Harapan Mahasiswi Ini untuk Karyanya yang Tembus New York Fashion Week. Detiknews. 27 Februari 2020

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4916645/harapan-mahasiswi-ini-untuk-karyanya-yang-tembus-new-york-fashion-week?tag_from=wpm_nhl_1

Surabaya – Kacamata dari tutup botol plastik karya Ajeng Nurillah Wibowo rencananya akan dipasarkan. Ia juga ingin masyarakat yang membutuhkan bisa memilikinya.

“Memang ada rencana dipasarkan, kalau untuk fashion sih, kira-kira Rp 200 ribuan lah. Tapi sebenarnya membuat kacamata ini juga punya misi sendiri. Yakni untuk bantu mereka yang tidak mampu membeli kacamata,” kata Ajeng kepada detikcom di Surabaya, Minggu (23/2/2020).

Mahasiswa Fashion Design Bussines Universitas Ciputra Surabaya ini ingin, masyarakat tidak mampu juga bisa memakai kacamata buatannya. Khususnya mereka yang butuh kacamata baca dan minus.

“Harganya gak mahal, aku cuma minta mereka bawa sampah tutup botol plastik. Pokoknya sampah botol golongan dua yang bisa aku pakai buat jadi bahannya. Jadi mereka kasih sampah aku kasih kacamata,” jelasnya.

Terkait biaya pembuatan, Ajeng mengatakan tidak lebih dari Rp 100 ribu. Ia hanya membeli alat untuk membuat kacamata serta kaca lensa.

“Beli mur buat nyambungin gagangya dengan kacamatanya. Kalau untuk gagangnya dari sampah kan murah, gak butuh uang banyak. Paling cuma beli alat press-nya dan gergaji mesin. Harganya total Rp 2,8 juta. Tapi itu bisa untuk berkali-kali dan awet,” terangnya.

Untuk urusan kenyamanan, Ajeng menjamin kacamata buatannya nyaman meski belum sempurna. Hal itu dibuktikan saat para model menggunakannya saat New York Fashion Week 2020.

“Kalau mereka nyaman pasti, karena didesain seperti itu, tapi gak menutup kemungkinan kalau masih ada kekurangan yang harus diperbaiki. Kalau buat aku sendiri sih nyaman, kan aku yang bikin. Tapi dari survei aku cobain ke temen-temen, it’s ok aja gak ada masalah,” ungkapnya.

“Memang sih kacamata yang utama itu kenyamanan. Tapi aku desain tidak asal, karena ada perhitungannya. Sejauh ini dari beberapa orang yang pakai tidak ada yang lecet sama sekali (kulitnya), kalau ada yang kurang pas ada, aku terus kembangkan,” pungkasnya.

Mahasiswi yang Bisa ke New York Fashion Week Ini Juga Pernah Putus Asa. Detiknews. 27 Februari 2020

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4916547/mahasiswi-yang-bisa-ke-new-york-fashion-week-ini-juga-pernah-putus-asa

Surabaya – Mahasiswi Fashion Design Bussines Universitas Ciputra Surabaya, Ajeng Nurillah Wibowo sempat merasa dirinya salah jurusan. Sampai akhirnya dia bisa menciptakan kacamata yang dari tutup botol bekas.

“Sempat mikir salah, karena awalnya masuk fashion aku kira menggambar, berkarya, kesenian sesuka kita gitu. Eh ternyata jurusan fashion itu harus ada polanya seperti membuat baju,” kata Ajeng kepada detikcom di Surabaya, Kamis (27/2/2020).

Ajeng mengaku, ia bukan tipikal orang yang ribet. Apalagi sebagai mahasiswi ia harus mengikuti perintah dosen sehingga imajinasinya tidak berkembang.

Selama tiga semester awal, Ajeng tidak bisa mengeluarkan ide-idenya. Sampai pada semester 4, ia mengambil mata kuliah aksesoris yang mulai membuat dirinya kembali bersemangat.

“Gatau kenapa aku suka matkul itu terus ada dua dosenku yang memang sangat membantu untuk membuat imajinasiku berkembang. Mereka gak membatasi aku untuk berkarya,” terangnya.

Pada akhir tahun 2019 kemarin, Ajeng mengetahui adanya pengumuman mahasiswa yang akan berangkat ke New York Fashion Week 2020. Ajeng termotivasi karena yang berangkat hanya mahasiswi yang mempunyai karya terbaik.

“Awalnya aku malah cuma pingin ikut, tapi gak bikin apa-apa. Eh ternyata gak boleh, karena yang berangkat harus yang dipilih, berkepentingan, bukan tim hore gitu,” ungkapnya.

Setelah 3 minggu proses seleksi, akhirnya dipilih 7 orang mahasiswa dan Ajeng menjadi salah satunya. Ia mengaku senang dan tidak menyangka bisa berpartisipasi di New York Fashion Week 2020.

“Perasaan saat itu seneng sih, speechless. Jadi kalau untuk sekarang sih gak mau pindah jurusan, karena uda semester akhir. Lagipula aku uda suka dengan jurusan fashion ini,” ujarnya.

Ajeng berpesan kepada para anak muda milenial untuk terus berkarya. Terlebih karya itu bisa bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Kalau jadi influencer berkarya tapi tidak berguna buat apa, apalagi zaman kekinian, ikut arus. Yang muda yang beda, berani berkarya untuk masyarakat, jangan ikut arus aja,” pungkasnya.

Sensitif terhadap Kebutuhan, Kolaboratif Temukan Solusi. Jawa Pos. 28 Februari 2020. Hal.19. Trianggoro Wiradinata

SURABAYA, Jawa Pos – Konsep merdeka belajar dan kampus merdeka yang diusung Mendikbud Nadiem Makarim sudah lama menjadi ciri khas pendidikan berbasis entrepreneurship di Universitas Ciputra (UC) dan Apple Developer Academy. Pembelajaran dengan metode project based learning dan challenge based learning tersebut menjadi materi sharing dalam forum Dekan Perguruan Tinggi Kristen dan Katolik se-Indonesia di lantai 7 gedung UC kemarin (27/2).
Direktur Apple Developer Academy Trianggoro Wiradinata mengatakan jika dulu pendidik atau dosen sebagai sumber ilmu pengetahuan, sekarang guru hanya salah satu sumber. Sebab, masih banyak sumber ilmu lainnya, bisa lewat website, media sosial, buku, dan berbagai aplikasi penyedia ilmu pengetahuan lainnya.
Dengan metode challenge based learning (CBL), guru bertindak sebagai pengarah, pemberi petunjuk atau pendamping dalam proses belajar. Para mahasiswa diberi keleluasan untuk mencari cara menyelesaikan masalah. “Mereka dilatih untuk sensitif menangkap apa, kenapa, serta bagaiman solusinya,” ujar Tri sapaan Trianggoro.
Kelanjutan CBL tersebut adalah mahasiswa diberi kebebasan untuk melakukan penelitian, riset, atau investigasi lebih dalam. Tri mencontohkan, ada temuan soal sulitnya mengontrol kandang peternakan dari jarak jauh atau sukarnya mendeteksi gejala awal kanker payudara-terutama bagi masyarakat yang aksesnya jauh dari dokter atau rumah sakit. Kemudian, ada juga yang menemukan kendala belajar bahasa Inggris.
Nah, dari data awal itu, mahasiswa kemudian menginvestigasikan lebih dalam. “Setelah itu, mereka merancang aplikasi,” ucap Tri. Muncullah aplikasi kitapink untuk deteksi dini kanker payudara, PlanB untuk mempercepat belajar bahasa Inggris, serta Pitech untuk memantau kondisi, suhu, kandang, dan ternak dari jarak jauh. “Semua metode belajar tersebut menjadi project yang harus diwujudkan mahasiswa dalam bentuk karya kreatif dan solutif bagi masyarakat,” tambahnya.
Dekan FE Universitas Kristen Tentena Poso Sulteng CnE. Fajar Sangkide mengatakan bahwa kampus harus mendidik anak-anak bangsa yang punya sensitivitas terhadap kebutuhan, kreatif, serta mampu berkolaborasi untuk menjawab tantangan ini. “Untuk memaksimalkan program pembelajaran di kampus kami, kami harap ada kerja sama dengan UC dan Apple Developer Academy,” harapnya. (his/c6/nor)

Masak Itu Menyenangkan. Surya 25 Februari 2020. Hal.9. Wike Laurenzia.CB

SERING melihat mamanya memasak makanan dan kue di dapur membuat Wike Laurenzia Warrauw (26) tertarik untuk mencoba ikut memasak.

“Aku penasaran proses bikinnya, mangkanya ikut-ikut bantu di dapur, sering nanya-nanya mama,” kata Wike. Mamanya memang sering ngajak masak dan buat kue, itu karena papa yang gemar memakan cemilan. “Papa suka nyemil jadi mama sering mengajak aku masak dan bikin kue,” ujar perempuan kelahiran 19 Februari 1994 ini.

Semula, Wike mengaku tidak pede untuk memasak sendiri. Tapi akhirnya terbiasa karena kebanggaan dalam diri saat mampu membuat makanan yang lezat.

Memasak itu, baginya hal yang menyenangkan. “Memasak itu merupakan suatu kata kerja yang menyenangkan dan penuh makna,” tuturnya.

Berbekal itu, Wike pun memilih kuliah Culinary Business di Universitas Ciputra Surabaya. Beberapa hal dipelajari dari kampus, tetapi saat di rumah ia belajar sendiri, coba-coba bikin kue baru.

Kini, ia sangat mensyukuri bahwa dari kesukaannya memasak, membuatnya menjadi dosen Culinary Business di Universitas Ciputra Surabaya.

Sebagai dosen, ia berusaha selalu update dan belajar. “Mahasiswaku kan anak-anak zaman now, jangan sampai aku kalau diajak ngobrol tidak paham ada tren apa diluar sana,” ujar Wike. (zia)

Alesya Firmawan Panghegar_Tak Sekedar Skill. Surya. 20 Februari 2020.Hal.9,12. CB

Tak Sekedar Skill

MENGUPAS bawang hampir dilakukan Alesya Firmawan Panghegar (21) setiap hari. Meski sebenarnya ia tidak diperbolehkan mamanya membantu di dapur.

“Mama itu nggak tega melihat saya bantu ngupasin bawang soalnya sampe nangis gitu, tetapi saya tau mama sebenarnya seneng karena support sekali anaknya suka memasak,” katanya.

Perempuan yang akrab disapa Echa itu menganggap, memasak tidak hanya sekadar skill dan teknik tetapi bercerita dengan hasil makanan yang dimasak. “Seperti apa filosofinya dan kenapa memilih untuk masak makanan itu,” ujar perempuan asal Surabaya ini.

Tak hanya gemar masak, ia juga punya jiwa bisnis sejak kecil. Saat duduk dibangku SD maupun SMP di Santa Maria Surabaya. Echa membual berbagai jenis minuman dan makanan di sekolah secara diam-diam.

“Saya berjualan es doger, sate babi, dan lain-lain tetapi diem-diem di kelas.

Tak Sekedar

gara-gara peraturan sekolah yang sebenernya siswa tidak boleh jualan,” kata perempuan berzodiak Aquarius ini.

Sampai akhirnya, ia benar-benar harus berhenti jualan karena ada yang lapor. “Hal itu yang membuat saya masuk ke ruangan BK,” imbuhnya.

Merasa enjoy

Terlahir di keluarga yang mempunyai bisnis kuliner bernama Poenya Nyonya Anina, mengharuskan diri untuk dapat meneruskan bisnis keluarganya. Itu karena dia satu-satunya harapan keluarga.

Echa merasa enjoy berkuliah di Culinary Business Universitas Ciputra Surabaya, karena studinya ini mampu membantunya dalam mengembangkan bisnis keluarga.

“Saya sekarang bisa mengelola operasional dan manajemen, kebetulan banyak terbantu dengan kuliah. Saya sering mendapat solusi dari situ,” imbuhnya.

Menurutnya, yang paling penting pada bisnis kuliner adalah membangun fondasi yang kuat dulu. “Kalau fondasi sudah kokoh, baru pakai sistem ‘copy paste’ hingga mempunyai cabang di luar Surabaya. Intinya menguasai area Surabaya dulu baru ke kota lain,” tandas Echa (zia)

Kembangkan Wisata Heritage dengan Menata PKL. Radar Surabaya. 24 Februari 2020. Hal.13. Chrisyandi. Library

KEMBANG JEPUN – Pemerintah Kota Surabaya ingin menjadikan Surabaya Utara sebagai kawasan wisata kota lama. Namun, upaya untuk mewujudkan hal tersebut rupanya tidak semudah seperti yang dibayangkan. Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro mengatakan masih sangat sulit menjadikan kawasan kota lama menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Surabaya. Masih banyak penataan yang harus dilakukan.
            “Saya sangat mendukung upaya Pemkot Surabaya untuk menjadikan kawasan kota lama menjadi destinasi wisata. Namun, yang harus diperhatikan adalah kawasan kota lama tersebut adalah kawasan yang aktif dan dimanfaatkan banyak orang, khususnya perdagangan. Hal ini berbeda dengan Semarang dan Jakarta yang memang kawasannya tidak aktif,” ujarnya.
            Menurut dia, mengembangkan wisata kota lama memang harus melibatkan banyak unsur. Mulai pemerintah hingga akademisi. “Kita lihat sendiri memang di kawasan Surabaya masih banyak gedung maupun bangunan kuno yang bisa dijadikan salah satu destinasi wisata. Hanya saja kawasan ini masih banyak pedagang kaki lima (PKL) yang berdagang di trotoar,” katanya.
            Ia menilai upaya Pemkot Surabaya untuk mewujudkan kawasan tersebut menjadi wisata kota lama sangat bagus. Contohnya dengan merevitalisasi trotoar dan diberi hiasan lampu hingga mengecat warna-warni bangunan tua di jalan panggung. “Tapi kita lihat masih banyak yang lalu lalang. Ini yang saya sebut harus melibatkan banyak unsur. Masyarakat atau PKL juga harus mau direlokasi pada satu titik jika memang ditetapkan sebagai kawasan kota lama,” jelasnya.
            Selain itu, Purnawan melihat di kawasan Jalan Karet menjadi lokasi naik turunnya barang. Sehingga tak hanya membuat terlihat kurang bagus tapi juga macet. Purnawan mengatakan, seharusnya pemkot melakukan komunikasi dengan pemilik usaha di kawasan tersebut. “Misalnya, pindah atau diberlakukan jam untuk loading barang. Selain itu, memberikan petugas agar para wisatawan yang melintasi jalan tersebut memiliki rasa aman. Artinya ramah dengan pejalan kaki,” katanya.
            Pustakawan Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, jika memang digunakan sebagai wisata bagi pejalan kaki, bisa diberi petugas khususnya di sekitar Jalan Karet. “Sehingga pengunjung yang ingin foto-foto ini memiliki rasa aman,” tuturnya.
            Chris menilai upaya pemkot untuk merevitalisasi kota lama Surabaya ini sudah sangat bagus. Hanya saja, menurutnya masih banyak penataan yang harus ditingkatkan seperti kawasan yang masih terlihat kumuh dan tidak bersih. “Ini bisa dengan memfasilitasi area untuk direlokasi,” katanya.
            Ia menyebut tidak ada yang salah dengan revitalisasi di kawasan Jalan Panggung yang berdekatan dengan Pasar Pabean. Menurut dia, hanya perlu sedikit penataan agar terlihat tidak kumuh. “Jadi, malah lebih bagus jika pasarnya juga di tonjolkan. Di situ kan lengkap ada pasar basah ada pasar kering. Sehingga pengunjung bisa juga berbelanja,” jelasnya. (mus/rud)

Kota Lama Surabaya, Siapa Peduli. Radar Surabaya. 24 Februari 2020.Hal.5. Freddy H.Istanto. INA

Ketika Pemerintah Belanda meluaskan Oud Soerabaia (Kota Tua) menuju arah selatan, perkembangan kota ini seolah tidak dapat dihentikan. Saat itu Nieuwe-Soerabaia (Surabaya Baru) penuh dengan sarana dan prasarana kota yang mencerminkan kekinian Surabaya yang siap menyongsong masa depan.
            Master Plan kota selanjutnya membawa Surabaya modern berkembang pesat ke arah selatan, timur, dan Barat. Positif-nya kawasan utara relatif tidak tersentuh signifikan dengan konsep-konsep kebaruan seperti kawasan Surabaya lainnya. Artefak-artefak kota lama relatif aman dari pembangunan-pembangunan baru. Ironinya, gempita kawasan-kawasan kota lainnya itu membuat kawasan lama Kota Surabaya merana. Sebagian artefak kota lama telantar rusak, bahkan lenyap. Ada kelalaian, ada pembiaran disitu. Bahkan ada perusakan dengan sengaja. Down-town Surabaya meredup.
            Bagaimana kawasan kota lama Berjaya? Shanghai, Semarang, dan Penang bisa jadi contoh. Shanghai sebagai kota ultramodern, perkasa menghadirkan Old-Shanghai yang sama-sama terkenalnya di mata dunia. Ratusan ribu wisatawan manca menikmati betapa indah dan uniknya Old-Shanghai ini. Tidak hanya yang sangat khas budaya China, tetapi Shanghai yang pernah dijajah kolonialisme Barat menghadirkan artefak-artefak bangunan lama dengan segala keunikan arsitekturnya.
            Kawasan lama kota Semarang beberapa tahun lalu sepi, utamanya di malam hari. Kini blink-blink dengan aneka aktivitas kekinian. Artefak-artefak kota lamanya yang anggun dinapasi dengan aktivitas kekinian. Kawasan lama George Town di Penang Malaysia, karena dilestarikan dengan konsisten, bahkan mendapat apresiasi dari UNESCP sebagai World Heritage Site.
            Kawasan lama Surabaya memiliki kekayaan yang tidak kalah kualitasnya dengan mereka-mereka itu. Tentang sejarah kebangsaan, heroism Arek Suroboyo tercatat dalam pertempuran melawan Belanda, bahkan Sekutu. Rekaman-rekaman bahwa pernah ada kerajaan juga masih bisa dihadirkan di sana. Tiga kluster yang dibentuk Belanda (Perkampung Jawa dan Arab, Eropa kecil dan juga Kampung Pecinan) masih jelas jejak-jejaknya. Mereka hadir dengan budaya khasnya seperti arsitektur, kuliner, gaya hidup, kepercayaannya ritual-ritual keagamaan. Model berbisnis dan masih banyak lagi keunikan yang ada.
            Sayang, keunikan dan kekayaan itu tidak terpelihara dengan baik. Jembatan Petekan yang punya dimensi agung dengan teknologi tinggi saat itu, kini hancur. Penjara Kalisosok pelan-pelan runtuh, disengaja? Kawasan Pecinan yang mati suri. Pasar Pabean yang perlahan mulai berubah karakternya. Kawasan Nieuwe-Soerabaia yang pernah melahirkan beberapa perusahaan kelas dunia, juga sudah kehilangan pamornya. Dan masih banyak lagi keterpurukan kawasan lama kalau mau dihadirkan disini.
            Di sisi lain, beberapa pembangunan dan peningkatan kualitas kawasan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota maupun beberapa perusahaan swasta. Museum Bank Indonesia, Bank Mandiri, Museum House of Sampoerna, Stasiun Semut, dan Jalan Panggung sebagai contoh. Keanggunan-keanggunan potensi objek-objek wisata religi di Ampel semakin baik.
            Namun, harus diakui kepedulian pada peningkatan kualitas Kota Lama Surabaya tidak se-antusias pembangunan taman-taman kota di Surabaya. Bahkan terlihat perhatian Pemerintah Kota pada artefak kota ini setengah hari. Keberpihakan Pemerintah Kota pada pengembangan kawasan lama sangat penting. Tidak hanya pada konteks fisikal saja, tetapi perlu diperkuat dengan regulasi-regulasi seperti peruntukan kawasan yang memback up pengembangan itu. Apabila dibutuhkan bisa di bentuk sebuah badan otorita untuk tujuan ini.
            Pebisnis bisa bersinergi untuk membangun kawasan ini. Salah satu caranya dengan memberi bangkitan-bangkitan ekonomi yang berkonteks budaya. Komunitas-komunitas berbasis budaya secara aktif menggunakan ruang ini untuk meng-apresiasi kawasan lama. (*)

Saatnya Merevitalisasi Pecinan Surabaya. Radar Surabaya. 24 Februari 2020.Hal.8. Freddy H.Istanto. INA

HAMPIR semua kota besar di tanah air memiliki kawasan pecinan atau China Town. Termasuk Surabaya. Kota Surabaya dirancang pemerintah kolonual Belanda menjadi tiga kawasan. Ada kawasan pecinan untuk orang-orang Tionghoa. Kampung Melayu, dan Kampung Arab. Pembagian tersebut dibatasi oleh Sungai Kalimas yang menjadi urat nadi transportasi perekonomian pada masa kolonial.

Kawasan untuk orang-orang Belanda berada di barat. Di sebelah timur Kalimas, ada dua kawasan. Kawasan itu dipisahkan oleh Handelstraat atau Jalan Kembang Jepun. Utara ditetapkan menjadi kawasan untuk orang-orang Melayu dan Arab. Kawasan selatan Kembang Jepun dihuni orang-orang Tionghoa. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Pecinan Surabaya.

Kebudayaan Tionghoa sangat kental pada masa lalu. Tidah hanya bentuk arsitekturnya, tetapi juga keseharian masyarakat. Termasuk upacara-upacara perkawinan, kematian, dan keagamaan.

Freddy Handoko Istanto, Dosen Arsitektur-Interior Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra Surabaya, mengatakan, dinamika social, ekonomi, politik, dan budaya membuat kawasan Pecinan Surabaya mengalami pasang surut. Terutama saat Pemerintahan Orde Baru yang diskriminatif. “Wajah pecinan mulai berubah. Signage-signage berkarakter Mandarin hilang. Acara-acara kebudayaan seperti sembahyangan menyelinap di balik tirai-tirai kelam.” Kata Freddy pekan lalu.

Selama 32 tahun Orde Baru kebudayaan Tionghoa perlahan-lahan meluntur. Dua tiga generasi Tionghoa menjauh dari budaya leluhurnya. Mereka cenderung memilih kebudayaan barat yang lebih aman dan sesuai zaman.

Di sisi lain, menurut Freddy, rezim Orde Baru yang memojokkan etnis Tionghoa dan menyebut mereka hanya fokus berbisnis membuat warga Tionghoa justru meningkatkan kualitas ekonominya. “Mereka hanya membuka usaha di kawasan Surabaya Utara. Tapi mereka memilih tinggal di Surabaya Barat, Surabaya Timur, atau Surabaya Selatan,” kata akademisi yang juga etnis Tionghoa itu.

Akibatnya, kawasan Pecinan Surabaya hanya berdenyut kencang di siang hari, tapi malamnya mati. Demikian juga nadi bisnis berdetak kencang, sedangkan alunan budaya menghilang. “Pecinan Surabaya dalam konteks budaya Tionghoa telah mati suri. Surabaya tidak punya lagi pecinan seperti yang dimiliki pecinan-pecinan lainnya di dunia,” katanya.

Padahal, di kawasan pecinan ini ada tiga rumah abu yang terkenal. Yaitu, Rumah Abu Keluarga Tjoa, Rumah Abu Keluarga The, dan Rumah Abu Keluarga Han. Juga terdapat kelenteng tua di Jalan Cokelat dan Jalan Dukuh.

Meski begitu, Freddy optimis revitalisasi kawasan Pecinan Surabaya masih bisa diupayakan. Semua stakeholder harus bersinergi. Menurut dia, pemerintah kota harus berani secara tegas menetapkan kawasan Pecinan Surabaya dengan regulasi-regulasi seperti ketegasan peruntukan tata kotanya.

“Pebisnis-pebisnis bersinergi dengan bantuan finansial untuk membangun kawasan itu. Salah satu caranya memberi bangkitan ekonomi, tidak sekedar pergudangan,” katanya.

Bukan itu saja, komunitas-komunitas berbasis budaya bisa berkolaborasi menggunakan kawasan itu untuk melakukan aktivitas riil berkebudayaan. Anak-anak muda diberi peran dengan potensi kuatnya di industry kreatif. Pemilik bangunan khas Tionghoa pun diminta mengambil peran dengan membuak diri seperti menjadikan rumah-rumah abu sebagai destinasi wisata. (rek)

Upaya UKM E-Sport Universitas Ciputra Mengembangkan Diri_Awalnya Khawatir Mengganggu Kuliah Kini Panen Dukungan. Jawa Pos. 22 Februari 2020. Hal.17,27

Pandangan negatif pada e-sport masih umum di masyarakat. UKM E-Sport Universitas Ciputra membuktikan diri sebagai komunitas professional dan ekstrakurikuler kampus yang produktif. Mereka mampu berprestasi serta tidak mengganggu urusan akademik.

BAGIAN dalam ruang unit kegiatan mahasiswa (UKM) tersebut dipenuhi perangkat dan peralatan untuk bermain game elektronik di komputer. Ruang berukuran 6 x 4 meter itu berisi lima unit komputer lengkap dengan perangkat tambahan lainnya yang dipasang berjejer menghadap ke barat. Masing-masing satu kursi khusus gamer yang menghadap monitor.

Di tengah ruangan pun terdapat dua meja ukuran sedang yang masing-masing memiliki delapan kursi. Pas untuk berdiskusi dan melakukan evaluasi.

Ruang tersebut khusus disediakan untuk para anggota UKM E-Sport UC. Daniel Agung mengatakan bahwa ruangan itu hanya digunakan untuk latihan dan tidak boleh untuk aktivitas lainnya. Itu sudah menjadi prinsip dan salah satu komitmen UKM mereka. “Ya, kalau kampus sudah memfasilitasi ruangan untuk pengembangan e-sport, ya harus benar-benar bertanggung jawab dan dipergunakan untuk itu saja,” ujar Daniel yang menjabat wakil ketua UKM E-Sport UC.

Awalnya Khawatir Mengganggu Kuliah, Kini Panen Dukungan

Dia menambahkan, anggota UKM berkumpul dan berlatih bersama di ruangan itu sekali dalam seminggu, intensitas latihan ditambah jika mendekati kompetisi atau turnamen yang akan diikuti. “Harinya disesuaikan dengan jadwal kuliah masing-masing,” sambungnya.

Yang paling penting, mereka juga saling support, baik dalam urusan UKM maupun tugas mata kuliah. Komitmen itu juga tampak pada Daniel. Jawa Pos janji bertemu dengannya pukul 12.00. Mahasiswa jurusan international business management itu sudah menunggu di lokasi. Bahkan ketika larut dalam obrolan, pada pukul 12.50, Daniel meminta diri untuk segera naik ke kelas. Sebab, pukul 13.00, dia harus mengikuti mata kuliah entrepreneurship.

Dia tidak menampik masih adanya pandangan negatif terhadap e-sport yang menjadi ketertarikan dirinya beserta rekan-rekannya. Padahal perkembangan e-sport belakang amat pesat. Kompetisi dilaksanakan di mana-mana serta komunitas professional e-sport mulai bermunculan. Stigma yang sering mereka terima ialah dicap anak muda yang malas. Main game itu buang waktu, enggak ada hasil, dan masih banyak stereotype lainnya yang dialamatkan kepada mereka.

“E-sport tidak sama dengan bermain game seperti di warung-warung atau tempat nongkrong pada umumnya. Namun, merupakan olahraga elektronik yang kompetitif dan professional,” ujar Daniel.

Menurut Daniel, hal itu wajar bagi yang tidak memahami perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Selain itu, mereka tidak mampu membedakan antara e-sport dengan bermain game. Pandangan dan keraguan tersebut tidak hanya datang dari luar. Namun, juga sempat diragukan internal kampus.

Daniel masih ingat, ketika pertama merintis UKM E-Sport UC sebelum didirikan pada Maret 2019, dirinya bersama dua rekannya, yakni Angeline Vivian dan Christian R. Tanco, berjuang keras meyakinkan pihak biro mahasiswa dan alumni (BMA). Bahwa e-sport bukan boomerang bagi studi maupun nilai akademik. Justru UKM e-sport tersebut bisa menjadi wadah untuk mengakomodasi passion mahasiswa dalam bidang e-sport dan mendukung akademik.

Meski diragukan, mereka tetap berjuang dan membuktikan kepada jajaran BMA bahwa e-sport tidak akan menurunkan nilai atau IPK. Mereka betiga membuktikan itu. Dari hasil evaluasi tim BMA UC, nilai IPK peserta e-sport tidak mengalami penurunan. Bahkan, ada yang meningkat. Setelah itu tepat pada Maret 2019, BMA memperbolehkan pendirian UKM e-sport dan satu-satunya UKM yang memiliki ruang khusus dan disediakan kampus.

Dari tiga orang perintis, kemudian anggotanya berkembang menjadi lima orang. Lima anggota itu pun terus membuktikan diri. Termasuk nilai akademis tetap menjadi yang utama. IPK Daniel juga terus meningkat dan tidak pernah turun dari 3,15. Dari situ anggota terus berkembang dan hingga sekarang anggotanya mencapai 30 orang.

Selain lewat prestasi akademik, mereka membuktikan dalam kompetisi e-sport tingkat nasional tahun lalu. Yakni tim e-sport UC meraih peringkat ketiga nasional dalam kompetisi pertama pada September 2019.

Tidak sembarang mahasiswa bisa masuk anggota UKM E-Sport UC. Syaratnya tidak hanya berbekal kemampuan e-sport. Namun, juga harus memiliki IPK rata-rata di atas 3. Namun, jika memiliki kemampuan e-sport yang cukup mahir meski ber-IPK di bawah 3, masuk pertimbangan khusus. “Pokoknya, semua anggota harus janji, kalau sudah masuk e-sport, IPK harus lebih baik dan tidak boleh turun,” ujar Daniel. “Bagaimanapun akademik harus tetap menjadi prioritas,” sambungnya.

Selain itu, syarat lainnya, menjadi anggota UKM bukan untuk bermain game. Namun, untuk peningkatan kompetensi dan profesionalitas e-sport. Karena itu, mereka hanya menggunakan ruangan UKM ketika waktu latihan dan mengatur strategi permainan. Tujuannya, tidak mengganggu kuliah. Durasi latihan pun tidak berlangsung lama. Diatur hanya dua jam untuk sekali latihan. “Setelah latihan dua jam itu, ya sudah selesai. Kita berkomitmen begitu,” ujar Daniel.

Wakil Rektor II Bidang Operasional UC Victor Effendi mengatakan bahwa gaming taraf professional seperti e-sport memang harus di wadahi dengan serius. Potensi anak-anak muda di zamannya tidak bisa dipandang negatif. Justru potensi mereka itulah yang harus diarahkan dan dibimbing dengan baik lewat keberadaan UKM. “Kita arahkan agar penyaluran passion itu diatur dengan pola disiplin sehingga tidak berlebihan,” ujarnya. “Apa pun yang berlebihan memang ujungnya akan tidak baik.” Sambungnya.

Dia percaya bahwa e-sport merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang juga menunjang akademik. Itu terbukti dari hasil evaluasi anggota UKM e-sport di kampusnya. Banyak manfaat tidak langsung yang didapatkan mahasiswa lewat berbagai kompetisi.

Dia memerinci, kecerdasan imajinasinya terasah serta kemampuan analitik dan strateginya tertantang. Kemudian, kemampuan kerja sama dan memahami satu sama lain terlatih terus-menerus. “Selain itu, kan mereka harus kreatif dalam permainan,” tuturnya. Ini terbukti dari kemampuan mahasiswanya dalam menyelenggarakan turnamen Mobile Legend Campus Championship (MLCC) se-Jawa Timur pada Januari lalu.

Tim UC pun cukup diperhitungkan dalam berbagai kompetisi yang diikuti. “Semua tim memang sama-sama memiliki kelebihan dan kekuatan masing-masing. Namun, tim yang sudah lebih dahulu menyabet prestasi skala nasional tentu jadi tantangan dan tidak bisa di anggap biasa-biasa saja,” ujar Yosua C. Septianus, salah satu anggota tim e-sport Universitas Dinamika Surabaya.

Menurut Daniel, MLCC di kampusnya itu menjadi acuan untuk terus mengembangkan skill dan strategi permainan mereka. Termasuk tidak tinggi hati dengan kebesaran nama pada kompetisi nasional sebelumnya. Sebab dalam dunia game professional, persaingan berlangsung sangat cepat.

Artinya, saat ini bisa saja jadi juara. Namun pada kompetisi yang sama di tempat yang lain, bisa jadi tidak berhasil masuk babak final. Lewat kompetisi tersebut, peserta benar-benar belajar bagaimana menjadikan kemenangan awal sebagai motivasi untuk terus maju dan mengembangkan kekuatan secara maksimal. “Percaya diri memang penting, tapi memang tidak bisa sombong juga karena kita tidak tahu bagaimana lawan atau rekan tim mengembangkan kemampuan mereka,” ujarnya (*/c6/ady)

Karya Mahasiswi Universitas Ciputra Meriahkan Couture Fashion Week New York 2020_Desain Segar Untuk Anak Muda. Jawa Pos. 16 Februari 2020. Hal.7. FDB

Di tangan para desainer muda Jurusan Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya, produk fashion tak hanya elok. Di balik produk mereka, ada proses yang inovatif serta mempertahankan kultur lokal.

            JUMAT malam (14/2) waktu setempat (kemarin pagi, WIB), tujuh mahasiswi angkatan 2016 memamerkan karya mereka di runway Couture Fashion Week New York 2020 di 4W43 Building, Manhattan, New York, AS. Sebenarnya ada 12 mahasiswi yang terpillih untuk memamerkan karyanya. Sayangnya, lima orang berhalangan hadir. Tetapi karya mereka tetap diperagakan bersama karya tujuh mahasiswi yang datang ke New York.

Desainer yang usianya berkirsar 21-23 tahun itu menampilkan koleksi ready-to-wear sebagai tugas akhir perkuliahan. Pada karya tersebut, menurut Martini Yunika Tanzil, dosen pendamping, ada tren gaya Fall/Winter 2020. Segar dan ringkas, menyesuaikan style anak muda.

Selain mengangkat isu ramah lingkungan, aspek budaya tak ditinggalkan. “Mereka menggandeng perajin lokal, kemudian membawa budaya Indonesia itu ke level internasional,” kata Yoanita Tahalele, dosen pendamping yang lain.

Sebelumnya, pada Rabu (12/2) waktu setempat, para desainer itu memamerkan karya mereka di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KIRI) New York. “Ini menunjukkan desainer muda Indonesia bisa memberikan sesuatu ke fashion global,” puji konjen RI Arifi Saiman (*/c7/nda)

MELINDA CAROLINE

Pada koleksi bertajuk Caviar, yang berarti perubahan dalam bahasa Cataian, terpadu apik dengan kain perca bahan duchess satin dan velvet. Mahasiswi asal Tarakan itu mengaplikasikan desain shio (zodiak Tiongkok) dari kain perca ke busananya dengan teknik patchwork.

TABITA CITRA TARASASCHIA

Tata, sapaannya, mengangkat kain unik warna sky blue dan krem dalam desain resort wear. “Aku mau ngenalin kain lurik ke internasional.” ujarnya.

IVONA MARIA TANLAIN

Mahasiswi asal Maluku itu mengangkat kain khas daerahnya, tenun asal Kepulauan Tanimbar. Ivona mengkreasikan motif garis pada kain tenun yang terlihat diagonal. Hasilnya resort wear yang menawan.

DIANITA RATNASARI

Busananya memadukan denim dengan dekorasi kain motif kawung dan burung phoenix. Koleksi dian menunjukkan streeetwear yang simple. “Jins dekat dengan anak muda. Batik kawung juga cukup popular. Nah, phoenix itu symbol semangat, cocok buat anak muda,” jelas perempuan asal Surabaya tersebut.

KARTIKA EDHYTYA CLAREISYA & AJENG NURILLAH WIBOWO

Kartika merilis menswear bertema Wokomono-Tachi. Menggunakan kain denim sisa, mahasiswi asal Bandung itu membuat outerwear dengan model oversized. Sebagai aplikasi, Kartika menambahkan sashiko atau sulaman khas Jepang. Ajeng merilis koleksi cat eye. Frame dan tangkainya dibuat dari tutup botol bekas yang dilelehkan dan dibentuk dengan proses molding.

ANGELYNN GIANINA ALEXANDRA

Koleksi Hangrungkebi memiliki Angie, sapaannya, terlihat colorful. Mahasiswi 21 tahun itu merilis koleksi resort wear dengan cutting beragam. Tone warnanya pastel “Aku pakai batik dengan bahan tanaman bakau. Warna yang dihasilkan memang lebih ke pastel,” terangnya.

FIRLIANA FEBRIANGGI

Kesan yang muncul saat melihat model mengenakan karya Firliana adalah edgy casual. Dia menggunakan kain denim sisa, lantas mengolahnya dengan teknik patchwork dan layering. Hasilnya, busana denim dengan aksen garis.

DEVINA GUNAWAN

Karya Devina akan menghemat pengeluaran si penghobi belanja. Koleksinya merupakan busana yang bisa dipakai dalam dua gaya. Bisa untuk event formal maupun acara santai.

MARIA CINDY VALERIA & RANI PUSPITA SETIAWAN

Merilis koleksi resort wear, Maria memilih busana ringan yang diproduksi dengan perwarna alami. Sementara itu, Rani mengolah banner bekas menjadi tes. Potongan banner disusun, lantas disatukan dengan teknik interlocking.