Pangan Medis untuk Hari Pangan Sedunia. www.timesindonesia.co.id. 30 Oktober 2020. Oki Krisbianto. FTP

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/306734/pangan-medis-untuk-hari-pangan-sedunia

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Belajar mengenai gizi adalah belajar mengenai hidup.

Itulah kesimpulan yang saya ambil begitu saya menyelesaikan kelas gizi pada saat mengejar gelar magister beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya diajar oleh dua orang profesor hebat yang juga membimbing tugas akhir saya. Sekali lagi, bukan hanya keilmuan saja yang mereka berikan kepada saya, terlebih lagi adalah bagaimana mereka mengajarkan saya untuk menghormati kehidupan.

Sebagai dosen yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran, beliau-beliau juga banyak mengajarkan pelajaran terkait medis, salah satunya adalah pangan medis atau medical foods. Bukan istilah yang sering kami dengar, malah saat itu kami baru saja paham mengenai keberadaan pangan medis.

Pangan medis telah didefinisikan dengan baik oleh FDA sebagai makanan yang khusus diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi orang dengan kondisi kesehatan atau penyakit tertentu serta penggunaannya wajib berada di bawah pengawasan dokter. Pada tahun 2018, BPOM juga mengeluarkan peraturan terkait Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus (PKGK).

Itulah kesimpulan yang saya ambil begitu saya menyelesaikan kelas gizi pada saat mengejar gelar magister beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya diajar oleh dua orang profesor hebat yang juga membimbing tugas akhir saya. Sekali lagi, bukan hanya keilmuan saja yang mereka berikan kepada saya, terlebih lagi adalah bagaimana mereka mengajarkan saya untuk menghormati kehidupan.

Sebagai dosen yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran, beliau-beliau juga banyak mengajarkan pelajaran terkait medis, salah satunya adalah pangan medis atau medical foods. Bukan istilah yang sering kami dengar, malah saat itu kami baru saja paham mengenai keberadaan pangan medis.

Pangan medis telah didefinisikan dengan baik oleh FDA sebagai makanan yang khusus diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi orang dengan kondisi kesehatan atau penyakit tertentu serta penggunaannya wajib berada di bawah pengawasan dokter. Pada tahun 2018, BPOM juga mengeluarkan peraturan terkait Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus (PKGK).

BPOM menegaskan bahwa yang termasuk ke dalam PKGK bukanlah makanan yang diadministrasikan secara parenteral atau disuntikkan ke dalam pembuluh darah, sementara FDA menyebutkan bahwa yang didefinisikan sebagai pangan medis boleh diadministrasikan secara oral maupun enteral (tidak melalui mulut), misalnya langsung ke lambung. Meskipun demikian, pangan medis tetaplah bukan obat dan bukan ditujukan untuk menggantikan obat atau suatu pengobatan.

Kita mungkin jauh lebih familiar dengan istilah pangan fungsional yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas dan kesehatan, terutama semenjak masa pandemik Covid-19 ini berlangsung. Perlu diperhatikan bahwa pangan medis bukanlah pangan fungsional dan tidak termasuk ke dalam nutrasetikal. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Prof. Dr. C. Hanny Wijaya selaku ketua Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia (P3FNI) secara langsung kepada saya.

Saya masih ingat pada saat saya menghadiri Group Discussion yang diadakan di Yogyakarta pada Bulan Januari 2019 untuk membahas definisi mengenai pangan fungsional yang baru, bahwa pangan fungsional merupakan pangan yang mampu meningkatkan kesehatan atau mengurangi resiko suatu penyakit tetapi bisa dikonsumsi dengan porsi sebagaimana makanan pada umumnya.

Berbeda dari pangan fungsional, pangan medis ditujukan kepada orang dengan kondisi kesehatan tertentu dan tidak bisa dikonsumsi secara bebas. Peraturan dari BPOM sendiri menegaskan bahwa label pada kemasan PKGK harus mencantumkan keterangan “Konsultasikan dengan Tenaga Kesehatan” untuk jenis PDK (Pangan Olahan untuk Diet Khusus) atau “Harus dengan Resep Dokter” untuk jenis PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus).

Saya yakin para mahasiswa Teknologi Pangan sudah cukup familiar dengan PDK, misalnya minuman formula untuk bayi atau ibu hamil, tetapi tidak untuk PKMK. PKMK inilah yang banyak kami pelajari selama perkuliahan berlangsung bersama kedua profesor yang saya hormati tersebut.

Saat mempelajari pangan fungsional, kita belajar tentang pengaturan diet ataupun nutrisi orang sehat. Namun, saat mempelajari pangan medis, kita mempelajari metabolisme orang sakit. Selama itu juga saya mendalami bagaimana metabolisme orang dengan suatu penyakit tertentu, atau bagaimana organ tubuh pasien terus mengalami perubahan degeneratif. Sebagian dari mereka hanya memiliki satu pilihan, yaitu sebisa mungkin menghambat laju kerusakan organ tubuh mereka tanpa kemungkinan untuk pulih kembali.

Pertanyaan besar saya saat itu adalah, mengapa banyak peneliti yang mau repot-repot untuk meneliti dan memformulasikan pangan medis untuk berbagai jenis penyakit jika pada akhirnya sudah tidak ada harapan bagi para pasien tersebut untuk sembuh? Bukan hanya uang, tetapi juga tenaga serta beban psikologis dari orang-orang di sekitar pasien, dan pasien tersebut juga merasakan sakit. Misalnya dari stamina tubuh yang terus merosot, dilanjutkan menurunnya fungsi penglihatan, dan akhirnya penurunan fungsi ginjal secara bertahap sehingga ia harus menjalani cuci darah setiap minggu, seberapa besarkah harapan mereka untuk dapat terus bertahan hidup? Sementara masa depan mereka juga dipastikan hanya satu, yaitu semakin memburuk.

Saya mengeluhkan hal tersebut di depan dosen dan teman-teman sekelas pada saat saya menyampaikan apa saja yang telah saya temukan terkait pangan medis. Saat itulah dosen saya, Prof. Dr. Ir. Mary Astuti, MS., kurang-lebih berkata demikian,

“Memang orang yang masih hidup bisa mengunjungi makam keluarganya yang meninggal. Namun, jika kita dengan pengetahuan kita dan kemampuan kita di bidang Teknologi Pangan bisa membantu memperpanjang usia seseorang barang seminggu, sebulan, atau berapa bulan, setidaknya si penderita dengan keluarganya kan masih bisa berbincang-bincang lebih lama.” *

Saat itulah semua beban psikologis saya selama berminggu-minggu seperti hilang begitu saja. Saya telah diajarkan tentang harapan, yaitu harapan untuk terus bertahan hidup dan harapan untuk mempertahankan hidup. Kami di Teknologi Pangan memang tidak belajar medis ataupun cara untuk menyelamatkan hidup seseorang secara langsung, tetapi bukan berarti kami tidak bisa bersumbangsih dalam mempertahankan hidup. Bahkan bisa membantu untuk mempertahankan usia pasien selama sehari atau dua hari saja akan sangat berarti bagi keluarga dan kerabat yang mencintai pasien. Dari seseorang yang mengeluhkan dan menganggap sia-sia suatu penelitian terkait pangan medis, saat itu juga saya memiliki hasrat untuk dapat melakukan penelitian di bidang pangan medis.

Sekali lagi, saya menegaskan bahwa mempelajari gizi adalah belajar mengenai hidup. Tidak semua teknolog pangan akan fokus ke bidang gizi makanan, tetapi semua wajib untuk memahami gizi, khususnya terkait gizi produk yang mereka kembangkan. Tidak semua pula yang tertarik untuk mendalami pangan fungsional, apalagi untuk memasuki ranah pangan medis yang berkaitan erat dengan dunia kedokteran.

Saya pernah berkata kepada teman saya di Quora bahwa saya tidak takut jika nantinya akan ada banyak teknolog pangan yang melakukan penelitian ke arah pangan medis, toh hasilnya akan sama saja yaitu untuk mempertahankan kehidupan. Penelitian mengenai pangan medis bukanlah hanya terkait dana penelitian, bukan terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI), apalagi keuntungan yang akan diperoleh jika berhasil menemukan formula yang tepat. Pangan medis adalah mengenai meningkatkan kualitas hidup pasien, demi kemanusiaan.

Penelitian di bidang pangan medis tidak cukup hanya didukung oleh niatan peneliti untuk melakukan penelitian tetapi juga oleh kesadaran masyarakat. Jika masyarakat masih belum menyadari akan pentingnya pangan medis, perhatian berbagai pihak yang bisa mendukung suksesnya penelitian, seperti penyusun legislasi maupun sumber dana, juga tidak akan tertuju ke arah sana. Ranah pangan sangat luas dan akan selalu luas, masih banyak gap-gap penelitian terkait pangan medis yang masih bisa diisi.

Masih banyak pasien diabetes, gagal ginjal, hipertensi, gangguan liver, kanker, HIV, phenylketonuria, berbagai penyakit langka, atau pasien Covid-19 yang membutuhkan peningkatan kualitas hidup. Bahkan, pangan medis yang sudah tersedia pun tidak bebas dari kendala, salah satunya adalah citarasa yang kurang menyenangkan tetapi wajib dikonsumsi oleh pasien hanya untuk dapat bertahan hidup.

Ada baiknya jika pangan medis juga memperoleh intensi pada Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap Bulan Oktober. Biasanya topik yang sering diangkat pada bulan tersebut adalah terkait Ketahanan Pangan, baik di bidang kuantitas (kecukupan pangan) maupun kualitas (kecukupan gizi). Hal tersebut sebenarnya cukup masuk akal karena masalah ketahanan pangan masih menjadi permasalahan yang cukup besar dihadapi penduduk dunia.

Pangan medis pun sebenarnya mendukung program ketahanan pangan, khususnya dalam hal pemenuhan gizi pasien tertentu. Ada baiknya jika kita juga mengingat mereka yang memiliki ketergantungan untuk mengonsumsi pangan medis sehingga mereka bisa merasakan bahwa mereka tidak sendirian, dan bahwa hidup mereka juga sangat berarti bagi kita.

***

Referensi:

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2018). Pengawasan Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus. (Peraturan Nomor 1 Tahun 2018).

Food and Drug Administration. (2016, Mei). Frequently Asked Questions About Medical Foods, Second Edition. Diperoleh dari http://www.fda.gov/FoodGuidances

 

Prodi Akuntansi Universitas Ciputra Surabaya Bantu Tingkatkan Literasi Keuangan Generasi Muda. www.timesindonesia.co.id. 20 Oktober 2020. TLC-ACC

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/304669/prodi-akuntansi-universitas-ciputra-surabaya-bantu-tingkatkan-literasi-keuangan-generasi-muda

PLAP Universitas Ciputra Ajak Mayarakat Tingkatkan Prinsip GAS Check di Masa Pemulihan Pandemi. www.timesindonesia.co.id. 20 Oktober 2020. Luky Patricia Widianingsih. ACC

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/304426/plap-universitas-ciputra-ajak-mayarakat-tingkatkan-prinsip-gas-check-di-masa-pemulihan-pandemi

Universitas Ciputra Surabaya Bantu Masyarakat Ubah Sampah Jadi Barang Bernilai. www.timesindonesia.co.id. 14 Oktober 2020. Fakultas Manajemen dan Bisnis

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/303361/universitas-ciputra-surabaya-bantu-masyarakat-ubah-sampah-jadi-barang-bernilai

Universitas Ciputra Surabaya Semangat “Mengubah Sampah Menjadi Emas” di Tengah Pandemi. www.timesindonesia.co.id. 14 Oktober 2020. Fakultas Manajemen dan Bisnis

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/303272/universitas-ciputra-surabaya-semangat-mengubah-sampah-menjadi-emas-di-tengah-pandemi

Soal Desa Wisata, Kemenparekraf Gandeng Universitas Ciputra. www.timesindonesia.co.id. 5 Oktober 2020. Fakultas Pariwisata

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/301164/soal-desa-wisata-kemenparekraf-gandeng-universitas-ciputra

Kampung Pandean Eksis Sejak Zaman Majapahit (6) Banyak Bangunan Bergaya Eropa, Tionghoa, dan Jawa. Radar Surabaya, 31 Oktober 2020. Halaman 3. Freddy H Istanto. INA

“Di kawasan Kampung Pandean di Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, masih banyak dijumpai bangunan kuno. Tak hanya bergaya arsitektur Jawa, bangunan kuno tersebut juga bergaya Tionghoa bahkan Eropa,” Moh. Mahrus

Dari pengamatan Radar Surabaya, bangunan bergaya arsitektur Eropa, Tionghoa dan Jawa tersebut banyak yang dimanfaatkan sebagai rumah tinggal. Tapi menariknya, meski pada saat itu tren bengunan bergaya arsitektur Eropa, warga Pandean masih ada yang mempertahankan bangunan berarsitektur Jawa yakni rumah Joglo. Seperti yang ada di Jalan Pandean gang II.

Bangunan-bangunan lama tersebut antara lain bisa dijumpai di Jalan Panden I, II, III dan IV. Bangunan kuno itu paling banyak difungsikan sebagai tempat tinggal atau rumah. Ini bisa dimaklumi karena kawasan ini dikenal sebagai lokasi pemukiman selain dulu dipakai sebagai lokasi kuburan atau makam.

Salah satu pengurus Kampung Pandean, Ida Armawati mengatakan, bangunan kuno itu paling banyak dipakai untuk rumah warga. Namun, kondisinya ada yang masih bagus dan ada yang kusam. “Bangunan lama era kolonial masih ada, kebanyakan dipakai rumah warga,” katanya kepada Radar Surabaya.

Perempuan yang juga membuka les ini menjelaskan, untuk bangunan lama di Jalan Pandean I terdapat rumah. Selain itu juga ada bekas sekolah Muhammadiyah yang kini difungsikan sebagai rumah seperti pada umumnya. “Kalau bangunan lama tempat pande besi di sini sudah gak ada. Rata-rata sudah jadi rumah baru,” paparnya.

Tidak hanya di Pandean I, lanjut Ida, Bangunan lama juga bisa ditemukan di jalan Pandean II, III, dan IV. “Di gang dua itu ada musala dari bangunan kuno, tapi sekarang sudah dijadikan masjid,” bebernya.

Ketua Surabaya Heritage Society, Freddy H Istanto mengungkapkan, bangunan kuno di Jalan Pandean tidak hanya bergaya arsitektur kolonial Belanda.

“Beberapa juga ada yang gabungan arsitektur Tionghpa dan Jawa,” katanya.

Dosen Arsitektur Interior Universitas Ciputra ini menuturkan, untuk bangunan bergaya kolonial di Pandean rata-rata ditempati penduduk lokal. Menurutnya, dahulu warga membuat rumah bergaya aristektur Eropa karena mereka memiliki selra yang ngetren di zamannya. “Kalau saya amati di Surabaya Utara, kampong-kampung di sana juga punya karakter kebudayaan yang berkembang pada saat itu. Jadi itu penting. Tren arsitektur memang dibawa dari zamannya,” urainya.

Freddy menyebutkan ketika Indonesia dipengaruhi arsitektur mediterian, hampir seluruh bangunan utamanya tempat tinggal menggunakan arsitektur mediteran tersebut. “Kalau saat itu (zaman kolonial, red), arsitektur Belanda yang memonopoli,” ujarnya.

Freddy menyatakan bangunan berarsitektur Eropa memiliki ciri-ciri bangunan dengan kolom klasik, megah, anggun, dan jendela serta pintu berukuran besar. Selain arsitektur Belanda, lanjut dia, di Pandean juga ditemukan bangunan bergaya arsiteketur Tionghoa. Dengan ciri khas atapnya nok agak melengkung, dinding kiri kanan bangunan menerus dan memiliki banyak ornamen.

“Kemudian karena penduduk mayoritas Jawa, karena nostalgia, kerinduan dan kenyamanan menggunakan arsitektur yang pernah dialami sebelumnya dan dibanggakan komunitasnya, maka penduduk lokal tetap mempertahankan bangunan arsitektur Jawa, Seperti Joglo itu,” paparnya.

Namun demikian, kata Freddy, ada juga penduduk lokal yang menggabungkan tiga arsitektur itu untuk membuat rumah. Sebab pada saat itu, tiga arsitektur yang menonjol di Surabaya adalah Eropa, Tionghoa, dan Jawa. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya, 31 Oktober 2002. Halaman 7

Kampung Pandean Eksis Sejak Zaman Majapahit (5) Makam-makam Berserakan di Dua Gang di Jalan Pandean. Radar Surabaya, 30 Oktober 2020. Halaman 3. Chrisyandi Tri Kartika. LIB

          “Jika datang ke Jalan Pandean jangan kaget bila menjumpai ada makam di tengah jalan. Pasalnya, di dua gang jalan itu terdapat makamlawas. Seperti di Jalan Pandean II dan Jalan Pandean IV, Peneleh, Surabaya.” Moh.Mahrus

Makam-makam tersebut sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum masa kolonial. Beberapa warga bahkan meyakini makam itu sudah ada sejak zaman Majapahit. Warga sekitar sudah tidak heran. Sebab, kawasan Pandean memang sejak dulu merupakan kawasan pemakaman.

“Ya, di Jalan Pandean II dan IV itu ada makam yang melintang di tengah jalan,” kata Ida Armawati, pengurus RT di kampong Pandean. Ida menceritakan, makam-makam tersebut masih sering diziarahi dan ditaburi bunga oleh pihak keluarga dab kerabatnya.

Menurutnya, untuk makam yang ada di Jalan Pandean II dan IV, Warga sekitar juga ikut menjaga dan membersihkan. Karena keberadaan makam itu di wilayah Pandean sudah dianggap biasa berdampinga dengan rumah-rumah penduduk.

“Letaknya memang di jalan, tapi tidak sampai mengganggu. Warga yang bawa motor juga paham, mereka harus turun, lantas (mesin motor dimatikan) dituntun,” katanya.

Pengamatan Radar Surabaya, makam-makam yang berserakan di gang-gang di Jalan Pandean itu ada yang sudah direnovasi bentuk luarnya. Bahkan ada yang dikeramik dan dicat warna putih.

Pustakawan dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, zaman dulu orang memakamkan kerabatnya yang meninggal bisa di mana saja. Tak harus di areal makam. Selain itu pada zaman dahulu, Penduduk kampong bila ada yang meninggal, biasa dimakamkan di sekitar tempat ibadah atau di tanah kosong milik keluarga.

“Keberadaan makam-makam keluarga itulah, apalagi yang sudah lama ditinggalkan, memancing warga kampong lainnya dan warga pendatang yang tidakn memiliki tanah luas ikut memakamkan anggota keluarganya di sana karena dianggap sebagai lokasi pemakaman umum,” bebernya.

Chrisyandi menurutkan, semenjak era colonial, mulailah dibangun area pemakaman umum yang teregistrasi. Sehingga, Pemakaman menjadi teratur dan tidak bercampur dengan pemukiman (bersambung/jay)

 

 

Sumber: Radar Surabaya, 30 Oktober 2020, Halaman 3

Hak Wisata Long Weekend di Masa Pandemi. Kontan, 31 Oktober 2020 halaman 11

Oleh: Dewe Gde Satrya  Dosen Hotel and Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

Beberapa media menyoroti kerawanan long weekend minggu ini di tengah pandemi virus korona baru. Bagi keluarga yang mememilki anak yang sedang sekolah, tentu libur panjang ini saat yang dinanti-nantikan untuk melepas kebosanan.

Memang, liburan, entah liburan sekolah maupun long weekend, memberikan kesegaran bagi anak-anak, tak terkecuali orangtua dan keluarga mereka. Terbersit suatu pengalaman bernilai bagi orangtua, sedap anak mereka memiliki hak untuk berekreasi, dan hak itu sama bernilainya dan karenanya orangtua berkewajiban untuk memenuhinya.

Masa liburan menjadi pemenuhan kebutuhan psikis, psikologis atau kejiwaan pada anak. Pada saat bersamaan, menjadi momen yang indah dan berharga untuk memperbaiki dan memperkuat relasi batin orangtua-anak.

Banyak anak, baik usia prasekolah, TK-SD, ditengarai mengalami tekanan yang lebih berat pada sisi kejiwaan mereka. Peradaban saat ini cenderung menelantarkan hak anak untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kejiwaan dari orangtua dan keluarga khususnya, serta lingkungan sekitar agar nantinya si anak memiliki karakter kuat (tahan banting) dan mampu menyumbangkan sesuatu yang khas dan unggul di kehidupan.

Mungkin saja, banyak orangtua dewasa ini memiliki pembenaran untuk menelantarkan pemenuhan kebutuhan kejiwaan anak, karena dirasa cukup jika sudah memenuhi kebutuhan fisiknya. Sementara sumber persoalan klise seputar anak, dan nantinya menjadi persoalan remaja juga, jamak diketahui salah satunya bersumber dari faktor Ini.

Salah satu media rekonsiliasi sekaligus cara untuk memenuhi kebutuhan kejiwaan anak adalah dengan berwisata keluarga. Kerap dirasakan, masalah di dalam rumah terasa berputar-putar tak berujung. Suasana rumah terasa tidak homey selagi relasi batin tidak terpelihara, apalagi ketika ada masalah yang belum terpecahkan. Sesekali dan mungkin perlu direncanakan secara reguler pada kalangan keluarga di metropolis, untuk berwisata bersama-sama anggota keluarga.

Namun, pada masa pandemi virus korona baru, di mana keluarga menjadi benteng pertahanan dan keselamatan setiap individu, rupa-rupanya, moda relasi di dalam keluarga menjadi di semakin penting. Berkaitan dengan itu, hak berwisata di tengah masa pandemi virus korona baru perlu dilihat dalam konteks pemenuhan hak berwisata secara bijaksana, terutama dalam berkontribusi memerangi wabah Covid-19 secara bersama-sama.

Pasal 18 ayat 1 butir a Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutkan, setiap orang berhak memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata. Karena itu, anak-anak usia pra-sekolah juga memiliki hak berwisata yang wajib dipenuhi orangtua dan keluarganya. Pasal 3 menyatakan, kepariwisataan berfungsi memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan 
negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat

Dari segi legislasi, jelas-jelas hak anak usia prasekolah untuk berwisata dilindungi. Maka, perlu ada kesadaran baru bagi keluarga dalam hal ini orangtua, bahwa menyediakan waktu, energi, dan biaya khusus untuk berwisata bersama anak-anak tidak sekadar aktivitas refreshing atau leisure, tetapi juga memenuhi hak-hak untuk berwisata dan menjalankan amanat undang-undang. Melalui itu orangtua dan keluarga dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang berusia pra-sekolah dengan cara yang menyenangkan, dalam kebersamaan dan persaudaraan.

 

Kota anak

Dengan berwisata, anak dikenalkan dengan penerapan nilai Sapta Pesona Wisata (keamanan, kebersihan, keterdban, kesejukan, keindahan, keramalaamahan, serta memberikan kenangan yang mengesankan pada wisatawan) dengan learning by process. Ini manakala berada di area wisata, di tempat-tempat mum, di kehidupan nyata, maupun secara sadar dalam interaksi sehari-hari di rumah dan lingkungan. Misalnya, membentuk karakter dan sikap solider dan peka terhadap lingkungan, memiliki jiwa yang hangat dan ramah, welcome dan helpful ke orang

Mempersiapkan manusia-manusia Indonesia baru yang sadar wisata memerlukan lifelong education for all and curriculum for 21st century yang didasarkan pada empat pilar pendidikan yang digariskan UNESCO. Pertama, learning to be, agar manusia tanpa melihat asal -usulnya mampu dan mau belajar dari setiap peristiwa kehidupan sebagai dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan dan berusaha mandiri sebagai manusia.

            Kedua, learning to know. Manusta harus mampu melihat situasi dan kondisi serta memahami makna kehidupan. Ketiga, learning to do. Manusia harus berusaha dan berbuat sesuai kapasitasnya. Keempat, learning to live together. Kemampuan berbuat sesuatu yang dapat dirasakan dan memberi manfaat banyak orang.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak waktu itu Meutia Hatta menyampaikan program brilian penetapan kota anak di berbagai daerah di Tanah Air. Kota anak harus memenuhi hak-hak anak, mulai dari hak kesehatan, pendidikan, keamanan, infrastruktur, lingkungan yang aman, pariwisata bermain. Intinya, kota tersebut dirancang memang untuk anak. Hal ini dilakukan karena melihat perkembangan daerah mulai dari desa hingga kota yang sangat pesat.

Untuk itu, yang mendapatkan hak atas per kembangan ini tidak hanya orang dewasa, namun juga anak-anak yang 25 tahun mendatang akan menjadi penerus bangsa. Kota anak yang dirancang nantinya akan menyediakan segala fasilitas untuk anak. Antara lain, fasilitas belajar, bermain dengan mainan-mainan yang bagus, bahkan mungkin mahal. Ini agar anak-anak dari keluarga tidak mampu juga bisa merasakan bisa bermain dengan mainan yang rata-rata milik anak orang berada.

Diberi pula fasilitas hiburan lainnya, seperti televisi dengan program-program acara yang sesuai. Kota anak juga harus mampu memberikan rasa aman pada mereka. Hak rasa aman diwujudkan dalam bentuk bantuan hukum, rehabilitasi berupa terapi psikologis terutama bagi anak-anak korban kekerasan.

Sebagai aklar dari tulisan ini, perlu kita renungkan sejenak puisi Dorothy Law Nolte berjudul Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar ”Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki; jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri; jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar; kika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri; jika avak dIbesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai; jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian

Kiranya, long weekend ini dapat diinovasikan dengan “berlibur”. di rumah masing-masing, dengan aneka kegiatan leisure dan yang bermutu bagi pertumbuhan anak serta menyenangkan. Bila terpaksa bepergian, mari saling menjaga, menghormati, dan menghargai keselamatan diri sendiri dan orang lain.

 

            Sumber: Kontan. 31 Oktober 2020. Hal 11

Sukses Ekspansi berkat Sambal Terasi. Jawa Pos, 28 Oktober 2020. Halaman 1 & 15. Hari Minantyo. CBZ

PRODUK sambal Indonesia sudah menjadi primadona di mancanegara. Kekhasan rasa sambal dari tanah air ini membuat konsumen luar negeri ketagihan. Sambal terasi menjadi favorit.

Lihat saja capaian PT Sekar Laut Tbk. Tahun lalu ekspor sambal Finna Food mencapai 13 ribu ton. Jika dibandingkan dengan 2018, terdapat kenaikan ekspor 22,32 persen

“Kami melakukan ekspor sejak 2013. Setiap tahun ang-kanya selalu naik,” ujar Export Marketing Manager PT Sekar Laut Tbk Mincu Prabowo.

Negara-negara seperti Singa-pura, Hongkong, Tiongkok, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Taiwan, hingga Belanda menjadi jujukan eks-pornya. “Tapi, paling banyak ke Hongkong dan Malaysia. Sebab, banyakwarga Indonesia di sana,” jelas Mincu. “Ternyata orang Hongkong dan Malaysia juga menyukai sambal terasi kita,” tambahnya.

Finna Food menyediakan berbagai varian olahan sambal. Mulai ulek sambal terasi, ulek sambal ijo, ulek sambal bawang, ulek sambal pedas, ulek sambal kemiri, hingga ulek sambal rawit. Namun, sambal terasi menempati posisi ter-favorit.

Mincu menjelaskan, ulek sambal terasi disukai karena tekstur dan rasanya yang khas.  Meski diproduksi dan diolah dengan mesin modern, rasanya tetap seperti sambal rumahan yang dibuat sendiri.

Hari  Minantyo, peneliti bahan makanan tradisional dari Uni-versitas Ciputra (UC), menu-turkan bahwa teknologi men-dorong kreasi sambal makin bervariasi. Bukan hanya jenis-jenis sambal tradisional seperti sambal bawang atau sambal terasi, tetapi juga makin ber-kembang dengan menambah bahan-bahan baru. Misalnya saja, sambal keju, sambal jengkol, atau sambal baby cumi. “Produsen menambahkan bahan yang punya nilai kan-dungan gizi tinggi,” jelasnya.

Tren tersebut diprediksi ma-sih berlanjut. Terutama pada bahan-bahan yang memiliki kadar protein tinggi. Tan-tangannya pun makin kom-pleks. Keamanan penggunaan bahan tambahan juga menjadi perhatian konsumen. Produsen harus berani trial and error beberapa kali sebelum si sam-bal diluncurkan ke masyarakat. (uzi/dya/c14/dra)

 

            Sumber: Jawa Pos. 15 Oktober 2020. Hal 1, 15