Busana White Christmas_Tampil Elegan dan Nyaman untuk Anak-Anak. Radar Surabaya. 9 Desember 2020. Hal.3. Olivia Yuwono. Alumni IBM

DUKUH PAKIS – Perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru ini masih di selimuti pagebluk corona (Covid-19).  Di kondisi seperti saat ini bukan menjadi halangan bagi desainer Olivia Yuwono untuk berkarya membuat busana.

Olivia mewujudkan tampilan cantik itu melalui busana Natal anak-anak dengan tema White Christmas yang dirilis di Ciputra World Surabaya, Selasa (8/12).

Dalam busana ini, Olivia ingin menampilkan konsep simple dan elegan pada busanya yang ia buat. Sehingga, meski sedang dalam suasana pandemic, perayaan Natal tetap berwarna dan belangsug lebih hangat.

”Karena sekarang kondisi pandemic, jadi akan lebih banyak perayaan Natal di rumah bersama keluarga. Agar perayaan Natal tidak dipercantik dengan busana-busana ini,” ujar Olivia

Busana yang ia buat kali ini lebih difokuskan untuk dipakai anak-anak, secara khusus ia memilih bahan yang tidak sembarangan. Lulusan IBM Universitas Ciputra itu sengaja memilih bahan yang nyaman dan dapat menyerap keringat.

“Kulit anak-anak ini kan lebih sensitive dari orang dewasa, Jadi kalau bahan kainnya nggak pilihan, takut mereka nggak nyaman memakainya,” kata Olivia.

Setiap baju yang ia buat sellau dilapisi furing dri kain katun. Selain nyaman, kain model ini juga bisa menyerap keringat karena tingkah anak-anak yang cenderung aktif. Bukan sekedar nyaman, hasil yang elegan juga dipertegas melalui bead dan brokat di bagian depan hingga belakang busana.

“Khusus busana anak-anak saya menggunakan jenis brokat santili yang dikenal lebih halus dari brokat lainnya. Sehingga anak-anak bisa lebih nyaman. Selain brokat, saya juga pakai tile dan organsa,” jelas Olivia.

Busana ini sengaja dibuat Olivia untuk anak usia satu hingga delapan tahun, tidak.

 

 

Sumber: Radar Surabaya, 9 Desember 2020. Hal.3

Perlindungan Pekerja Pariwisata. https://www.balipost.com. 2 November 2020. Dewa GS. HTB

https://www.balipost.com/news/2020/11/02/155308/Perlindungan-Pekerja-Pariwisata.html

Perlindungan Pekerja Pariwisata. Bali Post. 2 November 2020. Dewa GS. HTB

Oleh Dewa Gde Satrya (Penulis, dosen Hotel & Tourism Business, Fakult. Pariwisata, Universit. Ciputra Surabaya)

 

“Sampai di titik ini, pekerja di sektor pariwisata , khususnya yang terkait langsung dengan wisatawan asing, memiliki tingkat risiko penularan yang paling besar. Indikator kinerja utama untuk sektor pariwisata, yaitu jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata.”

SEJAK diumumkannya ada penderita virus Corona di Indonesia, situasi kenyamanan dalam bepergian menjadi mencekam. Di ruang-ruang publik, ruanggerak menjadi tidak leluasa. Perhatian patut ditujukan kepada setiap orang yang mengabdikan diri berinteraksi secara langsung dengan orang asing, khususnya yang saat ini menangani pasien terindikasi virus Corona.

Kematian salah satu penderita virus Corona di salah satu rumah sakit di Bali, meningkatkan kecemasan publik dan wisatawan untuk bepergian ke Bali. Bahkan di berbagai informasi disebutkan, penularan virus Corona di daerah lain di Indonesia mengaitkan riwayat perjalanan ke Bali. Saat itu ada dorongan supaya Bali menutup kunjungan (lockdown).

Padahal sebelumnya Presiden telah mengumumkan sejumlah kebijakan untuk menyelamatk. turisme dari tekanan wabah virus Corona yang telah menjadi bencana kema- nusiaan global. Pemerintah pusat memberi insentif Rp 500 miliar untuk diskon tiket pesawat terbang ke 10 destinasi pariwisata dalam negeri: Batam, Denpasar, Yogyakarta, Lornbok, Labuan Bajo, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pandan dan Tanjung Pinang. Tujuannya menggenjot perjalanan wisata dalam negeri, yang diproyelcsi sebagai penyelamat industri pariwisata sebagai dampak penurunan kunjungan wisatawan asing. Selain itu, pemangkasan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) kepada maskapai yang terdampak, tarif khusus landing fee dan fasilitas lain di bandara.

Proyeksi ketidakseimbangan antara perjalanan wisatawan domestik ke luar negeri (outbound) dengan kedatangan wisatawan luar negeri ke Indonesia (inbound) bukan hal aneh di negeri ini. Tahun 2012, pertumbuhan ekonomi dalam negeri justru menurunkan surplusjasa travel. Pada triwulan II-2012, misalnya, surplus jasa travel tinggal 197 juta dolar AS, sementara pada triwulan I-2012 sebesar 678 juta dolar AS. Penyebabnya karena lebih banyak warga Indonesia yang bepergian ke luar negeri dibandingkan warga asing yang datang ke sini. Pesan yang diambil dari kian banyaknya warga Indonesia ke luar negeri adalah perlunya membuat daerah tujuan wisata di negeri ini semakin dilirik warga sendiri, semakin mudah dan murah untuk dicapai warga terutama yang tinggal di kota-kota besar.

Di awal masa pandemi Covid-19, berdasarkan laporan Komisi Kesehatan Nasional China telah menelan korban jiwa lebih dari 1,350 orang per Kamis (13/2/2020). Di Bali, turis China terpaksa memperpanjang waktu tinggal mereka. Harga terendah diberikan bagi tamu yang terpaksa memperpanjang waktu tinggal. Imigrasi juga memberi izin tinggal keadaan terpaksa kepada wisatawan Tiongkok yang memperpanjang waktu tinggalnya di Bali. Permohonan itu harus diajukan sebelum masa tinggal habis. Namun bila habis masa tinggal baru mengurus permohonan izin tinggal keadaan terpalcsa, malcayang bersangkutanakan terkena pinalti Rp 1 juta per hari.

Sampai di titik ini, pekerja di sektor pariwisata, khususnya yang terkait langsung dengan wisatawan asing, memiliki tingkat risiko penularan yang paling besar. Indikator kinerja utama untuk sektor pariwisata, yaitu jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata. Tenaga kerja langsung untuk sektor pariwisata di bidang akomodasi, travel ageni, airlines dan pelayanan penumpang lainnya, termasuk tenaga kerja di sektor usaha restoran dan tempat rekreasi yang langsung melayani wisatawan. Tenaga kerja tidak langsung di sektor promosi pariwisata, furnishing/equipment, persewaan kendaraan, manufaktur transportasi. Tenaga kerja ikutan mencakup antara lain tenaga kerja pada sektor supply makanan dan minuman, wholesaler, computer utilities, dan jasa perorangan (Idrus, 2018).

Kementerian Pariwisata (2017) melansir capaian jumlah tenaga kerja langsung, tidak langsung dan ikutan sektor pariwisata tahun 2017 dari target 12.4 juta orang yang terealisasi sebesar 12 juta orang, atau tercapai sebesar 96,77%. Kemenpar juga meningkatkan kompetensi baik dari segi kapasitas maupun profesionalitas tenaga kerja pariwisata, terealisasi sebanyak 65.000 orang tenaga kerja pariwisata telah diserfifikasi, artinya tingkat capaiannya 100%, sebab target dan realisasi klop yaitu sebayak 65.000 orang.

Rumah sakit atau jasa medis di Bali khususnya, sebagai mata rantai industri pariwisata saat ini semakin perlu mendapat perhatian khusus setelah ditemukannya kematian pasien warga asing yang terindikasi tertular virus Corona. Selain rumah sakit, rekam jejak perjalarum penderita Corona ketika menginap di hotel juga memperluas risiko penularan ke pekerja hotel yang pernah melayani.

Sejumlah jasa dan fasilitas yang dimiliki hotel perlu diberi treatnzent khusus penyemprotan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus Corona, mulai dari ruang pertemuan dan kamar, termasuk semua jenis pelayanan kamar (room service), air conditioning, binatu (laundly and dry cleaning), kasur tambahan (cdra bed), perlengkapan tetap (fixture and furniture), fasilitas olahraga dan hiburan, termasuk sarana transportasi hotel untuk antar-jemput tamu.

Selain perhotelan, pekerja di sektor bisnis kepariwisataan lainnya seperti tour and travel, restoran, spa, airlines dan moda transportasi publik lainnya, serta destinasi wisata, tentu tak boleh luput dari perhatian. Karena itu, langkah yang dilakukan Pemda DHI Jakarta menutup selama 14 hari destinasi wisata untuk dilakukan penyemprotan disinfektan sangatlah tepat. Destinasi wisata di Jakarta yang clitutup selama 14 hari adalah Kawasan Monas, Ancol, Kawasan Kota Tua, TM Ragunan, Anjungan DKI di TMH, Taman Ismail Marzuki, PBB Setu Babalcan, Rumah Si Pitung, Pulau Onrust, Museum Sejarah Jakarta, Musetun Prasasti, Museum MH Thamrin, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Bahari dan Museum Joang 45.

Dengan cara itu merupakan bentuk penghargaan produsen terhadap konsumen untuk menjamin keamanan produk wisata dan mengungkapkan semua product risk. Tak kalah pentingnya adalah memastikan keamanan dan keselamatan jiwa dan raga bagi setiap pekerja pariwisata.

 

 

            Sumber: Bali Post. 2 November 2020

Travel Bijak Menyegarkan Jiwa. https://www.balipost.com. 11 November 2020. Dewa GS. HTB

https://www.balipost.com/news/2020/11/11/157095/Travel-Bijak-Menyegarkan-Jiwa.html

Pak Raden, Dongeng, dan Anak Indonesia. Surya, 28 November 2020, halaman 6. Yehuda Abiel (LIB)

*Yehuda Abiel (Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya)

SETIAP 28 November diperingati Sebagai Hari Dongeng Naslonal. Tanggal itu diptlih karena bertepatan dengan hari kelahiran Drs. Suyadi atau yang leblh dikenal sebagal Pak Raden dalam serial Si Unyil.

Mungkin banyak generasi milenial saat ini yang tidak familiar dengan serial Si Unyll dan sosok Pak Raden. Namun, mereka yang lahir dl akhir 1980-an, sosok Pak Raden sangat membekas dalam Ingatan. Dengan kumis yang tebal dan suara yang berat (plus galak) beserta pakaian Jawanya yang khas, membuat karakter Pak Raden begitu kuat sekaligus mudah diingat para Pemirsa. Pun karakter-karakter lain dalam serial Si Unyil juga begitu beragam. mulai latar suku dan tingkah laku yang berbeda menjadikan Si Unyil tontonan yang kaya sekailgus sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pak Raden tidak hanya berperan namun beliau juga adalah kreator tayangan boneka Si Unyil. Karyanya ltu kali pertama ditayangkan diTVRI pada 1981. Pak Raden dlanggap telah berjasa menghidupkan dunia dongeng Indonesia dengan media bercerita yang berbeda. Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menobatkan tanggal kelahlran Suyadi sebagai Hari Dongeng Naslonal sejak 2015.

Pak Raden akhirnya mewariskan semua koleksi boneka Si Unyil ke Museum Gubug Wayang Mojokerto. Pada saat peresmian museum 15 Agustus 2015. Pak Raden ikut andil di dalamnya. Selain meresmikan, Pak Raden mendalang memainkan pertunjukan boneka si Unyil untuk kali terakhir sebelum wafat pada 30 Oktober 2015.

Dalam rangka menyambut Hari Dongeng Nasional dan mengenang sosok Pak Raden. Selasa (24 / 1 1 /2020). Perpustakaan Universitas Clputra Surabaya mengadakan talk show bersama Museum Gubug Wayang Mojokerto. Acara yang diadakan dalam format Instagram Live Itu mengajak Cyntia Handy selaku Direktur tvlusehm Gubug Wayang menjadi narasumber tamu.

Cyntia menjelaskan, ada cerita tersendiri hingga Pak Raden datang dari Jakarta ke Mojokerto dan meresmikan Museum Gubug Wayang. Sebetulnya Pak Raden adalah guru dari pemilik Maseum Gubug Wayang, yaitu Senjoyo Nyoto atau yang akrab dipanggil Pak Yensen. Pak Radenlah yang meyaklnkan dan menguatkan perlunya dibuka museum.

“Saya akan mendukung Anda sampal kapan pun dalam hal membangun museum,” kata Pak Raden saat itu. la ingin berkunjung ke Museum Gubug Wayang sebelum meninggal. Saat itu ia sakit dan duduk di kursi roda, tetapi tetap bersemangat saat mendongeng.

Beragam koleksi boneka Si Unyil dan latar Desa Sukamaju dari awal . produksi juga disimpan dan dipamerkan di museum yang terletak di Jalan RA Kartini 23, Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Selain sebagai pendongeng, Pak Raden Juga seniman yang serba bisa. Ia mahir bermaln gamelan, menari, dalang wayang, dan nembang (bernyanyi Jawa). Di museum Ini juga dipamerkan karya-karya Pak Raden yang laln, seperti gambar ilustrasi buatannya yang menjadlsampul buku dongeng maupun buku pelajaran anak kala itu.

Pak Raden sendiri sempat, menempuh pendidikan animasi di Prancis dan mengajar di Institut. TeknologliBandung serta bergabung dengan Perum Produksl Fllm Negara (PPFN). Dari situ muncul ide serta mulal merancang jalinan cerlta Si Unyil. la sebagai art director, yang menentukan bagaimana bentuk boneka sl Unyil dan ekspresinya. Ia ingin anak Indonesla memilIki acara yang edukatif (mendidik) dengan tampilan yang menarik dan tidak membosankan, seperti yang telah dilakukan oleh Disney.

Menurut Cyntia Handy, mendongeng adalah cara bagi orang tua masa kIni dalam menjalin hubungan dan komunikasi kepada anak-anaknya. Dongeng bukan sekadar cerita yang disampalkan, tetapi adalah komunikasi yang sangat baik untuk anak-anak terutama anak-anak usia dini yang memiliki pikiran abstrak. Dongeng menggunakan perumpamaan dalam bercerita dengan metode sosial learning lewat tokoh-tokoh yang diceritakan lebih cocok dan dapat mentimbuhkan ruang imajinasi mereka.

“Bagi orang tua, metode mendongeng bisa menjadi ajang menumbuhkan kreativitas dalam mengembangkan cerita sehingga cerita dongeng bisa bervariasi tiap disampatkan,” ujar Cintya.

 

Sumber: Surya. 28 November 2020. Halaman 6

Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (9) Peresmian dengan Upacara Mewah, Tamu Dihadiahi Lukisan Kereta. Radar Surabaya, 22 November 2020, Hal 3 dan 7. Chrisyandi Tri Kartika (LIB)

“Pembukaan Stasiun Surabaya Kota sekaligus peresmian jalur kereta api pertama rute Surabaya-PasuruanMalang digelar dengan upacara besar yang cukup mewah. Pada bagian peron dan seluruh ruangan stasiun dihias dengan sangat mewah,” Mus Purmadani

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya,  Chrisvandi Tri Kartika mengatakan, masa itu, pembukaan Stasiun Surabaya Kota atau dikenal dengan Stasiun Semut sudah banyak ditunggu berbagai kalangan. Semua undangan pun menerima cindera mata berupa lukisan kereta api dari Jawatan Perusahaan Kereta Api Negara, Staatspoor-weg (SS). “Pada lukisan itu terdapat tulisan “Ambachten, Welvaart en Handel” atau kerajinan, kesejahteraan dan perdagangan,” ujarnya.

Bahkan dalam buku Oud Soerabaia terbitan Gementee Soerabaia karya sejarawan Belanda, Godfried Hariowald (GH) Von Faber terbitan tahun 1931, disebutkan bahwa sambutan pejabat insinyur kepala jalur Surabaya-Pasuruan Malang yakni HG Derx ditanggapi Gubernur Jenderal Van Langsberge dengan penuh sukacita.

Menurut Chris, gubernur jenderal tersebut menilai pembukaan jalur kereta api tersebut akan membawa Hindia Belanda pada perkembangan masa kejayaan lebih lanjut. Yakni, masa depan Hindia Belanda atau nusantara setelah tersedianya jalur kereta api. “Kami sangat berterima kasih dengan tokoh kereta api negara yang telah membangun perkeretaapian,” kata Chris menirukan sambutan Gubernur Van Langsberge.

Lebih jauh, sejarawan dari Universitas Ciputra  Surabaya ini mengatakan bahwa keberadaan jalur kereta api ini tidak lepas dari pengaruh Herman Willem Daendels. Gubernur Jenderal termasyhur yang memerintah Hindia Belanda selama tiga tahun antara 1808-1811 atas penugasan dari Kaisar Napoleon Bonaparte dari Kerajaan Prancis yang menguasai Belanda saat itu.

Daendels ditugaskan oleh Napoleon untuk melindungi tanah jajahan di Hindia, terutama pulau Jawa, sebagai koloni Belanda, dari serbuan tentara Inggris. Daendels lah yang kemudian merintis sejarah pembangunan jaringan jalan di pulau Jawa antara Anyer (Kabupaten Serang, Banten) hingga Panarukan (Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Jaringan jalan yang kemudian dinamakan jalan pos ini mampu menyingkat perjalanan darat dari Batavia ke Soerabia yang semula 40 hari menjadi hanya 7 hari.

“Namun sebelum kedatangan Daendels, sebenarnya sudah ada sebuah jalan dalam kondisi baik yakni jalur Surabaya-Pasuruan yang dibangun oleh Kapten Haselaar,” tuturnya. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya. 22 November 2020. Hal. 3,7

Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (11) Paling Sibuk pada Masanya, Angkut Air, Hasil Bumi, dan Manusia. Radar Surabaya, 24 November 2020, Halaman 3 dan 7. Chrisyandi Tri Katika. LIB

“Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut yang diresmikan pada 16 Mei 1878 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Langsberge, adalah salah satu stasiun kereta paling sibuk pada masanya. Saat ini, stasiun ini mengalami restorasi dan akan segera difungsikan kembali,” Mus Purmadani

PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, awalnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut dibangun untuk sarana transportasi gula yang diproduksi beberapa pabrik gula di Pasuruan untuk dikirim ke luar pulau bahkan luar negeri lewat agen-agen perdagangan di Surabaya.

Karena angkutan kereta api dianggap lebih cepat dan lebih aman di zamannya, maka berkembang menjadi sarana mobilitas masal favorit. “Meski saat itu sudah ada pesawat, kereta api adalah alternatif transportasi masal yang relatif cepat dan murah,” jelasnya.

Saat itu, jalur SurabayaPasuruan pulang-pergi (p.p) atau vice-versa (v.v) dianggap sangat penting lantaran tak hanya produk pertanian yang bisa diangkut dari Pasuruan dan pedalaman Jawa Timur, melainkan juga air bersih yang bersumber dari mata air Umbulan yang sangat besar.

Pasokan air dari Umbulan ke Surabaya itu juga diangkut menggunakan sarana kereta api berbarengan dengan produk hasil pertanian. “Pada masa itulah, Stasiun Semut merupakansalah satu dari dua stasiun yang terkenal di Kota Surabaya tempo dulu. Lainnya adalah Stasiun Pasar Turi,” jelas pustakawan dari Universitas Ciputra Surabaya.

Stasiun Semut merupakan bagian dari jalur selatan pulau Jawa yang melayani rute Surabaya-Solo-Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta. Ketika itu jalur Jakarta-Surabaya masih ditempuh dengan perjalanan selama tiga hari. Begitu malam tiba, kereta berhenti dan penumpang menginap di penginapan untuk melanjutkan perjalanannya pada keesokan harinya.

Chris menambahkan, ada jalur baru yang dibuat ketika masa penjajahan Jepang. Bahkan ada juga jalur yang akhirnya mati dan hilang. “Jejak sisa jalur ini diyakini sebagai bunker oleh sebagian kalangan, bahkan oleh pejabat dan pendiri sebuah komunitas. Tapi menurut saya, itu pondasi jembatan rel kereta,” jelasnya. (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya. 24 November 2020. Hal. 3, 7

Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (8) Penunjang Jalur Ekspor Perdagangan Hasil Bumi. Radar Surabaya, 20 November 2020, Halaman 3 dan 7. Chrisyandi Tri Katika. LIB

“Keberadaan Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut menjadi penunjang perekonomian dari hasil perkebunan pada periode abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Hasil-hasil perkebunan sebelumnya diangkut melalui jalur sungai dari pedalaman Jatim. Namun, hal ini kurang efektif dan masif sehingga dibutuhkan moda transportasi yang lebih besar dan masal yakni jalur kereta api,” Mus Purmadani

             PEMERHATI sejarah Kota Surabaya dari Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri. Kartika mengatakan, ide atau gagasan pembangunan jaringan perkeretaapian di tanah jajahan Hindia Belanda muncul pada tahun 1840. Namun demikian, di pulau Jawa baru terealisasi pada tahun 1864.

Pemerintah Hindia Belanda memberi lampu hijau terhadap pembangunan jalur kereta api yang dilaksanakan oleh perusahaan perkeretaapian Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan Staatsspoor-wegen (SS). “Jalur kereta api dibangun di kota-kota yang. dekat dengan pelabuhan laut seperti Batavia, Surabaya dan Semarang,” katanya.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya ini menambahkan bahwa jaringan perkereta apian di Jawa merupakan salah satu jalur yang paling lengkap di Asia. Karena melintasi wilayah pedalaman yang jauh dari area perkebunan.

Salah satu kota besar di Jawa Timur yang memiliki jaringan perkeretaapian yang cukup penting adalah Surabaya. Kota ini menjadi penting karena wilayahnya yang cukup strategis sebagai jalur perdagangan ke luar pulau maupun negara.

“Jalur perdagangan Surabaya terbentuk semenjak era pra-kolonial, dimana Sungai Kalimas dan Pelabuhan Tanjung Perak menjadi sentral aktivitas perekonomian Surabaya dan kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Gresik, Tuban, Malang, Pasuruan, Jombang dan Mojokerto,” urainya.

            Pembangunan jalur kereta api di Surabaya, pertama kali dikerjakan oleh perusahaan negara Staatsspor-wegen (SS) dengan jalur Surabaya- Pasuruan sejauh 63 km dan menjadi awal dibukanya jalur-jalur kereta api lain di wilayah hinterland sekitar Surabaya.

Pembangunan Stasiun Semut yang telah diresmikan pada tahun 1878 didasari atas penyediaan infrastruktur penunjang untuk mengangkut hasil perkebunan dari luar wilayah Surabaya seperti Pasuruan yang akan disalurkan ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk diekspor ke Eropa. “Stasiun ini menempati posisi yang penting dalam arus lalu lintas jalur perkeretaapian di Jawa yang menghubungkan antar wilayah pedalaman dan pelabuhan,” jelasnya. (bersambung/jay)

 

            Sumber: Radar Surabaya. 20 November 2029. Hal 3, 7

Pamer Busana Kulit Kerang Mutiara. Surya, 17 November 2020, Hal. 3. FPD

SURABAYA, SURYA – Mahasiswa Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra (UC) menjadi satu dan antara yang memamerkan karya fasion dalam ‘Surabaya Fasion Parade’ secara virtual, 7-8 November 2020.

Karya yang ditampilkan beragam, dari busana kerja multistyle, lounge wear, baju pesta glamor, dan berbagai macam aksesori menarik dari bahan-bahan unik.

Cindy Suryanto merancang busana Ready to Wear Deluxe dengan memanfaat-kan kulit kerang mutiara sebagai alternatif material beading.

“Limbah kulit kerang yang tidak merniliki nilai lebih, saya olah dengan teknik upcycle yang diaplikasikan ke busana,” kata maha-siswi ini.

Hasilnya, karya dengan nilai jual, nilai guna, nilai estetika serta menampilkan sisi artistik dari segi perancangan. Target pasarnya, perempuan menengah ke atas yang sering menghadiri formal event.

Rancangannya fokus pada siluet busana bustier atau korset dan tren warna white, black, dan ash grey dipilih untuk menonjolkan detail beading pada busana.

Untuk style desain, direksi dan sillhouette busana yang dipamerkan terlihat elegan, mo-dem dan edgy, dengan tujuan menunjukan sisi keunikan dari aplikasi material beading.

Cindy berharap, industri fasion terutama para desainer dapat membuka lebih banyak peluang dengan memanfaatkan limbah kulit kerang secara sustainable agar dapat di-upcy-cle dan digunakan sebagai alternatif.

“Saya ingin membantu memperluas lapang-an kerja dengan berbagai perajin SDM untuk lebih meningkatkan sustainability pada ling-kungan,” ungkap peraih Juara Fashion Design CNNFW 2016 ini. (zia)

 

Sumber: Surya. 17 November 2020. Hal. 3

Stasiun Semut, Stasiun Pertama di Surabaya (5) Jalur Distribusi Gula ke Luar Jawa dan Eropa. Radar Surabaya 16 November 2020. Chrisyandi Tri Kartika. Library

“Stasiun Semut yang lebih dikenal sebagai stasiun Surabaya Kota merupakan tempat pemberhentian terakhir rangkaian kereta api yang masuk ke Kota Surabaya baik yang melewati jalur selatan maupun jalur timur pulau Jawa. Stasiun ini juga merupakan salah satu saksi sejarah jalur distribusi gula dari pabrik-pabrik yang berdiri di kawasan Sidoarjo dan Pasuruan,” Muh Purmadani

             PEMERHATI sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri  Kartika (Pustakawan  Universitas Ciputra Surabava) mengatakan, kawasan Stasiun Semut berdekatan dengan salah satu pusat belanja tertua di Surabaya, yakni Pasar Atom. Kawasan ini sejak dulu menjadi pemuki-man padat penduduk.

“Dibangunnya jalur kereta api pada masa itu kian menambah deras arus migrasi para pekerja dari daerah-daerah di sekitar Surabaya, seperti Lamongan, Sidoarjo, Gresik dan lainnya. Para migran ini banyak terserap di sektor industri dan bekerja sebagai bur uh kasar di Surabaya,” katanya.

Kehadiran Staatsspoorwagen (SS) atau perusahaan kereta api di Surabaya membuat proyek perkeretaapian lintas Jawa semakin semarak. Pabrik-pabrik gula yang mulai bermunculan di kawasan Sidoarjo dan Pasuruan diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat seiring meningkatnya konsumsi gula di Hindia Belanda maupun di Eropa.

Jalur kereta api SurabayaPasuruan ini merupakan jalur kereta api pertama SS yang selesai pada tanggal 16 Mei 1878. Jalur ini melewati Bangil dan Sidoarjo, menghubungkan pabrik-pabrik gula di Sidoarjo dan Pasuruan dengan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya untuk dikirim ke Eropa dan kotakota lain di luar Jawa.

Pada tahun 1880-an, SS kemudian mengembangkan jalur kereta api yang menghubungkan Surabaya dan Sidotopo dengan pelabuhan Kalimas. Jalur tersebut selesai pada tanggal 1 Januari 1886, termasuk membuka stasiun barang baru di utara Fort Prins Hendrik (sekarang Stasiun Benteng). (bersambung/jay)

 

Sumber: Radar Surabaya, 16 November 2020, Hal. 3