BATIK JAWA TIMUR, Sejarah Motif Gringsing. buletintekstil.com. 30 Januari 2021. Adi Kusrianto

https://buletintekstil.com/2021/01/30/batik-jawa-timur-sejarah-motif-gringsing/03/33/50/2054/

Jika ada pertanyaan Batik darimana, maka jawaban spontan yang akan muncul adalah Solo dan Jogja atau kalimat lain yang mengarah kesana.

Memang tidak dapat di ingkari bahwa seni batik Jawa mencapai keemasannya pada masa pemerintahan kedua keraton di Surakarta dan Yogyakarta selepas perjanjian Giyanti. Di periode inilah Batik diapresiasi dengan berbagai macam makna filosofi seputar falsafah kejawen, diterapkan aturan pemakaiannya untuk lingkungan keraton dan perkembangannya di luar keraton.

Dipicu Oleh Dikenalnya Batik Di Kancah Internasional

Pada awal abad ke 20, di Exposition Universelle (Pameran Internasional) berkala di Paris pada tahun 1900, pemerintah negeri Belanda menampilkan budaya eksotis dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang saat itu menjadi koloni mahkotanya. Salah satu yang dipamerkan adalah kain Batik yang memukau para pengamat dan pecinta seni. Karya-karya batik tulis Jawa yang dipamerkan kala itu merupakan koleksi museum Etnik Belanda, dimana koleksi tersebut hadiah dari saudagar Belanda yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1873.

Abad ke 20 inilah setelah Batik dikenal dunia internasional, bermunculan karya-karya tulis yang mengulas keberadaan batik yang secara real saat itu sangat berkembang di Jawa Timur.

Salah satunya Gerret Pieter Rouffaer (1860 – 1928) seorang peneliti, penjelajah dan pustakawan asal Belanda. Dalam laporannya De Batik-kunst in Nederlandsch Indie, G.P Rouffaer menyebutkan bahwa pola Gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Ia menyimpulkan bahwa pola ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa Timur pada masa sekitar itu.

Gringsing itu sendiri artinya Sisik Naga.

Informasi tersebut jika kita kaitkan dengan manuscrip Jawa yang tertera pada Babad Sangkala (1633) dan serat Panji Jayalengkara (1770), pada kedua naskah tersebut diketemukan kata hambatik (indonesia – membatik) sebagai kata kerja dari Batik. Maka dari riset G.P Rouffear yang menyebutkan temuan Grinsing pada abad ke-12 di Kediri dan manuscrip naskah Panji Jayalengkara (dongeng Panji) pada masa kejayaan Kediri terjalin kecocokan.

Pada dongeng Panji, dikisahkan kisah cinta antara Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji, dari Kerajaan Kediri.

Dongeng ini memiliki banyak variasi seperti Keong Emas, Ande Ande Lumut, Cinde Laras, Enthit, dan Golek Kencana. Pada semua versi selalu ada tokoh utama kedua bangsawan dan peran pembantu yaitu tokoh Mbok Rondo Dadapan, seorang wanita yang menolong putri saat tersesat di hutan.

 

Dimulai adegan saat Dewi Sekartaji terpisah dari suaminya Raden Panji Inu Kertapati saat berburu di hutan larangan yang angker.

Saat itu sang suami mengejar menjangan putih semakin jauh tersesat masuk hutan hingga petang Raden Panji disertai pengawal setianya berhasil menangkap menjangan putih lalu disembelih dan dibakar. Karena capai dan kelaparan ia lupa kalau tadi pergi bersama isterinya.

Saat menikmati hasil buruannya tiba-tiba muncullah isterinya, Dewi Sekartaji yang ternyata saat itu yang muncul adalah jin penunggu hutan larangan yang menjilma sebagai Dewi Sekartaji.

Sementara Dewi Sekartaji yang terpisah jauh dari suaminya, tersesat sendirian, dia ditolong oleh Mbok Rondo Dadapan(Janda dari Dadapan).

Saat itu Sekartaji sedang hamil, maka dia diminta untuk tinggal di rumah si wanita penolong ini, sampai bayinya lahir.

Mbok Rondo yang menolong Dewi Sekartaji menyadari bahwa ia telah menolong seorang bangsawan yang pada saat itu tidak membawa perbekalan serta pakaian, maka ia menenunkan selembar kain putih untuk dipakai sang putri hingga sang Dewi melahirkan, dan bisa pulang ke Kediri.

Karena Dewi Sekartaji adalah permaisuri raja, maka dia tidak tega hanya memberi kain tenun polos warna putih, maka Mbok Rondo Dadapan membuat hiasan menggunakan canting dan malam lebah. Dari alat yang sederhana itu, ia membuat motif yang kemudian kita kenal sebagai Gringsing, motifnya hanya berupa isen-isen saja, istilah dalam Bahasa Jawa disebut byur.

Sejak itulah sang putri selalu memakai kain dengan motif Gringsing hingga di akhir cerita yang berhasil happy ending bertemu dan berkumpul dengan suaminya Raden Panji Inu Kertapati.

Sebagai rasa terima kasih telah di tolong, maka Mbok Rondo Dadapan di boyong tinggal di lingkungan kraton Kediri. Disinilah ia diminta mengembangkan kebisaannya membatik. Ketrampilan membatik selanjutnya berkembang dilingkungan istana sejak kerajaan Kediri, Singosari, hingga era Majapahit. Banyak fakta sejarah yang memiliki benang merah yang menguatkan asal usul batik yang justru berasal dari kalangan rakyat yang dibawa ke kraton.

Motif Gringsing di Kitab Pararaton

Informasi lain tentang sejarah batik, terdapat pada kitab Pararaton (Sujoko 1983) yang kutipannya sebagai berikut:

 

” Semangka Raden Wijaya andum lancingan gringsing ring kawula nira sawiji sowang, ayun sira angamuka, Kang dinuman siro Sora, sira Rangga Lawe, sira Dangdi, siro Gajah, sira Sora anempuh akeh longing wong Daha”.

Artinya: Sesaat Raden Wijaya membagi lancingan (kain bawahan) gringsing kepada hamba-hambanya masing-masing satu, berperanglah kamu mati-matian, Yang memperoleh kamu Sora, kamu Rangga Lawe, kamu Dangdi, kamu Gajah, kamu Sora, serang orang DAHA yang banyak menyusahkan.

Bagaimana Batik sudah ada di Jambi pada masa Pra Majapahit ?

Menurut pendiri Jambi Heritage Junaidi T Noor (Almarhum), ia mengatakan bahwa batik yang identik dengan budaya jawa, bukan barang baru di Jambi, Batik dikenakan bangsawan Jambi sejak jaman dahulu di abad ke-13. Hubungan Jambi dan Jawa terjalin sejak Ekpedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Singosari dibawah pemerintah raja Kartanegara pada tahun 1275 – 1286.

Batik Gringsing Di Era Singosari

Masyarakat di kecamatan Kerek, Tuban, merupakan kelompok masyarakat yang memegang teguh tradisi yang dilakukan para sesepuhnya. Tidak heran jika mereka masih memiliki tradisj turun temurun yang diperoleh dari nenek moyangnya sejak jaman Majapahit bahkan Singosari.

Menurut cerita M.Rifat yang merupakan kolektor batik dari keluarga besar pembatik di Kerek, dia memperoleh cerita dari neneknya tentang motif Gringsing. Menurutnya di era kekuasaan raja Ken Arok (Sri Rajasa) antara tahun 1222 sampai 1227 para ponggawa kerajaan memakain kain dengan motif gringsir byur, sedangkan yang memakai ornamen utama digunakan untuk raja.

Selain motif gringsing, pada masa itu juga dikenal motif Kesatriyan yang berbentuk segi lima dan ditengahnya ada titik putih serta dihiasi empat garis petunjuk arah mata angin. Lalu ada motif Panji Krentil dan Panji Serong yang mana kedua batik motif ini biasanya digunakan dalam ritual tertentu.

(Red B-Teks / Adi Kusrianto)

Adi Kusrianto, Bsc.Tex., SE. Pengamat tekstil dan wastra Nusantara. Pengajar Universitas Ciputra dan LaSalle Surabaya.

 

Sumber: Buletiktekstil.com, 30 Januari 2021

 

Bibis Tama dan Kehidupan Pinggir Sungai Kalimas_Bekas Gedung Asuransi yang Disulap Lebih Modern.Radar Surabaya.8 Februari 2021. Hal.3,7

Kota Lama

Kesan histrois kawasan Bibis Tama saat ini masih menyisakan ceritan dan bangunan yang masih ada. Selain gedung Bank Mandiri dan gedung Pertamina yang dulunya menghadap ke depan sungai. Ada lagi bangunan yang saat ini masih bertengger megah.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

PUSTAKAWAN Sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, kawasan Bibis Tama sarat akan bangunan cagar budaya peninggalan kolonial Belanda. Seperti yang saat ini bangunan menghadap ke Jalan Veteran dengan nama gedung Asuransi Wuwungan atau saat ini merupakan gedung bank BCA. “Bangunan itu berdiri tahun 1920, ini dulu mempunyai karakteristik bangunan menonjol het nieveu bouwen,” katanya kepada Radar Surabaya.

Chrisyandi menjelaskan, arsitektur khas Eropa masih melekat di bangunan tersebut. Karena bagian bangunan seperti batu bata diplester, kolom kayu penutup kaca persegi dan lengkung, perisai, genteng, beton tulang masih terlihat. “Karakteristik bangunan sudah jelas menonjol arsitektur Eropa, apalagi ada bentuk gravel kombinasi segitiga silindris yang ada di bagian bangunan itu,” jelasnya.

Bangunan itu hingga kini masih berada di pinggir Sungai Kalimas atau tepat di Jalan Bibis Tama dan pintu utama sekarang sudah berubah posisi. “Sekarang pintu utamanya di Jalan Niaga yang sekarang Jalan Veteran. Karena jalan itu (Veteran) kini sudah cukup ramai dan jadi jalan utama,” katanya.

Sementara itu, menurut pengamat sejarah kota Surabaya Purnawan Basundoro, upaya pemkot dalam merawat bangunan di kawasan kota tua sudah ada sejak tahun 1996. Ketika itu 80 bangunan yang ditetapkan bangunan cagar budaya, kemudian berlanjut samapi dengan 273  bangunan yang menjadi cagar budaya tua. (Ke Halaman 7)

Bekas Gedung…

“Bukan hanya dicat, namun yang paling penting konteks merawatkannya dalam rangka mengenal peninggalan dan bukti-bukti sejarah Kota Surabaya. Selain dirawat juga ditawarkan kepada publik untuk dinimkati,” katanya.

Selain itu, perlu juga keterlibatan masyarakat juga untuk menjaga dan merawat bangunan cagar budaya, sehingga ada sinergi antara masyarakat, pemilik bangunan dan pemkot Surabaya.

“Bangunan-bangunan kota lama kebanyakan dibuat untuk berdagang, masyarakat (pemilik bangunan) hanya fokus dalam berdagang, namun membiarkan bangunan ini menjadi tidak terawat padahal itu nilai sejarah yang tinggi dan sangat luar biasa,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 8 Februari 2021. Hal.3,7

Bibis Tama dan Kehidupan Pinggir Sungai Kalimas (20 habis)_Campur Tangan Pemerintah dalamMenata Ulang Kawasan. Radar Surabaya. 9 Februari 2021. Hal.3,7. Chrisyandi. LIB

Kota Lama

Secara umum, kawasan Bibis memiliki beberapa tempat bersejarah, selain dari Jalan Bibis itu sendiri dan Jalan Bibis Tama yang pernah menjadi salah satu jalan penting karena kawasan ini merupakan kawasan pinggir Sungai Kalimas. Dinamisasi aktivitas warga di kawasan ini sampai sekarang pun tergolong masih tinggi oleh adanya berbagai macam kegiatan bisnis.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

NAMUN, Bibis Tama saat ini sudah berubah menjadi kawasan perkampungan. Sehingga Jalan Bibis Tama tak begitu panjang untuk dilintasi, bahkan akses jalan pun buntu.

Menurut Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika, awalnya jalan tersebut merupakan jalan utama karena pintu utama untuk dapat masuk ke bangunan atau gedung menghadap ke sisi Kalimas. “Ya, untuk mempermudah akses saja saat itu. Seiring perkembangan zaman, maka pintu gedung menghadapnya dari depan Kalimas beralih membelakangi atau ke sisi baratnya. Dulu jalan di depannya disebut Societeit Straat,” katanya.

Dengan buntunya akses jalan di Bibis Tama saat ini, perlu campur tangan pemerintah untuk membuka akses jalan tersebut sehingga bisa digunakan untuk lalu lalang. Chrisyandi mencontohkan, dulu Jalan Kenari ditutup oleh pihak swasta dengan proses a lot akhirnya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berusaha mengembalikan fungsi (ke halaman 7)

Campur…

jalan. “Sekarang Bibis Tama dibuntu entah kenapa?. Padahal dulu ketika Jalan Kenari ditutup (dibuntu), pemkot berusaha sekuat tenaga mengembalikan fungsi jalan agar bisa dilalui kembali,” ungkapnya.

Menurut Chrisyandi, untuk mempermudah jalan ke akses ke Bibis Tama pemerintah dahulu mulai menata transportasi. Bahkan kala itu transportasi trem atau kereta dibutuhkan akses jalan yang tidak semrawut. “Salah satu contohnya termasuk membongkar kantor pemerintahan di barat Jembatan Merah agar dari Jalan Rajawali tembus langsung ke depan jalan Bibis Tama,” katanya.

Perkembangan zaman yang begitu pesat membuat Jalan Bibis Tama kini juga tergeser keberadaan atau fungsinya. Apalagi dulu di belakang Jalan Bibis Tama yang saat ini Jalan Veteran ada trem uap, trem listrik hingga kendaraan roda dua maupun roda empat yang lalu lalang pasca diaspalnya Jalan Bibis Tama. Perubahan jalan dari makadam ke aspal juga berpengaruh pada berpindahnya transportasi perahu untuk barang ke transportasi atau kendaraan darat. “Sejak ada trem uap, trem listrik dan kendaraan darat, ditambah jalannya mulai beraspal jadi lalu lintas perahu untuk angkut barang di Sungai Kalimas sudah tidak ada lagi,” katanya.

Bibis Tama meninggalkan sejuta kenangan dalam urat nadi perekonomian di kawasan Surabaya Utara. Apalgi adanya jembatan dari kayu kini tinggal kenangan dan cerita. Hingga sekitar tahun 1890 jembatan masih bisa disaksikan. Jembatan angkat menunjukkan bahwa Kalimas adalah sungai yang sarat akan lalu lintas air. “Ini yang menjadikan Kalimas sebagai urat nadi perekonomian dan perhubungan,” jelas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disgusip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi. Keberadaan jembatan angkat itu menjadikan kesan jembatan kayu itu luar biasa dibandingkan dengan jembatan yang sekarang ini/ (*/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 9 Februari 2021. Hal.3,7

Patung Merlion di MAna-Mana, Trend atau Selera. Harian Dis Way.7 Februari 2021.Hal.14-15. Freddy H.Istanto. INA

Oleh : Freddy H. Istanto (Dosen Prodi Arsitektur-Interior, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Ciputra)

 

Saat melihat sosok yang mengingatkan gerbang di Kota Paris itu, perasaan ini campur aduk. Aneh ada bangunan bergaya Neo-klasik itu di kabupaten Kediri. Semua orang tahu bahwa tongkrongan bangunan itu adalah Arc de Triomphe yang berada di ibu kota Prancis memang monumental. Kediri juga kabupaten yang hebat, pernah punya kerajaan yang tercatat di buku-buku Sejarah. Mengapa ya Kediri tidak mampu menghadirkan jati dirinya sendiri?

Sejak globalisasi merasuk ke mana-mana, pertukaran bentuk-bentuk arsitektur terjadi di mana-mana di dunia. Sebenarnya pada zaman colonial Belanda juga sudah ada bentuk-bentuk bangunan yang menyomot bangunan di Belanda kemudian diterapkan di Indonesia. Juga Spanyol, Portugis, Tiongkok, dan Arab membawa pengaruh pada karya-karya kreatif di Nusantara.

Menutup dasawarsa millennium dua, Indonesia kebanjiran bangunan dengan gaya arsitektur Mediterania. Lalu disusul bangunan-bangunan dengan bentuk seperti Colloseum, Arc de Triomphe, Windmill/Kincir angin, Menara Eiffel, Pagoda (Tiongkok), Torii (gerbang di Jepang) dan masih banyak lagi.

Lalu apa salahnya Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri, yang “Arc de Triomphe” di Kediri itu? Memang ini bukan masalah betul atau salah. Kalau bangunan itu adalah penanda kota, pertanyaannya adalah apakah penanda itu punya relevansi dengan kotanya? Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur pada Revolusi Prancis. Kabarnya bangunan di pusat Simpang Lima Gumul ini idenya seperti juga Arc de Triomphe yang berada di pusat pertemuan 12 Jalan di Kota Paris. Lalu hanya itu saja? Ketika viral, posting tentang banyaknya patung Merlion dibangun di beberapa kota di Indonesia, pikiran jadi melayang ke Arc de Triomphe kabupaten Kediri itu lagi. Kekhawatiran terbesar adalah model patung-patung yang berbentuk Mermaid dan Lion itu dijadikan ikon kota. Kekhawatiran lain adalah patung-patung itu hanya di copy-paste saja, tanpa ada upaya kreativitas. Kegelisahan yang menakutkan adalah patung-patung yang ide asalnya dibangun sebagai ikon kota Singapura itu digagas oleh pemangku kebijakan di kota-kota itu.

Meskipun ikon-ikon kota bisa bebas berbentuk apa saja, bahkan bisa hadir tanpa disengaja.

Kota-kota Magelang, Bontang, Karanganyar, Banjarnegara, Batam, Deli Serdang, dan Madiun punya patung dengan raut patung Merlion itu. Hadir dimanfaatkan sebagai elemen-elemen untuk mempercantik lokasi-lokasi mereka. Di Surabaya ada di Kawasan Citralan, bahkan yang pertama dibangun di Indonesia.

Citraland meng-copy-paste dari asli di Singapura sana untuk menguatkan konsep kawasannya yaitu The Singapore of Surabaya. Melengkapinya dengan ornament-ornamen seperti Merlion, Patung Reffles, fountain of wealth, dan lain-lain.

Ketika membedah gaya arsitektur Mediterania yang marak di Indonesia decade akhir millennial dua, ternyata gay aitu tidak sekedar tren arsitektur. Ada lifestyle baru dan fenomena-fenomena kebudayaan yang menarik. Gaya Arsitektur Mediterania di Indonesia menghadirkan situasi budaya “seolah-olah”. Seolah-olah tinggal di Mediterania. Gaya hidup “seolah-olah” sudah diprediksi lama. Kebudayaan yang oleh Baudrillard (1983) mengikuti model produksi yang disebut “simulasi”.

Isu Mediterania di Indonesia saya bawa dalam konferensi internasional yang diadakan oleh University of California Berkeley. Topik yang menguat di dunia saat itu memang seputaran hyperrelists.

Seolah-olah berada di kota Paris, padahan sejatinya ya di kota Kediri. Kawasan yang tertib, aman, disiplin, teratur, dan bersih maka itu adalah Singapura. Maka tinggallah di the Singapore of Surabaya. Masih perlu ditelaah, apakah hadirnya patung-patung Merlion di beberapa kota di Indonesia adalah fenomena Hiperrealitas/budaya (seolah-olah) atau karena bentuknya menarik (Mermaid dan Lion). Atau bisa juga piknik terjauhnya yak e Cuma ke Singapura sana, jadi kebanggaannya baru sampai di sana?

Era kesejagatan atau globalisasi sebenarnya menawarkan global paradoks. Ikon-ikon kota atau elemen-elemen urban, seharusnya menampilkan kekhasan local yang unik dan tidak ada duanya di bagian lain di dunia. Konteks-konteks tradisional atau lokalitas justru yang akan dicari orang. Memasakinikan elemen-elemen tradisional atau lokal tidak hanya akan menarik bagi pendatang, tetapi juga akan menarik untuk warga kotanya sendiri. Tantangannya adalah bagaimana warga kota atau bahkan pemimpin kotanya sendiri terjangkit atau tidak pada budaya “seolah-olah” itu.

Patung-patung Merlion itu jelas sebuah langkah pastiche atau hanya pengimitasian. Sama juga dengan Arc de Triomphe di Kediri itu, jelas sebuah karya yang miskin kreativitas. Kota Surabaya sendiri juga tidak lepas dari Langkah copas meng-copas itu. Bahkan Ikon kota “Suro-Boyo” malah dikloning di beberapa tempat di kotanya sendiri.

Kreativitas desainer, arsitek, ahli rancang-bangun Indonesia sebenarnya luar biasa. Desainer yang baik tentu akan tabu dengan gaya copy-paste atau “Me too” itu. Di sisi lain, Sebagian masyarakat era ini masih suka desain-desain yang oleh aliran post-modern dicatat sebagai desain-desain yang kreativitasnya begitu-begitu saja (pastiche, parodi, kitsch, dan skizofrenia). Tantangan-tantangan desain di era ini. Tabah dan kuatkan Iman kawans.

 

Sumber: Harian Dis Way.7 Februari 2021.Hal.14-15.

Ajak Lebih Peka dengan Kesehatan Serviks. Jawa Pos. 5 Februari 2021.Hal.24. FK

Menurut Risiko Mengidap Kanker

“Banyak perempuan yang telat menyadari bahwa dirinya mengidap kanker. Biasanya bertemu kanker saat sudah di fase lanjut. Sekitar sudah 70 persen.”

DOKTER CHARLES SIAHAAN SPOG

Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Empat Februari diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Dalam memperingatinya, RSIA Putri Bersama dr Charles Siahaan SpOG menggelar talk show daring dengan tema Kenali dan Cegah Kanker Serviks. Tema kanker serviks diangkat karena dianggap menjadi salah satu kanker yang masih menjadi momok. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.

Pada 2018 silam, Charles mengungkapkan bahwa jumlah kasus kanker tersebut di seluruh dunia masih di angka 517 ribu. Sementara itu, jumlah perempuan yang meninggal mencapai 311 ribu.

Karena itulah, kanker tersebut menjadi kanker nomor dua yang masih menjadi hal menakutkan setelah kanker payudara. Padahal, kanker tersebut dianggapnya adalah kanker yang masih bisa dicegah.

“Soalnya kita tahu virusnya dan ada vaksinnya,” terangnya. Namun, yang disayangkan adalah banyak perempuan yang telat menyadari bahwa dirinya tengah mengalami kanker tersebut. “Kita biasanya bertemu kanker ini saat sudah di fase lanjut. Sekitar sudah 70 persen,” tuiturnya.

Charles menambahkan, masalah ketidaktahuan tersebut sebenarnya bisa diatasi dengan sosialisasi yang lebih lagi. Tapi, tentu dengan kehadiran para perempuannya. Sebab, tanpa seseorang itu tahu akan pengetahuan kanker serviks, akan sulit untuk mengetahui gejalanya.

“Karena gejalanya biasanya baru akan benar-benar kelihatan kalau sudah di stadium akhir,” tambahnya. Padahal, tanda paling awal bisa jadi saat mengalami keputihan yang berbau dan gatal. “Nah, ini biasanya hanya diobati dengan sabun-sabun khusus, terus sembuh. Padahal, itu salah,” imbuhnya.

Tanda-tanda lainnya, dia menjelaskan, yakni mengeluarkan darah saat berhubungan, muncul banyak bercak, nyeri perut bagian bawah, lemas, dan nafsu makan yang menurun. Namun, selain itu, faktor risiko menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan.

“Faktornya bisa karena sudah memulai aktivitas seksual di usia muda. Biasanya belasan tahun,” tambahnya. Hal-hal lain bisa disebabkan seringnya berhubungan seksual dengan multipartner, mempunyai anak banyak, terkena penyakit seksual menular, hingga gangguan imun.

 

Sumber: Jawa Pos. 5 Februari 2021.Hal.24.

Gencarkan Tracing dan Skrining Awal. Jawa Pos. 2 Februari 2021.Hal.15

Cegah Kemunculan Klaster Kampus

Surabaya, Jawa Pos

Perkuliahan daring (dalam jaringan) alias online memang sudah lama diberlakukan. Namun, kegiatan di kampus tidak serta-merta mati. Kampus tetap menyiapkan beragam Langkah antisipasi agar tidak muncul klister Covid-19. Edukasi berulang menjadi garda terdepan.

“Kami lakukan edukasi di semua platform, baik daring maupun luring. Mulai 3M sampai 5M,” kata dr Salmon Charles P.T. Siahaan SpOG, anggota Satgas Anti-Covid-19 Universitas Ciputra.

Kebutuhan dan jadwal bekerja dari kantor (WFO) maupun bekerja dari rumah (WFH) civitas academica juga diatur. Sebelum Kembali ke kampus, mereka wajib mengisi table-tabel untuk mengetahui risiko terpapar. “Apakah baru dari luar kota, kontak erat dengan pasien. Masing-masing harus mengisi di rumah sebelum ke kampus,” ujar Charles.

Mereka akan mendapatkan e-mail tentang tingkat risiko. Mulai risiko rendah, sedang, sampai tinggi. Saat datang ke kampus, civitas academica dengan risiko tinggi bakal diminta menjalani rapid test antigen. Pengujian tersebut dilakukan di klinik milik Fakultas Kedokteran UC. “Jadi, kami Kelola sendiri. Hasilnya juga cepat untuk ditangani,” ungkap wakil dekan III FK UC tersebut.

Di luar tes terkait dengan kondisi risiko paparan, pihaknya juga menjadwalkan rapid test rutin. Jika memang ada civitas academica yang terkonfirmasi positif Covid-19, satgas segera melakukan tracing atau penelusuran kontak. “Nah, bagi yang positif, bakal kami asesmen. Gejalanya seperti apa. Jadi, kebutuhannya isolasi mandiri atau perlu bantuan rujukan ke RS,” jelasnya.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga semakin aktif memaksimalkan peranan Satuan Mitigasi Crisis Center (SMCC). Per Januari 2021, satuan tersebut telah berubah menjadi unit yang lebih mandiri. Sebelumnya, ada program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang bernama Unesa Crisis Center. Crisis center itu didirikan sejak 15 mahasiswa Unesa terjebak di Wuhan, Tiongkok, tahun lalu.

SMCC Unesa bekerja melalui tiga divisi yang dimilikinya. Yakni, divisi mitigasi Covid-19 dan Kesehatan medis, divisi mitigasi Covid-19 dan kesehatan medis, divisi mitigasi kebencanaan, serta divisi manajemen krisis dan Kesehatan mental. Hal-hal yang dilakukan SMCC adalah mencegah persebaran virus melalui pemberian alat sanitasi kepada masyarakat sekitar kampus, menerapkan pembatasan kegiatan berskala besar (PKBB) di lingkungan kampus, serta melakukan testing dan tracing bagi civitas academica.

“Kami memberikan pendampingan berupa penyediaan kamar-kamar atau tempat tinggal untuk civitas academica yang terpapar Covid-19,” ungkap Ketua SMCC Diana Rahmasari.

Pihak kampus juga memberikan pendampingan untuk memulihkan Kesehatan mental bagi civitas academica yang terpapar Covid-19. Upaya itu tidak kalah penting jika dibandingkan dengan pemulihan fisik. Sebab, menurut Diana, orang yang terpapar Covid-19 sering kali mengalami kecemasan yang berlebih, khawatir keluar rumah, dan takut dikucilkan setelah sembuh.

“Nah, di situlah peranan kami. Memberikan pendampingan secara psikis untuk mereka yang butuh konsultasi agar fisik dan mentalnya cepat pulih,” tandas Diana.

 

Sumber: Jawa Pos. 2 Februari 2021.Hal.15

Mulai Menyerang. Surya.1 Februari 2021.Hal.1,15

Saya pikir itu adalah optimisme dan kenekatan dari para pengusaha. Jadi pariwisata ini tidak bisa berdiam diri.

Kalau kita flashback ke belakang pariwisata itu dari dulu adalah industri yang sangat dinamis. Artinya dinamis itu adalah sangat rentan akan kejadian global. Misalnya bencana alam atau terorisme. Itu akan sangat berpengaruh dengan tingkat kunjungan, baik secara nasional maupun internasional. Dan ini terus sudah terjadi di berbagai belahan dunia.

Kalau kasus di Indonesia kita sudah mengalami sejak dulu. Sejak zaman adanya tsunami Aceh, kemudian bom Bali 1 dan 2. Kemudian gempa bumi di Jogja. Lalu Gunung Merapi Meletus dan kemudian Gunung Agung yang terakhir. Ini sangat berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan.

Soal pandemi pun Indonesia juga pernah mengalami. Saat itu virus SARS, flu burung, dan flu babi. Tetapi waktu itu dampaknya di Indonesia tidak semasif ini.

Dengan kondisi semacam itu orang-orang dalam dunia industri pariwisata sudah siap. Cuma yang jadi agak berbeda adalah pandemi ini lebih lama durasinya.

Dalam proses 2020, memang modenya itu adalah mode survival. Artinya teman-teman itu bertahan. Bertahan untuk tetap hidup dan melakukan banyak efisiensi atau pemotongan dan sebagainya. Itu pada awal-awal pandemi dan PSBB juga sangat luar biasa.

Pada kuarter terakhir tahun 2020, sekitar bulan Oktober, November, Desember, itu tampak sudah ada perlawanan kembali. Artinya beberapa industri sudah mulai menyiapkan strategi ke depan mulai menyiapkan strategi ke depan.

Kemarin sebenarnya Bali itu kalau tidak ada peraturan mendadak PKKM, diprediksi tinggi sekali okupansinya. Tapi pada akhirnya muncul peraturan yang cukup mendadak dari Gubernur Bali, sehingga banyak yang cancel. Kalau kita mengikuti berita kerugian cancel itu sampai kurang lebih Rp 800 miliar. Itu adalah kerugian transaksi cancel perjalanan ke Bali.

Dari situ sebenarnya menandakan kalau pariwisata sudah mulai muncul nadinya. Khususnya pariwisata domestik. Mengapa? Karena mau tidak mau perbatasan masih ditutup.

Apalagi Januari juga tambah diperketat. Kalau sebelum Januari itu sebenarnya sudah ada beberapa wisatawan yang sudah mulai masuk. Bisa melakukan kunjungan bisnis. Tapi kalau memang kunjungan visa wisata tidak bisa.

Setelah Januari itu sudah tidak bisa kecuali kunjungan diplomatik politik dan bantuan kemanusiaan.

Dan dalam kondisi semacam ini yang menjadi penolong kita adalah wisatawan domestik. Itu yang seharusnya bisa ditangkap oleh teman-teman industri pariwisata.

Kalau bicara mengenai optimisme, maka saat ini sudah bukan lagi soal bertahan. Namun ini adalah saatnya untuk menyerang.

Penyerangan pun juga cukup bervariasi. Ada yang menyerang secara frontal, dan ada juga yang perlahan-lahan, bahkan ada yang masih menunggu situasi.

Apalagi saat ini yang paling kuat adalah muncul vaksin yang sudah mulai didistribusikan. Itu kan juga mampu meningkatkan sentiment positif untuk dunia pariwisata.

Sebenarnya kejadian pandemi ini akan mendatangkan model bisnis baru di dalam dunia destinasi wisata yang berhubungan dengan outdoor. Wisata outdoor akan sangat lebih marak.

Kalau di dunia akomodasi, bila dilihat trennya cenderung melihat pada akomodasi yang menyediakan space yang luas. Saya seringkali ngomong, setelah pandemi ini yang lebih laku ini adalah hotel yang bintang 3, 4, 5 yang space-nya lebih luas. Artinya di lobinya atau area publiknya lebih luas.

Kalau hotel budget mungkin akan agak lebih lama untuk pulih. Karena orang masih trauma dengan space yang kecil. Itu juga menjadi perbincangan. Kemudian mengenai kedisiplinan di hotel menerapkan sertifikasi Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE), atau protocol Kesehatan (prokes).

Saya amati memang sudah disosialisasikan tentang prokes, tapi kalau turisnya sudah banyak terkadang banyak yang meleset (abai).

Good point adalah mereka sudah belajar mengenai efisiensi. Misalnya selama tahun 2020 efisiensi sangat kencang diberlakukan oleh teman-teman di perhotelan. Misalnya penggunaan lampu atau listrik di beberapa area, dan penggunaan AC di beberapa area ruangan. Selama tahun 2020 itu memang banyak pengurangan.

Ketika masuk tahun 2021 perilaku efisiensi itu akan tetap dilakukan oleh rekan-rekan perhotelan. Walaupun nanti sudah kondisi normal, maka efisiensi akan tetap dilakukan.

Batasannya adalah selama tamu tidak complain atau tetap nyaman dengan kondisi seperti itu, maka mereka akan tetap melakukan.

Misalnya lampu di beberapa area di lobi tidak dinyalakan dan pengunjung tidak complain, karena tahu untuk mengurangi potensi penularan di ruangan ber-AC. Jadi pengunjung itu sudah bisa lebih sadar mengerti dan memahami, dan itu sangat berguna di dunia perhotelan.

Apalagi persoalan untuk tenaga kerja tidak bisa dipungkiri memang selama 2020 banyak hotel yang tutup atau menggunakan istilah tutup sementara. Ada yang masih buka, dengan karyawan yang dirumahkan sebagian. Jadi separuh dirumahkan. Kemudian yang separuh kerja itu hanya bekerja separuh jam kerja.

Dengan kondisi efisiensi ini, Ketika nanti sudah normal dia akan bertahap untuk mengembalikannya 100 persen. Tapi ini langkah agar bisa bangkit kembali. Jadi ini adalah suatu optimisme yang diselimuti oleh kenekatan. Mengingat bahwa Show Must Go On.

 

Sumber: Surya.1 Februari 2021.Hal.1,15

Urban Farming pun Siasati Pandemi. Harian Di’s Way. 1 Februari 2021.Hal.4,5

Rangkaian Garden & Urban Farming Competition bagi warga CitraLand berakhir kemarin. Hadiah kepada para pemenang kemarin diserahkan secara simbolis oleh Founder Harian Disway Dahlan Iskan, Direktur PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus, dan Rektor Universitas Ciputra Surabaya Yohannes Somawiharja kemarin. Seremoni dilakukan dengan mendatangi rumah para pemenang.

Selain mengapresiasi taman para pemenang kategori garden, Dahlan Iskan, Sutoto Yakobus, dan Yohannes Somawiharja juga kagum dengan green house milik Anny Suryanti yang menjadi 1st Best Urban Farming. Kebun tersebut berada di sebuat kapling rumah di kluster Bukit Golf International, CitraLand.

Menurut Sutoto, Anny pernah datang menemuinya untuk meminta izin membuat urban farming di tanah kapling miliknya. “Sebenarnya peruntukan kapling ini kan untuk rumah. Akhirnya saya izinkan dengan syarat harus rapi dan bersih,” katanya. “Ternyata komitmennya dijalankan dengan baik,” sambung Sutoto.

Awalnya, dia lebih banyak menghasilkan sayuran untuk salad. Namun sejak pandemi, orang enggan makan makanan mentah. “Sebagian dialihkan untuk sayuran oriental yang bisa ditumis,” kata Anny.

Dahlan Iskan memuji Anny yang cepat beradaptasi dengan pandemi. “Ternyata semua usaha, besar atau kecil, itu sama saja. Harus terus dipikirkan,” kata Dahlan.

Pemenang kategori garden B () Utomo Tedjokumoro merasa bersyukur tamannya menjadi pemenang. Bukan pertama kali Utomo dan istri memenangkan lomba taman. Meski begitu, kemenangan lomba kali ini paling berkesan. Sebab pada lomba kali ini didatangi oleh dahlan Iskan, Sutoto Yakobus, dan Yohannes Somawiharja. “Ini suatu kehormatan bagi kami didatangi beliau-beliau ini,” kata pria 81 tahun itu.

Lain lagi dengan cerita Melia Christina Eddy. Pemenang kategori garden A (). Menurutnya, banyak suka duka dalam membuat taman. Beberapa kali tanamannya mati. Namun terus dicobba. Sampai berhasil. Meski memakai landscaper, namun dia sendiri yang memilih tanamannya. “Semuanya kami pilih sendiri. Baru landscaper yang mendesain tamannya,” katanya.

Garden & Urban Farming Competition ini memang khusus bagi warga CitraLand. Ini merupakan kolaborasi Harian Disway dengan CitraLand Surabaya dan Universitas Ciputra. Juga didukung oleh Paguyuban Warga CitraLand (Pawacitra). (Tomy C. Gutomo-Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 1 Februari 2021.Hal.4,5

Menang Karena Taman Ditinggikan. Harian Di’s Way. 1 Februari 2021.Hal.1

Raut wajah Heri dan Melia Christina Eddy begitu semringah saat rumah mereka di kluster Bukit Golf International, CitraLand, didatangi founder Harian Disway Dahlan Iskan, Direktur PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus, dan Rektor Universitas Ciputra Yohannes Somawiharja kemarin. Tiga tokoh tersebut datang untuk memberikan hadiah kepada Heri dan Melia. Taman mereka dinobatkan sebagai 1st Best Garden kategori A () Garden & Urban Farming Competition.

“Tamannya terlihat elegan karena ditinggikan. Banyak taman yang bagus, tapi kurang di-show-kan. Ini bagus sekali. Saya setuju kalau juri memenangkan taman ini,” kata Dahlan Iskan.

Hadir juga dalam seremoni sederhana itu Direktur Harian Disway M. Taufik Lamade, Associate Director PT Ciputra Development Tbk Hendra Lauw, Dekan FIK Universitas Ciputra Astrid Kusumowidagdo, dan Ketua Paguyuban Warga CitraLand (Pawacitra) Frans Waruwu.

Dahlan Iskan juga mengapresiasi taman milik Utomo Tedjokumoro, warga kluster Royal Park, CitraLand. Taman tersebut dinobatkan sebagai 1st Best Garden untuk kategori B (). “Pak Utomo ini kan apoteker. Mungkin merawat taman ini bersama istri dengan ramuan khusus,” kata Dahlan.

Sutoto Yakobus menambahkan, kelebihan taman milik Utomo itu adalah mempunyai varian tanaman yang banyak. “Juga, dirawat dengan tekun dan penuh passion,” kata pria yang juga marathoner itu. (Tomy C. Gutomo-Andre Bakhtiar)

 

Sumber: Harian Di’s Way. 1 Februari 2021.Hal.1

Bibis Tama dan Kehidupan Pinggir Sungai Kalimas (12)_Aktivitas Jalan Mulai Berubah Semenjak Masuknya Trem. Radar Surabaya. 29 Januari 2021.Hal.3

Kota Lama

Gedung-gedung di Bibis Tama memang sedikit berbeda dengan kawasan lainnya di sekitarnya. Sejak masuknya trem, pintu masuk bangunan di sana berubah membelakangi sungai Kalimas.

(Rahmat Sudrajat, Wartawan Radar Surabaya)

PUSTAKAWAN Sejarah Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, gedung atau bangunan di Bibis Tama sedikit berbeda dengan jalan Societeit Straat atau Jalan Niaga yang sekarang Jalan Veteran.

Kawasan Bibis Tama hanya merupakan kawasan penunjang meski dikatakan jalan tersebut sebagai jalan utama. Artinya sebagai penunjang jalan utama seperti Jalan Veteran. Dahulu berdasarkan peta Kota Surabaya, penerbit Cholid Latif dan Pustaka Chanib tahun 1952, belakang gedung yang sekarang telah menghadap ke Jalan Veteran (Niaga) karena ada di trem listrik. Sedangkan untuk Jalan Bibis Tama tidak dilewati trem. “Yang dilewati hanya depannya, yang sekarang menjadi Jalan Veteran. Namun kondisinya sekarang pintu utama gedung yang tadinya menghadap ke Jalan Bibis Tama sekarang beralih ke depan Jalan Veteran,” jelasnya kepada Radar Surabaya.

Namun sekitar tahun 1900-an, jalan tersebut sudah mulai tidak didominasi oleh lalu lalang. Karena sudah ada trem listrik dan kendaraan darat beroda empat maupun dua yang mulai banyak melintas.

“Ya karena jalanan sudah mulai diaspal dan pemerintah dulu sudah membuat kondisi jalan untuk penunjang adanya kendaraan modern, sehingga ada peralihan dari cikar atau delman, bahkan perahu berganti ke kendaraan darat yang lebih modern,” katanya.

Namun kondisipun berubah ketika semua akses jalan di Surabaya sudah dipenuhi oleh kendaraan, kondisi sekarang menurut Chrisyandi tidak terlalu banyak dilewati orang dan kendaraan, paling hanya sebagai tempat berteduh bagi pedagang makanan atau minuman yang keliling dengan cara dipikul. “Karena jalan atau jalurnya pendek, jadi tidak banyak dilewati saat ini,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 29 Januari 2021. Hal.3