih luas. Kami ingin rumah Han ini akan menjadi warisan bersama,” tegas Robert. (Heti Palestina Yunani/Habis)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 17 Februari 2021. Hal.38-39