Bingung saat RS Tak Cover Rapid_Ibu Hamil Hadapi Tantangan selama Pandemi Covid19. Surya. 27 Juli 2020. Hal.3. Gloria Christy Bhagawatgita

SURABAYA, SURYA – Pemkot Surabaya selama ini sudah memberikan fasilitas layanan rapid test gratis bagi ibu hamil (bumil). Bahkan, juga ada test salwab untuk bumil diatas 37 minggu. Namun, sayangnya tidak semua bumil mendapat fasilitas ini.

Annisa Qurrota A’yun (23) misalnya, yang dirujuk ke rumah sakit (RS) tipe B untuk mempersiapkan persalinan anak ketiga. Warga Wonorejo, Rungkut ini mengungkapkan, dirinya mendapat rujukan pada usia kehamilan 36 minggu.

“Karena kelahirannya beresiko, puskesmas memberikan rujukan, dan ternyata rumah sakit rujukan tidak meng-cover biaya rapid. Jadi saya harus cari rapid mandiri,” ujarnya, Minggu (26/7).

Annisa mengatakan, rapid test ini diwajibkan oleh RS rujukannya sebelum tindakan persalinan. Baik normal maupun caesar, namun surat keterangan rapid test hanya berlaku satu minggu.

“Saya tanya puskesmas, katanya nanti diinfo, tetapi sampai mendekati hari persalinan belum ada info tes rapid. Akhirnya saya cari rapid berbayar,” ungkapnya.

Sebagai pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS), Annisa mengaku, cukup keberatan dengan biaya rapid yang mulai dari Rp 300.000.

Selain rapid test, hamil di masa pandemi membuat Annisa harus datang ke RS sendiri. Sementara, anak-anaknya harus tinggal bersama neneknya di rumah.

“Kalau melahirkan juga hanya ditemani suami, ndak boleh dijenguk,” lanjutnya.

 Sangat dibantu

 Lain lagi yang dialami Gloria Christy Bhagawatgita (27), ibu yang tengah hamil 3 bulan ini memang merasa khawatir mengandung ditengah pandemi saat ini.

Namun, Gita mengaku, mengikuti anjuran Pemkot Surabaya untuk langsung pergi ke RSIA saat mengontrol kesehatannya.

“Karena memilih rumah sakit ibu dan anak, yang notabene bukan rujukan covid-19, sejauh ini saya tidak merasa kesulitan. Dokter juga sangat membantu, kapan pun dapat dihubungi apabila terjadi sesuatu tentang kehamilan saya,” katanya, Minggu (26/7).

Tak hanya itu, pihak RS juga sangat memudahkan proses registrasi sekaligus sangat memperhatikan protokol kesahatan.

Usia kehamilannya baru menginjak 12 minggu, sehingga Gita belum merasakan keluhan yang membuatnya harus menjalani rapid atau swab test.

“Berdasarkan kondisi saya, kata dokter untuk sementara tidak perlu rapid.” ujar Gita, yang berjarap tetap sehat dan bisa menjaga kehamilan lancar hingga proses melahirkan.

Saat ini, Gita berusaha tetap menjaga kesehatan diri dan kandungan dengan makan makanan yang bergizi ( 4 sehat 5 sempurna).

“Saya juga berusaha menerapkan protokol saat keluar rumah, seperti menggunakan masker, hand sanitazer, menghindari kerumunan dan rutin konsultasi dengan dokter. Saya selalu komunikasi dan melibatkan peran suami soal kondisi kehamilan ini,” ungkapnya.

Bekerja sebagai Staff Academic Support di Universitas Ciputra, dengan status sebagai karyawan yang sedang hamil, membuatnya memiliki keistimewaan Work from Home (WFH).

“Ini sangat membantu posisi saya sebagai seorang karyawan,” pungkasnya. (ovi/zia)

 

Sumber: Surya. 27 Juli 2020. Hal.3

Tips Makeup di Tengah Pandemi_Comfortable dan Stylish. Pilih Riasan yang Matte. Surya. 18 Juli 2020. Hal. 3. FDB

MAYJEN SUNGKONO-Ingin tampil terlihat cantik di tengah pandemi, tidak perlu repot menggunakan makeup berlebihan. Ada beberapa tips dan trik sederhana dari Make Up Artist (MUA) Verranu Adjialin.

Yang pertama, bila ingin tampil cantik dan nyaman di tengah pandemi adalah menggunakan makeup yang jenisnnys matte, agar wajah tidak mudah berminyak.

 “Jadi mulai dari foundationnya, bedak, blush on usahakan pakai yang powder jangan krim. Sedangkan lipstik pakai yang matte juga, atau lip gloss nanti akan nempel ke masker,” kata Verrany saat ditemui di Ciputra World Surabaya, Jumat (17/7).

Itu semua diterapkan di masa pandemi agar makeup tidak menempel di masker sehari-hari kita gunakan. Selain itu, setelah menggunakan makeup harus menggunakan setting spray pada bagian wajah. Setelah itu, harus mengunggu sampai kering agar tidak terlalu basah kemudian siap untuk menjalani aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker.

“Nah, setting spray itu bisa mengunci makeup agar tidak luntur. Selain itu, maskernya juga bisa kita semprot pakai setting spray tersebut, sewajarnya daja. Itu bisa membantu makeup tidak geser,” ujarnya.

Saran yang disampaikan tadi, lanjut Verrany, itu semua agar para wanita tidak lagi repot atau bingung menggunakan makeup yang comfortable dan stylish. “Biasanya yang jadi masalah itu adalah asal saja memakai makeup. Kenapa pakai makeup yang matte, karena itu mengkondisikan cuaca di Indonesia, terutama Kota Surabaya ini kan tropis ya. Jadi cocok,” pungkasnya. (gin/nur)

 

Sumber: Surya. 18 Juli 2020. Hal. 3

Jaga Mood Saat di Rumah. Surya. 25 Juli 2020. Hal.10. Yoanita Tahalele. Fashion Product and Design

Di rumah saja bukan berarti penampilan bisa seenaknya saja. Karena memakai pakaian yang asal biasanya akan menjadi malas dan kurang produktif.

Hal yang sama disampaikan oleh Owner Flying Feather Yoanita Tahalele, saay melakukan styling comfy look bersama Ciputra World Surabaya.

Baginya, meski banyak aktivitas dilakukan di dalam rumah, memakai pakaian yang proper merupakan satu di antara hal yang dapat memperbaiki mood.

Secara psikologi, ketika seseorang memakai pakaian yang bagus, hal itu justru akan meningkatkan mood dan menambah produktivitas.

“Karena pengalaman saya pribadi, ketika pakai baju yang asal, akan membuat mood kurang baik. Akibatnya bekerja terasa malas dan menjadi kurang produktif,” terangnya.

Menurut Yoanita, pakaian yang pas dikenakan untuk di rumah saja namun tetap stylish adalah oversized t-shirt.

Meski hanya berupa kaus, perlu diberikan beberapa aksen lebih agar tak memperlihatkan gaya yang terlalu santai.

“Kalau nggak ditambah aksen, jatuhnya akan sama seperti pakaian rumahan lainnya dan memberikan efek sama,” ujar perempuan yang juga mengajar jurusan Fashion Product and Design Universitas Ciputra Surabaya itu.

Yoanita menambahkan, biasanya ia akan menambah aksen di area pinggang atau bahu, untuk menonjolkan bagian itu.

Pemilihan bawahan pun perlu di perhatikan. Karena ingin mengangkat pakaian stylish yang tetap comfy saat dikenakan di rumah, Yoanita memilih tiga celana yang kerap ia kenakan pula, seperti, slouchy pants, palazzo, jogger pants, dan celana sejenisnya.

Kimono Set

Tak hanya kaus, atasan seperti kemeja, blouse dan outer, juga bisa menjadi referensi style selama beraktivitas di rumah.

“Atau sekarang yang lagi musim adalah kimono set. Selama pandemi, saya melihat style sedang banyak digandruingi oleh masyarakat. Selain tetap terlihat stylish, bahan utama kimono set yang rata-rata terbuat dari katun, banyak memikat hati masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai pengganti daster, Yoanita lebih menyarankan untuk mengenakan maxi dress saja dengan pilihan bahan yang nyaman dan airy.

“Kalau maxi dress yang nyaman untuk sehari-hari, biasanya saya lebih menyarankan dari bahan, katun, linen, rayon, dan sejenisnya. Pokoknya bahan-bahan yang licin dan jatuh. itu biasanya enak untuk dipakai sehari-hari,” tutupnya. (akira tandika)

 

Sumber: Surya. 25 Juli 2020. Hal.10

Gunakan Bahan Matte dan Setting Spray. Jawa Pos. 23 Juli 2020

SURABAYA,Jawa Pos – Masker sudah menjadi “outfit” wajib saat ini. Riasan wajah yang kini digunakan juga yak bisa disamakan seperti sebelumnya. Jangan sampai riasannya malah menempel pada masker dan terhapus. Veve Linn, pengajaran make-up di John Robert Powers, berbagai tip riasan “new normal”.

Foundation, primer, bedak, eye shadow, hingga lipstik tetap digunakan. Hanya, pemilihan jenisnya sangat berpengaruh. Veve mengatakan, sekarang wajib pakai bahan-bahan matte. Mulai foundation, blush on, hingga lipstik. “Hindari yang creamy. Blush on ya powder. Lipstik bukan liptint atau lip gloss,” jelasnya.

Penggunaan bahan creamy bisa meninggalkan bekas pada masker. Apalagi, cuaca Surabaya yang panas bikin seseorang mudah berkeringat. “Akan makin berminyak juga,” paparnya.

Selain itu, Veve mengingatkan pentingnya memilih setting spray. Setelah memoleskan riasan, setting spray mesti diaplikasikan untuk menjaga riasan tetap on. “Tunggu sampai kering. Bisa dikipasi atau dengan ditepuk pelan dengan tisu,” jelasnya sembari mengaplikasikan setting spray pada wajah Kaynell Nikolas di Ciputra World Surabaya kemarin.

Setting spray tersebut sebaiknya diapliasikan ulang dalam 3-4 jam. Apalagi jika sedang di luar ruangan atau di cuaca yang sangat panas. Setting spray juga bisa diaplikasikan pada masker sebelum di gunakan. “Tapi, sedikit saja, Jangan sampai kebanyakan dan terhirup berlebihan,” imbuhnya.

Dalam memakai riasan pada era new normal ini, Veve lebih berfokus pada bagian mata. Eyeliner dan eye shadow tak bisa ditinggalkan. Mata bisa jadi fokus utama dan ruang berkreasi. Permainan warna dan cobacoba gradasi bisa dilakukan, menyesuaikan dengan outfit hari itu. “Tambahkan maskara agar mata lebih ‘hidup’,” ucapnya.

 

Sumber: Jawa Pos. 23 Juli 2020

Gunakan Sisa Kain untuk Fashion New Normal. Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal.15. Yoanita Tahalele. Fashion Design and Business

SURABAYA, Jawa Pos – Sudah lama para desainer maupun pebisnis fesyen berusaha mengurangi pembuangan kain sisa. Ternyata, pandemi memberikan “kesempatan” lebih untuk itu. Hal tersebut diungkapkan Yoanita Tahalele, dosen Fashion Design and Business UC yang juga memiliki lini fashion.

 Ita, sapaan Yoanita Tahalele, menganggap pandemi ini sebagai blessing in disguise. Potongan sisa kain tersebut bisa diolah jadi beberapa perlengkapan fashion masa kini. Bergantung dengan ukuran dan potongan yang ada. “Misalnya, dijadikan masker. Bisa dikenakan senada dengan pakaiannya, lebih matching,” paparnya.

 Selain untuk masker, ada beberapa jenis akesoris lain. Salah satunya, topi. Demi melindungi rambut saat seseorang berada di area umum, topi seksrang juga mulai diminati. Jenis topi yang bisa menggunakan bahan sisa adalah bucket hat, beret, juga newsboy cap.

Ketiganya membutuhkan bahan yang relatif tidak terlalu banyak. Selain itu. sambungan kain bisa diakali. “Bentuknya kasual, jadi orang bebas mau pakai sehari-hari,” tutur owner Flying Feather tersebut.

Opsi alternatif pemanfaatan sisa kain busana adalah dijadikan obi atau sabuk. Desain ini bisa divariasikan bentuknya sesuai gaya masing-masing. “Paling kecil bisa juga untuk ikat rambut,” jelasnya.

Kali ini, Ita menggunakan bahan katun dan rayon. Jenis kain tersebut memang paling efesien sebagai masker nonmedis. Sebab bahannya sejuk dan mudah dicuci. “Kekurangannya, hanya 60 persen efektif dibanding masker medis,” jawabnya.

Bahan kain lain juga bisa digunakan. Misalnya, linen dan scuba. Bahannya efisien juga sebagai masker. Bedanya, linen agak panas dan tidak selembut katun. “Dan kalau scuba harus double layer ya,” tuturnya.

Corak shibori yang digunakan punya keunggulan. Sambungan tidak terlalu terlihat. “Memang ini ngaruh banget, dengan pola shibori itu sisa bahan jadi tinggal 2 persen. Jadi, less waste,” jawabanya. (dya/c13/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal. 15

Sharing tentang Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal.15. Fakultas Kedokteran

SURABAYA,Jawa Pos – Di tengah pandemi, pembahasan mengenai kesehatan masyarakat kian banyak dilakukan. Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (UC) kemarin (24/7) menyelenggarakan webinar dengan topik Pencegahan Penyakit Level Masyarakat.

 Narasumber pembuka merupakan dosen tamu dari Faculty of Medicine and Health Science UCSI Kuala Lumpur. Prof Hoh Boon Peng PhD menjelaskan pentingnya pemetaan genom dalam dunia medis. Dalam kasusnya, Hoh menyebutkan di Malaysia. Melayu, Tionghoa, dan India jadi tiga rumpun yang cukup dominan. Masing-masing rumpun ternyata bereaksi berbeda terhadap obat. “Beberapa jenis zat efektivitasnya berbeda antara Melayu, Tionghoa, dan India,” jelasnya.

Pada sesi selanjutnya, Prof dr Bambang Wirjatmadi MS MCN PhD SpGK (K) memberikan sedikit gambaran mengenai gizi penting dalam masa pandemi. “Beragam vitamin yang membantu daya tahan, ada vitamin A, B, dan K,” jelasnya. Masing-masing memberikan efek bagi tubuh.

Bambang juga mengenalkan sedikit anatomi kulit dan mulut. Kulit yang tak terluka punya lapisan yang banyak sehingga memberikan perlindungan agar virus tak mudah masuk ke tubuh. Sebaliknya, kulit yang terluka bisa memberikan jalan masuk bagi benda yang tak diinginkan tubuh. (dya/c6/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 25 Juli 2020. Hal. 15

Inilah Tips Menumbuhkan Karakter Entrepreneur Anak dari Universitas Ciputra. https://www.timesindonesia.co.id. 23 Juli 2020

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/285994/inilah-tips-menumbuhkan-karakter-entrepreneur-anak-dari-universitas-ciputra

Cyntia Handy: Budaya, Jalan Menuju Manusia Indonesia Seutuhnya. www.biem.co. 20 Juli 2020. Library

https://www.biem.co/read/2020/07/20/61469/cyntia-handy-budaya-jalan-menuju-manusia-indonesia-seutuhnya/

Anak-anak, Dunia Bermain, dan Kebudayaan Kita. www.biem.co. 20 Juli 2020. Library

https://www.biem.co/read/2020/07/20/61466/anak-anak-dunia-bermain-dan-kebudayaan-kita/

Yehezkiel Cheryan Tjandra, Pencetus Aplikasi Latihan Berbahasa Inggris Plan B_Berpengalaman sebagai Guru Les Kembangkan Aplikasi yang Lengkap. Jawa Pos. 19 Juli 2020. Hal.13,19

Berpengalaman sebagai Guru Les, Kembangkan Aplikasi yang Lengkap

“Mengerjakan sesuatu karena cinta itu memang berbeda dengan yang asal-asalan. Misalnya, yang dilakukan Yehezkiel Cheryan Tjandra. Saat kuliah, separo waktunya didedikasikqn untuk mengajar bahasa Inggris. Kini dia menjadi salah satu professional skills facilitator di Apple Developer Academy @UC (Universitas Ciputra)” Dimas Nur Apriyanto, Jawa Pos.

 Lewat sambungan telepon, tawa Yehezkiel Cheryan Tjandra pecah ketika ditanya tentang seberapa prestisiusnya posisinya sekarang di Apple Developer Academy @UC. Pria yang akrab disapa Ryan itu sempat berhenti bertutur. Hening. Lalu, dia kembali berbicara.

“Ya, bersyukur banget bisa ada dalam inner circle seperti di Apple Developer Academy @UC,” ujarnya pada Rabu (15/7). Motivasi Ryan untuk mengikuti program intern di Apple Developer Academy @UC adalah ingin mengembangkan aplikasi Convo Asia Network ke dalam sistem iOS.

Convo Asia Network, lanjut Ryan, merupakan aplikasi untuk berlatih bahasa Inggris. Masih ingat betul di benaknya ada ribuan orang yang mengikuti seleksi batch I pada Maret tahun lalu. Dari ribuan nama tersebut yang berhasil lolos seleksi dan berhak mengikuti proses intern hanya 100 orang.

 Ryan mengatakan, tahun lalu ada tiga tahapan seleksi. Proses seleksinya sangat ketat. Diawali tugas pembuatan video pengenalan (introduction video). Video dinilai langsung oleh fasilator Apple Developer Academy @UC dan perwakilan Apple. Setelah itu, peserta yang lolos tahap pertama lanjut ke tahap kedua.

Yakni, tes potensi akademik (TPA). Beres di tahap kedua, tantangan seleksi pada tahap ketiga semakin berat. Yaitu, seleksi wawancara. Menurut Ryan, seleksi interview itu merupakan tahap yang paling krusial. Dia menyebutkan, peserta wajib membawa portofolio saat wawancara. Baik domain expert, coder (programmer), maupun desainer. Semua wajib membawa portofolio. “Yang desainer dia pernah mendesain apa saja. Kalau coder, dia pernah bikin aplikasi apa akan menjadi pertimbangan para juri,” jelasnya.

Program intern dijalani pria kelahiran Surabaya, 1978, itu selama sembilan bulan di Apple Developer Academy @UC. Mulai Maret hingga Desember. Dia belajar banyak hal tentang bagaimana membuat aplikasi untuk iOS. Di akhir bulan program intern, Ryan berpikir mengapa tidak meneriskan menjadi fasilator di Apple Developer Academy @UC. Saat itu juga dia mendapat satu masukan yanh berarti bagi keberlangsungan aplikasi Convo Asia Network.

Aplikasi Convo Asia Network dinilai tidak scalable alias beradaptasi terhadap penambahan potensi atau beban. Ryan memutar otak untuk mencari cara bagaimana aplikasi berlatih bahasa Inggris-nya itu bisa scalable. Akhirnya, lahir aplikasi Plan B. “Tetap sama prinsipnya, berlatih berbahasa Inggris, tapi lebih scalable. Pengguna bisa belajar speaking, reading, hingga listening tapi dalam bentuk storytelling,” jelasnya.

 Alumnus Sciene Degree in Computer Information System UC angkatan 2008 tersebut pernah menjadi guru bahasa Inggris selama delapan tahun. Dia menilai tidak banyak orang yang percaya diri berkomunikasi dengan bahasa Inggris. “Katakan dia kursus. Sepulang kursus, dia balik lagi ngomong pakai bahasa Indonesia.

 Padahal, menurut Ryan, ilmu bahasa itu perlu dipraktikkan. Tidak sekedar tahun ilmunya. Berangkat dari hal tersebut, dia memutuskan membuat aplikasi untuk latihan berbahasa Inggris. Plan B dirilis bulan lalu. Kini user-nya telah mencapai ratusan.

Ryan optimis Plan B terus berkembang. Ryan sebagai director di Plan B tidak sendirian. Dia bersama tiga coder dan tiga desainer. Meski demikian, dia tidak berpikir untuk melepaskan statusnya sebagai fasilitator di Apple Developer Academy @UC. “Saya juga bisa mendapatkan skill dan networking yang luas. Disambi mengembangkan Plan B,” ucapnya.

Ada dua nilai yang dipegang tehuh oleh Ruan. Yakni, open mindedness dan kolaboratif. Dua nilai tersebut kuat dirasakan ketika dirinya ada di Apple Developer Academy @UC. Sudah tidak zamannya lagi untuk berkarya sendiri-sendiri. “Berkolaborasi satu dengan yang lainnya,” tambahnya. (*/c15/ady)

 

Sumber: Jawa Pos. 19 Juli 2020. Hal. 13,19