Rosyida Salsabila_Menulis itu Powerful. Surya. 9 Agustus 2020. Hal.3. Psikologi

SEBAGIAN orang beranggapan aktivitas menulis merupakan kegiatan yang membosankan. Namun berbeda dengan Rosyida Salsabila yang menyukai kegiatan menulis karena dapat menyembuhkan rasa khawatir yang ada pada dirinya.

“Aku biasa nulis apa yang menjadi kekhawatiranku. Ketika aku bahagia aku juga tulis itu, karena menulis bisa menjadi alternatif untuk mencurahkan apa yang sedang ada dipikiranku,” ungkap Rosyi demikian disapa, Sabtu (8/8)

MahasIswI Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya ini juga menyadari menulis memiliki kekuatan untuk memberi dampak terhadap orang lain.

“Lewat menulis ternyata aku bisa membantu orang. Aku bisa mewakili apa isi hati orang, yang mungkin mereka tidak bisa. merangkainya dengan kata-kata,” ujar perempuan asal Kediri ini.

Gadis 20 tahun ini menyadari hal tersebut saat ia magang di salah satu perusahaan aplikasi kesehatan mental yaitu Riliv.

“Disana tugasku membuat konten harian, Karni berbicara banyak tentang depresi, kecemasan, persahabatan tidak sehat, intimidasi, dan lain-lain. Ternyata mendapat komentar baik dari berbagai kalangan, ini yang membuat aku terharu karena ternyata menulis itu powerful sekali,” ucapnya.

Perempuan berzodiak Libra ini, mengaku akan sangat bahagia jika tulisannya dapat dicerna dan dipahami oleh orang lain, sehingga orang dapat terdorong untuk melakukan sesuatu hal yang baik. (zia)

 

Sumber: Surya. 9 Agustus 2020. Hal. 3

 

Tiga Tahun Museum Mini di Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya_Ada 12 Koleksi Panji dari Gubuk Wayang. Surya. 8 Agustus 2020. Hal.1,15

Perpustakaan memang identik dengan buku. Namun diera digitat kini perpustakaan dituntut untuk dapat berkembang menjadi sebuah tempat belajar, referensi, bahkan penelitian.

             HAL itu dibuktikan dengari komitmen yang diberikan Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif atau Center for Creative Heritage Studies (CCHS) yang telah mengubah wajah perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya menjadi museum sejak 3 tahun lalu.

Setiap tahun museum ini memiliki tema yang berbeda. Di tahun ketiga kali ini mengusung tema Tranformasi Budaya Panji dengan menampilkan 12 koleksi Panji yang berasal dari Museum Gubuk Wayang, Mojokerto, Jawa Timur.

Deretan kotak kaca berisi terakota beragam bentuk diletakkan di Lantai 2 Universitas Ciputra Surabaya, tepatnya di dalam perpustakaan sebelum masuk ke ruang buku.

Tiap kotak kaca mewakili kelompok khusus. Misalnya, salah satu kotak kaca menampilkan patung kepale perempuan dengan beragarr aksesori yang dikenakan. Hal tersebut mengandung makna arti keberagaman.

Pejabat sementara (Pjs) Kepala Biro Perpustakaan Yehuda Abiel mengatakan diera digital perpustakaan harus menjadi tempat yang komplit. “Kami berusaha agar perpustakaan tidak hanya sebagai tempat belajar sesuatu dari buku tapi juga dapat menjadi media penelitian, referensi, dan memberi inspirasi kepada mahasiswa agar dapat memberikan solusi dari masalah yangterjadi diluar,” kata Yehuda 
kepada Surya, Jumat (7/8).

“Kami juga memiliki banyak koleksi buku berkaitan dengan Majapahit, namun ketika dihadirkan benda seperti ini, pengunjung pasti lebih tertarik,” imbuhnya.

Kepala Center for Creative Heritage Stidies Michael N Kurniawan mengatakan panji digunakan Majapahit untuk menjadi cerita pemersatu. “Kisah-kisah Panji dihidupkan Majapahit untuk mempromosikan karakter baik seperti rasa setia dan teladan lainnya,” ungkapnya.

Mengingat, Indonesia beberapa tahun terakhir sedang aktif dalam menggali budaya panji untuk masa kini. ”Kami berusaha untuk membantu mahasiswa menciptakan budaya baru dengan mengangkat dari cerita budaya panji, karena itu kami menyediakan artefakartefak yang menceritakan tentang kehidupan di masa Majapahit,” ujar pria yang juga sebagai kurator museum mini ini.

“Sehingga mahasiswa tidak hanya menciptakan kreasi baru dengan basis sejarah, seperti komik atau cerita anak dengan sisipan sejarah,” katanya.

Terdapat pula dua kotak kaca yang tergolong sebagai kelompok benda terlihat seperti miniatur rumah, potongan genting, dan ukir-ukiran. “Ini tentu dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa jurusan desain interior,” pungkasnya. (mohairunad zainal arif)

 

            Sumber: Surya. 8 Agustus 2020. Hal, 15

Belajar Sejarah Sekaligus Inspirasi Berkreasi. Jawa Pos. 7 Agustus 2020. Hal.15. Yehuda Abiel, Michael N. Kurniawan. Library, CCHS

Hadirkan Museum Mini dalam Perpustakaan

            SURABAYA, Jawa Pos Perpustakaan seakan hanya lekat dengan deretan buku di rak. Padahal, fungsi perpustakaan bisa diwujudkan bukan hanya oleh buku. Bisa juga dalam bentuk museum mini. Misalnya, yang diwujudkan pada area masuk Perpustakaan Universitas Ciputra.

Deretan kotak kaca berisi terakota beragam bentuk diletakkan sebelum masukke ruang buku. Koleksi-koleksi tersebut diambil dari Museum GubukWayang di Mojokerto. Ada juga wayang beber tentang Ande-Ande Lumut. Tema besar dari artefak yang dipajang adalah budaya Panji.

Cerita-cerita Panji lahir sekitar 200 tahun sebelum Majapahit yang melahirkan artefak artefak tersebut “Tapi, Panji digunakan Majapahit untuk menjadi cerita pemersatu’,’ ucap Michael N. Kurniawan, kepala Centre for Creative Heritage Studies, selaku kurator museum mini tersebut. Kisah-kisah Panji dihidupkan Majapahit untuk mempromosikan karakter baik seperti rasa setia dan teladan lainnya.

Tiap kotak kaca mewakili kelompok lthusus. Misalnya, salah satu kotak kaca menampilkan patung kepala perempuan dengan beragam aksesoriyang dikenakan. Michael menuturkan, hal itu menunjukkan keberagaman.

Yehuda Abiel, pejabat sementara (Pjs) kepala biro perpustakaan menuturkan museum mini tersebut hadir bukan hanya untuk belajar sejarah. Melainkan juga sebagai inspirasi kreasi masa kini. “Kami punya banyak koleksi buku terkait Majap ahit. Tapi, ketika dihadirkan bendanya, pengunjung pasti lebih melirik,” imbuh Abi, sapaan Yehuda. Rasa tertarik itu bisa jadi awal untuk mcnghasilkan krcasi baru dengan basis sejarah. Misalnya, komik atau cerita anak dengan sisipan sejarah.

“Bukan hanya karya tulisan, misalnya. Bisa juga untukfashion atau desain interior,” ucap Michael saat ditemui kemarin (6/8). Dalam dua kotak kaca lain juga ada kelompok benda serupa miniatur rumah, potongan genting, dan ukir-ukiran. “Ini bisa jadi inspirasi bagi mereka yang jurusan desain interior, misaLnya,” paparnya. (dya/c19/nor)

 

Sumber: Jawa Pos. 7 Augustus 2020. Hal, 15

Bikin Desain Ramah Lingkungan Pakai Pati Jagung. Jawa Pos. 6 Agustus 2020.Hal.24. Stefani Evelyn. Alumni FDB

SURABAYA, Jawa Pos – Isu Sustainable Fashion semakin marak dari tahun ke tahun. Hal itu pun menjadi tema dalam ajang Asia New Gen Fashion Awards (ANFA) 2020. Tema itu tentu tidak mudah karena bahan-bahan yang dipakai memang harus ramah lingkungan. Hal tersebut diungkapkan desainer Surabaya Stefani Evelyn yang Idni tengah memasuld delapan besar di grandfinal regional Indonesia.

Stefani mengungkapkan bahwa setiap peserta mulanya harus menyiapkan 15 desain. Yang kemudian hanya dipilih satu untuk diwujudkan. Namun, tidak semua mendapatkan kesempatan untuk mewujudkannya. Di antara peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, kemudian ditarik 15 orang saja. Baru kemudian masuk di babak grand final yang tersisa 8 orang. “Nah, pemenangnya akan diambil dua orangyang kemudian ditandingkan lagi dengan negara di Asia Tenggara,” jelasnya saat clihubungi kemarin (5/8).

Perempuan alumnus Fashion Product Design &Business 2014 Universitas Ciputra itu mengungkapkan bahwa dirinya tidak percaya bisa masuk sampai babak grand final regional. “Soalnya, terakhir ikut lomba fashion itu 2015 di Surabaya Fashion Parade. Itu pun bikin aku cukup trauma karena persaingannya ketat banget. Ide-ide desainer yang ikut jugaluar biasa semua. Aduh pokoknya nggak pede sama desain sendiri,” kenangnya.

Namun, Stefani mencoba memberanikan diri lagi saat diajak temannya untuk ikut ajang ANFA kali “Dan rasanya masih nggak nyangka kalau juri itu memilih saya. Yang paling saya ingat, mereka bilang kalau bahan yang saya pakai untuk tema ramah lingkungan itu yang paling beda Tapi, masalah desainnya, saya masih mendapat banyak komentar dan masukan,” ceritanya.

Untuk desainnya, Stefani membocorkan sedikit bahan-bahan yang dipakainya untuk show virtual pada 8 Agustus mendatang, yang sekaligus akan menentukan apakah dirinya lolos menjadi perwakilan Indonesia di ajang internasional. Dia memakai pati jagung yang sudah diolah. Namun, dia belum bisa menjelaskan dengan detail olahan apa saja yang terkandung.

“Tapi, dengan bahan ini, karya saya bisa dibilang aman. Untuk 3-5 tahun ke depan, bisa hancur kalau misalnya dibuang,” terangnya. Setelah melakukan riset, cila mengclaim bahwa bahan yang dipakainya sudah sangat ramah lingkungan. Terlebih, jika terbuang ke laut pun, karyanya itu masih aman. “Ikan kalau mau makan pun nggak beracun karena ini bisa terurai. Ditanam di tanah juga bisa terurai Tapi, tentu perawatannya memang harus ekstra hati-hati,” jelasnya.

Selain itu, untuk detail lainnya, dia memilih menggunakan 3D printing. Perempuan asal Surabaya itu menjelaskan bahwa 3D printingmemang sudah sangat ramah lingkungan. “Kalau dijelaskan lebih detail, bahan-bahan ltu nanti mirip kayak case silikon buat handphone. Itu sudah sustainable banget,” tambahnya. (ama/c12/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 6 Agustus 2020. Hal. 24

Terpenting, Tujuan Belajar Offline Tercapai. Surya. 6 Agustus 2020. Hal.3. Lucky Cahyana Subadi. TLC

SURABAYA, SURYA Dinas Pendidikan Kota Surabaya sedang simulasi pembelajaran tatap muka untuk tingkat SMP. Terkait hal itu, pakar pendidikan dari Universitas Ciputra Surabaya, Lucky Cahyana Subadi mengatakan, apapun bentuk pembelajarannya harus mengutamakan kesehatan, keamanan dan perencanaan mengajar.

“Ini bukan perkara melakukan pembelajaran online atau offline, tetapi bagaimana pengajar atau fasilitator membuat rencana dan strategi pembelajaran yang kondusif dan aman untuk mencapai tujuan belajar,” kata Lucky, kepada Surya, Rabu (5/8).

Ia, yang juga Kepala Teaching Learning Innovation Centre (TLIC) Universitas Ciputra Surabaya ini menyarankan, agar sekolah jauh-jauh hari mulai merancang metode pembelajaran offline, sehingga siswa bisa belajar secara aman, tujuan belajar tercapai dan terpenting sekolah tak berisiko menjadi cluster baru penyebaran covid-19.

Jadi, lanjutnya, bukan hanya persoalan protokol kesehatan yang harus dilakukan, namun bagaimana mengimplementasikan rencana pembelajaran dalam proses mengajar yang efektif.

“Dalam pembelajaran tatap muka, sekolah harus mampu merancang penugasan dan penilaian yang benar benar bermakna dan melatih kompetensi siswa,” tegas Lucky.

Namun, ia tak menampik, bahwa pembelajaran tatap muka akan sangat membantu para siswa dalam melatih kompetensi diri contohnya kegiatan praktikum atau kegiatan interaktif lainnya. (zia)

 

Sumber: Surya. 6 Agustus 2020. Hal. 3

Mengawali Pemulihan Industri Pariwisata. www.balipost.com. 5 Agustus 2020. I Dewa Gde Satrya

https://www.balipost.com/news/2020/08/05/140011/Mengawali-Pemulihan-Industri-Pariwisata.html

Harus Ada Masa Transisi. Surya. 3 Agustus 2020. Hal.1,15. Agoes Tinus Lis I. HTB

SELAMA beberapa bulan wabah virus corona atau Covid-19, objek pariwisata secara tidak langsung mengalami penurunan, terhenti serta ditutup sementara. Dengan dibukanya kembali menjadi kabar baik bagi masyarakat yang rindu berwisata.

Permasalahannya, tidak semua tempat sudah siap melaksanakan protokoler kesehatan dengan ketat. Menurut saya, harus ada masa transisi dulu dan tidak dibuka untuk umum terlebih dahulu.

Saya menyarankan, yang dilakukan pengelola wisata pertama kali adalah menentukan kapasitas yang harus dijaga. Karena kejadian di beberapa daerah, begitu tempat wisata kembali dibuka dengan protokoler pencegahan, tanpa ada masa transisi jumlah pengunjung membeludak.

Ketika masa transisi, pengelola wisata bisa memberlakukan pembatasan jam operasional, hingga jumlah pengunjung dalam waktu semiriggu atau dua minggu. Tujuannya, para petugas yang ada di lapangan benar-benar siap untuk menerima kunjungan dalam jumlah besar.

Di sisi lain, dibukanya kembali destinasi wisata bukan berarti memikat masyarakat untuk berkunjung. Apalagi saat ini fenomena long weekend, biasanya banyak sekali wisatawan domestik melakukan perjalanan luar kota. Namun, dibutuhkan waktu bagi masyarakat untuk mengembalikan psikologis mereka bahwa ini sepenuhnya aman. Perlu dilakukan sosialisasi dan informasi yang jelas agar masyarakat bisa percaya.

Sekarang ini, beberapa wisata Surabaya telah kembali dibuka. Kendati demikian, tidak semua masyarakat tahu penwali yang mengatur pembukaan pariwisata. Sehingga, mereka yang mau bertamasya masih ragu apakah tempat yang akan dikunjungi sudah dilengkapi protokoler pencegahan Covid atau belum. Saya berpendapat, pemerintah perlu menyampaikan informasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat surabaya.

Teman teman Forum Komunikasi Pengelola Obyek Wisata Kota Surabaya sebenarnya sudah lama berkeinginan untuk buka. Hanya saja belum ada keterangan resmi dari pemerintah, karena ada perwali, lalu ada edaran dari Satpol PP yang mana isinya masih bersifat pembatasan. Ketidakjelasan informasi ini perlu dijembatani oleh Pemerintah Kota.

Pemerintah fungsinya fasilitator dan legislator. Bukan hanya sekedar membuka, tapi juga harus melakukan fungsi pengawasan terhadap tempat wisata yang dibuka apakah. Agoes Tinus Lis Indrianto, SS M Tourism PhD, Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya

 

Sumber: Surya. 3 Augustus 2020. Hal 1, 15

Bangun Bonding Erat sebelum Terjadi Pubertas. Jawa Pos. 30 Juli 2020. Hal.15. Psikologi. Ersa Lanang S

Surabaya, Jawa Pos – Masa peralihan anak-anak remaja merupakan momen menantang bagi sang anak maupun orang tua. Banyak perubahan yang terjadi sehingga berpotensi menciptakan rasa stress. “Perubahan drastis dari fisik, ini juga bisa mempengaruhi secara sosial nanti,” ucap dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Ersa Lanang Sanjaya SPsi MSi.

Secara fisik kamar laki-laki dan perempuan mengalami perubahan hormon yang memicu munculnya menstruasi, mimpi basah, hingga perubahan suara. “Cara sosial juga bisa berdampak jika teman-temannya sudah mengalami, sedangkan dia belum,” tuturnya. Kedai tarikan seksual untuk hubungan romansa juga mulai terjadi.

Perubahan ini juga berdampak pada citra diri titik remaja sudah memiliki kemampuan berpikir yang lebih  Advance sehingga mampu berpikir abstrak. “Siapa dirinya, identitas dirinya, mulai paham konsep cinta, keadilan, banyak lagi,” ujar Bapak dua anak tersebut.

Akhirnya, dan wajah jadi lebih sering bersinggungan dengan orangtua. Mereka sudah mampu melakukan kritik berdasarkan idealismenya . “Karena pengalaman pribadi juga masih kurang, tetapi secara kemampuan berpikir hampir sama dengan yang dewasa,” ungkapnya .

Dalam menghadapinya, Ersa menekankan pentingnya peran orang tua untuk berbesar hati. Orangtua harus mengakomodasi kebutuhan anak. “Untuk saat ini, cara komunikasi dengan remaja itu dengan diskusi. Bukan intruksi,” katanya. Orang tua sebaiknya memosisikan diri sebagai m untuk remaja.

Selain itu, Ersa mengingatkan bahwa ada perubahan di aspek sosial. pada masa ini, remaja biasanya melihat faktor pertemanan sebagian besar, pakan utama. “Akhirnya, mereka tidak Sedekat Itu lagi dengan orang tua,” ujarnya saat diwawancarai kemarin. (29/7).

Karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki bonding yang kuat dengan anak sebelum mereka beranjak remaja detik  “Kalau sudah kuat, remaja saat remaja awal hingga akhir, orang tua tetap bisa menjadi mentor dan Kawan bagi anak, ucap anggota laboratorium di Universitas Ciputra Marriage and Family Center.

Eva juga menyebutkan, ada peran sekolah dan komunitas untuk membantu remaja melalui masa pubertas. “Sebab mereka juga mencari identitas melalui sekolah dan komunitas,” jelasnya. (dya/c20/nor)

 

Sumber: Jawab  pos. 30 Juli 2020. hal. 15