Hadipurnomo, Antropologi Visual, dan Sumba. Tempo.22-28 Juni 2020. Hal.42-43

Hadipurnomo adalah perintis kajian antropologi visual dan etnofotografi Indonesia.

“Aku ingin mati di Sumba! “katanya berulang kali semasa hidup. Ia lahir di Malang, Jawa Timur; sempat tinggal di Bali; lama hidup di Jakarta; setelah pensiun kembali ke Surabaya; dan di akhir petualangan ia ingin dikubur di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Keinginan aneh itu berasal dari Hadipurnomo, perintis kajian antropologi visual dan etnofotografi di Indonesia. Senin, 8 Juni 2020, di tengah sunti subuh, pada umur 89 tahun, keinginan itu lunas sudah.

Perjenalan Hadipurnomo dengan sinema dimulai pada 1974. Saat itu, sutradara Teguh Karya memintanya bergabung sebagai penata artistik dalam pembuatan film Cinta Pertama. Tawaran itu diterima dengan bersemangat. Namun, selama pembuatan film berlangsung, Hadipurnomo justru merasa gelisah. Menurut dia, bahasa film fiksi konvensional membosankan karena menempatkan sutradara dan juru kamera sebagai dewa pencipta ilusi. Semua serba tertara dan artifisial. Kegelisahan itu kemudian mendorong Hadipurno menjelajahi kemungkinan bahasa film yang berbeda, yang lebih luwes untuk menggambarkan realitas sosial.

Masih pada tahun yang sama, Hadipurnomo mendekati Affandi. Ia mengutarakan keinginannya membuat dokumenter yang merekam proses Affandi melukis. Awalnya Affandi menolak ide tersebut. Affandi tidak ingin prosesnya melukis diganggu oleh kepentingan sutradara. Hadipurnomo lantas menyanggupi permintaan tersebut. Ia berjanji selama mengambil footage tidak akan mengintervensi proses melukis Affandi. Kolaborasi tersebut menghasilkan tiga buah dokumenter pendek yang merekam perjalanan Affandi melukis di Cirebon, Tangkuban Parahu, dan Lembah Baliem. Tampak dalam sebuah bagian, lensa kamera diarahkan Hadipurnomo untuk merekam jemari kaki yang bergerak liar. Seolah-olah ingin menggambarkan getaran energi Affandi ketika menghadapi kanvas.

Untuk membuat dokumenter tersebut, Hadipurnomo tinggal bersama keluarga Affandi selama sekitar satu setengah tahun. Ia dekat dengan Kartika. Ia juga dekat dengan Pak Djon, sopir pribadi yang memahami Affandi luar-dalam. Proses panjang ini kemudian membuahkan konsep yang disebut Hadipurnomo sebagai “film zonder sutradara”. Subyek dibiarkan beraksi di depan kamera. Tanpa arahan, tanpa skenario. Pembuatan film hanya memiliki kuasa menentukan sudut pandang dan memencet tuas rekam.

Sejak saat itu, Hadipurnomo berkeliling Indonesia untuk mendokumentasikan berbagai ritual budaya menggunakan pendekatan serupa. Pada 1976, ia membuat dokumenter pemakaman bangsawan Toraja, Nek Atta, yang empat tahun kemudian atas undangan Jean Rouch- diputar di Musee de I’Homme, Paris. Dalam kesempatan lain, ia mendapatkan izin membuat dokumenter Saur Matua mengenai tradisi kematian masyarakat Batak Toba dalam keluarga besar sastrawan Sitor Situmorang.

Berbekal pengalaman tersebut, Hadipurnomo mendapatkan beasiswa Fullbright sebanyak dua kali untuk mendalami studi mengenai etnografi dan sinema di UCLA (1979), New York University (1980), dan University of Southern California (1988). Selama studi, ia belajar dari antropolog visual kawakan, antara lain Robert Gardner serta Timothy dan Pastu Asch, yang di kemudian hari cukup mempengaruhi gaya dan permikirian Hadipurnomo. Sepulang dari Amerika Serikat, ia diminta Profesor Dr Koentjaraningrat membantu mengajar dan membimbing mahasiswa di Departemen Antropologi Universitas Indonesia.

Boleh dibilang Hadipurnomo adalah antropolog yang komplet. Ia paham teori dan kenyang pengalaman lapangan. Kawan dan murid mengenalnya sebagai manusia bebas yang bergerak leluasa. Mudah beradaptasi dan bergaul dengan siapa saja. Ia bisa dekat dengan para jenderal, tapi juga bergaul dengan preman dan kaum pinggiran. Sesekali menjadi akademikus atau pemain teater, tapi juga sering nongkrong bersama seniman bohemian di bongkaran rel Tanah Abang. “Aku ini seperti bunglon,” tutur Hadipurnomo.

Pergaulannya uang luas dengan para seniman dan budayawan kemudian membawa Hadipurnomo menjelajahi wilayah artistik lain di bidang teater. Panggung dan sorot lampu sebetulnya bukan hal asing banginya, karena di masa muda ia pernah menjadi balerino. Dia, misalnya, bersahabat dengan Julie Taymor membentuk Teater Loh di Bali pada 1970-an. Taumor sekarang adalah salah satu sutradara Broadway yanh diperhitungkan. Karyanya di Broadway, Lion King, adalah salah satu pertunjukan paling laris. Taymor juga dikenal banyak membuat film. Salah satunya tentang Frida Kahlo.

Tak banyak yang tahu pada masa mudanya Tahmor pernah berguru kepada Rendra di Bengkel Teater. Kemudian dia di Bali mendirikan kelompok teater bernama Teater Loh bersama Hadipurnomo. Pemainnya beragam. Sebagian berasal dari Bali, Jawa, Sunda, Jerman, dan Amerika. Mereka menuewa dua bungalo di daerah petitenget, yang pada 1976 masih terpencil dan jauh dari keramain. Selama delapan bulan, semua anggota berlatih secara intens menyiapkan lakin bertajuk Tirai yang dipentaskan keliling, antara lain di Denpasar, Surabaya, Padang, Pekanbaru, dan Jakarta.

Putu Wijaya dalam resensinya di majalaj Tempo pada 1978 menggambarkan panggung Tirai dilatari tiga buah layar, sebagaimana pentas wayang kulit, tapi diberi sentuhan unsur teater tradisional Jepang. Pertunjukannya dibuka “dengan keindahan yang getir dan magis” dan kostum yang dikenakan para aktor tampak sugestif. Bisa jadi karakter penyutradaraan Julie Taymor, yang gemar menggubah bentuk dan tampilan visual aduhai, berkembang dari sini.

Pada 1974-2007, Hadipurnomo memproduksi sekitar 30 film. Hampir semua dokumenter yang ia garap direkam menggunakan kamera super 8 milimeter, yang saat itu dianggap sebagai “kamera murahan”. Berbeda dengan pembuat film profesional yang menggunakanan sistem 16 mm atau 35 mm. Karena dianggap remeh dan tidak penting itulah Hadipurnomo justru menemukan kekuatannya. Dengan menggunakan kamera rumahan, ia bebas bergerak tanpa perlu takut belitan birokrasi dan ketatnya sistem sensor pada masa Orde Baru.

Selain merekam ritual budaya, Hadipurnomo kerap menbuat film mengenai isu melawan arus narasi rezim saat itu. Pada 1982, berbekal surat jalan dari Pusat Kajian Kriminologi UI, Hadipurnomo blusukan untuk merekam kondisi narapidana politik (napol) dan tahanan politik (tapol) di tujuh lembaga permasyarakatan. Dari Cipunang sampai Wirogunan, dari Gunung Kelotok hingga Kalisosok. Dokumentasi yang dihasilkan menjadi bahan kajian penting untuk menunjukkan budaya kekerasan, pola hubungan, dan struktur sosial yang terbentuk dalam lingkungan penjara di Indonesia. Selain itu, film dan fotonya menjadi bukti visual keberadaan para napol dan tapol di era Orde Baru yang dibui tanpa pernah diadili.

Posisinya yang berseberangan dengan rezim Orde Baru juga ditunjukkan melalui film Suara dari Borobudur (1983), yang merekam perlawanan warga Desa Ngaran, Krajan, dan Kenayan mempertahankan tanah mereka. Penduduk ketiga desa tersebut dipaksa pundah demi pembangunan kawasan wisata Candi Borobudur. Sanpai sekarang film ini nyaris dianggap sebagai mitos; karena selalu dibicarakan tanpa pernah ditayangkan secara luas. Ia hanya dikonsumsi terbatas sebagai bahan kajian sengketa tanah di beberapa universitas, baik dalam maupun luar negeri. Setelah film itu dibuat, Hadipurnomo lebih banyak membayasi diri dan cenderung menghindari sorotan publik.

Dari berbagai karya yang pernah dibuat, barangkali arsip film dan studinya mengenasi budaya Sumba adalah warisan terpenting. Hadipurnomo begitu mencintai Sumba. Ia darang pertama kali ke Sumba pada 1978 untuk merekam proses pemakaman Raha Lewa Kambera di Prailiu. Lima tahun berselang, ia kembali untuk merekam upacara penguburuan Raja Umbu Nggaman Haumara di Melolo. Peristiwa terakhir jnj menghasilkan dokumenter berjudul Tanggalo: The Last Stone Dragging (1983).

Film yang dibuat dengan pendekatan cine-trance ini menggambarkan orkestrasi akbar manusia Sumba dalam mempersiapkan ritual kematian yang diwariskan sejak masa megalitikum. Selama empat bulan proses pengambilan gambar, Hadipurnomo juga mencoba mengaplikasikan konsep shared anthropology dengan menayangkan dokumenter pemakaman Raha Lewa Kambera keliling dari kampung ke kampung. Film diproyeksikan ke atas kain putih yang dibentangkan di tanah lapang. Ini menjadi momentum bagi masyarakat Sumba Timur untuk melihat kebudayaan mereka sendiri melalui sinema sekaligus mengkritiknya.

Di luar kedua film tersebut, Hadipirnomo membuat studi lain. Terutama dokumentasi visual tenun dan kriya di Sumba Timur, yang beberapa diantaranya kini sudah tidak dapat ditemui. Selama hidup, Hadipurnomo terobsesi untuk terus menguji ulang definisi dari “film Indonesia”. Adakah yang disebut dengan film Indonesia? Benarkah kita sudah mampu mengembagkan bahasa visual sendiri?

Dalam kritiknya terhadap Karl Heider, Hadipurnomo menolak adanya penyebutan film Indonesia, karena baginya hampir semua film yang diproduksi saat itu masih menggunakan bahasa visual Barat. Maka ia selalu berangan-angan: “orang-orang lokal harus belajar membuat film” dan mencatat kebudayaan mereka sendiri melalui sinema. Dengan cara ini, ia berharap setiap corak kebudayaan di Indonesia dapat menemukan bahasa dilm yang khas sekaligus memperkaya bahasa film dunia.

Ayos Purwoaji, Pengajar Universitas Ciputra, Surabaya

 

Sumber: Tempo. 22-28 Juni 2020. Hal. 42-43

Studi Banding Virtual dengan Kampus Tiongkok. Jawa Pos. 28 Juni 2020

Sebelum Pembelajaran Kembali ke Sekolah

SURABAYA, jawa pos – Kampus dan lingkungan sekolah harus benar-benar memastikan kesiapan sebelum nanti diperbolehkan menyambut siswa, pengajar, dan karyawan kembali ke sekolah. Yayasan Ciputra Pendidikan berinisiatif meminta ilmu pelaksanaan new normal dari Tiongkok yang sudah lebih mengaktifkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

“Belajar dari Tiongkok yang sudah mengalami dulu. Apalagi, berhasil menekan angka Covid-19 menurut saya penting,” tutur Dr Ir Denny Bernardus MM, executive board Yayasan Ciputra Pendidikan. Denny mengatakan, tentu saja pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

Melalui video conference, seluruh perwakilan berdiskusi dengan Hongqiang Zhang PhD, international cooperatife programme dari Guangdong Lingnan Institute of Technology. Zhang menuturkan, dengan keberagaman demografi dan sosial masyarakat, protokol tak bisa hanya mengacu lada satu standar. “Misal, yang di pelosok kesulitan dengan fasilitas dan internet. Harus ada aturan pusat yang bisa mengakomodasi hal tersebut,” ucapnya.

Di tingkat sekolah dan kampus, pimpinan sekolah menjadi penaggung jawab utama. “Di sini, kami sangat patuh. Sebab, jika sekolah atau kampus jadi lokasi penularan untuk satu orang saja, Kasek bisa dipecat,” jelasnya.

Sebelum sekolah dan kampus kembali beroperasi normal, ada mekanisme pelaporan kondisi tubuh selama 14 hari. Siswa, pegawai, maupun guru harus melapor tiap hari. “Kami buat klasifikasi hijau, kuning, merah. Jika di kategori hijau terus-menerus selama 14 haru, mereka boleh ke sekolah,” jelasnya. Jika tidak mendapat kategori hijau, seseorang harus melakukan karantina selama 7 hari untuk kategori kuning dan 14 haru untuk kategori merah. (dya/c11/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 28 Juni 2020

Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (7)_Pernah Ada Pemakaman Belanda Terbesar. Radar Surabaya. 27 Juni 2020. Hal.3,7. Chrisyandi. Library

“Sebagai bagian dari Europeesche Wijk (distrik Eropa), Krembangan tidak hanya dikenal sebagai tempat yang memiliki lapangan terbang, akan tetapi juga memiliki kawasan makam yang besar. Makam ini adalah makam orang-orang Eropa yang tinggal di Hindia-Belanda (Surabaya) saat itu,” Mus Purmadani.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saat ini untuk menemukan makam ini tidaklah mudah, pasalnya makan ini sudah beralih fungsi menjadi water toren (menara air). Meski demikian sisa-sisa jeberadaan makam ini masih bisa diketahui dari nama Jalan Krembangan Makam. “Jadi meskipun makamnya sudah tidak ada, tapi warga mengenal kawasan ini dengan krembangan Makam,” katanya kepada Radar Surabaya.

Kompleks pemakaman orang-orang Belanda dan Eropa ini disebut kerkhof. Keberadaan kerkhof terkesan lebih megah serta memiliki hiasan yang lebih kata bila dibandingkan makam pribumi. “Kata kerkhof berasal dari Bahasa Belanda yang berarti halaman gereja. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan pemakaman di Eropa sebelum abad ke-19,” ungkapnya.

Pria yang juga pemerhati sejarah Kota Surabaya ini menuturkan, saat itu orang-orang Eropa memakamkan jenazah di halaman gereja. Pemilihan halaman gereja sebagai tempat permakaman didasarkan atas aspek religi, di mana orang Eropa percaya bahwa halaman gereja merupakan tempat yang suci.

“Kebiasaan dari Eropa tersebut kemudian dibawa oleh orang Belanda pada masa kolonial,” ujarnya.

Menurutnya, pemakaman Belanda pertama di Surabaya beradandi halaman gereja yang dulu pernah berdiri di Willemsplein di kawasan Krembangan. Gereja tersebur dibangun oleh Abraham Christoffel Coertz pada 1759. Sebagai mana tradisi pemakaman di Eropa, orang-orang Belanda di Surabaya juga memakamkan jenazah di halaman gereja (kerkhof) karena saat bagi orang Belanda dan Eropa lain, gereja adalah titik dokus yang penting dalam kehidupan masyarakat, mengingat segala kegiatan penting dilakukan di sini sepertu upacara pembaptisan bayi, pernikahan, dan kematian. Selain itu, halaman gereja juga dipandang sebagai tempat suci.

(Bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 27 Juni 2020. Hal.3,7

Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (6)_Mewahnya Pemukiman Eropa dan Kumuhnya Pemukiman Pribumi. Radar Surabaya. 25 Juni 2020. Hal.3,7. Chrisyandi. Library

“Pemandangan kontras memang terjadi saat bangsa Eropa mendirikan pemukiman di Surabaya (Hibdia-Belanda saat itu). Di balik megahnya bangunan pemukiman bangsa Eropa terdapat pemukiman kumuh milik warga pribumi,” Mus Purmadini.

Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, saatbitu rumah-rumah milik warga pribumi ini dibangun dengan bahan seadanya, seperti kayu maupun bambu. Lingkungan kumuh ini tidak tersentuh oleh pemerintah kolonial hingga tahun 1920-an. “Namun sejak Surabaya ditetapkan sebagai gementee tahun 1960, kota ini mengalami perkembangan begitu pesat,” Katanya kepada Radar Surabaya.

Pria yang juga pemerhati sejarah Kota Surabaya mengalami perluasan wilayah ke arah selatan. Ini akhibat pertumbujan penduduk yang sangat tinggi. “Dalam jangka waktu 23 tahun mulai 1960 hingga 1930 jumlah penduduk melonjak dua kali lipat,” jelasnya.

Jika pada 1906 jumlah penduduk hanya 150,188 orang, namun pada 1930 bertambah menjadi 331,509 orang. Pertumbuhan jumlah penduduk ini didominasi oleh bangsa Eropa.

“Tahun 1906 bangsa Eropa di Surabaya hanya 8.663 orang dan tahun 1930 bertambah menjadi 26.376 orang. Bertambah menjadi tiga kali lipat, tuturnya.

Lonjakan penduduk ini disebabkan okeh arus urbanisasi dan industrialisasi di kota ini. Kota Surabaya yang telah berkembang pesat sejak liberalisasi ekonomi pada 1870 telah menjadi tujuan utama para pendatang dari pedesaan.

Termasuk pendatang dari bangsa asing seperti Eropa sendiri, dimana mereka banyak yang ditugaskan di sini, baik dari kalangan pemerintahan maupun swasta. termasuk para pebisnis dan pedagang yang turut berdatangan, seiring kian berkembangnya perekonomian, industri dan perdagangan di Kota, Surabaya kala itu.

“Dan kawasan di sekitar pusat bisnis dan pemerintahan, seperti kawasan sekitar Jembatan Merah, meliputi Rajawali, Gemblongam hingga Krembangan pun turut menjadi lokasi bisnis dan pemukiman bangsa Eropa,” tukasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 25 Juni 2020. Hal. 3,7

Menelusuri Sejarah Krembangan Sebagai Europeesche Wijk (5)_Pemukiman Orang Eropa Hanya di Jalan Utama. Radar Surabaya. 24 Juni 2020. Hal.3. Chrisyandi. Library

 

“Dengan adanya hak-hak Istimewa membuat bangsa Eropa di Surabaya memiliki kekuasaan mutlak untuk mengatur kota. Bangsa Eropa ini bebas memilih atau menentukan di mana mereka akan tinggal,” Mus Purmadani

Pustawakan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika mengatakan pola pembangunan rumah permanen orang-orang Eropa hanya dilakukan di jalan utama. Menurutnya, pemukiman bangsa Eropa ini berada di sekitar Jembatan Merah dan Simpang. “Kompleks ini dilengkapi penerangan, jalan beraspal, air bersih, trem, rumah toko, kantor pos, barak militer, makam, gereja, kendaraan dan sebagainya. Selain itu juga ada kantor residen Surabaya,” papar Chrisyandi.

Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut dia, kawasan Jembatan Merah menjadi pusat perdagangan dan ekonomi Surabaya. Karena semakin banyak orang-orang Eropa yang datang ke Surabaya dan berlomba membelu tanah di kawasan ini. Meskipun para akhirnya pemerintah kota praja mengeluarkan larangan untuk membeli tanah pribumi, namun pembangunan kantor, pemukiman hingga toko di kawasan ini tetap berjalan. “Karena kebutuhan pemukiman semakin meningkat, pemerintah saat itu melakukan penghacuran pemukiman milik pribumi,” sambungnya.

Sementara untuk pemukiman orang-orang Tiongkok, Melayu,dan Arab terletak di sebelah timur Jembatan Merah (seberang Kalimas). Untuk orang Negeri Tirai Bambu tinggal di Kembang Jepun, Kapasan, dan Pasar Atom. Sedangkan orang Arab tinggal di sekitar Mashud Ampel. Dan masyarakat Melayu tinggal di timur Jembatan Merah. “Untuk penduduk pribumi tinggal di balik gedung-gedung bangsa Eropa dengan memanfaatkan lahan mereka yang tersisa. Sehingga tampak sekali bertolak belakang,” tutur Chrisyandi. (bersambung/opi)

 

Sumber: Radar Surabaya. 24 Juni 2020. Hal.3

Bercerita tentang Flora-Fauna Indonesia Lewat Desain Masker. Jawa Pos. 30 Juni 2020. Hal.20. Erlita Tantri.MNA

Surabaya, Jawa Pos – Motif-motif yang beragam psda masker menjadi pilihan bahkan kebutuhan di masa pandemi yang belum juga selesai. Paulina Tjandrawibawa pun mengembangkan ide-idenya. Tidak sekedar dengan motif yang random, perempuan asal Surabaya itu membuat motifnya tetap bercerita. Mulai motif satwa dan tumbuhan yang hampir punah di Indonesia hingga satwa yang berada di lingkungannya.

Motif-motif tersebut dibuat dengan gaya kartun yang dipadukan dengan warna-warna yang beragam. “Dengan banyaknya warnat yang disatujan, desain terlihat lebih fresh. motif-motif yang menjadi fojus Paulina salah satunya berssal dari fauna asal Kalimantan yang hampir punah dan dilindungi. “Dari situ juga ikutan belajar ternyata banyak binatang yang lucu-lucu kayak bornean bay cat alias kucing merah. Tapi, populadinga sekarang tinggal 2.500,” terangnya saat dihubungi kemarin (29/6). Selain itu, dia membuat motif dari hewan yang ada di sekitar rumahnya. Yakni, kucing kampung. Perempuan alumnus public relations and advertising di University of New South Wales itu bercerita bahwa dulu ada kucing kurus yang tak terurus. “Tapi, karena sering mampur akhirnya sering kami kasih makan sampai akhirnya dipeluhara dan sudah beranak juga,” cerita pemilik Conseva itu.

Namun, dari situ dia memindahkan cerita kucing tersebu ke dalam masker buatannya. Tak disangka, peminat desain kucing itu juga banyak. “Kemarin itu sampai ada yang order dari Amerika,” tambahnya. Dari situ, Paulina sebenernya ingin menyampaikan pesan tersendiri lewat desain-desainnya. Yakni, untuk bisa menyayangi hewan maupun tumbuhan di sekitar.

Terlebih, perempuan kelahiran 27 Juni itu ingin orang-orang lebih mengenal binatang-binatang yang hampir punah dan unik-unik. “Karena akhirnya bisa bikin kita tahu ternyata kita punya loh binatang ini di Indonesia,” tambahnya.

Selain bisa bercerita dan mengedukasi lewat desain maskernya, dia membuat kegiatan sosial berupa donasi bersama teman-temannya di Universitas Ciputra lewat gerakan Hi Hope. “Gerakan ini gabungan antara dosen dan mahasiswa, Sebagian dari hasil penjualan masker ini bakal didonasiksn untuk orang-orang yang membutuhkan. Bisa berupa APD dan juga sembako,” tambahnya. (ama/c13/nor)

           

Sumber: Jawa Pos. 30 Juni 2020. Hal.20

Berwisata di Era New Normal. Suara Surabaya Media. Edisi Juni 2020. Agoes Tinus Lis. Pariwisata

Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah untuk mencegah penyebaran virus COVID19 membuat kegiatan pariwisata berhenti sementara. Hal ini telah membuat banyak kerugian bagi semua bisnis pariwisata, mulai dari hotel, rumah makan, transportasi, obyek wisata dan pusat oleh-oleh.

Setelah sekian lama penetapan PSBB di berbagai daerah, akhirnya pemerintah pusat mulai menbuka peluang untuk kembali bisa menghidupkan kegiatan pariwisata. Moda transportasi udara, darat dan laut mulai di buka kembali dengan standart penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Istilah new normal sudah muali disampaikan di mana-mana. Sebenarnya pengertian new normal dalam berwisata adalah perubahan pola berwisata dengan lebih mengutamakan kebersihan, keamanan dan kenyamanan bagi wisatawannya yang diberikan oleh penyedia layanan pariwisata.

Perlahan tapi pasti, dalam waktu dekat akan banyak orang yang akan kembali berwisata. Kegiatan menginap di hotel, makan, dan mengunjungi obyek wisata menjadi hal yang mulai dilakukan oleh banyak orang di era new normal ini.

Kunci dari kegiatan berwisata yang aman dan nyaman dengan minimum resiko penyebaran adalah komitmen,  kewaspadaanndan ketaatan akan protokol kesehatan oleh semua pihak. Bagi wisatawan yang akan melakukan kegiatan berwisata harus menerapkan standard kebersihan dan keamanan pribadi.

Seriap wisatawan harus senantiasa membawa dan menggunakan perlengkapan kemananan diri yang standard seperti masker, face sheild, hand sanitizer, tisu basah dan sarung tanhan bila perlu, harus menjaga social distancing setiap saat dan menghindari kontak langsung dengan orang lain, cek suhu tubuh, rajin cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer. Pihak pengelola rutin melakukan penyemprotan disinfektan di area wisata.

Dalam kondisi new normal ini, perilaku wisatawan baik domestik maupun asing akan berubah. Kegiatan pariwisata di era new normal ini, akan ada sequence of service yang baru di setiap ini usaha pariwisata untuk beradaptasi dengan kondisi pandemic. Inovasi Layanan, yang memanfaatkan teknologi akan semakin banyak ditemui oleh wisatawan. Selamat berwisata di era new normal.

*) Dekan Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

 

Sumber: Suara Surabaya Media. Edisi Juni 2020

Hadipurnomo, Antyropologi visual, dan Sumba.majalah.tempo.co. 20 Juni 2020

https://majalah.tempo.co/read/obituari/160732/hadipurnomo-antropolog-visual-yang-jatuh-cinta-kepada-sumba?hidden=login

 

Destinasi Wisata di Era Kenormalan Baru. Kontan. 27 Juni 2020. Hal.11. Dewa GS. Bisnis Hotel & Pariwisata

“Pengelolaan pariwisata bertanggungjawab menjadi tantangan utama di era new normal,” Dewa Gde Satrya, Dosen Bisnis Hotel & Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya.

Destinasi wisata dan hotel tengah bersiap membuka diri untuk para pelancong atau wisatawan, mereka menunggu komando dari pemerintah. Fasilitas tambahan yang wajib ada di setiap destinasi wisata san hotel sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19 adalah fasilitas mencuci tangan, sabun atau gel, air bersih, dan cairan disinfektan. Selain itu, harus menyediakan pula petugas untuk mengecek suhu tubuh pengunjung, membatadi jumlah pelancong, dan alur kunjungan wisatawan. Tidak ada tujuan lain selain beradaotasi dengan perubahan era new normal atau kenormalan baru.

Di Surabaya, meskipun hotel boleh buka, sejumlah fasilitas, belum boleh buka seperti salon dan spa, ruang pertemuan atau ballroom, kolam renang, dan restoran. Beberapa destinasi wisata alam unggulan seperti Kawah Ijen di Banyuwangi telah membatasi jumlah pengunjung per hati. Situasi ini menginagkan pelaku wisata pada standardisasi khusus pelayanan untuk segmen pasar wisatawan dari kalangan lanjut usia (lansia), kaum difabel, dan keluarga dengan anak-anak yang sedang berpergian. Penetapan fasilitas yang baik pada tiga segmen pasar wisatawan itu merupakan pembelajaran bagi destinasi wisata saat ini untuk memperluas penerapan standar protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19.

United Nation World Tourism Organization (UNWTO) pada peringatan Hari Pariwisata Sedunia Tahun 2016 mengangkat isu Toursim Promoting Universal Accessibility. Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika itu Ban Ki-Moon menegaskan, hak-hak mendasar dalam pariwisata di seluruh dunia harus dopastikan terpenuhi bagi tiga kalangan ini : penyandang disabilitas, kalangan lanjut usia, dan wisatawan keluarga yang membawa anak-anak. Penegasan tersebut sekaligus menjadi desakan kepada otoritas di Tanah Air, khususnya pemangku kepentingan industri pariwisata untuk mengindahkan aspek infrastruktur, agar dapat diakses dan ramah bagi tiga kalangan wisatawan yang perlu mendapatkan perhatian lebih itu.

Kali ini, semangat dan prinsip tersebut dielaborasi untuk semua umat manusia yang merindukan berwisata dengan aman dan nyaman seperti situasi yang dialami sebelhm pandemi. Di Indonesia, implementasi fasilitas publik yang ramah bagi semua kalangan, khususnya yang memiliki keterbatasan fisik dan lanjut usia, telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 25 Tahun 2008 tentang Pelayanan Publik. Selain itu, secara umum, regulasi yang mengatur keselamatan pejalan kaki telah diatur dalam UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 45 dan 46, misalnya, mengatur fasilitas pendukung seperti trotoar, lajur sepeda, tempat penyebarangan pejalan kaki, halte, serta fasilitas pendukung bagi penyandang cacat, dan lansia. Pasal 106 ayat 2 menyatakan, setiap orang yang mengemudikan kendaraan di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Lalu, Pasal 131 dan 132 tentang hak dan kewajiban pejalan kaki dalam berlalu lintas.

Pariwisata Berkelanjutan

Melalui skema Corperate Social Rensponsibility (CSU), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerjasama dengan Alfamart memodifikasi bus yang bisa digunakan oleh penyandang disabilitas. Modifikasi bus yang kabarnya beroperasi secsra gratis dan menampung hampir 70 orang ini terletak di pintu masuk bus yang dilengkapi besi yang panjang sebagai alas melintas penumpang yang menggunakan kursi roda, perluasan kabin, serta dilengkapi televisi LCD 32 inci, pendingin ruangan, GPS, dan CCTV.

Fasilitas seperti golf car, shuttle car khusus dibutuhkan oleh kalangan disabilitas di area objek wisata. Ketersediaan toilet duduk dengan beberapa penyangga di sekelilinganya untuk menopang tubuh penyandang disabilitas juga menjadi keniscayaan di setiap objek wisata. Di Chicago’s Wills Tower, kalangan disabilitas dapat mengakses destinasi wisata yang memacu adrenalin ini. Pengelola menyediakan kursi roda dan elevator bagi kalangan disabilitas dan lanjut usia. Di Taiwan, akses sarana transportasi umum untuk penyandang disabilitas tergambar seperti ini, bus berlantai rendah, bus khusus rehabilitasi, taksi berkursi roda, sepeda motor khusus, penguatan fungsi trotoar, proyek konstruksi parkir untuk penyandang disabilitas, rambu lalu lintas, dan marka jalan. Selain itu, elevator, toilet, wastafel, dan lingasan kursi roda bisa ditemukan di mana-mana, sehungga kalangan disabilitas tidak kesulitasn untuk pergi sendirian.

The Toursim Authority of Thailand (TAT), organisasj nirlaba ternama di sana, pernah menyodorkan konsep yang dinamakan the seven greens concept. Inisiasi ini bertujuan untuk melindungi dan melestariksn lingkungan juga memulihkan kualitas lingkungan dengan cara menginkatkan kesadaran lingkungan dsn mempromosikan CSR yang melibatksn partisipasi secara aktif seluruh pihak kepariwisataan Thailand. Semua berkolaborasj dalam mendukung kegiatan Green Tourism Thailand. Mereka sadar, dengan melestarikan lingkungan secara konsisten berarti menjaga keberlangsungan kegiatan pariwisata Thailand (sustainable tourism) (Darsino,2008).

Pengelolaan kepariwisataan yang bertanggungjawab seperti di Thailand menjadi tantangan utama di setiap destinasi wisata di era kenormalan baru. Untuk itu, sektor pariwisata pun bertransformasi menjadi sustainability, serenity, dan spirituality. Dalam konteks sustainable tourism, menurut Evita, Sirtha dan Sunartha (2012: 3), dalam melakukan pengembanhan pariwisata berkelanjutan harus mengindari pariwisata massal.

Sedara ekonomi, meningkatnya jumlah turis berdampak positif terhadap perekonomian suati negara. Namun sebaliknya, berpengaruh negatif pada lingkungan. Salah sayu upaya untuk mengurangi dampak negatif dari pariwisata massal, yaitu pengembangan alternatif yang lebih peduli dengan keseltarian lingkungan dan merupakan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan memiliki sembilan indikator: economic viability, local prosperity, employment quality, social equity, visitor fulfillment, local control, community wellbeing, cultural richness, physical integrity, biological diversity, resource efficiency, dan environmental purity.

 Penerapan prinsip sustainable tourism meripakan keniscayaan bagi destinasi wisata di era new normal. Protokol kesehatan untuk menangkal Covid-19 sekiranya bisa berhasil diterapkan di setisp pengelola destinasi wisata, melalui pengalaman sebelumnya dalam memberi layanan yang prima pada segmen pasar wisatawan lansia, kaum difabel, dan keluarga yang membawa anak kecil.

 

Sumber: Kontan. 27 Juni 2020. Hal.11

Pakar Psikologi Universitas Ciputra Surabaya: Sikapi Fenomena Pengambilan paksa Jenazah Covid-19 Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Pakar Psikologi Universitas Ciputra Surabaya: Sikapi Fenomena Pengambilan paksa Jenazah Covid-19. jatim.tribunnews.com. 25 Juni 2020

https://jatim.tribunnews.com/2020/06/25/pakar-psikologi-universitas-ciputra-surabaya-sikapi-fenomena-pengambilan-paksa-jenazah-covid-19