Bibis Tama dan Kehidupan pinggir Sungai Kalimas (7)_Pedati Melintas untuk Mengantarkan Barang ke Stasiun. Radar Surabaya. 23 Januari 2021. Hal.3

Selain kawasan perkantoran dan tempat hiburan orang Eropa, Jalan Bibis dulu juga merupakan kawasan perniagaan. Jalan yang dulunya makadam atau tanah ini sering dilewati oleh pedati yang ditarik oleh sapi untuk mengantarkan barang niaga dari pergudangan yang ada di jalan tersebut.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

KAWASAN tersebut merupakan perniagaan yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Surabaya saat itu. Adanya perniagaan di sana sering kali membuat kawasan tersebut dilintasi oleh pedati. Pedati tersebut membawa atau mengangkut barang-barang besar dari gudang. “Biasanya pedati mengangkut barang-besar yang hendak diantarkan ke stasiun, kan daerah perniagaan,” papar Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menuturkan, selain itu di sekitar kawasn Bibis Tama juga merupakan kawasan perniagaan, sehingga Jalan Bibis Tama juga untuk perlintasan pedati yang membawa komoditi perdagangan yang hendak di kirim ke daerah lain menggunakan transportasi kereta. Karena lokasi tersebut juga berdekatan dengan Stasiun Semut. “Jalur jalannya pendek (Bibis Tama) jadi buat lewat juga,” imbuhnya.

Bangunan-bangunan di sana dulu pintu utamanya menghadap ke jalan tersebut sebelum berganti menghadap ke barat atau membelakangi kawasan sungai Kalimas itu. Terlihat gaya bangunan nieuwe bouwen atau persegi panjang. Sehingga fungsi bangunan lebih diutamakan untuk menyimpan barang.

Pengamat Sejarah Kota Surabaya Purnawan Basundoro menjelaskan, Jalan Bibis Tama merupakan jalan tua yang digunakan sebagai gudang. Karena berdekatan langsung dengan Kalimas yang merupakan sungai utama untuk lalu lintas perdagangan.

“Karena posisinya dekat sekali dengan sungai Kalimas yang pada masa itu terdapat pelabuhan di dekat Jembatan Merah atau Willenmskade, sehingga menjadi gudang untuk menyimpan komoditi perdagangan,” jelasnya. (*/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Januari 2021. Hal.3

Bibis Tama dan Kehidupan pinggir Sungai Kalimas (8)_Dulu Dikenal sebagai Kawasan Ekspor Impor Perniagaan. Radar Surabaya. 25 Januari 2021. Hal.3

Jalan Bibis Tama menyimpan banyak kenangan. Salah satunya sebagai pusat perniagaan ekspor impor yang amat terkenal di zamannya.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

JALAN Bibis Tama, dijelaskan di edisi sebelumnya, ukuran jalannya tiak begitu panjang. Namun di situ ada kawasan perniagaan yang justru menjadi akses utama. Seiring berjalannya waktu, pintu bangunan yang menghadap ke sungai Kalimas, akhirnya berpindah menghadap ke Jalan niaga yang saat ini dikenal dengan nama Jalna Veteran.

Pustakawan Sejarah, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, di kawasan sekitar Bibis Tama, seperti Jalan Niaga, ada banyak usaha. Ada perusahaan tekstil, percetakan hingga perusahaan ekspor dan impor. Barang impor tersebut didatangkan dari berbagai negara. “Ada dua perusahaan tekstil, ada satu percetakan, dan sekitar lima hingga tujuh perusahaan ekspor dan impor di kawasan tersebut,” katanya.

Chrisyandi menjelaskan, barang impor seperti disel motor, mesin tenaga listrik, peti uang (brandkast), mesin kilang beras dan sebagainya, diperdagangkan di kawasan itu. “Salah satu perusahaan impor yakni Javastaal-Stok-vis N. V. Mereka mengimpor barang dari luar negeri seperti diesel motor dan lain sebagainya,” jelasnya.

Kawasan Bibis Tama tersebut merupakan perniagaan yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Surabaya saat itu. Karena lokasi tersebut juga berdekatan dengan stasiun Semut. “Jalur jalannya pendek (Bibis Tama, Red). Tapi buat lewat juga,” imbuhnya.

Chrisyandi mengatakan, bangunan gedung di Bibis Tama sedikit berbeda dengan Jalan Niaga (Jalan Veteran). Bibis Tama saat ini sebagai jalan belakang untuk menuju tempat parkiran. “Kalau dulu bangunannya menghadap ke depan sungai, sekarang sudah menghadap Jalan Veteran. Jadi sedikit gedungnya.” (*/opi/bersambung)

 

Sumber: Radar Surabaya. 25 Januari 2021. Hal.3

Taman Cantik di Rumah Gaya Belanda. Harian Di’s Way. 18 Januari 2021. Hal.20

Rumah Denny Bernadus di kluster Selat Golf, Citraland disulap bergaya Belanda. Cape Dutch Style. Itu sebenarnya merupakan arsitektur tradisional Afrika Selatan. Bangunan model ini sudah dikenal sejak abad 17. Khususnya di Cape Town, Afrika Selatan. Afsel merupakan salah satu negara bekas jajahan Belanda.

Geloof Hoop Liefde. Tulisan itu dipajang di atas rumahnya. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya Iman, Harapan, dan Kasih. Denny berharap rumahnya itu bisa menjadi kasih bagi keluarganya. Serta harapan-harapannya bisa tercapai tanpa menggoyahkan iman.

Di sebelah rumahnya terdapat sebuah taman. Tamannya tertata rapi. Lengkap dengan gazebo di ujung tamannya. Tamannya berhias berbagai ornamen patung. Seperti patung malaikat kecil yang membawa terompet. Berjejer rapi di sana.

Pada ujung selatan taman terdapat anggrek. Bunga itu sengaja ditanam oleh Denny karena terinspirasi mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Bu Risma mengajarkan untuk menanam tanaman yang kuat. Seperti di pinggir jalan. Nah dari situ saya tiru,” kata alumnus ITS itu.

Di bawah pohon tempat menempelnya anggrek terdapat sebuah kursi panjang. Lengkap dengan meja kecil di depannya. Sedangkan 5 meter dari tempat itu terdapat sebuah aula. Biasanya digunakan sebagai tempat berkegiatan anak-anaknya.

Selain itu Denny juga menanam dua pisang kipas. Tujuannya agar semakin menguatkan suasana tempo dulu. Ia juga membangun sebuah kolam. Suara gemercik menambah nyaman berlama-lama di taman itu. Saat malam hari, gemerlap lampu mini menghiasi taman tersebut.

Denny sering menjadikan tamannya untuk berkumpul dengan kawan-kawannya. Segala aktivitas bisa dilakukan di taman itu. Biasanya teman-teman komunitasnya sering berkumpul di taman itu. Ia merupakan anggota beberapa komunitas. Salah satunya komunitas mobil antik. “Tapi teman-teman komunitas mobil antik belum pernah kumpul-kumpul,” ujarnya. (Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 18 Januari 2021. Hal.20

Bibis Tama dan Kehidupan Pinggir Sungai Kalimas (4)_Jalan Pendek yang Dahulu Jadi Akses Utama. Radar Surabaya. 20 Januari 2021. Hal. 3,7

Kota Lama

Jalan Bibis Tama tak begitu panjang, seperti halnya beberapa jalan di kawasan tersebut yang jarak jalannya pendek. Seperti Jalan Bibis, Jalan Sulung, Jalan Gula, dan beberapa jalan lain.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

MENURUT Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, jalan tersebut dibuat untuk mempermudah akses jalan. Sebab, awalnya jalan tersebut merupakan jalan utama, karena pintu utama untuk dapat masuk ke bangunan atau gedung mengahadap ke sisi Kalimas.

“Ya, untuk mempermudah akses saja saat itu. Seiring perkembangan zaman, maka pintu gedung menghadapnya dari depan Kalimas beralih membelakangi atau ke sisi baratnya. Dan jalan di depannya disebut Societeit Straat,” katanya kepada Radar Surabaya.

Meski berada di depan sungai Kalimas dan merupakan kawasan perkantoran dan perniagaan, namun di Bibis Tama tidak ada dermaga untuk persinggahan kapal maupun untuk bongkar muat barang. Bongkar muat barang untuk kapal dari Eropa berada di dermaga Kalimas, sedangkan untuk yang kapal lokal berada di Pegirian. “Tidak ada dermaga di Jalan Bibis Tama,” jelasnya.

Kawasan tersebut murni jalan umum sama seperti jalan lainnya. Malahan pemerintah kala itu, menurut Chrisyandi, mulai menata transportasi trem dan kereta sehingga (ke halaman 7)

Jalan…

Pemerintah colonial membutuhkan akses jalan yang tidak ruwet. Salah satu contohnya membongkar kantor pemerintah di barat jembatan merah agar dari Jalan Rajawali tembus ke Kembang Jepun tanpa memutar. Bahkan dari pengamatannya, sekarang perubahan yang mendasar dulu dan sekarang yakni akases jalan yang buntu.

“Ada bedanya peruntukan akses jalannya. Sekarang orang lewat Bibis Tama hanya untuk parkir berteduh dan terkadang pinggir sungai jadi tempat mincing,” ungkapnya.

Chrisyandi mencontohkan, dulu Jalan Kenari ditutup oleh pihak swasta dengan proses alot akhirnya Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya berusaha mengembalikan fungsi jalan.

“Sekarang Bibis Tama dibuntu entah kenapa?. Padahal dulu ketika Jalan Kenari ditutup (dibuntu) pemkot berusaha sekuat tenaga mengembalikan fungsi jalan agar bisa dilalui kembali,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar. 20 Januari 2021. Hal.3,7

Atasi Covid-19, Sekelompok Mahasiswa Universitas Ciputra Ajak Para Pemuda Membantu Sesama Lewat Diskusi Daring. kompasiana.com. 15 Januari 2021

https://www.kompasiana.com/naufaltaufiqul3610/60017ad58ede481bff2af564/atasi-covid-19-sekelompok-mahasiswa-universitas-ciputra-ajak-para-pemuda-membantu-sesama-lewat-diskusi-daring

 

Dalam rangka menghadapi pandemi COVID–19 yang semakin meluas, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra bekerjasama dengan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya mengadakan diskusi daring yang bertajuk VolunTeen “Kenali Volunteering Dari Dalam” pada Sabtu, 12 Desember 2020.

Sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020, seakan menjadi momok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Regulasi Pemerintah tentang adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau yang biasa disebut PSBB sangat berdampak buruk pada kondisi sosial ekonomi di Indonesia.

Banyak industri dan tempat usaha dilarang beroperasi untuk sementara waktu agar wabah Covid-19 tidak semakin meluas, dan tak sedikit para pekerja dari berbagai sektor industri terpaksa dirumahkan.

Hal tersebut lantas berdampak pada meningkatnya angka penangguran. Berdasarkan data dari Kementrian Tenaga Kerja, bahwa setidaknya sudah 9,7 juta orang kehilangan mata pencaharian akibat Covid-19. Hal ini mengakibatkan banyak masyarakat kehilangan pendapatan.

Acara ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kompeten dan memiliki segudang pengalaman di bidangnya. Dengan hadirnya Faiz Dwikiesyahputra yang merupakan co-founder dari BUATBAIK, dan Victor Franciscus Diaz atau yang kerap disapa “Bro Diaz” yang merupakan perwakilan relawan dari Yayasan Kasih Bangsa Surabaya.

Bukan tanpa alasan, dipilihnya kedua narasumber tersebut lantaran mereka telah berkontribusi melalui yayasan atau lembaga yang menaungi mereka. Faiz dengan BUATBAIK nya yang kerap kali mengajak kaum pemuda terutama para Millenial untuk mau menolong masyarakat yang terdampak Covid 19 melalui program unggulan nya Kasi Bungkus, yaitu membagikan makanan kepada yang membutuhkan.

Tak mau kalah, Yayasan Kasih Bangsa Surabaya melalui Bro Diaz juga memiliki semangat yang sama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dengan segudang pengalaman, mengingat yayasan yang berbasis di Surabaya ini sudah mengabdikan diri untuk masyarakat sejak tahun 2011, maka tak heran pemilihan kolaborasi dengan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya dalam diskusi daring ini.

Acara yang dihadiri lebih dari 100 orang tersebut bertujuan untuk mengedukasi kaum pemuda terutama Millenial untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Para peserta yang hadir pun datang dari berbagai perguruan tinggi dan berbagai daerah seperti pulau Sulawesi, hingga mancanegara seperti Australia.

“Ini merupakan kerjasama yang baik antara mahasiswa FIKOM dengan Yayasan Kasih Bangsa Surabaya, karena kami tahu mereka sudah memiliki banyak kontribusi membantu masyarakat yang membutuhkan”, ujar Adima, salah satu panitia penyelenggara.

Dalam kesempatan tersebut, Faiz yang merupakan co-founder dari BUATBAIK menyampaikan bahwa melalui kegiatan ke-relawanan, dapat menumbuhkan banyak hal positif di diri manusia, dan menjadi jembatan bagi donatur dengan orang yang membutuhkan serta pentingnya memupuk rasa kepedulian antar sesama manusia terutama untuk kaum millenial. Karena dengan mengikuti kegiatan kerelawanan, para pemuda terutama kaum Millenial, menjadi berguna di masyarakat dan meningkatkan kualitas diri.

Acara ini dikemas secara praktis, interaktif, dan tentunya sangat menarik minat dan menggerakkan semangat generasi muda untuk membantu dan peka terhadap sesama, terlebih dalam situasi sulit saat pandemi Covid-19 saat ini, dan semakin melestarikan budaya Gotong Royong sebagai identitas bangsa.

“Ya, dengan kegiatan volunteering ini kalian bisa menemukan suasana baru, pengalaman baru, dan bahkan pribadi yang baru, sangat berguna sekali terutama untuk kaum millenial supaya bisa meningkatkan kualitas diri” tutur Faiz.

Hal yang sama juga diutarakan Bro Diaz dalam sesi wawancara Sabtu lalu. Pria yang sudah lama menjadi relawan di Yayasan Kasih Bangsa Surabaya ini mempunyai prinsip pantang mundur dan ikhlas dalam menjalankan aktifitas nya dalam dunia kerelawanan. Menurutnya, sebagai relawan harus tampil all out dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

“Los gak rewel wes” tutur Bro Diaz sambil diselingi canda berbahasa suroboyoan.

Salah satu peserta asal Gresik, Ilfad (23), juga menyatakan pendapatnya mengenai acara ini.

“Ya acara ini sangat menginspirasi sekali apalagi di tengah naiknya wabah covid 19, sangat menginspirasi” tuturnya.

 

Sumber: Kompasiana.com, 15 Januari 2021

YKS Universitas Ciputra, Upaya Ubah Pola Pikir Anak Muda Soal Buruh. muda.kompas.id. 14 Januari 2021

https://muda.kompas.id/baca/2021/01/14/yks-universitas-ciputra-upaya-ubah-pola-pikir-anak-muda-soal-buruh/

Maraknya demo mengenai UU Ketenagakerjaan yang baru disahkan DPR RI menginisiasi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra Surabaya untuk mengadakan acara YKS (Yuk Kita Sharing) yang mengusung tema “Generation with Knowledge”. Acara itu membahas pengenalan akan buruh, serta melengkapi pengetahuan anak muda Indonesia mengnai  UU Ketenagakerjaan secara umum.

Acara yang diselenggarakan pada 12 Desember 2020 melalui platform zoom tersebut, berkolaborasi dengan WADAS (Wadah Asah Solidaritas). WADAS merupakan organisasi pembimbingan buruh di Jawa Timur. Acara  diadakan secara daring dan menargetkan peserta dari kalangan anak muda Indonesia yang berada di dalam negeri maupun yang berada di luar negeri. Dalam pelaksanaanya, total ada 118 peserta muda dari seluruh Indonesia dan mencakup kurang lebih 20 peserta muda yang melanjutkan studi di Australia, Cina, Inggris, dan juga Singapura.

Praktik demo yang dipelopori oleh para buruh, tidak lagi menjadi hal yang asing di telinga anak muda Indonesia. Sayangnya, praktik demo yang kerap kali membawa dampak kemacetan serta kericuhan, menorehkan citra yang buruk di hati anak muda Indonesia. Banyak stereotipe kurang tepat yang akhirnya beredar tentang buruh. Buruh hanya dianggap sebagai kelompok masyarakat beredukasi rendah dan yang mudah dimobilisasi.

“Ada bermacam buruh. Ada yang bisa melihat dari beragam sudut pandang seperti sudut pandang perusahaan, sudut pandang dirinya, sesamanya, dan situasi yang ada. Namun ada juga buruh yang hanya melihat dari satu sudut pandang, yaitu dari sudut pandangnya saja, sehingga dalam pikirannya hanya menuntut dan menuntut saja,” ujar Ida Kristin Sianipar yang menjadi Ketua Biro Mahasiswa dan Alumni Universitas Ciputra. Oleh karena itu, YKS hadir untuk mencoba mengubah pola pikir anak muda Indonesia terhadap para buruh.

Dalam acara tersebut, Dannis Seniar Y.P, narasumber yang merupakan konsultan dan praktisi dalam perburuhan  berbagi informasi dan pengetahuan tentang perburuhan yang ada di Indonesia. Generasi muda mendapat pemaparan mengenai praktik nyata dalam dunia kerja dan UU apa saja yang akan melindungi mereka pada saat terjun ke dunia kerja. Pembahasan dalam talkshow ini mencakup arti serikat buruh, fungsi serikat buruh, Perjanjian Kerja Bersama (PKB), hingga Hukum Ketenagakerjaan sebelum dan setelah 2 November 2020, serta beberapa potensi perselisihan paska pengesahan UUCK (UU Cipta Kerja).

(BURUH) BUKAN HANYA YANG KERJA DI PABRIK. SEMUA YANG MASIH MENDAPATKAN PENDAPATAN DARI PEMILIK PEKERJAAN DISEBUT BURUH.

Dannis berharap, generasi penerus bangsa dapat menarik pemahaman yang lebih luas mengenai definisi, hak, kewajiban, serta siapa saja yang dapat digolongkan sebagai buruh berdasarkan UU Negara Republik Indonesia. “Orang-orang belum tahu benar yang dimaksud buruh itu siapa, padahal (buruh) bukan hanya yang kerja di pabrik. Semua yang masih mendapatkan pendapatan dari pemilik pekerjaan disebut buruh. Oleh karena itu UU Cipta kerja ini bukan untuk ‘buruh’ dalam arti sempit tapi buat kita semua yang bekerja.  Jadi ayo melek UU tenaga kerja,” kata Hilda Yunita Wono, Kepala Progran Studi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media Universitas Ciputra.

Acara itu dikemas secara praktis, interaktif, dan disesuaikan dengan kebutuhan anak muda Indonesia. Salah satu informasi yang diberikan dalam talkshow  adalah melengkapi anak muda dengan memaparkan hubungan industrial dan dikaitkan dengan Pasal 1 Ayat 38 Undang Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Informasi tersebut diharapkan membuat para generasi muda memiliki edukasi yang meluas pada saat akan terjun ke dalam dunia kerja, baik sebagai pekerja maupun sebagai pemilik usaha.

Pemberian materi dengan sistem temu wicara berbasis daring serta menghadirkan konsultan dan praktisi, membuat acara tersebut memiliki sentuhan modern dan edukasi yang mendalam. Acara semakin meriah karena banyak peserta yang antusias dan melontarkan pertanyaan  mendalam, mulai dari pertanyaan mengenai pelanggaran UUCK (UU Cipta Kerja) yang biasa terjadi dalam dunia perburuhan.

Sebagian dari mereka menanyakan tantangan lulusan baru (fresh graduate) yang akan terjun dalam dunia perburuhan di tengah pandemi. Pertanyaan lain bagaimana cara generasi muda  berperan serta dalam mengedukasi para buruh untuk tidak mudah dimobilisasi, dieksploitasi, dan ‘dibodohi’ oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Silvia Arviana, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra, Surabaya.

 

Sumber: Muda.Kompas.id, 14 Januari 2021

12 Mahasiswa Universitas Ciputra Terpilih Unjuk Karya di Counture Fashion Week New York. timesindonesia.co.id. 14 Januari 2021

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/321416/12-mahasiswa-universitas-ciputra-terpilih-unjuk-karya-di-counture-fashion-week-new-york

Pilih Trekking_Cindy Aprilia. Surya. 19 Januari 2021.Hal.3

Cindy Aprilia memillih berolahraga trekking untuk menjaga tubuh agar lebih sulit dimasuki virus. Dengan berolahraga daya tahan tubuh akan lebih kuat.

“Tentu saya juga tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari,” kata perempuan 20 tahun in.

Olahraga trekking menjadi pilihan Cindy karena kesukaannya saat melihat alam terbuka ditambah dengan udara bersihnya. Dia merasa sangat nyaman.

Meski sering kehujanan dan jatuh karena medannya yang ekstrem, tapi pengalaman trekking yang dirasakannya membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Mahasiswi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini menambahkkan, melakukan trekking rutin setiap hari Minggu dengan jarak kurang lebih 8 samapi 10 km.

“Setiap lari kalau ambil trek yang panjang, selalu saya selesaikan kurang lebih 3 jam. Kegiatan ini biasa saya lakukan di daerah dataran tinggi, seperti Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur,” ujar perempuan kelahiran Sidoarjo, 18 Apriil 2002 ini.

Selain itu, perempuan berzodiak Aries ini mengaku menjadikan trekking sebagai kegiatan untuk merefresh pikiran agar lebih jernih. Cita-cita Cindy adalah mengeksplor lebih banyak tempat untuk melakukan trekking.

“Saya akan mengajak teman-teman saya untuk ikut olahraga seperti saya agar mereka bisa merasakan dampak positf dari trekking ini,” tutupnya. (zia)

 

Sumber: Surya. 19 Januari 2021. Hal.3

Bibis Tama dan Kehidupan Pinggir Sungai Kalimas (3)_Dahulu Bangunan di Sana Menghadap ke Kalimas. Radar Surabaya. 19 Januari 2021.Hal.3,7. Chrisyandi. LIB

Kota Lama

Bangunan di Jalan Bibis Tama banyak yang berubah. Kawasan perkantoran dan perniagaan yang ada di sana awalnya menghadap ke arah Kalimas. Namun untuk memudahkan akses jalan sehingga diubah menghadap ke arah barat atau membelakangi sungai.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

SELAIN itu, karena posisinya dekat sekali dengan sungai Kalimas yang pada masa itu terdapat Pelabuhan di dekat Jembatan merah atau Wilemskade, sehingga menjadi kawasan untuk pergudangan maupun untuk kantor.

Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saat masa kolonial Belanda bangunan sempat mengalami perubahan. Yang tadinya menghadap Kalimas diubah menghadap ke arah jalan utama. “Bangunan yang ada di Jalan Bibis Tama sebenarnya dulu mengahadap ke sungai. Sama seperti bangunan lainnya di sepanjang sungai Kalimas. Perubahannya semua pada masa Kolonial Belanda,” katanya kepada radar Surabaya.

Chrisyandi menuturkan, seperti gedung Societeit Concordia (gedung pertamina) yang dulu menghadap ke sungai, lalu diubah menghadap ke selatan. Untuk diketahui, di kawasan tersebut ada gedung Bataafsche petroleum maatschappij (BPM) yang merupakan kantor minyak sebelum akhirnya dikelola Pertamina.

“Karena akses jalan lebih lebar dan lebih cepat menuju ke beberapa lokasi,” imbuhnya. (Ke Halaman 7)

Dahulu…

Chrisyandi menjelaskan, dahulu kawasan Bibis Tama juga digunakan untuk akses gedung utama yang saat ini menghadap ke barat dan selatan. Karena tidak ada pemukiman, sehingga kawasan tersebut lebih ke arah urusan kantor dan perdagangan. Tak hanya itu, kawasan itu juga untuk perkumpulan orang-orang Eropa yang biasanya digunakan untuk hiburan orang-orang Eropa. “Ya, sebelum dimiliki oleh BPM digunakan untuk perkumpulan (hiburan) di gedung itu (BPM),” jelasnya. (bersambung)

 

Sumber: Radar Surabaya. 19 Januari 2021. Hal.3,7