Tak Apa Ceritakan Yang Tak Menyenangkan. Jawa Pos. 31 Januari 2020. Hal.7. Ersa Lanang Sanjaya.PSY

Hidup tidak selalu mulus. Termasuk kertika berumah tangga. Ada saat ayah dan ibu mengalami konflik yang amat mungkin berpengaruh pada keluarga. Perlukah hal tersebut dirahasiakan?

 

KELUARGA, idealnya adalah “rumah” yang nyaman bagi setiap anggotanya. Menurut psikologi Ersa Lanang Sanjaya. Spsi., MPsi, hal tersebut terjadi jika keluarga berfungsi dengan baik. Rymah bisa menjadi tempat melepas lelah setelah menghabiskan waktu di luar. Anak dan orang tua bisa aman karena mereasa diterima dan tampil apa adanya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya itu menerangkan rasa nyaman dan aman muncul ketika seluruh anggota keluarga terbuka satu sama lain. Jika hal tersebut tidak hadir, keluarga bisa dibilang tidak berfungsi baik. “Apalagi ketika ternyata masalah itu dialami orang tua. Misalnya, hubungan ayah dan ibu tidak harmonis”, ucap Ersa.

Padahal, dalam keluarga, orang tua memegang peran kunci. Ayah dan ibu punya tanggung jawab memberikan rasa aman. Termasuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak tumbuh. “Ketika keluarga berfungsi, anak akan punya self esteem yang baik,” tegasnya. Anak yang tumbuh dengan penghargaan diri baik akan mampu mencintai dirinya. Mereka paham kelebihan dan kekurangan serta sadar bahwa mereka berguna.

Bagaimana jika orang tua ternyata mengalami masalah lalu muncul perselisihan pendapat? “Enggak apa-apa. Asalkan, ayah dan ibu mampu menjaga emosi agar konflik tidak diluapkan lewat bertengkar,” papar Ersa. Alumnus Universitas Airlangga itu menjelaskan, perselisihan orang tua –  apalagi yang disertai tindakan abusif-bisa meninggalkan luka pada buah hati. Terlebih ketika pertengkaran disaksikan anak yang masih berusia balita, “Mereka lihat, tapi engak bisa mengungkapkan. Di dalam dirinya bisa saja muncul persepsi macam-macam,” lanjutnya.

Menurut Ersa, hal itu bisa berdampak pada pola pikir anak kelak saat dewasa. Ersa mengimbau saat muncul masalah, orang tua perlu “becermin” ke tugas awal. Yakni, memberikan rasa mana. Apalagi ketika problem yang terjadi berpotensi memengaruhi keluarga atau anak. Misalnya, salah satu orang tua berhenti bekerja . Konsekuensinya, secara tidak langsung, bisa dirasakan enak. Sebab gaya hidup amat mungkin berubah.

“Misal, dulu tidur pakai AC sekarang pakai kipas. Uang saku berkurang. Bagi anak, kondisi itu bisa memicu stres,” paparnya. Solusinya, orang tua perlu membua diri. Menurut dosen yang mengajar sejak 2015 itu, ibu dan ayah boleh menceritakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Mulai masalah di tempat kerja hingga kondisi keuangan yang tidak seperti dulu. Hal ini bukan aib,” Anak juga harus tahu, hidup butuh perjuangan. Tentu penyampaian disesuaikan dengan usia dan kondisi anak,” lanjut Ersa.

Hal tersebut juga berlaku ketika orang tua, misalnya harus bercerai. Anak berhk mendapatkan penjelasan. “Kembali lagi, penyampaiannya disesuaikan dengan kndisi dan usia anak. Kalau perceraian karena ada kekerasa, tentu tidak perlu mengekspos sikap abusif pasangan,” paparnya. Ersa menilai, masalah dalam keluarga bukan akhir segalanya, justru orang tua dan anak bisa belajar bersama menghadapinya. (fam/c6/jan)

 

SAAT AYAH ATAU IBU MEMUTUSKAN MENIKAH LAGI

Mulai pendekatan dengan perlahan. Misalnya, lewat perkenalan dilanjutkan ke agenda pergi bersama.

Jangan pernah menyampaikan keputusan secara mendadak.

Kenalkan pula anak calon pasangan kepada buah hati.

Hindari sikap sok kenal sok dekat (SKSD) agar anak tidak menolak. Hormati perasaaan anak saat mereka menolak atau enggan bertemu.

Saat tahu ayah ibunya memiliki calon pasangan, sebagian besar anak mulai membadingkan, nahkan menolak orang tua menikah lagi. Ayah/ibu serta calon pasangan perlu memahami hal tersebut dan menghindari respon berlebihan.

 

BAGAIMANA MEMULAINYA?

Masalah adalah bagian dari hidup. Namun, ketika terjadi pada keluarga, anak tentu perlu tahu. Sebab, hubungan rumah tangga tidak hanya dirasakan ayah dan ibu.

 

SAAT ORANG TUA MENGALAMI KESULITAN EKONOMI

  • Diskusikan perubahaan gaya hidup atau pengeluaran.
  • Jika anak di usia remaja awal dewasa muda libatkan dalam perencanaan keuangan.
  • Tetap berpikiran positif.
  • Lalu bersama-sama Anak dan orang tua bagu membahu di situasi baru.

 

Sumber: Jawa Pos. 31 Januari 2020. Hal.7.

Pertama Kali, Universitas Ciputra Gelar Mobile Legend Campus Championship se-Jawa Timur. Surya.co.id. 31 Januari 2020

https://surabaya.tribunnews.com/2020/01/31/pertama-kali-universitas-ciputra-gelar-mobile-legend-campus-championship-se-jawa-timur

SURYA.co.id | SURABAYA – Pertama kalinya, Universitas Ciputra Surabaya terpilih sebagai tuan rumah Mobile Legend Campus Championship.

Sebanyak 80 peserta yang merupakan mahasiswa se-Jawa Timur tergabung dalam 16 tim berkompetisi menjadi yang terbaik.

Kempetisi tersebut berlangsung di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya, Jumat (31/1/2020).

“Sebelumnya ada pertandingan online antara 32 team Mobile Legend dari berbagai Universitas, hari ini 16 team yang berkompetisi adalah hasil pertandingan online,” kata Daniel Agung selaku ketua pelaksana dan Wakil ketua UKM E-Sport UC.

Peserta lomba datang dari Universitas Brawijaya, Universitas Widya Kartika, Universitas Jember, Universitas PGRI Ronggolawe Tuban, Universitas Dinamika, UC, dan lain-lain.

Kompetisi Mobile Legend Campus Championship ini mendapat dukungan dari pihak rektorat Universitas Ciputra Surabaya selaku pihak penyelenggara.

“Ini merupakan wadah dalam menyalurkan kreativitas dalam UKM E-Sport, kami mendukung dengan melengkapi fasilitas demi menujang prestasi mahasiswa di bidang E-Sport ini,” kata Victor Effendi Wakil Rektor 2.

“Mahasiswa supaya belajar berkompetisi untuk menumbuhkan sportifitas dalam pertandingan karena mahasiswa dituntut untuk melakukan yang terbaik,” tambahnya

Format Kompetisi ini adalah Fase Knock-out dengan 2 ronde didalamnya, jika seri diadakan babak penentuan (3 ronde), total hadiah 300 juta, untuk 3 pemenang.

Kompetisi yang dimulai sejak pukul 11.00 WIB, mendapat respon positif dari peserta, karena bagi peserta ini merupakan ajang belajar teamwork.

“Perasaan saya deg-deg.an ya karena baru pertama kali, game membuat kami bekerjasama dengan baik untuk memenangkan kompetisi,” kata Yosua Christopher Septianus mahasiswa asal Universitas Dinamika.

“Ini juga merupakan pembuktian untuk kedua orangtua saya,” pungkasnya.

Gangguan Pernapasan. Surya. 29 Januari 2020. Hal. 1,7. Wira Widjaya L_MED

CORONA virus (nCoV) kini menjadi perhatian dunia, kemunculan pertamanya ada di Wuhan, China, hingga ke sejumlah negara lain. Virus corona merupakan virus yang menyebabkan gangguan pernapasan, demam, batuk, sesak napas dan kesulitan bernapas.

Beberapa gejala virus corona perlu diketahui, sebagai edukasi agar masyarakat selalu waspada untuk mengurangi risiko terserang virus corona. Itu sebabnya, ada baiknya berbagai gejala ini harus sedini mungkin diwaspadai untuk mengurangi risiko serangan virus tersebut.

Gejala virus corona ini diantaranya demam, lemas, batuk, dan sesak napas. Saya menduga musim dingin yang terjadi di China, memperberat kondisi pasien, sehingga berdampak buruk bagi kesehatan seperti infeksi berat (sepsis), kondisi syok, gagal pernapasan hingga meninggal dunia.

Setelah menemukan gejala-gejala di atas, virus corona dapat menyebar dari orang yang terinfeksi melalui udara.

Partikel virus dapat ditularkan melalui udara atau melalui droplet atau cairan berukuran mikrofon yang dikeluarkan saat batuk atau bersin. Partikel virus tersebut juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia lain setelah kontrak dengan benda yang terkontaminasi nCoV.

Kemudian menyentuh hidung, mulut atau mata. Hal ini akan menyebabkan virus tersebut masuk melalui saluran pernapasan, sehingga merusak sel-sel.

Gangguan

DARI HALAMAN 1

Jaringan paru. Karena itu sangat penting untuk menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan dan melaksanakan etika batuk secara benar.

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah virus corona saat mengonsumsi makanan. Contohnya makan telur, diharuskan makan makanan yang matang agar terhindar dari penyebaran virus, sedangkan jika dimasak dengan setengah matang atau mata sapi yang kuningnya masih basah, itu akan menjadi wadah pertumbuhan virus. (zia)

Gotong Royong Percantik Tambak Bayan. Jawa Pos. 20 Januari 2020. Hal.22. Freddy H. Istanto

SURABAYA, Jawa Pos – Selain kelenteng, Kampung Tambak Bayan mempersiapkan diri dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Di tengah kampung kemarin (19/1), beberapa warga terlihat sibuk membuat hiasan berbentuk tikus sesuai dengan shio tahun ini. Sebagian lagi mempersiapkan lampion. Ada juga warga yang melukis tembok dengan gambar tikus, warna merah dan kuning terlihat dominan di beberapa sudut kampung. “Karena tahun ini Tahun Tikus, simbol itu tidak boleh lepas,” kata Lim Kiem Hau sembari melukis. “Biasanya ibu-ibu kumpul di rumah besar. Entah buat lampion atau boneka tikus. Yang laki-laki mengecat dan menghiasi lainnya,” kata Ketua RT 02 Suseno Karja kepada Jawa Pos kemarin (19/1).

Seno mengatakan, seluruh warga dari berbagai elemen saling bantu untuk menyukseskan hajatan tahunan tersebut. Tidak ada yang mengomando. “Biasanya ada satu yang memulai. Lalu, lainnya ikut nimbrung.” Ungkapnya. Persiapan menyambut Imlek dilangsungkan sejak sebulan lalu. Secara swadaya, warga memenuhi sendiri kebutuhan atribut Imlek. Kemudian, atribut itu dipajang di seluruh penjuru Tambak Bayan.

Warga asli Tambak Bayan tersebut menjelaskan, tradisi membuat pernak-pernik itu memang sudah turun-temurun dan terus dilestarikan. Menurut dia, ada satu hal yang membuat tradisi tersebut tetap terjaga hingga kini. Yakni, semangat toleransi antar umat beragama yang begitu kental. Bahkan, warga yang beragama Islam dan Kristen tidak keberatan membantu. Menurut dia, hal itu menjadi kekuatan dan ciri khas kampong Tambak Bayan hingga kini.

Freddy H. Istanto sependapat dengan Suseno tentang toleransi di Tambak Bayan. Dia menjelaskan, sejatinya Imlek bukan sebuah perayaan suatu agama. Melainkan perayaan kebudayaan Kampung, lanjut Freddy, bisa menjadi tempat ideal untuk tumbuhnya toleransi. “Karena relasinya dekat sehingga terbentuk bounding atau ikatan yang begitu kuat,” papar akademisi Universitas Ciputra itu kemarin.

Dia berharap iklim tersebut tetap terjaga di tengah-tengah megahnya zaman. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, kampung merupakan tempat yang nyata dan harus terjaga. “Buktinya ya itu, Tambak Bayan dengan sederhananya bisa tetap menjaga toleransi paparnya. (zam/c15/any)

Aktif Berikan Leadership Training yang Nonprofit. Jawa Pos. 21 Januari 2020. Hal.28. Tony Antonio_Director of Universitas Development Center

SURABAYA, Jawa Pos – Di usia yang sudah mencapai 64 tahun, Director of University Development Center Tony Antonio masih aktif memberikan training dengan sistem nonprofit. Bahkan, dia tidak hanya melakukannya di Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga sampai ke luar pulau seperti Kupang dan Medan. Alasannya sederhana. Pria yang juga seorang ketua senat di Universitas Ciputra itu mengaku ingin membantu para anak muda yang masih bingung dengan masa depan mereka.

Kegiatan memberikan training ternyata digeluti sejak dia lulus S-1 dari Universitas Pancasila Jakarta. “Passion saya sebenarnya memang masih sejalan dengan pekeraan saya ngajar ya. Bedanya dikit aja,” ujarnya lantas tertawa.

Dia menuturkan, di dalam kelas, dirinya mengajar materi yang sangat akademik. Itu berbeda dengan training. “Yang saya ajarkan lebih ke skill dan santai,” jelasnya saat ditemui di kantornya kemarin (20/1). Sejak kuliah Tony mengaku sangat aktif diberbagai kegiatan dan organisasi. Salah satunya organisasi waralaba tempatnya memberikan training nonprofit tersebut. “Awalnya memang memberikan training yang nggak jauh dari tempat tinggal. Tapi beberapa tahun terakhir sudah mulai ke luar pulau, “ucapnya. Training yang diberikan umumnya soal leadership. “Tapi, turunannya banyak. Ada life skill, managing self, dan masih banyak lagi,” jelas pria yang mengambil S-2 di University of South Australia itu.

Sebulan, setidaknya pria kelahiran 9 Desember 1955 tersebut selalu mendapatkan undangan untuk memberikan training. Untuk yang luarpulau, ada undangan dua bulan sekali. “Tapi juga nggak pasti,” ucapnya. Mayoritas yang dimentori adalah para mahasiswa dan alumni universitas.

“Sebenernya tidak ada batasan umur buat siapa pun yang mau ikut training saya. Tapi ternyata banyak anak muda ini yang lebih membutuhkan. Baik yang masih mahasiswa maupun sudah lulus,” katanya. Dari situ, rektor pertama Universiyas Ciputra tersebut ingin membantu anak-anak muda itu untuk menemukan apa yang ingin mereka bangun di masa depan.

Pria yang kini tengah menempuh pendidikan S-3 di Jurusan Leadership UPH Jakarta tersebut juga masih ingin bisa berbagi ilmu apa pun. “Pokoknya selama saya belum pikun,” tuturnya, lantas tertawa. (ama/c20/tia)

Dalam Empat Menit Ikan Lemon Melahap 24 Jentik. Jawa Pos. 18 Januari 2020. Hal. 19. FK

SURABAYA, Jawa Pos – Musim hujan tiba, perkembangbiakan nyamuk kian meningkat. Umumnya, nyamuk-nyamuk senang meletakkan telurnya yang kemudian menjadi jentik di genangan air. Jentik-jentik tersebut lalu berkembang biak menjadi nyamuk yang bisa membawa beberapa jenis penyakit. Misalnya, DBD atau malaria.

Masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi dengan bermacam-macam cara. Salah satunya pengontrolan jentik secara biologi melalui pemeliharaan ikan pemangsan jentik. Jenis ikan yang dikenal sebagai pembasmi jentik, antara lain, ikan cupang.

Nah dari penelitian tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra, yaitu Natania Disa Ariesta Andriani, Jonathan Loody, dan Bimo Rafi Prayogo, ada beberapa jenis ikan lain yang juga efektif untuk mengendalikan pertumbuhan jentik nyamuk. Yaitu, ikan lemon, ikan kapiat, ikan kepala timah, dan ikan setan hitam.

Natalia menjelaskan penelitiannya tentang ikan lemon dan kapiat, “Dua jenis ikan tersebut melahap 24 jentik hanya dalam hitungan empat menit,” paparnya. Dua jenis ikan itu cukup mudah didapatkan di pusat penjualan ikan hias dengan harga terjangkau. Hasil penelitian Jonathan dan Bimo pada ikan kepala timah dan ikan setan hitam pun demikian. “Beberapa menit saja puluhan jentik ludes dimangsa,” kata Jonathan saat di temui di ruang laboratorium para sitology FK UC kemarin (17/1).

Mahasiswa semester VIII itu menuturkan, pengontrolan jentik nyamuk secara biologi tersebut bisa diaplikasikan di mana saja. Caranya pun terbilang mudah. Ikan dipelihara di kolam atau akuarium. Secara berkala, ikan tersebut dipindahkan ke air yang ditengarai jadi tempat pertumbuhan larva nyamuk. Misalnya, bak mandi.

Dosen pembimbing bidang parasitology FK UC hebert Adrianto menerangkan bahwa pemeliharaan empat jenis ikan hasil penelitian mahasiswanya itu bukan satu-satunya cara. Ada beragam cara lain yang bisa dilakukan sebagai pencegahan. Di antaranya, pembersihan lingkungan. Juga pembasmian nyamuk dewasa dengan pengasapan menggunakan bahan kimia (fogging).

Namun mengandalkan pembasmian dengan bahan kimia saja tidak efektif bisa membuat nyamuk resistan (kebal). “Perlu langkah pencegahan yang komprehensif. Salah satunya lewat pemeliharaan ikan-ikan predator jentik,” urainya. (his/c6/nor)

Galakkan Ternak Cupang Tekan Jentik Nyamuk. Jawa Pos.13 Januari 2020. Hal. 23

SURABAYA, Jawa Pos – Berbagai cara dilakukan untuk menangkal demam berdarah dengue (DBD). Mulai pemeriksaan jentik hingga fogging. Namun, langkah berbeda diambil Kelurahan Putat jaya, Kecamatan Sawahan. Warga diajak untuk budi daya ikan cupang. Tujuannya menekan keberadaan jentik di kamar mandi.

Pihak kelurahan menggandeng Universitas Ciputra (UC) dan menghadirkan peternak ikan cupang. Warga mendapat materi cara beternak ikan cupang secara benar. Diharapkan, pada masa mendatang, warga bisa mendatangkan dua manfaat. Yaitu mengurangi jentik dan menambah pemasukan dair penjualan cupang.

Kepala Puskesmas Putat Jaya dr Ayu Ekanita menuturkan, tahun lalu Putat Jaya masuk peringkat ketiga wilayah yang paling banyak terjangkit DBD. Salah satunya dipicu faktor kepadatan penduduk. Di samping itu, kesadaran sanitasi masih kurang.

Lurah Putat Jaya Bryan Ibnu Maskuwaih pun menyadari bahaya DBD. Untuk meningkatkan antusiasme warga, pencegahan harus diimbangi pengembangan kesejahteraan. Salah satunya beternak ikan cupang. Warga diberi modal satu pasang ikan cupang untuk diternak. “Dari ini, diharapkan ikan tersebut bisa dibudidayakan warga,” tuturnya kemarin (12/1)

Lea Sutriyani, koordinator jumantik Putat Jaya, menyebutkan bahwa ada 60 pasang induk ikan cupang yang dibagikan. Semuanya berkualitas super. Diharapkan, ikan itu mudah bertelur sehingga benihnya bisa dibagikan kepada warga lainnya.

Beternak ikan cupang memang cukup susah. Salah sedikit, bisa jadi ikan malah bertarung. Namun, semuanya dapat diatasi dengan beberapa cara. Misalnya memisahkan jantan dan betina. Caranya mudah, yakni dilihat dari warna dan ekornya. Cupang betina lebih kecil, ekornya pendek, dan warnanya pudar. “Kalau jantan sebaliknya, bentuknya bagus dan ekornya panjang,” papar praktisi ikan cupang Dani Rangga Farian (omy/c14/ady)

Ajak Teman Aware Menghadapi Masa Pensiun. Jawa Pos. 11 Januari 2020. Hal.28. Suryani_Networking and Partnership

SURABAYA, Jawa Pos – Memasuki usia 50 tahun membuat Suryani Halim seperti mendapat alarm. Sebab, memasuki usia kepala lima berarti semakin dekat dengan pensiun. Pensiun yang dimaksud adalah pensiun dari pekerjaan kantor. Dari situ Suryani mulai hobi mengajak orang-orang terdekat untuk lebih aware terhadap apa yang akan dilakukan setelah pensiun.

“Saya menyebutnya pensiun dengan sehat,” ujarnya saat ditemui di kantornya kemarin (10/1). Ketua Networking and Partnership Universitas Ciputra tersebut bercerita bahwa kesibukan untuk mengingatkan orang terdekat soal kehidupan setelah pensiun itu dimulai sejak dua tahun terakhir. Tepatnya saat usianya memasuki 50 tahun.

“Pas sudah 50 tahun itu, saya jadi mikir sebentar lagi saya pensiun. Terus mau apa setelah pensiun? Saya juga akhirnya mengamati teman-teman yang akan pensiun,” cerita perempuan 52 tahun itu. Yang dia temukan adalah sinar mata yang hilang. Kosong. Setelah ditanya, ternyata mereka belum siap dengan kehidupan pensiun. “Saya sedih lihat itu. Apalagi waktu itu teman saya sendiri,” sambungnya.

Untuk itu, ibu satu anak tersebut ingin mengajak teman-temannya yang akan pensiun untuk lebih peduli pada kehidupan selanjutnya. Sebab, menurut dia, hal itu perlu persiapan. Sama halnya dengan persiapan pernikahan. “Kita pasti sibuk mempersiapkan gedung, undangan, baju, dan lain-lain. Pokoknya supersibuk untuk persiapan itu. Saya kira hal itu juga dapat dipersiapkan menyambut hari pension,” imbuhnya.

Dari bertanya sana-sini, ada kesimpulan yang dia temukan. Orang yang memiliki jabatan tinggi biasanya kurang siap menerima kenyataan bahwa dirinya sudah pensiun.”Ada satu teman saya itu yang biasanya punya panggung atau ngasih materi depan orang banyak akhirnya tiba saatnya dia harus duduk di bangku penonton. Di situ dia mengaku itu adalah hal paling sulit baginya saat pensiun. Bayangin aja yang bisanya dia ngomong di depan, tapi harus dengerin orang yang sebenarnya masih di bawah dia,” terangnya.

Selain mempersiapkan mental untuk menghadapi masa pension, Suryani mengaku seing berbagi soal investasi. (ama/c6/tia)

“Pokoknya dalam menghadapi pensiun itu, yang penting perubahan mindset. Bagaimana yang awalnya kita sibuk dengan pekerjaan, terus tidak sibuk lagi dengan kerjaan itu.”

Doyan Sayur Mentah, Cuci dengan Air Mengalir. Jawa Pos. 10 Januari 2020. Hal. 19. Hebert Adrianto. MED

SURABAYA, Jawa Pos – Di tengah maraknya gaya hidup sehat, mengonsumsi sayur mentah menjadi pilihan bagi sebagian orang. Alasannya beragam. Misalnya, dianggap lebih segar serta khawatir kandungan gizinya berkurang jika melalui pemasakan. Namun, ada bahay yang mengintai dalam kebiasaan tersebut. Jika tak dipilah dengan baik, sayur malah menjadi pengantar telur cacing untuk masuk ke tubuh.

Berbagai jenis sayur sebenarnya bebas dikonsumsi dalam bentuk salad atau sebagai pendamping makanan. “Kami tidak mungkin menghindari sayur,” ucap Hebert Adrianto, peneliti parasitologi dari Universitas Ciputra (UC). Sayur yang tidak terjaga kebersihannya membuat telur cacing bebas menempel hingga termakan. Telur-telur tersebut sebenarnya bisa menempel di sayur pada banyak kondisi. Mulai saat masa penanaman, distribusi, hingga saat dijual.

Ketika meneliti kebersihan sayur, Hebert berkunjung ke beberapa pasar di Surabaya. Dosen Fakultas Kedokteran UC tersebut menentukan penempatan banyak sayur yang kurang higienis. “Ada yang langsung saja ditaruh di lantai, dekat sekali dengan langkah kaki orang-orang,” ucapnya, lantas geleng-geleng kepala.

Menurut dia, menjaga kebersihan sayur harus melibatkan banyak pihak, mulai petani, distributor, pedagang, hingga konsumen. “Meskipun, sebenarnya di sini hanya ketemu telur cacing askaris. Tidak seberagam di negara lain,” jelasnya. Hebert mengingatkan konsumen individu untuk mencuci sayur dengan menyeluruh. “Jangan asal celup, basah, terus dirasa sudah bersih,” jabarnya. Menurut dia, sayur tak perlu dicuci dengan sabun khusus. Yang penting, sayur dicuci dengan air mengalir.

Lalu, bagaimana jika telur cacing terlanjur masuk ke tubuh? Hebert menjelaskan, pada jumlah yang sedikit, telur cacing dari sayuran yang masuk dalam tubuh tidak memberikan gejala apa pun. Namun, telur cacing bisa tumbuh menjadi cacing di usus. Jika jumlahnya banyak, cacing tersebut bisa menyumbat usus.

Untuk menangani telur cacing dan cacing pada tubuh, Hebert mengingatkan pentingnya mengonsumsi obat cacing. “Tapi, karena obatnya keras, Cuma boleh dua kali setahun,” sambungnya. (dya/c12/mor)

 

 

Sumber: Jawa Pos, 10 Januari 2020.Hal.19

Australia Alumni Grant Scheme Project_Gelar Sustainable Fashion bersama UC. Surabaya Pagi. 9 Januari 2020. Hal.9,10. Janet Rine Teowarang.FDB

SURABAYAPAGI, Surabaya – Sebanyak 5 orang terpilih ikut dalam pelatihan program belajar membuat koleksi Sustainable Fashion di Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Kegiatan ini digelar Australia Alumni Grant Scheme Project dan UC, Tentunya 5 orang tersebut tidak serta-merta bisa langsung ikutan, namun ada seleksinya.

 

Batik Tidak Boleh Murah

GELAR SUSTAINABLE …

Lecturer Fashion Product Desain and Business di Universitas Ciputra, Janet Rine Teowarang menjelaskan, setiap alumni dapat kesempatan mendapatkan dana hibah untuk masyarakat, dan harus ada solusi dan impact ke masyarakat. Dari 200 proposal, 20 yang disetujui.

“Saya adalah satu dari 20 orang yang disetujui. Proposal yang saya bikin adalah untuk membantu pengrajin dikabupaten Pasuruan. Supaya orang lebih menghargai pengrajin,” katanya saat ditemui Surabaya Pagi di UC. Karena menurutnya selama ini orang kurang mengenal karya mereka dan mereka pun kurang mengetahui bagaimana cara memasarkan dengan baik.

Kebanyakan pengrajin yang ada di sana adalah ibu rumah tangga, dari pada dirumah hanya menunggu suami dan mengasuh anak saja, lebih baik bisa menghasilkan sesuatu dan bantu suami, atau single parrent pun bisa masuk kategori sosial. “Pasuruan banyak tenun tangan, itu yang membuat daya tarik untuk mengeksposnya, karena selama ini belum banyak yang tau,” ujar Janet.

“Sementara batiknya industri rumahan bukan seperti Jogya. Harusnya tidak murah, supaya karya mereka lebih dihargai, apalagi mereka banyak yang membuat batik tulis yang tidak semua orang bisa membuatnya,” tambahnya lagi.

Ditanya terkait pelatihan tersebut, “Yang kita ajarkan bukan bagaimana cara membatik tapi kita mengajarkan merubah mindset mereka. Bagaimana agar karya mereka lebih berkualitas sehingga bisa dibawa keluar Pasuruan dan mungkin pasar internasional, supaya mereka sadar dan bisa maju,” tutupnya. (indra)

 

 

Sumber: Surabaya Pagi, 9 Januari 2020.Hal.9.10S